Arsip untuk Mei, 2015

Ku langkahkan kaki dengan cepat. Segera kutuju halte bis yang terletak di perempatan jalan. Gerimis rintik-rintik yang semakin besar membuatku segera mempercepat langkah. Jalanan kini telah sepi lagang, tidak ada satupun kendaraan lewat. Entahlah apa yang terjadi. Mungkin karena malam yang semakin larut disertai hujan deras. Ku lihat jam yang melingkar di tangan, sudah jam 23.50. Sepuluh menit kemudian, tepat pukul 00.00, sebuah Bis berhenti di depanku. Tanpa rasa curiga, aku segera naik ke dalam bis, karena malam semakin larut dan dingin yang tak tertahankan. Aku ingin segera sampai kos, dan buru-buru istirahat, apalagi besok pagi aku ada jadwal kuliah pagi. Ah, ini baru pertama kalinya aku harus lembur sampai selarut ini.

Ku lihat di dalam bis, tak ada seorang pun. Semua tempat duduk kosong. Eh, tapi, tunggu dulu.. Aku menyipitkan mata, agar bisa jelas melihat dengan jelas. Di bangku pojok paling belakang, ada seorang perempuan dengan kepala tertunduk. Tapi aku tidak merasakan hal aneh, mungkin perempuan itu sedang tidur karena kecapekan. Ku putuskan segera duduk di bangku tengah dan menyandarkan kepalaku ke jendela bis. Tiba-tiba aku merasakan dingin yang sangat, bulu kuduk berdiri. Lampu dalam bis itu mati. Dan.. Wushhh. Aku terperanjat. Apa itu yang barusan lewat? Ku alihkan pandangan ke bangku belakang, ingin melihat perempuan yang tadi duduk dengan menunduk. Namun nihil, aku tak bisa melihatnya. Di luar bis pun terlihat sangat gelap sekali.
Beberapa menit kemudan lampu kembali menyala, dan bis berhenti. “Mbak, sudah sampai.” Kata supir dengan nada dingin. Aku terhenyak, dari mana supir ini tahu kalau aku berhenti disini, seingatku aku tidak bilang apapun tadi. Tapi, aku turun saja. Aku kasihkan uang dua lembar lima ribuan. Supir itu menerimanya tanpa menoleh sedikitpun. Aku tidak bisa melihatnya karena dia memakai topi, ditambah lagi kepalanya menunduk. Kutolehkan kepalaku ke belakang. Ingin melihat perempuan yang tadi. Namun tidak ada. Sudahlah, aku turun saja, walaupun dalam pikiranku ada beribu-ribu pertanyaan yang membingungkanku.

Sesudah aku turun, dengan iseng aku lihat ke belakang. Kemana bis itu, kenapa tiba-tiba tidak ada. Masak iya bis itu melaju kencang. Tapi kalau pun bisnya melaju kencang, setidaknya masih terlihat jelas, karena jalan raya di depan kosku lurus, tak ada belokan. Aku pun segera masuk ke kos dengan berlari. Bukk. “Aduhh.” “Neng Dina, kenapa neng lari-lari, kaya ketakutan gitu..” Ah, sukurlah, itu Mang Asep. Penjaga kos disini. “Tidak apa-apa kok mang. Ya sudah, aku masuk dulu ya mang.” “Iya neng.”

Huh, dasar si bos, masak aku harus lembur lagi. Lagi-lagi aku pulang seperti kemarin. Namun kali ini tidak ada hujan deras. Di jalan pun masih ada kendaraan walau jarang. Tepat pukul 00.00, Bis itu datang lagi. Sebenarnya aku tidak mau naik bis ini lagi, takut kejadian kemarin terulang lagi. Tapi apa daya, malam sudah sangat larut. Aku hanya bisa pasrah. Lagi-lagi lampunya mati, dan ketakutanku terjadi. Wusshh. Aku hanya menutup mata, dan bus itu berhenti. Aku segera turun, dan berlari menuju kos. Segera kurebahkan badan yang sangat lelah ini di kasur kamarku. Baru saja terlelap dalam nikmatnya tidur, tiba-tiba terdengar suara perempuan menangis di ruang bawah. Seketika juga aku penasaran sekaligus merinding. Jantungku berdegup lebih kencang. Suara siapa itu. Kenapa menggangguku di tengah malam ini. Kulihat jam di dinding kamar. Jam 01.00. Apa aku harus mengeceknya ke ruang bawah itu? Tapi, mang Asep melarangku membuka ruang bawah. Sebenarnya apa yang terjadi.

