Mobil Pinjaman

Posted: 03/24/2017 in Tak Berkategori

Demi gengsi, Marji’un menggunakan mobil pinjaman untuk berkunjung ke rumah Sariati, gadis yang baru dikenalnya. Tidak percuma magang kerja di peternakan ayam beberapa waktu lalu, dia jadi terampil mengemudi. Kendati dengan mobil pinjaman dia jadi lebih percaya diri. Untunglah anak mantan bosnya bersedia meminjaminya mobil.

Setelah bertanya-tanya kepada sejumlah orang, tibalah Marji’un di depan rumah Sariati. Tiiin! Marji’un pencet klakson, agar kadatangannya diketahui. Selanjutnya mobil minibus bagus itu diparkir di bawah pohon  jambu klutuk. Tentu saja dia tidak tahu bahwa dahan-dahan pohon jambu tersebut menjadi tempat ayam-ayam bermalam. Azan isya telah belasan menit berlalu. Dia meyakini, Sariati telah menunaikan salat Isya. Sementara dia sendiri telah beberapa pekan libur shalat. Pergaulan buruk yang membuatnya jadi begitu.

Di dalam rumah tampak Sariati menyibakkan gordin dan melihat ke luar.  Hati Marji’un berdentang-dentang. Dia berharap mendapat sambutan positif dari gadis yang diminatinya itu.  Dirapikannya jambul rambut yang telah ditatanya sebelum berangkat. Dia bercermin di kaca spion kanan mobil meskipun minim penerangan. Baru saja dia selesai bercermin, seekor ayam buang hajat. Crot! Kotorannya jatuh persis di jambulnya. Spontan Marji’un mengusap jambulnya. Telapak tangan kanannya berlepotan kotoran ayam. Bau. “Apes!” gumamnya sebal.

Marji’un memaki seraya menengadah membidik sumber masalahnya. “Sialan!” Dia kembali masuk ke mobil. Dia mencari tisu, tidak ada. Yang ada hanya air minum dalam botol. Dibersihkannya kotoran ayam sampai dia yakin benar tak menyisakan bau tak sedap. Sapu tangan digunakannya untuk mengelap. Sayang, dia lupa membawa minyak semprot.

Marji’un mengucap salam. Sariati membuka pintu seraya membalas salam. Marji’un menyodorkan tangan. Sariati menyambutnya, tak sampai bersentuhan. Marji’un dipersilakan masuk.

Tangan Marji’un refleks mengelus-ngelus jambul. “Maaf, kena semprot ayam.” Dia malu-malu.

“Oh, pantas!”

“Masih bau?”

“Bukan. Saya kira sedang apa tadi, kelihatannya sibuk banget. Silakan duduk!”

“Terima kasih.”

Seperempat jam pertama, percakapan pun berlangsung tanpa gangguan, kecuali nyamuk yang sesekali menggigit.

Marji’un baru mamasuki semester ketiga di fakultas ekonomi kampus swasta, sedangkan Sariati memasuki tahun ketiga di madrasah aliyah. Rencananya lulus sekolah Sariati akan dikawinkan. Mengetahui hal itu Marji’un salah tingkah, khawatir kehadirannya mengganggu. Yang lebih mambuatnya khawatir, kalau-kalau calon suami Sariati tiba-tiba datang dan menghajarnya karena cemburu.

“Itu kalau aku tidak melanjutkan studi.”

“Dijodohkan, kamu mau?”

“Biasa saja, mungkin menolak pun masih bisa.”

“Dia anak orang kaya?”

“Tidak juga sih.”

“Kalau begitu, kuliah sajalah di kampusku. Nanti kita bisa sering ketemu.”

“Khawatir putus di tengah jalan karena kurang biaya.”

“Biayanya murah, kok. Kalau kurang-kurang sedikit mungkin aku bisa bantu. Kuliah saja, yah! Apa cita-citamu?”

“Belum ada. Dulu pernah ingin jadi sekretaris.”

“Jadi sekretarisku mau?”

“Memangnya kau punya perusahaan, perusahaan apa?”

“Aku punya perusahaan ekspor-impor hasil pertanian, tapi nanti. Sekarang sedang menuju ke sana.”

