Arsip untuk Maret, 2015

Cinta Pada Sebuah Mimpi

Posted: 03/30/2015 in Cinta
Tag:
Karamnya cinta ini
Tenggelamkanku
Di duka yang terdalam
Hampa hati terasa
Kau tinggalkanku
Meski ku tak rela
 
 
Andre masih termenung dengan beribu pikiran yang tidak menentu. Galau menghinggapinya. Ia menyadari benar kenapa ini terjadi dan menimpa dirinya. Ia tidak tau kenapa sampai terjadi cinta yang seperti ini. Cinta yang sudah lama menghinggapinya kini kandas. Benar kata orang bahwa terkadang, kita tak akan pernah bisa merasakan indahnya dicintai dengan tulus, jika kita tak pernah disakiti. Palagi saat Naff mengalunkan lagunya yang begitu mengena di hati.
Hingga saat ini pun Andre tidak tau harus bagaimana lagi. Begitu indah sekaligus begitu menyakitkan. Tidak  pernah diduga sebelumnya. Hatinya telah terbagi dua.
            “Tiara,” Andre berguman sambil memandangi foto Tiara. “Apakah pantas aku mendampingimu? Kemana perginya kamu, Tiara? Tidak sudikah kau temui lagi sosok Andre seperti yang dulu, seperti pertama kali kita bersendau gurau, melepas tawa kita masing-masing?” Andre terus memandangi foto Tiara. Foto saat Tiara begitu manjanya sambil memegang batang Flamboyan minta difoto lewat kamera handphone Andre. Ah, begitu cantik. Andre tersenyum. Ya, lebih baik tersenyum karena kadang seseorang lebih memilih tersenyum hanya karena tak ingin menjelaskan mengapa ia bersedih.
Memang sudah terlalu lama Tiara mengisi kehidupan Andre. Mengisi hari-hari dimana Andre merasa kosong pada saat itu mungkin hingga saat ini. Tapi mengapa disaat seperti ini disaat Andre mulai mengenal sosok cewek yang begitu super justru malah Retna muncul ? Ah memang sulit untuk mengucapkan selamat tinggal pada seseorang yang kita cintai, tapi lebih sulit lagi ketika kenangan bersamanya tak mau hilang begitu saja.
            “Retna, bersediakah kamu menggantikan Tiara?” batin Andre tiba-tiba terusik oleh bayang-bayang Retna di benaknya. Terus bergejolak. Bertanya-tanya. Mencari tau kemana hatinya kini ingin berlabuh. “Mengapa begitu sulit menghilangkan jejakmu Tiara. Malah semakin melekat disaat Retna hadir untuk mengisi kekosongan hatiku”
            Lamunan Andre buyar ketika handphonenya berbunyi. Ada panggilan masuk. Dilihatnya darimana panggilan masuk itu.
            “Retna..” Andre cepat-cepat menjawab panggilan dari seberang sana. “Hallo, ada apa Retna?”
            “Ndre, kamu ada dimana?”
            “Di rumah. Ada apa Ret?” suara Andre menyelidik
            “Boleh aku meminta sesuatu padamu, Ndre?” pinta Retna dari seberang sana.
            “Apa itu?” jawab Andre sedikit penasaran
            “Temani aku ke Toko Buku ya? Harus mau, Ndre. Soalnya aku harus mendapatkan sebuah buku yang begitu penting banget”
            “Kok maksa sih…?” aku mencoba mengelak
            “Iya harus maksa. Pokoknya aku jemput sebentar lagi. Kamu siap-siap ya Ndre. Pokoknya mau ga mau harus mau. Oke sebentar lagi kujemput…”
            “Ta…tapi Ret….”
            Sudah terputus hubungan telponnya. Tinggal Andre yang kelabakan harus berbenah diri cepat-cepat. Soalnya Andre baru bangun tidur. “Ayo tersenyumlah, Ndre dalam mengawali hari, karena itu menandakan bahwa kamu siap menghadapi hari dengan penuh semangat!” begitu batin Andre menghibur diri di depan cermin.
