Arsip untuk April, 2015

Penantian Tanpa Ujung

Posted: 04/30/2015 in Cinta
Tag:

Malam ini aku merasa kesepian. Aku menginginkan sesuatu yang entah ada ujungnya atau tidak. Sudah bertahun-tahun aku merasakan hal seperti ini, kosong dan sendirian.

Namaku Dhelia, umur 20 tahun, seorang mahasiswi kedokteran di salah satu universitas negeri di pulau Jawa. Mungkin aku termasuk orang yang telat merasakan cinta karena usiaku yang sudah remaja akhir baru bisa merasakan sepinya tanpa orang yang disebut kekasih. Yah, aku baru merasakan sakitnya dan sedihnya hati bila tidak ada orang yang sangat dekat sebagai sandaran hati disaat kesepian dan sendirian.

Hari-hariku di Fakultas Kedokteran atau disingkat FK benar-benar menguras energi dan banyak menghabiskan waktu untuk belajar hingga saat libur tiba terasa sepi dan kosong karena tak sesibuk biasanya. Aku merindukan seseorang yang seperti dia, lelaki yang dulu sempat mengisi masa-masa kecilku. Meski bukan teman main yang akrab tapi sekarang aku mengaguminya. Dia adalah seorang polisi dan bukan dari keluarga berduit sama sepertiku. Yah, mungkin bisa dibilang ada sedikit alasan kenapa aku berusaha masuk ke FK meski aku sadar peluangku kecil karena aku hanya bisa mengandalkan SNMPTN saja dan tentunya beasiswa, hehe.

Alhamdulillah aku keterima dan berhasil mendapatkan beasiswa itu sehingga aku tidak perlu membayar uang kuliah. Kabar keterimanya diriku menggegerkan hampir seluruh warga desaku. Mereka tak percaya bila aku bisa masuk ke fakultas yang di dalam pikiran mereka hanya bisa dimasuki oleh orang-orang berduit dan pintar saja. Maklum, orangtuaku bukanlah seorang guru atau pegawai pemerintahan dan bukan orang berduit jadi aku tidak heran mereka bersikap seolah tidak percaya dengan kemampuanku. Tapi kenyataannya aku bisa membuktikannya dan benar-benar menjadi mahasiswa FK. Aku merasa seperti artis waktu itu karena banyak yang membicarakan dan mengagumiku, hehe. Kabar itu ternyata juga sampai di telinganya. Itu membuatku tak percaya tapi entah kenapa itu juga membuatku bertambah senang sekali. Saat itu dia memang sedang pendidikan kepolisian dan tidak di rumah. Aku senang saat dia membicarakan keberhasilanku di depan orangtuaku.

Aku menjadi teringat saat sebelum SNMPTN berlangsung dia sempat datang ke rumahku dan bilang “Kamu kok belajar terus, apa gak bosan? Lagipula ujian juga sudah selesai kan” katanya. Tapi aku diam dan hanya senyum saja karena aku cukup malu untuk berbicara dengannya. Mungkin dia tidak tahu kalau aku akan mengikuti ujian Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Tapi tak apa karena entah kenapa justru itu yang membuatku menjadi semangat untuk belajar. Yup, Laki-laki itu adalah orang yang diam-diam aku kagumi. Usia kami hanya terpaut tiga tahun dan jarak rumah kami juga sangat dekat yaitu depan rumahku sendiri. Aku mulai menyadarinya saat dia mengenakan seragam polisi dan berangkat ke pemusatan pendidikannya yang aku tak tahu itu dimana. Semenjak itu aku terus berpikir apa yang bisa aku lakukan untuk mendapatkan perhatiannya. Akhirnya, aku putuskan untuk belajar giat dan menjadi orang besar suatu saat nanti. Dan terbukti, aku mendapatkannya meski hanya sedikit.

