Arsip untuk Juni, 2015

Hargai Aku

Posted: 06/30/2015 in Remaja
Tag:

“Huft…” Seorang cewek berparas manis menghembuskan nafas berkali-kali.

“Lo kenapa sih? Daritadi menghela nafas kayak ikan kehabisan oksigen!” Komentar cewek berambut sebahu.

“Gue bingung, gimana gue harus bilang sama Azzam soal kepindahan gue ke Jakarta.”

Cewek bernama Ajeng tersebut menoleh pada Nidya, sahabatnya. “Lo beneran mau pindah ke Jakarta?”

Nidya mengangguk. “Bokap gue harus ngurus bisnisnya disana. Gue bingung, Jeng! Lo tahu kan akhir bulan Azzam ulangtahun, sedangkan lusa gue udah harus pindah.”

“Hei! Cewek-cewek lagi pada gosipin apa nih? Kayaknya seru banget.” Azzam, cowok yang sedang menjadi topik perbincangan Nidya dan Ajeng tiba-tiba muncul.

Ajeng melirik Nidya sejenak sebelum akhirnya menjawab. “Kita lagi ngebahas soal kepindahan Nidya ke Jakarta.”

Nidya membungkam mulutnya, dia tak percaya dengan jawaban yang dilontarkan Ajeng. Sungguh, hatinya belum siap untuk menjelaskan semuanya pada Azzam.

“Pindah? Nidya mau pindah ke Jakarta? Lo bercanda kan, Jeng?” Azzam bertanya gusar.

“Gue serius! Kalau lo nggak percaya, tanya aja tuh sama orangnya.”

Azzam menggeser duduknya disamping Nidya. “Sayang, benar kamu mau pindah ke Jakarta?”

Nidya menggigit bibirnya. “Iya, lusa aku harus pindah.”

“Kenapa kamu baru bilang sekarang?” Azzam menatap mata Nidya.

“Aku–aku takut! Kalau aku cerita, kamu akan memutuskan hubungan kita.” Dua bulir kristal bening menetes dari kedua pipi Nidya. “Aku belum siap kalau semua itu terjadi.”

“Sayang, kenapa kamu bisa punya pikiran sepicik itu? Aku nggak mungkin memutuskan hubungan kita cuma gara-gara kepindahanmu.” Azzam menghapus airmata Nidya. “Atau mungkin kamu yang ingin mengakhiri hubungan ini?”

Nidya menggeleng kuat-kuat. “Itu keinginan terakhir dalam hidupku.”

“Tapi kamu harus janji, kamu tetap harus datang pada pesta ulangtahunku. Oke?” Azzam mengusap lembut rambut Nidya.

“Ehem! Bisa nggak kalian akhiri acara drama mellownya? Gue empet nih cuma jadi obat nyamuk.” Ajeng menyeletuk.
*
Tiba saatnya Nidya harus pindah. Sayangnya Azzam dan Ajeng tidak bisa mengantarnya karena harus ikut pelajaran di sekolah. Terlebih lagi hari ini ada tiga ulangan, jadi Nidya harus mengerti bahwa kekasih dan sahabatnya tidak bisa berada di Airport untuk melepas kepergiannya.

Sesungguhnya Nidya merasa sedih harus jauh dari Azzam, hubungannya yang sudah berlangsung hampir dua tahun apa sanggup bertahan saat jarak memisahkan? Dirinya takut, Azzam akan melupakannya. Atau mungkin dia yang melupakan Azzam?
*
Hari baru, kota baru, suasana baru dan sekolah baru. Nidya menjejakkan kakinya malas menuju ruang Kepala Sekolah, ditempat dia akan menuntut ilmu. SMA Taruna adalah salah satu SMA favorit yang terletak di Jakarta Pusat. Kini, Nidya menjadi salah satu penghuni disana.

“Kamu murid pindahan dari Surabaya itu kan?” tanya seorang lelaki berkumis tebal yang tak lain adalah Kepala Sekolah SMA Taruna.

“Iya, Pak!”

“Kamu masuk dikelas XI IPA-2, saya sudah menyuruh ketua kelas untuk kesini.”

Tok..Tok..Tok..

“Permisi, Pak!” Seorang cowok bersuara bariton memberi salam dan masuk kedalam ruangan.

“Farid, ini murid pindahan yang Bapak ceritakan. Tolong kamu bantu dia beradaptasi selama beberapa hari.” Ucap Kepala Sekolah pada cowok bernama Farid itu.

“Nidya, mulai sekarang kalau tidak ada yang mengerti kamu bisa tanyakan pada Farid.” Lanjut Kepala Sekolah mengagetkan Nidya yang sedang asyik menunduk menekuri sepatunya sambil memikirkan Azzam.

Demi kesopanan, akhirnya Nidya menoleh pada cowok disampingnya dan tersenyum. Tapi perlahan senyumnya lenyap ketika mengenali sosok cowok itu. “Farid? Kamu Muhammad Al Farizzi kan?”

Farid mengangguk. “Dan kamu Nidya kan?”

“Kalian sudah saling mengenal? Bagus kalau begitu! Tapi lanjutkan nostalgianya diluar, Bapak banyak tugas yang harus dikerjakan.” Tegur Kepala Sekolah dengan halus, melihat kelakuan kedua anak didiknya tersebut.