Ku ketuk pintu Lisa di sebelah kamarku. Karena tak ada jawaban, langsung saja membuka pintunya. Ku bangunkan Lisa yang tertidur pulas dengan menggoncangkan tubuhnya. Lisa bangun dan mengucek-ngucek matanya. “Ada apa sih Din, ngantuk tau!” “Lis, kamu denger suara cewek nangis gak?” Lisa pun terdiam dan menajamkan kupingnya. “Ah, kamu itu berhalusinasi aja.. gak ada gitu.. udah ah, aku mau tidur. Ngantuk!” “Lis, aku tidur disini ya.” Lisa hanya menarik selimutnya dan meneruskan tidur. Aku ikut berbaring di sebelah Lisa. Suara tangisan itu terdengar lagi. Tapi aku tak mempedulikannya. Lebih baik aku pejamkan mata saja.

Ini adalah hari ke tujuh aku disuruh lembur lagi sama si bos. Sebenarnya aku enggan, tapi karena kepepet, akhirnya aku iya kan saja. Setelah pulang, aku telepon Lisa. Ku suruh dia menjemputkku. Aku tak mau lagi naik bis aneh itu. Bagiku itu adalah hal misteri yang benar-benar membuatku bisa-bisa mati berdiri. Segera ku telepon Lisa. Tak diangkat. Kucoba beberapa kali. Ah.. kenapa dia tak mengangkatnya, padahal tadi dia berjanji mau menjemputku pulang. Ku telepon Riri, teman se kos juga. Tidak aktif. Kenapa dengan orang-orang ini. Bis itu berhenti lagi di depanku. Apa yang harus kuperbuat? Aku sangat bingung. Tiba-tiba pintu bis terbuka. Di balik pintu itu ada seorang perempuan cantik dan tersenyum padaku. Ia melambaikan tangannya, menyuruhku agar segera masuk. Dan entah kenapa, aku menuruti perintah dia. Aku pun segera naik. Dia duduk di sebelahku. Namun tak lama kemudian, aku merasa hawa sekitar sangat dingin, sampai menusuk tulang. Bulu kudukku ikut berdiri. Merinding. Perempuan di sebelahku tiba-tiba menangis pilu. Aku teringat dengan kejadian aneh di kos, karena suaranya sama persis. Aku menoleh dengan perlahan untuk memastikan apakah perempuan ini benar-benar orang, atau… HAH.. aku terlonjak kaget saat dia melihatku tajam. Dia menangis darah, wajahnya sangat pucat. Aku berlari menuju supir, dan meminta untuk berhenti. Tapi anehnya, supir itu seperti tidak mendengar suaraku. Padahal aku sudah berteriak minta berhenti. Ku goncangkan tubuhnya. Lagi-lagi aku terlonjak kaget saat supir itu menoleh ke arahku. Wajahnya sudah rusak dan agak hitam legam. Matanya berlubang satu. Aku dengan sigap lari menuju pintu bis, untunglah pintunya tidak tertutup, aku meloncat. Tubuhku terguling-guling di atas aspal. Tapi aku tak peduli, aku segera bangkit dan berlari. Tiiiit… tiiiiiit… Ckiiiit.. HAH.. Aku berdiri ketakutan di depan sepeda motor yang hampir saja menabrakku. “Dinaa.. kamu kenapa..” Kulihat orang yang menyebut namaku. Ternyata dia adalah Rizki, teman kuliahku. Aku langsung berhambur padanya, dan duduk di belakang Rizki dengan badan gemetar. Rizki masih terheran-heran melihatku. “To.. tolong an..ta..r.. ak.. u.. pu…lang.” kataku dengan gugup dan nafas yang masih tersengal. Tanpa bertanya lebih lanjut, Rizki mulai menjalankan maticnya.