            Mereka berjalan bergandengan. Sepanjang perjalanan jemari Retna tak lepas begitu erat menggenggam tangan Andre. Tiba-tiba darah Andre berdesir hebat. Mengalir ke segala penjuru hingga sampai ke otaknya. Mulai panas. Matanya mulai sedikit berkunang-kunang. Lamunannya menerawang jauh hingga Retna mencubit pipinya. Andre tersadar…
            “Auwww…sakit Ret…!”
            “Digandeng cewek cantik malah melamun, bukannya malah senang. Tuh semua cowok pada mencuri pandang kearah aku. Kamu gak cemburu?” Retna begitu percaya diri berada di samping Andre.
            “Maaf, Ret. Aku terlalu bahagia berjalan bergandengan bersama kamu” kata Andre membesarkan hati Retna.
            “Sungguh?”
            “Iya, sungguh. Makanya tadi aku melamun”
            “Hmm….aku tersanjung, Ndre. Aku nyaman berada di samping kamu, Ndre” disandarkannya kepala Retna di lengan Andre. Retna tersenyum. Ada gurat bahagia di wajah Retna. Gambaran cinta telah meronai wajah Retna. Dan semakin eratlah pegangan tangan Retna ke lengan Andre.
            “Andre…” tiba-tiba suara Retna menyapa Andre.
            “Iya, ada apa Retna?” Andre memandangi wajah Retna. Wajah yang begitu cantik, polos terpancar binar cinta. Ah, Retna apakah benar kamu pengganti cintaku yang hilang? Apakah benar kamu cewek super pengganti Tiara?
            “Apakah cintaku gak bertepuk sebelah tangan?” pertanyaan Retna langsung ke lubuk hati Andre yang paling dalam.
            “Apakah kamu merasa bertepuk sebelah tangan?” Andre malah balik bertanya. Retna balas memandang wajah Andre. Mencari tau mungkin ada jawaban yang membahagiakan hati Retna.
            Andre tersenyum. Dibelainya rambut Retna dengan penuh kasih sayang. Diusapnya air mata yang akan menetes dari sudut mata Retna.
            “Dicintai dan disayangi kamu adalah anugerah terindah yang Tuhan berikan padaku” Andre memberanikan diri untuk mengucapkannya.
            “Dalam hati aku menanti, kuserahkan hati sebagai tanda ketulusan cinta” jawab Retna dengan mata berkaca-kaca bahagia.
            Andre terbuai dalam dekapan cinta Retna. Melupakan segala kekusutan hati yang selama ini terbelenggu oleh cinta Tiara. Tiara yang entah kemana perginya. Membawa separuh hati Andre. Separuh hidup Andre. Separuh aku. Kata Noah dalam lagunya. Padahal Andre masih tidak percaya kalau ia kini menjadi kekasih Retna. Retna dalam penilaian Andre kini adalah cewek super yang telah begitu hebatnya menggeser bayang-bayang Tiara. Menepis angan-angan bersama Tiara. Retnalah yang kini mengisi cerita-cerita di dalam kehidupan Andre. Bait demi bait iramanya begitu indah disenandungkan oleh hati. Ah, ini benar-benar sebuah cerita cinta. Sebuah romansa yang bisa membuat Andre melupakan Tiara.
            Pagi itu, Andre dikejutkan oleh suara panggilan dari Handphonenya. Andre cepat-cepat membukanya. Dari siapakah gerangan. Dilihatnya panggilan masuk di handphonenya.
            “Tiara…” Andre setengah terpekik. Jantungnya lebih cepat lagi berdetak. Hampir tak terkontrol. Ia coba menguasai dirinya.