“Kukira bapakmu yang punya perusahaan. Cita-citaku … Aku ingin punya gaji besar, biar bisa membiayai adik-adikku, membahagiakan orang tua dan bisa beli ini-itu.”

“Oh mudah-mudahan bisa. Itu kalau kamu hidup bersamaku nanti.”

“Masa sih!”

Tiba-tiba terdengar suara seseorang berdeham. Suaranya dikeras-keraskan.

“Siapa itu?” Marji’un mendadak cemas.

“Ayahku pulang dari acara tahlilan. Ada yang meninggal dunia di RT sebelah kemarin malam dalam peristiwa pembegalan sepeda motor.”

Hening berlangsung sejenak.

“Masuklah atuh Abah. Ada tamu, anak kepala dinas.” Sariati berbohong agar ayahnya tidak mengusir tamunya. Ayah Sariati akan menjodohkannya dengan anak kenalannya. Dilarangnya Sariati dekat dengan pemuda siapa pun. Ayahnya mengancam akan mengusir siapa pun pemuda yang mengapelinya.

Bapaknya berdeham lebih keras.

“Abah masuklah!”

“Coba tamunya suruh ke luar Neng!” Suara ayahnya meninggi.

Marji’un bertambah cemas dan heran. Dia ke luar dengan jantung berdebar. “Maaf, ada apa Bapak?”

“Nah, ini manusianya yang aku cari.” Ayah Sariati menujukkan kemarahannya. “Mau apa kamu ke mari hah? Ular mencari pemukul kamu yah!”

“Maksud Bapak?”

“Abah, dia kenalan Neng. Dia tidak bersalah apa-apa.” Sariati menyergah.

“Ngaku kamu!” Matanya membelalak.

“Ngaku apa, Bapak?”

“Ini mobilnya, ini mobilnya. Tidak salah lagi. Mau mobilmu hancur beserta orangnya, atau pergi sekarang juga kecoa buntung?!” Bicara ayah Sariati penuh emosi. “Mentang-mentang kamu hah!”

“Maksud Bapak?”

“Jangan banyak bicara, pergi sana! Aku muak melihat tampangmu!”

Sariati bingung. “Kang, daripada terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, lebih baik akang pergi. Maaf!”

“Baiklah.”

Marji’un segera menstarter mobilnya, memarkir, teselanjunya tanca gas. Dia meninggalkan kediaman Sariati dengan penuh keheranan. “Apes! Apa salahku? Pokoknya, perjuangan belum berakhir!” Marji’un membatin.

Sariati pun teramat heran mendapati ayahnya membabi buta sedemikian rupa.  Dia mencoba mendinginkan emosi ayahnya dengan memberinya segelas air minum bening.

“Habiskan Abah!”

Air tersisa seperempat gelas.

“Kenapa Abah begitu murka pada Kang Marji’un, memang ada perkara apa?”

“Mobil itu yang menyerempet Abah tadi siang di jalan besar. Abah kaget luar biasa. Hampir saja nyawa abah melayang karenanya. Abah hafal plat nomornya. Mentang-mentang punya mobil, seenaknya.”

“Abah lagi mentang-mentang tidak punya mobil memarahi orang semaunya.”

“Diam. Tidak sopan kamu!”

“Maaf Abah. Becanda. Barangkali Abah salah lihat.”

“Abah belum lupa Neng, Plat nomornya B 60 LU dibaca jadi bego lu. Mobilnya persis itu. Dasar, anak muda itu menambah-nambah jumlah orang bego saja di negeri ini.”

Demi menyudahi konflik dengan sang ayah, Sariati pun berlalu dan masuk kamar.[]

sumber dari :

https://seword.com/cerpen/mobil-pinjaman/

Di sebuah hutan, hiduplah seekor beruang kecil bernama Beru yang amat lucu dan baik hati, tak heran ia mempunyai banyak teman. Namun, semua itu kini berubah, semenjak kejadian yang menimpanya. Ia jatuh dari pohon yang mengakibatkan tulangnya patah. Hingga ia harus berjalan dengan terpincang-pincang. Satu persatu temannya pergi meninggalkannya. Tak ada yang mau berteman dengan Beru karena mereka merasa jijik dengan kakinya.