Setelah sampai kos, Rizki mengantarku ke kamar dan membuatkan aku teh hangat. “Minum dulu biar tenang.” Aku pun segera meminumnya. Dalam hitungan detik, teh itu langsung habis. “Sebenarnya apa yang terjadi Din, kenapa tadi kamu tiba-tiba ada di tengah jalan, tengah malam lagi.” Aku masih terdiam. “Tangan kamu juga kenapa, kok berdarah gini. Kamu jatuh?” Aku menggeleng cepat. “Trus kenapa?” “Rizki, emm…” “Iya?” “Akuu.. takuut.” “Takut kenapa? Ada yang nyakitin kamu?” Aku menggeleng lagi. “Kenapa? Cerita aja. Kita kan udah deket. Ya kalau kamu gak cerita sekarang juga gak apa-apa sih. Besok kamu bisa cerita di kampus.” “Tapi, kamu habis dari mana ki, kok tengah malam gini kelayapan?” “Hahaha.. Dinaa Dina, aku gak kelayapan, tadi habis nganter si Tyo pulang, biasalah, maen di rumahku. Eh ya, aku balik dulu ya. Udah jam berapa ni, gak enak diliat tetangga. Kamu gak apa-apa kan sendiri.” “Iya gak apa-apa. Makasih ya udah mau anter pulang. Lagian udah ada Lisa sama Riri kok.” “iya udah deh.. sukur kalo ada temennya. Aku pulang dulu ya, sampe ketemu di kampus. Assalamu’alaikum.” “Wa’alaikumus salam.” Rizki meninggalkanku. Aku segera beranjak ke kamar sebelah. Menemui Lisa. Ku buka pintunya tanpa kuketuk. Namun, tiba-tiba bau amis meggelitik hidungku. Aaaaaaaaa.
Ada yang memegang bahuku. Ku tepis tangan itu, “Din, ada apa, kenapa kamu teriak?” “Rizki, ka.. kamu belum pulang.” “Tadi aku denger kamu teriak, makannya aku balik.” Aku menunjuk telunjukku ke dalam kamar Lisa. Ku lihat wajah Rizki menjadi pucat. “A.. ku telepon polisi. Ka .. kamu tenang ya Din.” Aku hanya bisa menangis pasrah. Tiba-tiba ku teringat Riri. Dimana dia.. aku segera ke kamarnya. Ku buka pintunya. Kulihat Riri sedang tidur pulas. Segera ku goncangkan tubuhnya. “Riii, bangun Ri.. Ririii.. Banguunn.” Ia menggeliat. “ada apa sih?” Tanyanya. Setelah ku menceritakan tentang Lisa, ia terlonjak kaget dan segera berlari ke kamar Lisa. Riri memelukku dan menangis sambil berteriak memanggil Lisa. Tak lama kemudian, polisi dan pihak rumah sakit datang. Mereka segera mengurus kejadian itu. Aku, Rizki dan Riri ikut mereka. (lebih…)

Mungkin Aku Salah

Posted: 05/29/2015 in Kisah
Tag:

Memang cinta datang begitu saja dan tak mengenal siapapun itu dan ini pun terjadi pada diriku. Rissya, cewek tomboy dan sangat senang nonton bola.

Malam yang ku tunggu tiba, pertandingan El clasico FC Barcelona vs Real Madrid. Saat aku asyik menonton bola tiba-tiba HP ku berdering dan ternyata ada BBM hmm dari nama yang terlihat asing bagiku

“Rissya skornya udah berapa nih?”
“Masih 0-0 hehe”

Aku memang sering menyimpan Kontak BBM orang lain yang tak ku kenal karena hanya untuk berkenalan saja atau menambah kontak. Ketika aku lihat di ‘Display Name’ BBM dia bernama Fahmi. Aku dan dia menjadi BBM-an setiap hari karena menurutku dia orangnya asik dan sedikit memberi perhatian kepadaku. Dan aku pun sedikit terbang melayang ketika dia memujiku dan terus memuji. Huft sebenarnya aku tidak suka dibilang ‘kamu cantik deh’ ‘imut banget ya’ atau yang lainnya, aku ingin menjadi aku yang apa adanya tanpa dilebih-lebihkan.

Percakapan BBM itu berlanjut dan setelah ku tanya dia yang sebenarnya itu siapa dan mengapa dulu pernah ada di Kontak BBM ku dan ternyata ohhh… ternyata temannya Althof temanku di SMP.

Waktu terus berjalan. Pagi, siang, malam. Hpku berdering saking asiknya chatting.
“duh baik banget ini cowok” gumamku dalam hati.
Dia memang lelaki aneh, selalu bisa membuatku tak lepas memegang handphone. Tak lama aku terus meresponnya sampai-sampai dia BBM aku pakai Emoticon Hug.