            “Halo….” Jawab Andre.
            “Halo! Ini Andre…?” suara dari seberang sana.
            “I..iyya….ini Ara….?” Suara Andre terbata.
            “Iya…Andre…kamu dimana?”
            “Di kamar, Ra. Kamu kemana aja, koq menghilang begitu aja?” Andre mulai memberanikan diri bertanya.
            “Andre…maukah kamu menjemput aku di Bandara?”
            “Iyyaa Tiara….jam berapa…?”
            “Sekarang….! pokoknya aku tunggu sampai kamu datang…!”
Sebenarnya pikiran Andre berkecamuk. Terlintas wajah Retna manakala Andre menyetujui pertemuannya dengan Tiara. Ada rasa bersalah dalam diri Andre terhadap Retna. Sebuah pertemuan yang telah lama diimpikannya. Wajah yang telah lama menghilang tiba-tiba akan muncul kembali. Tiara, cewek super idam-idaman Andre. Cewek super yang telah pertama kali menggores hati Andre. Ah, benar-benar Andre ada dipersimpangan. Entah akan kemana hati Andre memilih jalan dipersimpangan itu.
            “Ara….!” Panggil Andre setelah lama mencari-cari Tiara di Bandara.
            “Andre….!” Balas Tiara.
            Mereka saling berpelukan. Erat. Seolah tidak mau lepas. Kerinduan yang lama terpendam kini terbayar lunas.
            “Ara, kamu semakin cantik” puji Andre setelah mereka duduk melepas lelah di lobby Bandara.
            “Kamu juga semakin ganteng, Ndre” balas Tiara.
            Kedua tangan mereka tak lepas saling genggam. Sepanjang pertemuan itu mereka lebih banyak diam. Lebih banyak hanya hati mereka yang saling bicara. Degup jantung mereka semakin cepat berpacu. Semakin menambah kegugupan mereka. Hanya saling bergenggaman tangan. Andre mencoba membelai rambut Tiara.
            “Ara, apakah kamu selalu memikirkan aku disaat kamu jauh dari aku?” Andre mencoba membuka pembicaraan.
            Tiara masih terdiam. Kemudian ia pandangi wajah Andre. Wajah yang pernah menghiasai kehidupannya. Begitu indah semaraki hidup Tiara kala itu.
            “Sampai saat inipun aku gak pernah melupakan kamu, Ndre”
            “Lalu kenapa kamu meninggalkan aku dan pergi begitu saja tanpa aku tau kemana perginya”
            Tiara tidak langsung menjawab. Ia tertunduk. Mengalihkan pandangannya dari wajah Andre. Banyak yang ingin ia ceritakan. Tapi rasanya berat untuk menceritakan hal ini kepada Andre.
            “Karena aku terlalu mencintaimu, Andre. Banyak mimpiku tentang kamu. Mimpi tentang cinta. Dan pada akhirnya sekarang aku baru merasa bahwa kamu adalah cintaku yang sejati” Dari lubuk hati Tiara, ia ungkapkan perasaan itu kepada Andre.
            Andre kini yang terdiam. Diam karena Andre merasakan beban yang begitu berat. Cinta yang terkadang selalu memberikan solusi yang sulit kita terima. Karena ketika jatuh cinta, jangan berjanji tak saling menyakiti, namun berjanjilah untuk tetap bertahan, meski salah satu tersakiti.
            “Ara, saat ini mungkin aku bukan lagi Andre yang seperti dulu. Bukan lagi Andre yang bisa memberikan kenyamanan, memberikan ketenangan dalam meraih mimpi-mimpi manismu” kata Andre memberanikan diri sambil memandangi wajah Tiara.