“Maaf, Pak! Terimakasih.” Nidya meninggalkan ruang Kepala Sekolah diikuti Farid di belakangnya.

Nidya berjalan cepat, dia mengutuk takdir yang mempertemukannya lagi dengan Farid. Sungguh, Nidya enggan harus bertatap muka dengan cowok itu.
“’Nidya! Tunggu! Kenapa lo menghindari gue?” Farid mencekal tangan Nidya, menahannya pergi.

Nidya menepis pegangan tangan Farid. “Jangan sok akrab!”

“Tapi bukankah hubungan kita memang akrab? Apa lo lupa semua kenangan tentang kita?”

“Hah? Setelah tiga tahun lo menghilang, sekarang lo bilang kenangan kita? Buat gue, kenangan kita udah mati!”

“Gue minta maaf, Nid. Sungguh gue gak bermaksud ninggalin lo begitu aja. Gue bisa menjelaskan semuanya.” Farid menatap Nidya sendu.

“Maaf, tapi penjelasan lo sudah terlambat! Sekarang gue sudah punya kekasih yang mencintai gue seperti gue mencintainya.”

Farid terenyak mendengar perkataan Nidya, padahal selama ini dirinya selalu menanti Nidya. Hatinya tak pernah lepas dari sosok dan nama Nidya. Tapi, dengan gampangnya Nidya berubah? Melupakannya begitu saja?
***
“Hallo? Azzam?” Nadya bersuara ketika pada deringan kelima akhirnya Azzam mengangkat telepon.

“Sori, gue Ajeng. Azzam lagi sibuk, Nid. Lo tahu kan, lusa Azzam ada pertandingan break dance?”

Sejenak, Nidya merasa kesal. Kenapa sudah dua hari ini Nidya telepon Azzam, selalu saja Ajeng yang mengangkat. “Please, bentar aja, Jeng! Gue kangen sama Azzam.”

“Gimana ya? Lo tuh harusnya bisa ngertiin Azzam, dia butuh banyak konsentrasi. Ntar gue sampein deh ke Azzam.”

Tutt..tutt..tutt
Telepon diputus

“Apa sih maksud Ajeng? Kenapa sekarang dia berubah?”

Memang sebenarnya Ajeng adalah teman Azzam dari kecil. Sedangkan Nidya baru mengenal Ajeng dua tahun belakangan ini.

Farid menepuk bahu Nidya. “Lo kenapa, Nid?”

“Gue kangen Azzam–cowok gue. Udah dua hari dia gak ada kabar.”

“Daripada lo sedih dan manyun terus, mendingan lo ikut gue sekarang.” Tanpa menunggu jawaban Nidya, Farid menarik pelan tangan Nidya dan menuntunnya ke mobil.

“Sebenernya kita mau kemana sih, Rid?”

“Ketempat favorit lo saat lo sedih.”

Farid menepikan mobilnya di parkiran Ancol.

“Mau apa kita kesini?”

“Kan tadi gue udah bilang kalau gue mau ngajak lo ke tempat favorit lo, biar lo gak sedih lagi.” Farid tersenyum. “Sekarang mending lo turun.”

Nidya menuruti Farid, tapi tetap saja pikirannya masih belum bisa lepas dari Azzam.

Nidya tertegun ketika Farid mengajaknya masuk ke suatu tempat bertuliskan ‘Planetarium’. “Lo masih ingat?”

“Gue selalu inget apapun tentang lo. Lo kan selalu bilang, saat pikiran lo lagi kalut atau sedih semua bisa terobati saat lo menatap bintang.”

Nidya menitikkan airmata. Entah apa yang membuatnya menangis, Azzam atau Farid?

“Kenapa lo nangis? Lo gak suka?”

Nidya menggeleng.

“Atau lo ingat soal cowok lo? Lebih baik lo lupain cowok yang cuma bisa buat lo nangis.” Farid menyentuh dagu Nidya dan mendongakkannya. “Disini ada gue, yang lebih perhatian sama lo. Lupain aja cowok lo itu.”

“Gue sayang sama dia…”

“Sstttt….” Farid mendekatkan wajahnya pada Nidya, dengan perlahan tapi pasti Farid mengecup lembut bibir Nidya.

Untuk beberapa saat Nidya menikmati kecupan lembut itu. Tapi tiba-tiba bayangan Azzam terlintas di otaknya.

“Lo apa-apaan sih!” Nidya menampar Farid dan pergi meninggalkannya.
***
Sudah beberapa hari ini Nidya menghindari Farid. Bahkan untuk sekedar melihat wajahnya saja Nidya malas.

“Ya Tuhan, semoga Azzam yang angkat.” Nidya berdoa dalam hati ketika menekan tombol hijau di handphonenya.

“Hai sayang, kok tumben telepon?” Suara Azzam terdengar lembut di seberang sana.

“Azzam? Kemana aja kamu? Aku telepon kamu selalu sibuk.”

“Maaf sayang, kamu kan tahu kalau aku ada turnamen break dance. Dan aku senang banget kelompokku maju ke babak final.”