Waktu kecil kami pernah bermain bersama meski tidak berdua saja. Masih dalam ingatanku, waktu itu kami dan teman-teman masa kecilku bermain vampir-vampiran (satu orang dihipnotis jadi vampir, 1 orang jadi penghipnotis, dan yang lain memperhatikan dengan tenang agar proses hipnotis sukses). Yang jadi tukang hipnotis adalah dia. Aku tak habis fikir bagaimana dia bisa membuat temanku menjadi vampir dengan kata-kata yang waktu itu hanya dianggap mainan tapi sekarang aku menyadari kalau itu adalah suatu proses hipnotis karena membuat seseorang bermain dengam alam bawah sadarnya sendiri.

Temanku yang sudah menjadi vampir benar-benar membuat kami semua lari ketakutan dan kami berusaha untuk menghindarinya. Saat disadarkan kembali, dia (temanku-red) mengaku tidak tahu dan tidak ingat bila saat menjadi vampir dia menyerang adiknya sendiri dan menyakitinya. Kejadian itu masih aku ingat sekarang.

Selain itu, ada yang aku ingat kisahku yang ada sosok dirinya. Masa kecilku memang penuh cerita. Kebetulan kami tinggal di desa dan desa kami belum cukup tentram waktu itu karena perselisihan pemilihan lurah dengan desa sebelah. Desa sebelah tak terima calon lurah yang didukungnya kalah dan menganggap kami sebagai biang kekalahan karena kebetulan lurah yang menang adalah pilihan desa kami. Bisa dibilang ini perang saudara (hehe, lebay banget ya). Tapi memang benar ini terjadi. Kami semua sempat ketakutan, bahkan malamnya mereka menyerang desa kami. Tak tanggung-tanggung senjata tajam pun jadi alat perlindungan maupun penyerangan. Aku dan keluargaku berlindung di rumah dan ayahku ikut bersama dengan bapak-bapak yang lain memukul mundur warga sebelah yang mulai beringas.

Dalam ketakutanku itu, ternyata dia ada di dekatku. Kami tidur bersama karena katanya keluarganya entah dimana sehingga dia memutuskan untuk berlindung di rumahku. Eits… jangan salah sangka dulu, waktu itu aku masih sangat kecil untuk merasakan cinta, aku baru masuk TK atau SD, pokoknya masih sangat kecil dan dia sudah SD. Aku benar-benar merindukan untuk melihat wajahnya dari dekat seperti waktu itu. Tapi, aku rasa itu tidak akan terjadi karena sekarang setiap aku melihatnya aku selalu berusaha untuk menghindar. Aku tidak berani untuk berbicara dengannya. Sempat diajak bicara tapi aku menjawab sekenanya dan bersikap sok biasa saja padahal aku menginginkannya.

Iya, memang benar aku mulai jatuh cinta. Jatuh cinta dengan lelaki yang aku sendiri tak tahu apakah dia merasakan hal yang sama padaku. Semoga perasaan yang aku pendam dan harapkan balasan darinya menjadi sesuatu yang membahagiakanku suatu saat nanti. Aku masih menantinya sampai sekarang.

Sumber Klik Disini :

Cinta Pada Sebuah Mimpi

Posted: 04/30/2015 in Cinta
Tag:
Karamnya cinta ini
Tenggelamkanku
Di duka yang terdalam
Hampa hati terasa
Kau tinggalkanku
Meski ku tak rela
  