Hal itulah yang makin membuat Beru merasa dikucilkan. Beru sedih, kesehariannya hanya diisi dengan merenung. Tapi, setiap kali Beru mencoba untuk merenung, ia teringat akan nasihat Almarhumah Ibunya, “Beru, apapun yang terjadi denganmu, kamu harus tetap tegar dan kuat. Jangan berputus asa, walaupun seluruh dunia membencimu. Yakinlah kamu pasti bisa.”

“Taraaaa..” Seulas senyum mengembang di bibir kecil Beru. Lukisan indah bertema pemandangan itu, membuatnya puas. Ya, melukis adalah bakat terpendam Beru. Ia sangat suka melukis. Hingga satu hari, Beru berpikir, “aku sangat suka melukis, namun untuk apa jika lukisanku hanya ku simpan, aku harus memanfaatkan bakatku itu.” Beru pun memutuskan untuk menjual lukisannya pada penjual kerajinan seni di pasar raya hutan tempat tinggalnya.

Pada hari pertama, Beru menjajakkan lukisannya pada Pak Huha si burung hantu. Awalnya, Beru sempat tak percaya diri dan takut. Mengingat keadaan fisiknya yang tak sempurna. Ditambah lagi dengan perilaku Pak Huha yang keras dan acuh tak acuh. “Permisi pak, saya ingin menjajakkan lukisan sa…” Belum selesai bicara, Pak Huha sudah menyela perkataan Beru dengan kata-kata yang kasar. “Sana pergi kamu, jika kamu di sini tak ada pelanggan yang mau mendatangi tokoku.” Bentak Pak Huha. Beru pun meninggalkan toko Pak Huha.

Ia mencoba ke toko sebelah, hasilnya pun sama. Toko demi toko yang didatanginya sama-sama menolaknya. Tanpa disadari, air matanya menetes. Beru memilih untuk pulang, langkah kecilnya diiringi dengan tangisan keputusasaan. Beru menangis sambil memandang lukisannya. Tiba-tiba Beru merasakan usapan hangat di pundaknya.
“Nak, mengapa kau menangis?” Rupanya Paman Bobi si beruang dewasa.
“Tak ada yang mau membeli lukisanku ini paman..” Jawab Beru sambil memperlihatkan lukisannya itu. Nampaknya Beru belum juga menghentikan air matanya itu.

“Wah.. lukisan yang sangat indah, bodoh sekali orang-orang yang menolak lukisanmu” Puji Paman Bobi.
“Terima kasih paman, tapi apakah paman tak jijik melihatku? Semua orang menjauhiku, bahkan semua pedagang di pasar mengusirku.” Keluh kesah Beru membuat hati Paman Bobi teriris. Dengan penuh kasih sayang Paman Bobi memeluk tubuh kecil Beru.

“Aha.. Paman punya ide, bagaimana kalau lukisannya kita jual sendiri? Kita tak perlu menjual terlebih dahulu pada penjual-penjual di pasar.” Jelas paman panjang lebar sambil merenggangkan pelukannya dari Beru.
“Tapi sama saja, tak akan ada orang yang mau melihat lukisanku.”
“Tenang saja, paman yang akan menjualnya. Itu pun jika kamu mau..”
“Iya paman aku pasti mau, terima kasih paman..” Rupanya Beru mulai merasa senang. Ia tak membiarkan lagi air matanya membasahi pipinya.
“Tapi dengan satu syarat, kau harus berjanji padaku jika kau akan terus tersenyum.” Beri menjawab dengan anggukan pasti.

Pagi ini, Beru dan Paman Bobi pergi untuk menjual lukisan. Ada beberapa lukisan yang mereka bawa. Paman Bobi sudah menyiapkan semuanya, tinggal menaruh lukisannya. Setelah persiapan beres, Beru dan Paman Bobi membuka toko kecilnya. Hasilnya pun menyenangkan, banyak pelanggan yang mendatangi toko Beru. Tak jarang mereka juga membeli lukisan Beru. Beru sangat senang.