Mendengar suara Azzam yang bersemangat entah kenapa Nidya jadi tidak ingin marah lagi.

“Sayang, maaf ya aku harus latihan lagi. Nih ada Ajeng, katanya dia kangen mau ngomong sama kamu.”

“Oke deh, semoga kelompok kamu jadi juara ya. Love you.”

“Makasihhhh sayang.”

“Kenapa Azzam gak balas ucapan cinta gue? Apa dia gak denger?” Nidya berkata lirih.

“Lo pengen tahu kenapa Azzam sekarang berubah sama lo?” Tiba-tiba suara Ajeng terdengar dari seberang sana.

“Ajeng? Emang lo tahu kenapa Azzam berubah?”

“Sebenernya gue gak enak mau cerita sama lo. Tapi karena lo temen gue, jadi lebih baik gue kasih tahu lo yang sebenernya.”

Nidya makin penasaran dengan perkataan Ajeng yang dirasa berputar-putar. “Soal apa?”

“Udah lama Azzam curhat sama gue kalau dia jenuh sama hubungan kalian. Sebenernya dia pengen mengakhiri semuanya, tapi dia menunggu waktu yang tepat.”

“Hah? Maksud lo apa?”

“Kalau lo emang sayang sama Azzam, sebaiknya lo yang mengakhiri hubungan kalian. Daripada Azzam tersiksa harus terus berpura-pura mencintai lo.”

“Lo–bercanda kan, Jeng?”

“Buat apa gue bercanda soal beginian? Apa lo gak ngerasa kalau Azzam ngejauhin lo? Setiap lo telepon selalu gue yang angkat, itu karena Azzam malas mau ngomong sama lo.”

“Oke…kalau itu membuat Azzam bahagia gue rela.” Nidya memutuskan sambungan telepon dengan gemetar, kristal bening perlahan mengalir dipipi tembamnya.

***
Satu minggu sudah Nidya tidak pernah lagi menghubungi Azzam, begitu juga sebaliknya Azzam tidak pernah menghubungi Nidya. Nidya amat sangat terpukul mengetahui ternyata semua perkataan Ajeng benar adanya.

Bahkan, hari ini saat ulangtahun Azzam, Nidya sengaja melupakannya. Ucapan ulangtahun maupun kado yang sudah dipersiapkannya kini sudah ada ditempat sampah.

“Nid, sebaiknya lo sekarang ikut gue.” Farid mengagetkan Nidya yang sedang asyik merenung.

“Kenapa sih lo selalu ganggu gue? Semenjak lo datang hidup gue hancur!”

“Gue minta maaf udah bikin hidup lo hancur.” Farid terpukul. “Tapi…sebaiknya lo sekarang lo ikut gue. Karena ini antara hidup dan mati.”

“Lo ngomong apa sih? Gue gak paham sama sekali.”

“Kalau gue jelasin sekarang keburu terlambat.” Dengan tergesa Farid menarik tangan Nidya dan menyuruhnya masuk ke dalam mobil.

Selama perjalanan Nidya diam saja, pikirannya sibuk menerka-nerka kemana Farid akan mengajaknya.

“Rumah Sakit Fatimah? Ngapain kita kesini? Siapa yang sakit?”

“Penjelasannya nanti aja, mending sekarang turun.”

Nidya menuruti Farid dan segera turun dari mobil. Perasaannya tiba-tiba menjadi tidak enak. Pikiran buruk silih berganti melintas dipikiran Nidya.

Farid setengah berlari sembari menggandeng tangan Nidya. Perjalanan mereka berakhir didepan kamar bertuliskan Anggrek 15.

“Ajeng? Kenapa lo ada disini?” Nidya kaget melihat Ajeng sedang berlinangan air mata. “Kenapa lo nangis?”

“Ngapain lo kesini? Belum cukup lo bikin Azzam menderita? Semua gara-gara lo!” Ajeng mendorong tubuh Nidya hingga tersungkur.

“Azzam? Kenapa lo bawa-bawa Azzam? Ada apa sebenernya?”

“Padahal gue udah bohongi Azzam! Gue bilang lo selingkuh, tapi dia gak percaya. Akhirnya dia nekat datang ke Jakarta, tapi sesampainya disini gue ancam dia kalau gue akan bunuh diri! Saat gue berdiri ditengah jalan, Azzam mendorong gue ketika ada truk mendekat!” Ajeng semakin murka. “Semua ini gara-gara lo! Kalau Azzam gak kenal sama lo, semua ini gak akan terjadi! Dan pastinya Azzam akan jadi milik gue! Padahal hari ini hari ulangtahun Azzam!”

“Azzam kecelakaan?”

“Ajeng! Kenapa lo nyalahin Nidya? Dia gak salah apa-apa!” Farid angkat bicara. “Lebih baik kita masuk kedalam aja.”

Nidya langsung berlari ketika melihat tubuh orang yang dicintainya terbaring lemah tak berdaya. Bermacam-macam selang menancap ditubuh Azzam.

“Zam, kenapa kamu? Jangan tinggalin aku, bangun dong!” Nidya mengguncang pelan bahu Azzam.