Andre masih termenung dengan beribu pikiran yang tidak menentu. Galau menghinggapinya. Ia menyadari benar kenapa ini terjadi dan menimpa dirinya. Ia tidak tau kenapa sampai terjadi cinta yang seperti ini. Cinta yang sudah lama menghinggapinya kini kandas. Benar kata orang bahwa terkadang, kita tak akan pernah bisa merasakan indahnya dicintai dengan tulus, jika kita tak pernah disakiti. Palagi saat Naff mengalunkan lagunya yang begitu mengena di hati.
Hingga saat ini pun Andre tidak tau harus bagaimana lagi. Begitu indah sekaligus begitu menyakitkan. Tidak  pernah diduga sebelumnya. Hatinya telah terbagi dua.
            “Tiara,” Andre berguman sambil memandangi foto Tiara. “Apakah pantas aku mendampingimu? Kemana perginya kamu, Tiara? Tidak sudikah kau temui lagi sosok Andre seperti yang dulu, seperti pertama kali kita bersendau gurau, melepas tawa kita masing-masing?” Andre terus memandangi foto Tiara. Foto saat Tiara begitu manjanya sambil memegang batang Flamboyan minta difoto lewat kamera handphone Andre. Ah, begitu cantik. Andre tersenyum. Ya, lebih baik tersenyum karena kadang seseorang lebih memilih tersenyum hanya karena tak ingin menjelaskan mengapa ia bersedih.
Memang sudah terlalu lama Tiara mengisi kehidupan Andre. Mengisi hari-hari dimana Andre merasa kosong pada saat itu mungkin hingga saat ini. Tapi mengapa disaat seperti ini disaat Andre mulai mengenal sosok cewek yang begitu super justru malah Retna muncul ? Ah memang sulit untuk mengucapkan selamat tinggal pada seseorang yang kita cintai, tapi lebih sulit lagi ketika kenangan bersamanya tak mau hilang begitu saja.
            “Retna, bersediakah kamu menggantikan Tiara?” batin Andre tiba-tiba terusik oleh bayang-bayang Retna di benaknya. Terus bergejolak. Bertanya-tanya. Mencari tau kemana hatinya kini ingin berlabuh. “Mengapa begitu sulit menghilangkan jejakmu Tiara. Malah semakin melekat disaat Retna hadir untuk mengisi kekosongan hatiku”
            Lamunan Andre buyar ketika handphonenya berbunyi. Ada panggilan masuk. Dilihatnya darimana panggilan masuk itu.
            “Retna..” Andre cepat-cepat menjawab panggilan dari seberang sana. “Hallo, ada apa Retna?”
            “Ndre, kamu ada dimana?”
            “Di rumah. Ada apa Ret?” suara Andre menyelidik
            “Boleh aku meminta sesuatu padamu, Ndre?” pinta Retna dari seberang sana.
            “Apa itu?” jawab Andre sedikit penasaran
            “Temani aku ke Toko Buku ya? Harus mau, Ndre. Soalnya aku harus mendapatkan sebuah buku yang begitu penting banget”
            “Kok maksa sih…?” aku mencoba mengelak
            “Iya harus maksa. Pokoknya aku jemput sebentar lagi. Kamu siap-siap ya Ndre. Pokoknya mau ga mau harus mau. Oke sebentar lagi kujemput…”
            “Ta…tapi Ret….”
            Sudah terputus hubungan telponnya. Tinggal Andre yang kelabakan harus berbenah diri cepat-cepat. Soalnya Andre baru bangun tidur. “Ayo tersenyumlah, Ndre dalam mengawali hari, karena itu menandakan bahwa kamu siap menghadapi hari dengan penuh semangat!” begitu batin Andre menghibur diri di depan cermin.
            Mereka berjalan bergandengan. Sepanjang perjalanan jemari Retna tak lepas begitu erat menggenggam tangan Andre. Tiba-tiba darah Andre berdesir hebat. Mengalir ke segala penjuru hingga sampai ke otaknya. Mulai panas. Matanya mulai sedikit berkunang-kunang. Lamunannya menerawang jauh hingga Retna mencubit pipinya. Andre tersadar…
            “Auwww…sakit Ret…!”
            “Digandeng cewek cantik malah melamun, bukannya malah senang. Tuh semua cowok pada mencuri pandang kearah aku. Kamu gak cemburu?” Retna begitu percaya diri berada di samping Andre.
            “Maaf, Ret. Aku terlalu bahagia berjalan bergandengan bersama kamu” kata Andre membesarkan hati Retna.
            “Sungguh?”
            “Iya, sungguh. Makanya tadi aku melamun”
            “Hmm….aku tersanjung, Ndre. Aku nyaman berada di samping kamu, Ndre” disandarkannya kepala Retna di lengan Andre. Retna tersenyum. Ada gurat bahagia di wajah Retna. Gambaran cinta telah meronai wajah Retna. Dan semakin eratlah pegangan tangan Retna ke lengan Andre.
            “Andre…” tiba-tiba suara Retna menyapa Andre.
            “Iya, ada apa Retna?” Andre memandangi wajah Retna. Wajah yang begitu cantik, polos terpancar binar cinta. Ah, Retna apakah benar kamu pengganti cintaku yang hilang? Apakah benar kamu cewek super pengganti Tiara?
            “Apakah cintaku gak bertepuk sebelah tangan?” pertanyaan Retna langsung ke lubuk hati Andre yang paling dalam.
            “Apakah kamu merasa bertepuk sebelah tangan?” Andre malah balik bertanya. Retna balas memandang wajah Andre. Mencari tau mungkin ada jawaban yang membahagiakan hati Retna.
            Andre tersenyum. Dibelainya rambut Retna dengan penuh kasih sayang. Diusapnya air mata yang akan menetes dari sudut mata Retna.
            “Dicintai dan disayangi kamu adalah anugerah terindah yang Tuhan berikan padaku” Andre memberanikan diri untuk mengucapkannya.
            “Dalam hati aku menanti, kuserahkan hati sebagai tanda ketulusan cinta” jawab Retna dengan mata berkaca-kaca bahagia.