Kini, lukisan Beru banyak diminati. Peminatnya pun hingga ke luar hutan. Semenjak itu, Beru menjadi pelukis terkenal. Sedangkan, teman-teman Beru merasa bersalah jika selama ini meninggalkan Beru. Mereka meminta maaf. Begitu pula dengan Pak Huha, ia merasa menyesal telah menolak Beru tempo hari. Akhirnya, semua kembali seperti dulu. Beru merasa sangat senang.

Sumber Klik Disini ;

Manisnya Sabar

Posted: 12/16/2015 in Tak Berkategori

Awal yang bahagia, namamu Desty saat ini aku mau masuk SMK bahagia banget. Hari senin tiba, hari dimana masuk sekolah yang pertama kalinya, semua menyambutku. Rasanya senang sekali. Aku mengambil jurusan akuntansi yang membuat aku bahagia karena semua muridnya perempuan meskipun ada dua orang laki-laki hehe. Hari-hari pun berlalu tiba-tiba tanpa aku sadari ternyata laki-laki itu mengagumiku sebut saja namanya Reza. Tapi entahlah aku tidak pernah mengaguminya, yang paling sebel itu pas dia sudah punya pacar dia tetep aja ngejar aku aduh parah yah.

Euuuttt… yang anehnya ini loh laki-laki yang satunya lagi juga mengagumi aku namanya Jey, dia laki-laki tampan akhlaknya bagus (baru prediksi) dia diam-diam meperhatikanku.. “hey Desty ke mesjid barengan yuk?” sahut Jey.
“emmm nggak ah kan bukan mukhrim” kataku sambil tersipu malu, dan aku pun pergi.
Singkat cerita aku sama Jey PDKT gitu deh selama satu bulan.. di sini nih dia mulai nembak aku. Aku terima deh.. tanggal jadian kita 01-01-2011 tanggal cantik kan?

8 bulan berlalu aku menjalin hubungan dengan penuh kesabaran, tapi aku tak tahu kenapa kesabaranku habis gara-gara dia deket sama cewek lain, di sini aku berpikir bahwa aku terlalu cemburu sama Jey. Sampai suatu ketika aku mengucapkan mata Putus.. “Sebelumnya aku minta maaf Jey mungkin kamu tidak ditakdirkan untukku, maka dari itu untuk sementara kita temenan yah” Ucapku sedih, awalnya dia tidak menerima tapii.. “oke des kalau itu keinginanmu”

Keesokan harinya saat aku sekolah aku merasa asing akan kehadirannya tapi di sinilah kesabaranku mulai diuji saat semua teman-teman mengetahui semua tentang aku dan dia. Jey mulai memanas-manasiku dia mendekati seorang wanita namanya Nia yang aku cemburui, yang aku heran dari dia baru aja pisah satu hari udah digosipin pacaran sakit tahu hati aku, tapi yah mending sakit sekali dari pada berkali-kali yah gak..

Dua bulan aku berpisah dengan Jey ternyata aku mendengar bahwa dia selalu menjelek-jelekanku di depan semua orang katanya aku cewek inilah, itulah pokoknya semua yang berbau fitnah dia ucapkan ke semua orang astagfirulloh tega yah.. tapi aku tetap bersabar saat aku masuk kelas aku dicaci-maki oleh temanku katanya aku wanita munafik. Tapi aku hanya bisa berdoa bahwa biarkan biar Tuhan yang membalas mereka.

Satu tahun berlalu ku lewati hidupku tanpa seorang kekasih aku hanyalah wanita yang selalu mencari ridho Allah semata. Jey dan Nia pun mulai pacaran, pacaran mereka berlebihan banget sampai-sampai semua guru curhat sama aku. Tapi aku hanya diam saja, aku malu punya mantan seperti dia malu banget.

Akhirnya masalah berakhir saat Jey dan Nia dipanggil oleh guru, di sanalah Nia mulai benci padaku, dia berpikiran bahwa akulah penyebab guru-guru memanggil mereka. Di sinilah aku mulai dicaci sama Nia tapi tetap teguh dengan kesabaranku aku selalu berpikir, “Innalloha ma’assobirin” Allah selalu bersama orang-orang yang sabar.