“Maafin aku, Zam! Aku sayang sama kamu! Buka mata kamu.” Nidya sesenggukan.

Azzam membuka matanya. “Nid..ya..?”

“Azzam? Kamu kenapa? Tolong cepat sembuh, aku butuh kamu.”

Azzam tersenyum sayu. “Ak..u ras..a wak.tu ku uda..h ga..k bany..ak lag..i..”

“Kok kamu ngomong gitu sih?”

“Jan..gan sed..ih sayan..g, mana u..capan ula..ngtah..un bu..at ak..u?” Azzam mencoba tersenyum.

“Happy Birthday sayang! Kamu harus sembuh, kita rayakan ulangtahunmu sama-sama!” Nidya mengecup bibir Azza lembut. Tubuhnya gemetar karna menahan tangis yang kian menjadi.

“Zam, maafin gue. Gue udah egois dan buat lo jadi begini.” Ajeng mendekati Azzam.

“Gu..e ud..ah maaf..in l..o, tolo..ng jaga..in Nid..ya. Lo haru..s bertema..n bai..k sam..a di..a..”

“Kenapa kamu ngomong gitu, Zam? Jangan pergi tinggalin aku! Aku butuh kamu disini.” Airmata Nidya semakin deras mengalir.

“Ak..u saya..ng sam..a kam..u..” Perlahan Azzam menutup matanya dan monitor jantung berubah menjadi garis lurus.

“Tidaaakkkkkkkkkk!!” Nidya berteriak kencang.

Farid langsung maju dan memeluk Nidya. “Lo yang sabar ya, hidup dan mati seseorang udah digariskan.”

Seorang dokter masuk dan mencoba alat pacu jantung untuk menolong Azzam. Tapi takdir berkata lain, Azzam sudah tidak bisa ditolong.

“Maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin.”

“Azzaaammmmmmmm.” Nidya jatuh pingsan ketika melihat wajah orang yang dicintainya tertutup kain putih.

Begitu naas nasib Azzam, hari kelahirnya berubah menjadi hari kematiannya. Tapi itulah takdir, kita tidak bisa meramalkan hidup dan mati seseorang. Semuanya adalah kuasa sang Ilahi.

Sumber Klik Disini :

Saat pulang sekolah, gue menunggu kakak gue menjemput, karena tadi pagi gue perginya di antar. So, pulangnya juga mesti kudu di jemput, banyak anak-anak yang udah pada pulang, tinggal gue lah yang sendirian. aduuuuh di mana sich, jadi njemput apa nggax. uuuuh capek, mana tadi gue udah nolak di antar sama Ferly lagi, padahal kalau nggax kan….
“chel. sendirian aja?” tanya anggi yang baru datang.
“enggax” jawab ku cepat.
“emang ama siapa lagi?” tanya anggi sambil mencari-cari orang yang mungkin bisa jadi temen ngobrol gue.
“ya ama loe lah, nggax lihat apa nie…” balas ku.
“iiiih loe tu ya, hobby banget buat gue sebel”
“he he he sengaja. eh ada apa nih, kok loe belum pulang”
“ada yang pengen gue omongin sama loe nih”
“0h yea? apaan tuch?”
“ada yang kirim salam sama loe”
“kirim salam? yaaahh…” jawab ku lemes.
“kenapa?” tanya anggi tampak bingung.
“cuma salam doank?” tanya ku tanpa menjawab pertanyaan anggi.
“ea… emang kanapa sich, ada yang marah yea….”
“bukan itu….”
“0h, trus kalau bukan itu apa?”
“masa kirim salam aja, sekali-kali kirim ampau kek, kalau nggax makanan gitu, kan enak dikit, ini nggax salaaaaam aja, buat apa lah”
“salam itu kan sunnah, jadi selain bisa makin kenal sama loe, juga makin tambah pahala, ia nggax sich”
“ia juga sich”
“e ya udah salamnya di terima nggax?” tanya anggi.
“yah mau gimana lagi, kalau mengucap salam itu sunnah, berarti ngejawab salam itu wajib kan, jadi mau terpaksa atau pun nggax, gue terima kok, dari pada dosa ia nggax. ya udah Wa’alaikum salam. emmm kirim salam balik ea..”
“tenang aja”
“e tapi by the way loe mau banget jadi tukang pos”
“kan pahala chel”
“eh ia, mantap-mantap-mantap… gue suka gaya loe…”
“pastinya….”
“e tapi, emang siapa sich pengagum rahasia gue?”
“pengagum rahasia?”
“ia. siapa lagi kalau bukan pengagum rahasia, tiba-tiba kirim salam, padahal gue nggak kenal”
“0h e itu si Ferly”
“what?! Ferly???? seriuz loe?” tanya ku kaget. seriuz nih, my idola kirim salam sama gue??? eh gue nggax mimpi kan, aduh lebay kaleee.
“ya seriuz lah. kenapa? mau di tarik lagi jawaban salamnya?”
“he?! emang bisa?”
“enggax”
“jadi…”
“ya kali aja loe mau, gue bakal kasi tiga kata buat loe”
“apa an tuch”
“nggax akan bisa…. he he he”
“ah re-se loe”
“he he he… e tapi menurut loe, mana yang paling keren di antara semua cowok kelas gue…”
“kalau kelas loe gue nggax tau. abis gue nggax seberapa kenal sama temen-temen kelas loe, tapi kalau dari semua yang ada di SMU ini gue tau”
“oh yea? siapa tuch??”
“e kalau menurut gue sich, itu si Ferly. tapi nggax tau deh menurut orang laen…”
“Ferly?!” tanya anggi memastikan.
“ea. abis gue nggax seberapa kenal sama anak yang sekelas sama loe itu”
“ya salah satunya Ferly itu”
“0h ea? jadi Ferly itu sekelas sama loe?” tanyaku kaget, pantesan aja Ferly minta tolong sama anggi, lah wong sekelas, gimana nggax….
“iya, kenapa? loe baru tau?”
“he he he sebenernya sich ia”
“uuuh ketinggalan informasi loe….”
“ya abis loe nggax kasi tau gue”
“ya mau gimana, orang loe nggax nanya”
“ya tapi kan….” kata-kata ku terhenti melihat seorang yang mengendarai motor mendekati gue “eh itu kakak gue, gue pulang bareng kakak gue dulu ya, sampai ketemu besok. inget salam gue jangan sampai lupa” balas ku dan melangkah mendekati kakak gue.
“tenang aja. asal ntar ada honor nya…”
“he he he… ambil aja di bank, loe ambil pake ATM loe sendiri, pasti dapat, kalau nggax semuanya buat loe deh” balas ku.
“yeee itu sich sama aja”
“he he he….” balas ku. sementara anggi makin sewot. saat di perjalanan pulang, nggax sengaja gue ketemu sama Ferly, dan ia tersenyum ke arah gue, gue balas tersenyum, ia terus ngelihatin gue sampai udah jauh, lalu tertawa bareng temennya yang di belakangnya. tau deh ngetawain apa. bikin penasaran aja. asal nggax nertawain gue sudah lah.