(lebih…)

Cowok Imut Dengan Senyuman Maut

Posted: 04/29/2015 in Kisah
Tag:
Matahari cukup terik. Tapi nggak cukup bikin calon siswa kelas VIII, termasuk gue, buat males nyerbu papan pengumuman di sekolah kebanggaan gue. Pengumuman pembagian kelas. Bukannya lebay atau alay, tapi temen sekelas juga bisa menentukan prestasi. Itu anggapan gue. Gue adalah salah satu siswa teladan dan berprestasi di sekolah. Bukannya sombong, cuma pengen pamer aja. Eh, bukan… maksud gue cuma pengen cerita tentang siapa gue. Meskipun gue dari desa, tapi gue nggak kalah hebat dari temen-temen gue yang dari kota. Itu kalo bicara soal prestasi. Kalo wajah? Penampilan? Ah, gue rasa gue nggak jelek-jelek amat. Iya, emang Amat aja yang jelek. Aduh, gue ngelantur. Padahal tujuan gue kan mau bikin dongeng. Eh, salah… maksud gue cerpen. Sorry. And back to story…

Dari tadi gue cuma bisa gigit jari dan nyimpen rasa penasaran yang teramat dalam ini. Gue kayak orang bego yang cuma bisa bengong di pinggir tembok ngeliat temen-temen gue yang pada rebutan buat ngeliat isi pengumuman. Udah kayak anak ilang kan gue? Hash, gue benci ini. Tapi apa daya? Tubuh gue yang masih setengah besar cenderung kecil nan mungil ini, nggak mungkin ikut nyeruduk-nyeruduk di sana. Oke, gue pasrah. Gue bakalan tunggu sampek papan pengumuman itu sepi.

2011 detik kemudian. Yes! Akhirnya tinggal beberapa ekor manusia di sana. Segera gue berjalan menuju papan pengumuman itu. Gue mulai dari kelas pertama, VIII-A. Karena nama gue berawalan huruf A, langsung aja gue urut dari absen pertama. Barang kali nama gue ada. Ternyata NIHIL. Oke, cus ke VIII-B. Mulai dari absen pertama. Abdul Amin. Gue nggak kenal. Absen dua, Abdul Ghoni. Ini lagi nama kok couple-an sama atasnya. Eh, ini kan temen sekelas gue dulu. Oke lanjut, Achmad Dwi Bagus Anggara. Kayak pernah denger ini nama. Ingatan gue melukiskan satu wajah yang bener-bener gue benci selama setahun ini. Uwik! Cowok serem itu. Jangan sampek gue di kelas ini. Dan sialnya gue, hal itu terjadi. Alisya Bilqis Syafina. Nama indah gue persis di bawah nama cowok mengerikan itu. OMG HELLOOOO!!! Rasanya gue mau protes sama karyawan TU yang udah naruh nama gue di situ. Sayang, gue terlalu kecil buat ngelakuin hal sebesar itu.