Apakah aku menyukainya?
padahal kan aku baru saja kenal beberapa hari dengan dia tapi… perasaan itu muncul perlahan. Memang sih aku tahu Fahmi itu sudah mempunyai kekasih hati yang hampir ‘setahun’ menjadi pujaan hatinya. Alia, dialah perempuan berkerudung itu. Cantik memang. Baik juga kelihatannya. Aku tidak mau menganggu mereka tapi sungguh, aku mulai menyukai dia.
Tuhannn… Aku harus bagaimana apakah aku memang bodoh menyukai lelaki yang sudah mempunyai pacar
Rissya… Sadar.. Kamu tak pantas untuknya..

Hmm. ‘Stalker’ yap sebutan itu pantas untukku. Seringkali aku melihat Timeline twitter Alia. Aku, perempuan yang penuh penasaran menggebu-gebu ini melihat timeline Alia dan ada yang menusuk hatiku tapi sesungguhnya aku tak berhak bertingkah laku cemburu yang bodoh seperti ini. Ternyata Alia adalah sosok perempuan yang setia dan tidak mau kehilangan pacarnya itu, Naufal.
“Love you Fahmi”
“Love you too ya lia”
Duh, kata-kata itu seringkali ku lihat di Timeline Fahmi karena aku waktu itu mem-follow dia. rasanya mereka cocok sekali. Cemburu, iya aku cemburu. Tapi aku tidak berhak.
Aku bukan siapa-siapa di hadapan Fahmi. Ya, mungkin hanya teman. Tidak lebih. Aku mungkin hanya persinggahannya ketika pacarnya sibuk. Bukan tujuan.

Aku memang harus menjauh darinya.
Melupakannya…
Rasanya ingin sekali pergi jauh entah kemana melupakan dia.
Tapi rasanya sulit.
Makin hari aku makin menyukainya.
Merindukannya dalam diam.
Merindukan tanpa pengungkapan.
Melihatmu dari jauh.
Aku hanya bisa memendam rasa ini, rasa yang teramat indah tapi terasa sangat sakit sekali untukku ketika ku sudah tahu yang sebenarnya.

Oh naufal…
Jika aku bisa berkata jujur.
Aku menyukaimu.

Dari perempuan yang sangat
menyukaimu dalam diam dan tak
bisa Mengungkapkannya…

Sumber Klik Disini :

Bahagia itu Sederhana

Posted: 05/29/2015 in Cinta
Tag:

Perasaan hangat saat merasakan rasa istimewa, melambungkan angan-anganku sejauh-jauhnya hingga tak terjamah lagi oleh mata manusia manapun. Keberanian menyeruak dari hati yang terdalam menepiskan rasa ragu atas perasaan yang tengah kurasakan kini. Sejenak aku mencoba singgah dan saat itu juga aku tak mau pergi lagi. Masih tetap singgah walau mungkin tak terlihat. Hanya bisa menepi dan bersembunyi di balik dinding yang bernamakan kerahasiaan. Sungguh aku tahu hal ini tak mudah, namun aku sudah terlanjur terbawa arus atas sosoknya yang indah di pandanganku. Aku merasakan kebahagiaan. Bahagia yang sederhana ketika merasakan rasa istimewa.
Tetapi terkadang ada perih yang kurasakan. Terkadang juga ada sedikit kebahagiaan yang kudapatkan. Tinggal bagaimana aku bisa memaknai dan sampai sejauh mana aku sanggup bertahan akan perasaan tak terbalas ini. Aku hanya manusia yang memiliki hati dan kebetulan merasakan rasa istimewa pada manusia yang juga memiliki hati. Bedanya denganku, manusia yang bernama Diraz tak memiliki rasa istimewa pada manusia yang bernama Mikha. Kini aku terdampar di tengah lautan hatinya. Aku tenggelam dalam lembah perasaanku. Tak akan ada yang bisa membawaku ke daratan karena besarnya ombak cinta yang tengah menggulungku. Tapi sungguh aku merasakan bahagia. Bahagia itu sederhana ketika kita jatuh cinta.