Beberapa hari kemudian, gosip tentang Steven dan mike jalan ke rumah nay, telah menyebar dengan cepat, ya biasalah namanya juga gosip TST aja lah yea… eh tau kan apa itu TST? tau donk, nggax mungkin nggax tau, itu lho, lagunya ‘Norman’ TST (Tau Sama Tau.. he he he… ) Tapi yang lebih parahnya lagi, gosipnya itu Steven jadian sama gue, aneh kan??? padahal kan nggax sama sekali.
Tapi tampak Steven tenang-tenang aja, cuma gue aja yang merasa nggax enak, ya iya lah, kalau ia ma nggax apa-apa, ini masalahnya tu nggax. gue nggax sama Steven. jadi gue merasa terganggu sama gosip ne… tapi untung lah ini nggax merusak hubungan persahabatan gue sama Steven. dan makin hari gue sama Steven makin akrab. jujur saja sejak Steven nggax merasa terganggu gue jadi mulai bisa bersikap biasa, dan nggax perduli dengan ini semua, bodo’ amet, yang penting gue masih bisa bersahabat deket sama Steven itu udah cukup kok.
siang ini gue lagi di perjalanan bareng nay. ceritanya sich mau kerumah mike, tapi nggax tau lah, abis kata nay dia juga nggax tau rumah nya yang mana, tapi menurut informasi sich di daerah ini, tapi rumahnya yang mana ea. gue terus mengendarai motor sementara nay yang memandu perjalanan,
“chel, loe suka sama Steven ea?” tanya nay tiba-tiba.
“what?! maksud loe???” gue kaget, nie orang tau dari mana?
“ya… loe suka sama Steven kan?” tanya nay sekali lagi.
“haaaa??? ha ha ha ya nggax lah, ada-ada aja loe. mana mungkin. gue emang deket sama Steven. tapi kita cuma sekadar temen aja kok, nggax lebih, lagian mana mungkin gue sama Steven. jangan ngawur deh”
“lho kenapa? emang ada yang salah, menurut gue Steven itu anaknya baik kok, jadi cocok lah sama loe, dan loe juga bisa ngobatin sakit hatinya”
“maksud loe???”
“Steven itu kan sekarang lagi CBST” kata nay, CBST??? Cinta Bertepuk Sebelah Tangan maksudnya???! sama siapa? kok gue bisa nggax tau. jadi selama ini Steven…
“0h ea? sama siapa?” tanyaku sewajar mungkin, agar nggax terlihat gue terlalu kaget, nggax asyik donk kalau ketahuan gue nggax tau sama sekali tentang cewek yang di suka cobatz gue sendiri.
“emang loe nggax tau? dia kan anak kelas kita” kata nay lagi, what? jadi selama ini Steven suka sama anak kelas gue? tapi siapa? kok gue bisa nggax tau sich, tiba-tiba saja perasaan gue sedih. nggax tau kenapa.
“he?? e gue… gue tau kok siapa”
“0h ea? loe udah tau siapa?”
“ia. gue udah tau, siapa ceweknya, gue fikir itu cuma gosip. jadi beneran ea?” tanyaku sok tau, padahal saat ini gue bener-bener nggax tau, ya gue ngelakuin ini agar nggax terlihat gue sedih aja, ntar kalau nay ngira gue baru tau sekarang, dia fikir gue patah hati, trus ketahuan gue suka Steven, wah bisa gawat, ntar jadi gue yang CBST donk. ooooh kasihan sekali gue.
“ea, e loe tau dari mana?”
“yeeee masalah itu udah menyebar kaleee, udah banyak anak-anak yang ngebicarain itu, jadi gue udah tau. e tapi loe tau dari mana?”
“Steven yang cerita ke gue, tapi dia bilang jangan kasi tau siapa-siapa” jawab nay, haaaa jadi… Steven beneran suka sama anak kelas gue? waaah bener-bener CBST nih gue…. tapi kok gue bisa nggax tau ya… e kira-kira siapa ya cewek yang di suka sama Steven???
“000h eee ini rumah nya yang mana?” tanya ku mengalih kan pembicaraan, wah bisa gawat kalau ketahuan kalau gue bohong. gue kan nggax tau cewek yang di sukai Steven. cuma ya gengsi aja ngakuinnya he he.
“e di perempatan itu belok ke kiri, rumahnya kata mike nggax jauh dari sekolah” jawab nay. gue pun mempercepat motornya, begitu tiba di depan sekolah gue menghentikan motornya, menurut informasi rumahnya nggax jauh dari sini.
“mana nay?” tanya ku sambil melihat keliling, kali aja ada yang gue kenal.
“e enggax tau, tapi bentar deh gue tanya mike bentar” balas nay sambil memencet-mencet ha-pe nya siap mau nelpone mike, tapi belum sempat nay menelpone terdenar sebuah suara yang amat gue kenal.
“woooy sini.,.” gue langsung menoleh ke asal suara, tampak di sana Steven yang sedang berdiri di depan pintu sebuah rumah sambil melambaikan tangannya.
“nah itu dia, sana yuk” ajak nay,
“e tapi nay, kita mau ke rumah mike atau Steven sih?” tanyaku.
“ya mike lah” jawab nay.
“tapi kok, itu….”
“sssttt… udah loe diem aja, yuk…” ajak nay sambil menarik tangan gue menuju ke rumah, yang katanya milik mike.
“Assalamu’alaikum…” kata ku.
“Wa’alaikum salam. yuk masuk…” ajak Steven, sementara mike ke dapur, bikin minum kale, gue dan nay pun duduk di ruang tengah. tak lama setelahnya mike keluar sambil bawa nampan berisi air minum. tuh kan bener.
“kok bisa tau rumahnya disini?” tanya Steven.