“Ciye… yang absennya deketan.”, suara cowok yang udah kayak hantu tiba-tiba muncul di samping gue. Cowok nyebelin yang tidak lain dan tidak bukan adalah Ferdi, teman sekelas Bagus dulu. Karena gue baik, gue kenalin Bagus sama lo pada. Bagus itu cowok yang naksir sama gue sejak dia liat gue di SD dulu, katanya gitu. Ada cowok yang naksir gue dan gue nggak suka. Gue nggak suka cowok. Haduh, salah! Salah! Maksud gue, gue nggak suka cowok kayak gitu naksir gue. Kenapa? Dia alay kalo kata anak gahol jaman sekarang. Dia teerlaalu kalo kata bang Rhoma. Gue nggak suka cara dia yang norak ngungkapin dan nunjukin perasaannya. Dia serem bukan karena tampangnya, tapi karena dia udah kayak hantu dalam hidup gue selama setahun ini. Kemana-mana gue diikutin sama dia. Gue tau gue cantik, tapi sebagai fans yang baik, jangan norak-norak gitu napa? Udah, gue males bahas dia. Lanjut percakapan gue sama Ferdi…

“Gue lagi males debat sama elo.”, balas gue dengan nada sinis.
“Tapi kalo sekelas sama gue nggak males kan?”, katanya dengan senyuman maut di wajah imutnya. Eh, enggak… maksud gue sok imut. Duh, oke gue ngaku, dia emang imut, apalagi kalo senyum. Sumpah amit-amit dia imut banget.
“Apa?”, gue melongo dan langsung nyari nama dia di deretan kolom kelas gue. Dan gue nggak nemu. Ah, syukurlah… tapi sayang sih, padahal jujur gue pengen ketemu wajah imutnya tiap hari. Tapi gue pura-pura narik nafas lega.
“Nama lo nggak ada di sini weekk.”, ledek gue sambil julurin lidah gue.
“Emang elo tau nama lengkap gue?”, pertanyaannya bikin gue cegek.
“Enggak, emang nama elo si…”, gue berhenti saat gue lihat papan nama di seragam putihnya. Ivan Ferdinand. Oke, gue tadi liat nama ini di kelas gue, tepatnya di absen 17. Gue tambah melongo dan dia masih senyum-senyum ke gue. Ini cowok gila apa setres apa kesambet? Duh, bikin gue klepek-klepek. Eh, jangan-jangan gue yang kesambet?
“Sampai ketemu di kelas cinta… Eh, sorry maksud gue di kelas tercinta.”, katanya sambil berlalu dan melambaikan tangan. Dan gue malah membalasnya dengan kerutan di kening gue. Ini langka. Kesambet apa dia?

Di rumah, gue nggak konsen. Kenapa tuh cowok nyebelin muter-muter di rumah gue? Maksud gue, di otak gue. Elo nggak capek apa? Sumpah elo nyebelin banget. Berani-beraninya masuk ke pikiran gue tanpa permisi. Sini berantem sama gue kalo berani. Dasar cowok nyebelin. Senyum-senyum kayak orang gila, lo kira senyum elo manis gitu? Manis enggak, ganteng juga enggak. Iya, elo nggak manis, elo nggak ganteng, dan elo nggak imut. Jujur, gue bohong.
***
Hari ini hari pertama gue di kelas VIII. Bangku paling depan nomer dua dari pintu. Ya, itu bangku pilihan gue. Sebagai anak yang rajin, ulet, tekun, dan disiplin kayak gue, bangku itulah yang paling sip menurut gue. Mengenyampingkan itu semua, alasan pertama gue adalah karena mata gue minus. Bayangin aja kalo sampek gue di belakang, mata empat gue nanti bisa-bisa jadi enam. “Na’udzubillahimindzalik”, ucap gue sambil ketok-ketok meja.
Berbagai wajah baru gue temui di kelas baru. Mereka memang spesies-spesies dari kelas yang berbeda sama gue dulu. Tapi wajah lama pun gue temui. Wajah sahabat-sahabat gue waktu kelas VII dulu. Dan… wajah dua cowok nyebelin itu. Meskipun yang satu dominan imut. Dan yang satu lagi dominan amit.