Pada akhirnya aku mulai akur sama Nia karena aku yang selalu tersenyum tanpa ada dendam sedikit pun padanya. Ingatlah kawan kesabaran akan membawa hasil yang menyenangkan.

The End

Sumber Klik Disini :

Aku tersenyum, sembari melihat foto para idolaku yang terpampang di dinding kamarku. Tepat pada tahun 2012, dan tepat waktunya pun pada saat liburan sekolah, aku pun berlibur ke rumah sepupuku, bosan juga rasanya, akhirnya ku nyalakan televisi, sangat tepat yang ku saksikan pertandingan sepak bola. Aku sangat menyukai pertandingan sepak bola, maka dari itu aku menonton pertandingan itu hingga waktu berakhir. Ku lihat dan ku amati terus selama pertandingan berjalan dan tiba-tiba pertandingan terhenti sementara karena ada salah satu pemain yang cedera. Ia bernomor punggung 11, sangat disayangkan padahal permainannya sangat bagus untuk menaklukkan lawan.

Awalnya aku bertanya pada Mamaku, “Ini pertandingan bola apa yaa?”
“Itu ada bacaannya.” sahutnya. Frenz Internasional Cup 2012, itulah nama pertandingannya.

Satu persatu pemain aku perhatikan, tak disengaja aku penasaran dengan pemain dari club Frenz United Malaysia, ada bandel Captain di lengannya dan ia bernomor Punggung 15. Permainnya sangat bagus, ku lihat waktu sudah memasuki menit ke 93. “Priiit, Priiit, Priiit.” peluit panjang ditiup oleh wasit, pertandingan pun habis, rasa penasaranku makin menjadi, hingga akhirnya tak lama setelah aku bermain di rumah sepupuku aku langsung pulang ke rumah, lelah rasanya hingga aku tertidur sampai pagi hari.

“Kukuruyuukk.” ayam pun berkokok, matahari sudah terbit, aku segera beranjak dari tempat tidurku. Ku segera mandi, dan membersihkan tempat tidurku, hingga akhirnya selesai semua pekerjaan yang aku lakukan. “Mmm, sepertinya ada yang ingin aku kerjakan, tapi apa yaa?” ucapku dalam hati.
“Oh iya, aku kan ingin mencari tahu tentang info klub sepak bola yang kemarin aku lihat di televisi.”

Ku buka laptopku, kuhubungkan dengan internet lalu ku buka google dengan dengan keywoord “Squad klub Frenz United Malaysia.” Yeaaa, akhirnya aku temukan nama pemain yang bernomor punggung 11 dan 15. Ia bernama Haziq dan Haiqal. Lama kelamaan aku jadi ngefans sama klub yang satu ini. Seiring berjalannya waktu dari club Frenz United malaysia, aku beralih ke Frenz United Indonesia. Kebetulan aku punya beberapa teman yang mengikuti SSB (Sekolah Sepak Bola) lalu aku bisa tanyakan tentang klub sepak bola itu. Setiap ada waktu luang, aku selalu isi untuk mencari info tentang klub bola itu. Hari demi hari berlalu, sehingga makin banyak pemain yang ku tahu dan bahkan kini banyak yang menjadi teman.

2 tahun pun berlalu, tetap tak ku lupa dengan klub yang satu ini, tetapi terkadang aku suka berpikir kalau semua ini hanyalah mimpi, aku tidak pernah berpikir kalau aku bisa bertemu mereka, karena jauhnya tempat aku dan mereka, mereka berada di seberang sana, di Malaysia tepatnya. Tak disangka ternyata selain aku ada juga para fans wanita yang mengidolakan Academy terbesar di Indonesia ini.

Hingga akhirnya kita membuat suatu kelompok dengan nama “Ladies of Frenz United.” dengan serunya kita berkenalan, bercanda, membicarakan tentang para permainan dan perkembangannya. Sama halnya dengan para pemain club ini, aku dan teman-temanku yang lain juga sangat jauh tinggalnya, ada yang di Bekasi, Sidoarjo, Subang, Bandung, dan kota-kota lainnya sehingga kita belum bisa untuk berkumpul dan bertemu. Kita pun punya harapan yang sama, yaitu bertemu, mensupport, dan menonton langsung pertandingan Frenz United bersama, aku rasa itu lebih seru.