“Aduh, sakit!” keluhku meringis saat kakiku bersenggolan dengan kursi di depanku.
Perlahan aku duduk dan memulai mengurut-urut kakiku yang terkena benturan kursi tadi. Gara-gara terpana melihat Diraz, kakiku merasakan nikmatnya bersentuhan dengan kursi. Pedih terasa di bagian kakiku, tapi aku merasa bahagia, masih bisa melihat Diraz hari ini.
“Nih kartu kuliahmu, Kha. Eh, kenapa kakimu diurut-urut seperti itu?” tanya Sonya mengamati tanganku yang menari-nari di atas kakiku.
Aku tersenyum menahan sakit, “Terbentur di kursi itu, Son.” kataku sambil menunjuk kursi di depanku.
“Kok bisa? Ada-ada saja kamu Mikha. Aku bantu mengurut kakimu ya.”
Beberapa menit kemudian setelah aku merasa kaki ini sudah cukup baikan, kami melangkah keluar ruangan dan menuju ke kantin untuk mengisi perut yang berontak meminta asupan energi. Lagi-lagi, sosok Diraz lewat di hadapanku. Kali ini aku berusaha untuk tidak tersandung kursi atau hal lain yang dapat menimbulkan kerugian pada anggota tubuhku. Sedikit gugup aku mencoba tenang membawa mangkuk yang berisi bakso favoritku ke salah satu meja yang telah ditempati Sonya. Begitu tampak kebencian di wajah Diraz saat dia tak sengaja menoleh ke arahku tadi. Aku tak tahu harus bagaimana, mau minta maaf tapi aku takut malah akan membuatnya marah

***

Hal rutin yang aku lakukan setiap pukul delapan malam adalah online lalu log in ke akun facebook. Kemudian membuka profil facebook Diraz. Hanya dengan melihat-lihatnya aku merasakan bahagia. Walau hampir setiap hari ketemu dan melihat Diraz karena kami selalu satu ruangan saat kuliah, aku tak pernah bosan mengamati facebook-nya sekedar ingin tahu keadaannya atau apa saja yang dia lakukan seharian ini dan tentu saja tak lupa melihat komentar-komentar dari setiap status yang dia tulis di sana. Sebenarnya sampai sekarang aku masih takut-takut untuk menjelajahi profil facebook Diraz, takut jika ketahuan oleh orang lain. Maka dari itu aku hanya membuka profilnya jika sudah berada di rumah Sekarang aku tidak lagi menjadi teman akrab juga teman di akun facebook Diraz sejak kejadian dua minggu yang lalu. Diraz yang telah berhasil mencuri hatiku, dia juga yang berhasil membuatku merasakan malu yang cukup besar pada kejadian dua minggu yang lalu.

Aku termenung membaca komentar dari statusnya 15 menit yang lalu.
‘Maafkan aku, aku lakukan ini demi kebaikanmu’
Komentar:
Clarabela Assyifa : ‘Dimaafkan yank, :D’
Diraz Pranata : ‘Hahaa Bela.’
Clarabela Assyifa: ‘Kenapa ketawa yank?’
Bela memanggil Diraz “yank”? Apa benar gosip yang kudengar beberapa hari yang lalu kalau Bela menyatakan cinta ke Diraz dan Diraz menerimanya. Tapi kenapa masih berstatus lajang, belum ada perubahan status hubungan di facebook Diraz jika mereka telah resmi jadian. Setetes air bening keluar dari mataku. Tak sengaja dan tak kuinginkan. Aku menghapus air bening itu dari pelupuk mataku dan tersenyum. Mikha, kamu sudah terlanjur terdampar dan tenggelam di hatinya. Saat ini hanya ada satu yang bisa dilakukan. Ikhlas. Dengan begitu kamu akan merasa bahagia tanpa harus memiliki hati dan cintanya. Aku mengatakan kata-kata itu dalam hati guna menghibur diriku sendiri. Di depan laptopku yang masih menyala, aku melamun dan mengenang kembali kejadian dua minggu yang lalu. Kejadian yang tak bisa kulupakan.