            “Tidak Andre. Kamu sempurna. Sempurna dalam hatiku. Dalam cintaku. Kamu yang telah menciptakan mimpi-mimpi manis tentang cinta dalam hidupku. Kamu yang telah banyak mengajarkan bagaimana cara meraih mimpi-mimpi”
“Berhentilah mencari seseorang yang sempurna untuk dicintai, lebih baik belajar dan persiapkan diri menjadi seorang yang pantas untuk dicintai”
“Kamu sudah tidak mencintai aku lagi, ya Ndre?” dekapan Tiara makin erat di lengan Andre. Seolah tidak mau kehilangan. Andre kini semakin kacau. Kemudian ia coba menenangkan Tiara dengan membelai rambut Tiara. Mengusap air mata yang menetes di pipi Tiara.
“Bukan itu, Ara. Aku masih menyayangi kamu. Aku masih mencintaimu. Tapi aku tak bisa memilikimu”
Tiara bisa memahami arah pembicaraan Andre. Tiara melepaskan dekapan Andre. Mencoba tegar dan menghapus air matanya yang membasahi pipinya.
“Kalau boleh tau, siapa cewek yang telah berhasil menaklukkan hatimu, Ndre?” Tanya Tiara sambil mencoba tersenyum kepada Andre.
Andre memandangi wajah Tiara. Ia balas senyum Tiara. “Ara,  meski tak dicintai oleh seseorang yang kamu cinta, tak berarti kamu merasa tak berarti. Hargai dirimu dan temukan seseorang yang tahu itu”
Tiara merenungi kata-kata Andre. Tiara merasa Andre telah lebih dewasa kini. Andre benar-benar telah menjadi guru yang terbaik dalam hidup Tiara. Guru yang telah mengajarkan bagaimana caranya meraih mimpi-mimpi.
“Andre, jika kamu tulus mencintanya, jangan pernah hiasi matanya dengan air mata, telinganya dengan dusta, dan hatinya dengan luka” kata Tiara
“Ya, aku sangat mencintainya. Dialah Retna. Cewek super dalam kehidupanku. Aku tak bisa menghianatinya, Ara”
  Tiara mencoba tersenyum. Mencoba berbesar hati. Ia pandangi wajah Andre. ”Benar, Ndre karena orang yang pantas kamu tangisi tidak akan membuatmu menangis, dan orang yang membuatmu menangis tidak pantas kamu tangisi. Selama ini aku meninggalkan kamu karena aku ingin menguji diriku kira-kira siapa cinta sejatiku kelak.”.
            “Kamu pasti akan menemukan orang yang pantas mendampingimu”
            “Terima kasih, Andre. Aku pasti akan sulit melupakan kamu”
            “Cobalah, Ara. Karena satu pelajaran penting tentang patah hati adalah jika dia mampu menemukan cinta yang baru, begitu juga dirimu!”
            “Iya, Ndre. Sekali lagi terima kasih karena pernah mencintaiku. Salahku kenapa dulu aku tak mempedulikan mimpi-mimpimu. Sekarang aku akan pergi menjauh dari kehidupanmu”
            “Kemana?”
            “Aku akan kembali ke Australia melanjutkan studiku. Orang tuaku telah menaruh harapan pada diriku”
            “Selamat jalan, Tiara”.
            Tiara melepaskan dekapannya. Kemudian berjalan menjauhi Andre. Tak sanggup Tiara memandang wajah Andre karena telah basah oleh air mata. Entah bagaimana perasaan Tiara saat itu karena Andrepun hanya mampu berdiri. Diam sambil memandang tubuh Tiara yang semakin menjauh.
            “Selamat jalan Tiara, jangan terlalu lama menangisi yang telah pergi, karena mungkin nanti kamu akan bersyukur telah meninggalkan yang kamu tangisi saat ini” begitu doa Andre kepada Tiara.
Mungkin suatu saat nanti
Kau temukan bahagia meski tak bersamaku
Bila nanti kau tak kembali
Kenanglah aku sepanjang hidupmu…