“ya iya lah, kita kan pinter, ia nggax nay…” kata ku membanggakan diri.
“yo’a…” balas nay.
“ia lah tuuu. nih di minum dulu, kalian pasti haus kan…” kata mike sambil menyodorkan aer minum kearah ku dan nay, iiih nie orang tau aja. he he he… setelah basa-basi sebentar kita pun menerus kan ngobrol dan nggax tau deh apa yang di obrolin, tapi gue selalu berusaha menyembunyikan wajah gue karena Steven terus mencoba meng camera gue, iiih nggax tau apa kalau gue itu nggax pe-de.
“chel, lihat sini donk” kata Steven sambil mengarahkan camera ke wajah gue.
“iiih apa an sich, ogah gue…”
“emang kenapa sich…”
“loe itu ngapain meng camera-camera gue segala, nggax tau apa kalau jadinya jelek, kalau loe tetap nekat, ntar yang ada bukan wajah gue yang dapat, e ha-pe loe yang heng alias eror, wajah gue kan nggax masuk lensa”
“masa sich… ya udah deh, gue nggax…” kata Steven dan menurunkan ha-pe nya, setelah memastikan Steven nggax meng camera gue, gue pun duduk seperti biasanya. tapi tiba-tiba…
“haaa dapet” kata Steven sambil mengarahkan cameranya ke wajah gue.
“alah bohong” balas ku, nggax mungkin secepat itu kan…
“loe itu nggax percayaan banget sich, kalau loe nggax percaya nih lihat deh” kata Steven sambil memperlihatkan fhoto gue yang baru di ambilnya, what?! kok dapat sich.
“eh apus nggax, loe itu apa-apa an sich, fhoto jelek kayak gitu juga, sini in ha-penya…” kata ku sambil berusaha mengambil ha-pe yang di tangan Steven.
“bentar ea…” kata Steven sambil memencet-mencet ha-pe nya, dan tak berapa lama kemudian ia menyerahkan ha-pe nya ke gue, dengan cepat gue memencet-mencet ha-pe Steven, mencari fhoto gue, tapi kok nggax ketemu-ketemu ea… dan saat gue lagi kebingungan tampak Steven yang tertawa melihat kebingungan gue, iiih sial!!!
“gimana? bisa nggax? kalau nggax bisa bilang aja… sampai kapan pun loe nggax bakal bisa dapat nyari deh…” kata Steven sambil tersenyum-senyum.
“oh yea? siapa bilang, gue pasti dapat kok, awas aja…” kata ku, sambil terus mencari,,, iiih di mana sich…
“chel, coba sini deh, gue bantu…” kata mike tiba-tiba, dengan cepat gue langsung memberikan ha-pe nya ke pada mike, dan kemudian mike kembali memberikannya ke gue, setelah mencarinya beberapa saat, gue langsung mengambilnya.
Deg. jantung gue seperti berhenti berdetak dan untuk sepersekian detik gue kaget banget, gimana nggax. tampak di sana ada beberapa fhoto cewek yang di bingkai, dan ini pasti cewek-cewek yang pernah jadi pacarnya Steven, banyak yang gue nggax kenal, fhotonya cantik-cantik, tapi sebenernya bukan itu yang membuat gue kaget, tampak di sana salah satu fhoto yang sangat gue kenal, dia adalah seorang cewek kelas gue, yang dari dulu gue telah mengaguminya, dan kali ini. untuk yang udah entah ke berapa kalinya gue kalah lagi sama dia.
cewek itu yang tak lain dan tak bukan adalah chinty. tampak tersenyum manis di ha-pe Steven. gue nggax nyangka banget, ternyata Steven suka sama chintya??? jangan-jangan ini cewek yang di maksud nay tadi. oooh nooo apa emang seumur hidup gue, gue harus kalah sama chintya? dari awal juga chintya yang terbaik dari gue, dari pelajaran sampai kerapian, dan sekarang… tentang cowok juga gue tetap kalah??? ya ampuuuun….
“Chelsy!!!”
“eh ea….” kataku sambil mengalihkan pandangan gue dari fhoto chintya ke arah Steven, sampai budek nih kuping gue, karena Steven teriaknya tepat di telinga gue, heran ya, tega banget nih anak. nggax tau gue lagi sedih apa.
“loe kenapa sich? gue panggil dari tadi diem aja. emang loe lagi lihat apa?” tanya Steven, dan siap ngintip, gue langsung buru-buru menutupnya, Steven nggax boleh tau gue lagi ngelihat apa, kalau ia sampai tau, ntar juga ketahuan donk kalau gue pasti sedih melihat fhoto itu dan bisa-bisa dia tau gue suka sama dia. ahhh itu nggax boleh terjadi gue nggax mau ada yang tau kalau cinta gue bertepuk sebelah tangan apalagi sama orangnya.
“gue nggax lihat apa-apa kok… he he he…” gue berusaha sewajar mungkin, walau hati gue terasa sakit gue nggax boleh lemah di depan cowok, nggax. itu nggax akan pernah. gue harus bisa menyembunyikannya bagaimana pun caranya. Tuhan… tolong bantu gue….
“dapat fhotonya?” tanya Steven.
“e eh loe suka sama chintya ea?” tanya ku tiba-tiba, dan tampak Steven kaget mendengarnya, aduh. bego kok gue nanya langsung kayak gini sich, aaahhh bego… mana mungkin lah Steven mau ngaku, iiih pasti ketahuan barusan gue udah lihat fhotonya. Dan bener saja, sebelum gue sempet menghalangi, Steven udah merampok ha-pe di tangan gue.
“ini…” Steven tampak nggax bisa ngomong “fhoto kayak gini udah nggax penting” lanjut nya dan siap menghapus fhoto chintya dengan cepat gue merebut ha-pe nya.