“Teman-teman, lihat nih. Si Mikha lagi membuka profil facebook Diraz loh!” teriak Bela sambil merebut laptopku.
Aku cemas dan berusaha merebut kembali laptop itu dari tangan Bela. Tapi, kerumunan teman-teman yang penasaran membuat aku kesulitan. Aku hanya terdiam. Tak berapa lama kemudian Diraz datang dan langsung diseret Bela untuk melihat laptopku.
“Mikha benar-benar menyukaimu Diraz. Coba cek saja di document, foto-fotomu yang di facebook hampir semuanya di-download. Dasar cewek tak tahu malu,” caci Bela sambil memandang sinis padaku yang hanya bisa tertunduk pasrah.
Diraz melihat-lihat isi document di laptopku, wajahnya berubah ketika menemukan foto-fotonya ada di laptopku. Pandangannya beralih memperhatikan diriku yang berdiri kaku.
Tiba-tiba, gubraakk…!
Diraz memukul meja dengan keras hingga laptopku bergeser dan hampir terjatuh. “Hapus semua foto-fotoku! Jangan ganggu aku, aku tak sudi disukai oleh cewek sepertimu!” bentak Diraz emosi dan seketika melangkahkan kakinya menjauh. Bela tersenyum mengejek padaku kemudian menyusul Diraz yang sudah tak terlihat lagi. (lebih…)

Takdir Terindah

Posted: 05/28/2015 in Cinta
Tag:
Separoh nyawaku terasa hilang ,buliran bening air mata turun tak terbendung membasahi pipi,hati kalut dan dipenuhi kekawatiran yang dalam ,ketika engkau melambaikan tanganmu didalam bis yang akan membawamu pergi,rasa takut tak terelakan membungkus perasaan kehilangan ,aku hanya berharap semoga kau akan segera kembali ,aku terus menatap bus yang melaju sampai hilang ditelan tikungan jalan.
Lembaran hari berlalu dengan sepi ,membawa kesedihan yang bertepi ,2 minggu menikah bukanlah waktu yang lama,bulan madu begitu cepat meninggalkanku kau pergi untuk menggapai cita cita yang menjadi ambisimu,dengandalih ingin membahagiakanku.Pernikahan yang begitu dipaksakan karena desakan waktu membuat segalanya begitu sederhana tanpa ada ritual jawa dan resepsi yang menjadi acara puncak pernikahan.Tapi aku tetep menerima karena aku yakin bukan hanya kemewahan yang membikin bahagia tapi bersatunya hati dalam ikatan rumah tangga yang aku damba.
Setelah sebulan berlalu aku kembali mendengar suara kekasih hatiku melalui telpon ,kita bicara panjang lebar melepas rindu yang terpasung jarak pemisah,dia bercerita tentang suasan dinegeri padang pasir dengan segala hal baru ,dari makanan sampai kepada teman.walau segalanya begitu sulit untuk dilalui tapi adaptasi menjadi solusi,aku hanya bisa memberi dorongan agar nantinya dia sukses dan kembali membawa hasil yang baik.
Hari,bulan, dan tahun telah berlalu,suasana yang tadinya rindu menjadi berubah jemu kesendirian telah menjadikan aku kesepian,hari hariku hanya menanti dan menanti yang kadang sering membikin aku cepet emosi ,mungkin karena suasana hati,mas rinto semakin jarang menghubungiku kalau di sms balasnya hanya katanya sibuk dengan pekerjaan,seolah dia telah bertambah menjauh dariku yang menbikin pertanyaan apakah dia masih seperti dulu.

3 tahun pacaran adalah waktu yang tidak pendek,aku mengenal mas Rinto begitu dalam .Dia selalu menyenangkan hatiku dengan canda dan tawa ,memang dia terkenal orangnya lucu,dan mudah bergaul dengan siapapun,mungkin sekarang dia di sana juga pasti punya banyak teman.aku hanya selalu berdo semoga cinta kita selalu bersama dan mas Rinto kan segera mendarat kembali ketanah air dengan membawa cinta.

Sore itu aku merasa sangat penat,bosen dan jengkel gara gara sms mas Rinto yang membikin emosi,untuk membuang kepenatan aku pergi ketaman kota ,walau sendiri berharap bisa menjadi penghibur hati.Suasana taman mulai dipenuhi dengan pengunjung yang kebanyakan keluarga dan pasangan kaum muda mudi,melepas kejenuhan setelah seminggu sibuk dengan kesibukan.aku duduk diatas rumput taman sambil terus memainkan jemariku membuka pacebook yang seolah menjadi temen sejatiku disetiap saat dan dimana tempat.
Aku coba cuek dengan segala yang ada disekitarku ,pemandangan pasangan yang sedang bermesraan banyak aku dapati ditempak itu,yang membawaku mengingat mas rinto,hatiku perih perasaanku terasa teriris,aku berpikir memang uang kiriman mas rinto sungguh lebih dari cukup dan dengan uang itupun aku bisa hidup berlebih,tapi bukan hanya itu yang aku butuhkan ,aku butuh kehadirannya ,aku butuh belaian mesranya,aku sungguh merasa bagaikan bunga yang disiram tiap hari tapi tak pernah diperhatikan .Apa lagi ditempat kerja begitu banyak temen yang sering memberi tanggapan yang bikin aku pening,yang bilang ,”jeng awas lho namanya laki laki jauh dari istri biasanya bikin makan hati apa lagi diluar negeri bebas ,jeng”,kata kata itu sungguh menyesakan hati,dan bikin hati menangis ,wajar aku adalah wanita yang takut kehilangan.