(song by Naff: Kenanglah)

Bidadari Dalam Gerobak

Posted: 03/30/2015 in Kisah
Tag:

Suara gerobak kayu tuaku terdengar sangat fasih, mengukir setiap jejak di tanah pemakaman, aku menatap langit yang mulai gelap, nampaknya hujan akan turun. Aku menatap batu nisan yang bertuliskan YAYU BINTI SUKARJO, angin mengingatkanku pada sosok bidadari kecil yang selalu berlari di depan gerobak, dia selalu tertawa ketika angin menyibak rambut panjangnya. Yayu, ya.. itu nama bidadari kecilku, gadis kecil berumur lima tahun yang ajaib, meskipun umurnya sangat muda dia sangat mengerti dengan keadaan. Dia tak pernah sedikitpun rewel karena perut lapar atau tenggorokannya yang kehausan. Aku sangat menyayanginya, suaranya yang masih menggemaskan selalu terngiang-ngiang di telingaku. Sakit rasanya ketika aku mengenang kembali bidadari kecilku.

Memoriku kembali pada dua bulan yang lalu ketika putri kecilku mulai terserang batuk dan pilek. Aku sangat bingung dengan keadaan putriku yang semakin parah, uang untuk makan pun aku tak punya sepeser pun. Yang aku ingat adalah kata kata putriku ketika ia merasa kedinginan dan mungkin sakitnya mulai sulit untuk dilawannya, dia selalu berkata.

“pak, peluk aku dan jangan tinggalin aku.”

Aku hanya bisa memeluk dan mengecup keningnya, hingga sampai pada hari itu, tubuhnya mengejang hebat, badannya dibanjiri keringat dingin sedangkan suhunya sangat panas. Aku tak kuasa melihat keadaan putri kecilku seperti ini, hingga aku beranikan diri untuk mencari pertolongan, dari mulai posyandu, puskesmas dan rumah sakit aku datangi, tapi apa hasilnya, nihil.

Akhirnya aku bawa dia ke dalam mushola, dan aku meminta kepada Alloh untuk berhenti memberikan sakit kepada putri kecilku. Aku kembali menggendong putriku dan kembali memasukannya ke dalam gerobak. Terdengar suara putriku di sela-sela tangis dalam doaku.

“(tersenyum) pak, terimakasih, Yayu cape mau bobo aja, bapak jangan tinggalin Yayu yah, allooh..!” hembusan nafasnya begitu panjang dan terhenti.

Aku tercengang menyaksikan putriku Yayu menghembuskan nafas terakhirnya di gerobak, tepatnya di antara kardus dan botol rongsokan. Tak terasa air mataku terus membanjiri pipiku, aku memeluk erat bidadari mungilku, aku terus berbisik di telinganya yang mulai terasa dingin melebihi es, aku berbisik meminta maaf karena tidak bisa menjaga dan merawat anakku dengan baik.

Aku menggendong anakku dan meletakannya di dalam gerobak kesayangannya. Aku berjalan dengan pandangan kosong, sesekali aku melihat tubuh mungil yang tergeletak di antara kardus kardus yang kini tak bernyawa, sungguh hatiku menjerit protes terhadap dunia.

Aku memang bukan asli orang ibu kota. Aku merantau dari jawa oleh karena itu aku tak bisa kembali ke tanah kelahiranku dan tanah kelahiran Yayu. Aku berjalan menuju rumah sakit, berharap ada pertolongan yang datang untuk membawa putriku ke jawa. Belum sempat aku mengutarakan keinginanku satpam di rumah sakit itu sudah mengusirku, mungkin mereka mengira aku akan meminta sumbangan.

Aku berteriak di sepanjang jalan, aku bingung, bagaimana cara menguburkan anakku, sementara matahari mulai beristirahat di upuk barat. Ku hentikan langkah kaki, aku menggendong tubuh mungil yang kian membeku, aku menangis sambil terus menciumi tubuh anakku, orang orang memerhatikanku, aku tak peduli dengan ribuan sorot mata di jalanan itu.

Angin malam semakin membuatku menggigil, aku memeluk jasad putriku. Di depan emperan toko akhirnya aku tertidur dengan jasad putriku. Kicau mesin di langit ibu kota membangunkanku pagi itu, mataku kembali memandang jasad anakku yang mulai membiru, air mataku kembali menitik.

Jasad mungil itu ku masukan kembali ke dalam gerobak, ku tutupi tubuhnya dengan samping yang memang sudah koyak. Langkah kakiku menuju stasiun kereta, aku berniat untuk mengendap endap menaiki kereta jurusan surabaya. Akhirnya perjuanganku tidak sia-sia, aku berhasil masuk dan diam di gerbong paling belakang.