“ih loe itu apa-apa an sich, fhoto segini bagusnya masa mau di hapus gitu aja, ngedapetinnya susah tau” kata ku. Steven langsung terdiam, nggax bisa ngomong apa-apa, jangan-jangan bener lagi,.. ahh gue jadi makin sedih nie… dan untuk beberapa saat suasana hening.
“chel, kesana yuk” bisik Steven ke arah kursi tengah.
“mau ngapain?” tanya ku.
“ya masa kita di sini, ngeganggu orang yang lagi pacaran aja. udah yuk”
“e nggax usah deh, sini aja napa, gue nggax ngeganggu kok” kata ku, iih gila loe, bisa-bisa ntar ke tahuan kalau gue suka sama loe, mana pe-de gue deket sama loe tanpa ada yang lain, iiih apa yang harus gue lakuiiin.
“ya udah kalau loe mau jadi obat nyamuk di sini”
“yaaah stev, di sini aja napa. gue…”
“gue nggax mau. udah deh, selamat sendirian aja ea, gue kesana dulu” kata Steven dan melangkah pergi, aduh gimana nih, mau ikut apa nggax ea, kalau gue ikut ntar gue nggax bisa menjaga perasaan gue, kalau nggax… gue melirik ke arah mike dan nay yang sedang asyik ngobrol, eee gimana ea. ah tau deh, gue nggax ada pilihan laen. akhirnya gue melangkah mengikuti Steven,  semoga aja gue bisa menahan perasaan gue.
“duduk sini…” kata Steven.
“ah ia…” balas ku, dan gue bingung mau gimana, gue pun berdiri aja di tepi dinding sambil pura-pura melihat- lihat fhoto yang berada di dinding.
“sini…”
“ea bentar, gue e ini, apa.. e lihat ini dulu…” kata ku cari alasan. dan setelah semuanya udah gue lihat, sekarang nggax ada alasan lagi, aduh gimana ini… apa yang harus gue lakukan.
“loe beneran nggax mau duduk ea… atau loe mau jadi penjaga dinding?” tanya Steven, dan mau nggax mau gue duduk di kursi yang sangat berjauhan dari Steven. wah gila jangan sampai Steven mendengar detak jantung gue yang berdetak dengan cepat ini. kalau sampai Steven tau kan bikin malu namanya. mau ngobrolin apa ea, masa gue diem-dieman kayak gini.
“e, loe udah lama suka sama chintya?” tanya ku, abis bingung mau nanya apa, e bodo’ ah, yang penting nggax diem-dieman.
“gue nggax suka sama chintya kok” kata Steven. tapi gue tau kalau dia pasti bohong.
“loe fikir bisa bohongin gue? udah lah ngaku aja, kalau loe emang suka sama chintya, loe nggax salah kok, pilihan loe tepat, kanapa nggax loe pacarin aja?” tanyaku, aduh kenapa gue ngomong kayak gini? seharusnya gue nggax bilang kayak gini, gimana kalau Steven jadi makin suka sama chintya?
“gue nggax mau”
“stev, cinta itu butuh pengorbanan, jadi loe harus berusaha dapatin nya, loe harus berusaha. jangan kayak gini? emang loe udah pernah nembak dia?” tanyaku, gue nggax perduli perasaan gue sakit kayak apa, tapi yang jelas gue harus buat Steven bahagia walau hati gue udah nggax bisa di compromi lagi.
“chintya udah punya pacar” kata Steven dan tampak sedih.
“kata siapa?” tanyaku sewajar mungkin agar nggax ketahuan.
“udah banyak gosipnya kan… chintya sama anak kelas XII”
“dan loe percaya?” tanyaku.
“ia gue percaya, lagian firasat gue mengatakan kalau itu semua bener”
“stev, nggax selamanya firasat kita itu bener, dan nggax semua gosip itu bisa loe percaya, jadi loe jangan nyerah kayak gini donk. loe itu cowok, loe harus berani mengakuinya apapun jawabannya chintya itu urusan belakangan, yang penting loe berani mengakuinya”
“udah lah. gue itu udah nggax berminat untuk mendapatkan nya lagi”
“loe kok jadi lemah kayak gini sich, loe harus coba, jangan kalah sebelum perang kayak gini. ayo lah stev, loe harus yakin kalau loe bisa. gue ngerasa kalian itu cocok kok, dan loe pasti beruntung banget kalau bisa dapatin chintya, stev, kesempatan yang sama nggax bakal datang dua kali. loe tau kan… kalau loe nggax bilang sekarang mungkin selama nya loe nggax bakal bisa dapatin dia” nasehat ku.
Dan hari itu gue sedih banget, tapi nggax tau kenapa gue nggax bisa memanfaatkan keadaan ini, sebenernya bisa aja gue gunakan kesempatan ini buat menarik perhatian Steven, pasti gue bakal dapatin dia karena dia lagi patah hati sekarang, tapi kenapa hati gue nggax mau. sepertinya gue nggax bisa dapatin Steven, cinta nya hanya untuk chintya bukan gue, dan gue harus bisa melupakannya. tapi sebelum gue bener-bener melupakan Steven, gue mau melihat dia bersama orang yang dia sayang. gue harus menyatukan nya, gue pasti bisa, mungkin emang Steven bukan jodoh gue.
walau sedih tapi pasti. gue bertekad untuk melepaskan Steven dan merelakan nya untuk orang lain, meski rasanya tu beraaaat banget. tapi gue harus mencobanya, bukan kah cinta itu butuh pengorbanan. Tuhan, bantu gue untuk melewati ini semua, gue nggax sanggup kalau harus melewati semua ini sendirian….