Tak terasa hari sudah mulai gelap,akhirnya aku menuju tempat parkiran motor untuk segera pulang,dan betapa keselnya aku ketika aku dapati ban belakang motorku kempes ,padahal hari udah sore,terpaksa aku harus mendorong motorku saampai ketempat tambal ban yang jaraknya 500meter,setelah aku berjalan 50 meter tiba tiba seorang laki laki memakai motor menghampiriku,
“kenapa dek,kok motornya didorong ,bocor ya”
Akhirnya aku disuruh pakai motornya dan dia yang mendorong sampai tempat tempat tambal ban ,sampai disitu dia pergi saja sambil melepas senyuman,aku tak tahu senyuman itu begitu menenangkan hatiku,tanpa pikir panjang dia pun meluncur meninggalkanku ditempat tambal ban ,ketika selesai aku baru sadar kalau helmku tertukar dengannya,padahal aku tak tahu siapa dia dan kemana aku harus mengembalikannya.

Sesampai aku dirumah aku mandi dan coba nyante didepan tv sambil menikmati cemilan,aku masih terus mengingat laki laki itu wajahnya ganteng,sopan dan kelihatnnya baik hati.astagiruloh,kenapa aku sampai berpikir seperti itu bukankah aku suda tak sendiri lagi,gumanku sendiri. Kembali aku melihat helm yang tertukar helm warna biru,sambil mengati helm aku berpikir bagaimana ya aku dapat alamatnya biar aku dapat kembalikan helmnya,tiba tiba pandanganku tetuju pada stiker yang menempel di helm tertulis,www.mimpiku.blogspot.com,aku ambil laptopku dan coba browsing ternyata bener aku melihat photonya terpajang di halama template blognya.dari situ juga aku dapet alamat pacebooknya dan reguest pertemananpun tekirim.ternyata dia lagi online,dan langsung menjawabnya,

Tiba tiba muncul di halman chating
“assalamualaikum,sorry kalau ngga salah mba ini tapi yang motornya kempes kan?”
“waalaikum salam ,betul mas ,maksih ya atas bantuannya.”
“okey,,,,seneng aja bisa bantuin yang lagi susah ,,”
“makasih,,semoga Alloh balas.”
Setelah percakapan selesai akhirnya kami janjian untuk ketemuan di taman kota ,malam mimggu nanti,entah kenapa aku jadi teringat terus dengan mas kautsar,padahal dia baru aku kenal,terus terang kebaikan perangainya membuat aku kagum.

Seperti biasa sebelum tidur aku selalu menirim sms buat suamiku ,
“assalamualaikum dear,..lagi sibuk ya semoga hari ini kerjaan lancar ,aku selalu berdoa untukmu,emmah,aku mau bobo dulu,assalamualaikum.”
Akupun terus menyendiri sembunyi dibawah selimut untuk menyambut mimpi mimpi indah dalam tidurku nanti ,aku harapkan bisa bertemu dengan mas rinto walau dalam mimpi.
Hari berganti saatnya waktu yang dijanjikan kautsar ,sore itu aku kembali meuju taman kota yang menjadi idolaku dulu bersam mas rinto,tapi kali ini aku akan menemui seorang pemuda yang baik hati ,sebenarnya kau ingin mengajak temenku laila untuk menemaniku tapi apa daya dia tak bisa karena ada acara,bagaimanapun aku tidak sendiri lagi melainkan seorang istri yang sedang ditinggal suami,perasaan yang pantas jika aku segan bertemu dengan seorang laki laki yang tidak ada jalinan saudara ,sudah pasti orang akan berpikir miring tentang aku.

(lebih…)