Bertapa terkejutnya aku ketika petugas menemukanku dengan posisi memeluk jasad anakku. Petugas itu menanyakan tiket keberangkatan, aku hanya menggelengkan kepala. (lebih…)

Penantianku

Posted: 03/30/2015 in Cinta
Tag:

Namaku natasya, aku pernah mencintai seseorang dengan tulus. Tapi, semua ketulusan cintaku padanya berakhir sia-sia.
“Natasya, jangan sedih terus dong. Senyuum.” kata sahabatku dewi sambil mencari tisu di meja rias kamarku
“gue gak bisa dew, gue ga terima dia ninggalin gue, pergi gitu aja tanpa pamit.”
Arya adalah seorang cowok yang sangat aku sayangi, dia pergi meninggalkanku tanpa alasan. Akupun baru tau kepergiannya setelah sehari dia pergi. Dia juga tak pernah mengabariku kenapa ia pergi. Yang ku tau, Arya harus meninggalkan sekolah lamanya bersamaku karna dia di tuntut kedua orang tuanya untuk tinggal di pesantren , tepatnya di daerah lampung. Akupun terpukul mendengarnya.
“sya, lo gak bisa terus-terusan mikirin arya kaya gini. Dia itu gamau bilang kepergiannya karna dia gamau liat lo sedih. Coba kalo dia tau lo sedih kaya gini. Gimana sya.”
“tapi gue kecewa banget wi, lo ga ngerti perasaan gue.”
Sehari sebelum arya pergi, teman-teman sekelasku sebenarnya sudah tau akan kabar bahwa arya akan pindah dari sekolah. Tapi arya melarang mereka semua untuk memberitahuku dan merahasiakan semuanya. Ini juga karena arya gak ingin buat aku bersedih. Tapi justru malah sebaliknya .

***

Seminggupun berlalu, aku masih belum bisa menerima semua ini. Disekolah rasanya sepi tak ada arya di sisiku yang biasanya setiap hari menyapaku, tertawa bersama. Arya juga tak pernah mengabariku dia menghilang begitu saja. Sampai sekarang aku belum bisa memaafkannya sebelum aku tau alasannya mengapa dia tak memberitahuku tentang kepergian dan kepindahannya ke lampung. Aku mencoba melupakannya tapi aku tak bisa, perasaan ini menyiksaku. Semakin aku mencoba melupakannya, semakin aku tak bisa menghapus kenangan Arya dari hatiku.
“sya, maafin gue ya gue gak bilang sama lo . sebenernya gue udah tau Arya mau pindah dari sekolah, tapi Arya ngelarang gue buat bilang sama lo, katanya dia gak mau buat lo sedih. Lo pasti bisa dapetin yang lebih dari dia. Itu pesan arya buat lo.” Kata eza sahabatnya arya.
Saat eza bilang semua itu kepadaku entah mengapa, hatiku gak bisa menerimanya. Aku menyayangi arya, hanya arya yang selalu ada di hatiku, dan dia yang terbaik untukku. Itu menurutku.
“lo jahat za, kenapa lo gak bilang sama gue dan harusnya lo tuh ngerti.”
“iya, maafin gue sya. Gue salah, tapi mau gimana lagi arya udah pergi dan asal lo tau sya. Dia sayang banget sama lo. Dia sebenernya gamau pindah, tapi karna desakan orang tuanya dia pindah ke pesantren.”
“ gue kecewa za sama dia. Kenapa dia gak bilang dari awal?”kataku lemas
Aku meninggalkan eza yang masih diam membisu diambang pintu kelasku. Aku gak mau mendengar semuanya lagi. Aku udah cukup kecewa dengan semua ini. andaikan waktu bisa berhenti berputar untuk saat ini, aku ingin kembali dan melihat arya untuk terakhir kali.