“Teeeeetttt…”, bunyi bel tanda masuk kulkas. Eh, kelas. Jam pertama cuma diisi nggak sampek seperempatnya. Abis itu gurunya keluar. Kelas jadi gaduh. Ada yang ngobrol, ketawa-ketawa kayak punya gigi sendiri aja. Ada yang tidur, mungkin tadi malem begadang belajar buat UNAS. Hello… masih lama woy! Ada yang ngelamun, mungkin lagi mikirin utang. Ada yang nggosip. Oke, ini gue sama sahabat-sahabat gue. Kita nggak rumpik kok. Kita? Kalian enggak kok.

(lebih…)

Cinta Ibu Kepada Anaknya

Posted: 04/29/2015 in Kisah
Tag:

Pada saat itu lah ibu mencari nafkah dengan tiada henti nya setelah ayah tiada lagi, yang mana ia sedang mengandung adik ku yang paling kecil pada saat kehamilan nya tujuh bulan, ujar sicch ratna. Ditengah itu pun ibu tiada tempat mengadu hal apapun kecuali dengan ALLAH lha ia mengadu segala hal kesusahan nya. Kemudian di tambah lagi datang nya musibah dengan bencana banjir yang begitu besar menimpanya.

Waktu demi waktu ia jalanin tanpa keluh dan kesah untuk merawat anak – anak nya yang selalu dijaga nya dengan penuh kasih dan sayang nya, demi waktu pun anak – anak nya semakin besar dengan didikkan nya yang tanpa lelah ia mengajarkan agama, dimana ia mencari nafkah untuk biaya sekolah anak nya, tapi ia tidak patah semangat dengan itu.

Terus dia jalanin dengan semangat hingga anak – anak nya poun telah dewasa yang selalu dia rangkul dalam pelukan nya, “ia selalu berpesan dengan anak nya tidak perlu harta yang di cari kali tapi ilmu lha yang di cari walaupun itu terasa sulit mendapatkan nya dan ia berpesan kepada anaknya jagan pernah tingggal kan shalat karna itulah pedoman dalam hiidup kita” dengar kata – kata itu kami ingin membahagiakan nya walaupun tidak dengan uang tapi kami lakukan dengan perilaku yang baik untuk dia.
‘Ibu apakah ibu tidak bosan merawat kami ’ ujar si salwa (si anak bungsu ibu)
‘Ibu sampai kapan pun tidak akan bosan merawat kalian karna kalian adalah sebagian hidup ibu’ (jawab ibu)
‘Apa ibu tidak merasa lelah didik kami yang begitu nakal….? ’ tanya si dedy (anak kedua ibu)
‘Tidak nak senakal – nakal nya kalian, kalian masih mau dengar apa – apa kata ibu, ibu mau kalian jangan pernah tinggalkan shalat meskipun dalam keadaan sesibuk apapun nantinya’
‘Ibu pun meminta kalian agar saling sayang menyayangi dan saling bantu membantu satu sama lain apabila diantara kalian yang sedang susah bantulah jangan jauh menjauhi satu sama lain’
‘kami berjanji bu tidak akan pecah belah, tidak akan jauh menjuahi satu sama lain’ (ujar anak yang pertama)
‘Ibu tersenyum mendengarnya, semoga saja kalian bisa jadi anak yang ibu banggakan, dan tidak akan buat kecewa ibu yang telah mencari nafkah dengan sendiri setelah ayah kalian tiada’
‘Baik lah bu kami ingin jadi anak yang ibu banggakan dan kami tidak buat ibu kecewa’

Ibu dan anak – anak nya saling berpelukan satu sama lain…..!!!

Sumber Klik Disini :