Tepat pada tanggal 01 Desember 2014, aku mendapat kabar dari group Frenz United bahwa Frenz akan mengunjungi Indonesia, tepatnya di Gelora Bung Karno pada tanggal 08 Desember 2014. Langsung ku beri kabar ke teman-teman, dan ada beberapa temanku yang tidak bisa, karena Senayan terlalu jauh dari rumahnya, sehingga ia hanya dapat melihat dari televisi. Tanggal delapan pun tiba, tak sabar untuk segera mengunjungi Gelora Bung Karno rasanya. Aku langsung mempersiapkan barang-barang yang harus ku bawa untuk pergi ke sana, aku pergi bersama temanku Laras, dan di sana bertemu dengan temanku Harni, mereka salah dua yang mengidolakan club ini.

“Ras, di mana nih? Ini sudah jam 2, sebentar lagi pertandingan dimulai.”
“Iya, tunggu yaa mey sebentar lagi nih, lagi siapin kamera dulu.” sahutnya.

Akhirnya aku dan Laras bertemu lalu berteriak berpelukan. Sepanjang perjalan, aku dan Laras sudah tidak sabar untuk segera masuk ke Stadion. Turun dari taksi yang kita naiki, kita segera bergegas lari menuju ke Stadion. Sesampainya di Stadion “Aaaaaaaa.” kita pun berteriak dengan senangnya dapat melihat langsung. Awalnya aku dan temanku Laras senang, Tapi setibanya di GBK kita hanya dapat terdiam, kenapa? karena hanya yang menggenakan Jersey Frenz United yang dapat masuk, sedangkan aku dan Laras? hanya memakai baju biasa.

Aku dan Laras diam seketika, entah sedih rasanya tapi kita sangat ingin bertemu dengan mereka, inilah salah satu kesempatan yang bagus. Beberapa menit kemudian akhirnya seorang penjaga Stadion mengizinkan kita masuk dengan persyaratan kita tidak boleh membawa senjata, petasan, atau semacamnya, karena di situ banyak orang-orang besar dari negara Malaysia, sehingga pertandingan pun dijaga ketat. Rasanya senang sekali bisa melihat langsung pertandingan ini, dan yang lebih senangnya lagi, aku duduk di kursi tribun dan di sampingku adalah salah satu pemain Frenz United Malaysia, tak dapat ku ungkapkan dengan kata-kata akhirnya selama 2 tahun ini dapat bertemu mereka.

Pertandingan pun dimulai dengan senangnya melihat para pemain Frenz bermain secara langsung. And goalll!! Satu cetakan gol yang dibuat Frenz United sehingga menggalahkan Timnas U17 dengan skor 0-1, permainan pun semakin panas, hingga goall kedua kalinya diciptakan oleh Frenz United sehingga merubah keunggulan menjadi 0-2 hingga babak kedua. Usai pertandingan selesai, aku, Laras, dan Harni segera menuju ke luar lapangan. Kita menunggu para pemain Frenz United sampai selesai membersihkan badannya. Tak lama kemudia para Pemain Frenz United keluar dari lapangan. Dengan spontan aku langsung memanggil beberapa pemain dan minta foto bareng, ada beberapa pemain yang sudah kenal denganku hingga dia terkejut saat melihatku datang menyaksikan pertandingan uji coba itu.

Selain foto dengan pemainnya kita juga berfoto dengan salah satu Direktur Frenz United, ia bernama Ophan Lamara, sangat baik dia menanyakan tentang para fans Frenz United ini, sampai-sampai ia berkata, “Kalian kumpulin lagi anak-anak yang fans Frenz ini, nanti kalau ada pertandingan di luar saya bisa akomodasikan.” sangat senang rasanya bisa kenal pada beliau. Tidak ku sangka dan tak ku bayangkan, mimpiku bertemu idola kini menjadi kenyataan, dengan senangnya aku dan teman-temanku pulang ke rumah dengan perasaan gembira. Walaupun sudah bertemu, tetapi aku dan teman-temanku tetap mendukung klub tersebut.

Sumber Klik Disini :