***

Pagi hari di kelas,
Seiring berjalannya waktu meskipun arya tak pernah mengabariku, dan mungkin dia sudah lupa denganku. Yaa, begitupun aku masih terus mencoba melupakannya. Hari-demi hari kujalani semuanya seperti normal dulu sebelum arya pindah dari sekolah ini. Aku hanya bisa mencoba untuk ikhlas dengan yang ku jalani sekarang. Andaikan ini semua mimpi, aku tak mau ini semua akan terjadi. Tetapi apa daya semuanya bukan mimpi, ini nyata.
“sya…” panggil seseorang dari tempat duduk belakang dan ternyata itu eza , dia berjalan menghampiriku
“apaan za?’’ kataku
“sya, kemaren arya chat gue nanyain lo.”
“terus?”
“kok terus?”
“iyaa, terus kenapa? Apa urusannya sama gue?”
“adalah ”
“apaan?” tanyaku sinis
“dia masi nungguin lo.”
“oh.” Jawabku singkat
“dih ngeselin nih anak, emang lo gamau tau kabarnya dia?”
“ah gatau gue, gue bingung sama dia , dia bilang sayang sama gue tapi apaan ninggalin gue gitu aja dan udah seminggu lebih gue gatau kabarnya.”
“yaa lo tanya lah kabarnya gimana?”
“ngapain ah za, gue cewek gengsi kali nanya ke cowo duluan.” Kataku agak jengkel
“gue bingung ama lo berdua, lo sama arya sama-sama sayang, tapi gak ada yang mau mulai duluan. Gimana kalian mau jadian kalo sama-sama gengsi. Cinta, tapi munafik. ”
“harusnya dialah, minta maaf enggak , kabarin gue juga enggak. Kalo gue disuruh milih untuk kenal sama dia atau gak, gue akan lebih milih enggak dari pada gue harus sakit hati kaya gini akhirnya…gue malah kecewa banget.”
“yaaa, kemaren dia nanyain kabar lo, ya gue jawab lo sedih banget dia pindah.”
“lo jujur amat si za, aaaah tau deh.”
(lebih…)

Bilik Doa

Posted: 03/27/2015 in Kisah
Tag:

ORANG-orang lalu-lalang sesukanya. Hilir-mudik nyaris sulit ditandai. Beragam pikiran yang menyesakkan benak masing-masing dipastikan menentukan ke arah mana orang itu akan bertuju. Saat-saat matahari persis tegak lurus di atas kepala, suasana terik pun terasa berdenyar sampai di dalam kawasan mal yang selalu ramai dikunjungi. Saat-saat seperti itulah puluhan orang mulai menyesaki sebuah ruang jauh di sudut yang sangat terpencil. Mungkin tepatnya hanya sebuah bilik kecil berukuran 2×2 meter yang sudah terbiasa disebut musala.

Pada jam-jam salat, memang bilik kecil itu akan terasa sesak karena hanya bisa menampung tiga atau empat orang jemaah untuk melaksanakan ibadah salat. Ruangan bagi jemaah laki-laki dan perempuan hanya dipisahkan sebidang tabir berwarna hijau. Tapi, jemaah laki-laki tak mudah untuk membuang pandang ke ruangan salat bagi jemaah perempuan karena tabir itu dibuat agak tinggi. Bila lampu menyala terang, yang tampak dari sebelahnya hanyalah bayangan sosok orang yang salat atau duduk bahkan tak jarang pula ada yang berbaring melepas rasa lelah.

Bisa dimafhumi bila sebagian besar pelanggan musala kecil itu sudah saling kenal. Sebab merekalah para penjaga toko di mal berlantai empat itu. Ihwal usia, memang rata-rata masih anak muda. Tapi ada juga sebagian orang-orang tua yang kebetulan pada jam salat tiba sedang berada di pusat perbelanjaan terbesar di kota itu.

Aswar, budak Melayu yang hampir sepuluh tahun terakhir menjadi penjaga toko sepatu di mal itu memang terbilang seorang jemaah yang tak pernah lalai mendatangi musala. Usianya sudah mendekati 35 tahun. Soal paras dan penampilan, semestinya tak perlu diragukan. Orangnya gagah lagi ramah pula. Rambutnya yang agak ikal dengan potongan pendek mengingatkan orang pada sosok Barack Obama. Apalagi kulitnya memang agak gelap pula. Bawaan cekingnya pun tak banyak beda.

Hampir tak ada seorang pun di komunitas mal itu yang mencibir bila nama Aswar diceritakan. Mereka bersepakat memanggil Aswar sebagai ‘Pak Ustadz’ karena kealimannya. Bahkan, di waktu-waktu salat tertentu –terutama magrib- Ustadz Aswar didaulat menjadi imam walaupun jemaahnya hanya dua orang saja karena ruangan musala tak mungkin menampungnya lebih banyak lagi.

* * *

BERTAHUN-tahun Aswar melakukan ritual keagamaan di musala kecil itu. Ia tak pernah menampakkan kemalasannya sedikit pun. Melakukan salat baginya sebuah kewajiban yang tak boleh ditawar-tawar lagi. Ia begitu tunak beribadah. Usai salat, dipastikan ia tak akan pernah lupa berzikir. Bertasbih dan tahmid yang membuat lidah dan bibirnya selalu basah. Lafaz ayat-ayat Al Quran tak akan pernah luput dari mulutnya yang terlihat berkomat-kamit karena suaranya memang tak sampai terpancar keluar.

Saat-saat pengguna musala itu agak lengang –biasanya pada waktu salat Asar di petang hari- Aswar biasanya agak lama duduk bersimpuh sambil menengadahkan kedua tangan untuk mengantarkan doa pada Allah Maha Pencipta. Ia tak begitu peduli, apakah doanya didengar atau tidak. Tapi ia punya keyakinan yang begitu kuat bahwa Allah pasti mendengar doa semua orang. Dan hanya doa orang-orang yang khusyuklah yang pasti dikabulkan.

Berselang enam bulan terakhir, Aswar kian tekun berdoa. Sering lelaki yang berjambang tipis itu sampai lebih satu jam duduk bersimpuh atau bersila sambil menampungkan doa. Tentu saja, tak sahabatnya yang peduli soal itu karena hampir semua orang disibukkan oleh urusan dan masalahnya sendiri-sendiri.

Tanpa disadari, ternyata selama ini bukan hanya Aswar yang melakukan ritual ketekunan begitu. Di bilik sebelahnya, khusus tempat jemaah perempuan, ada pula di antaranya yang melakukan hal bersamaan. Bedanya, perempuan yang selalu berdoa dengan khusyuk itu sampai terisak-isak dan menitikkan airmata. Kadangkala suara isak tangis itu sempat juga hingga di telinga Aswar. Tapi, peduli apa Aswar soal nasib orang lain yang sedang bertarung menghadapi persoalan hidupnya. Sebab, Aswar merasa persoalan dirinya saja nyaris tak mampu terselesaikan sebagaimana yang diharapkannya.

“War, semakin lama berdoa tampaknya..” tegur Engku Said, seorang tua pemilik salah satu toko di kawasan mal saat melihat Aswar baru saja menyelesaikan doanya.

Aswar tersenyum ramah, sambil mengulurkan tangan guna bersalaman dengan Engku Said.

“Beginilah hidup, Engku. Sudahlah di dunia tak berpunya. Bekal untuk akhirat pun tak ada pula. Malang betullah nasib hamba serupa itu” sahut Aswar sarat dengan falsafah keagamaannya.

“Betullah engkau, War. Tak banyak anak muda seumurmu yang mau berpikir semacam itu. Tapi, bual-bual sedikit, ihwal jadi imam bagi orang banyak, kau tak perlu diragukan lagi. Saya heran, jadi imam untuk seorang perempuan saja, tampaknya belum ada tanda-tandanya. Apa pasal?” Engku Said mulai mengalihkan pembicaraan pada perihal yang ditakuti Aswar selama ini.

Aswar memang merasa mendapat pukulan telak. Lama ia merenung dan berpikir untuk memilih jawaban yang paling tepat. Ia tak hendak menyinggung perasaan Engku Said yang amat dihormatinya selama ini.

“Boleh jadi, jodoh saya belum bersahut, Engku.”

“Atau, permohohanmu berat sangat sehingga Allah juga berat mengabulkannya.” Engku Said tertawa terbahak membuat wajah Aswar bersemu merah.

“Saya percaya, jodoh itu akan datang jua pada akhirnya..”

“Itu pendapat orang-orang zaman dulu. Kalau sekarang, manalah kijang datang tiba-tiba ke tungku pemanggang bila tak diburu lebih dulu.”

“Ada, Engku.” Potong Aswar dengan cepat. (lebih…)