“Fio, tunggu…!”, langkahku langsung terhenti kala Denis memanggilku. “Ada apa ?” ” Ini, buku latihanmu ketinggalan.”kata Denis. “Makasi” jawabku sambil tersenyum. Denis membalas senyumku, senyum manis yang memberikan arti bahwa ia adalah sosok anak muda yang ramah dan baik hati.

Ya, dialah Denis. Siswa SMA 46 Jakarta yang cukup banyak punya penggemar. Aku pun sudah lama memendam rasa kepadanya. Aku dan dia memang sudah kenal sejak lama karena dari sekolah dasar aku sudah sekelas dengannya. Awalnya, tak ada kedekatan apapun di antara kami, hingga suatu hari Denis mengajakku pulang bersama. “Mau pulang sama aku nggak ?” tanyanya sambil tersenyum. Senyum yang dapat membuat siapa saja melayang karnanya. “Bole aja”, tanpa basa basi aku langsung mengiyakan ajakan itu. Dari sana, aku mulai dekat dengannya. Dan akhirnya, saat itu pun tiba. Denis memintaku untuk menjadi pacarnya. Tak perlu banyak waktu untuk menjawab semua itu karna memang itulah mimpiku sejak SMP.

Kini, hari-hariku pun sudah ditemani oleh Denis.

Semua terasa sangat menyenangkan. Dan ternyata, itu hanya awalnya saja. Ketika hubunganku dengannya memasuki usia ke-3 bulan, saat itulah mimpi burukku datang.

“Fio, sini, aku mau ngomong sesuatu.”kata Denis. Aku langsung menelan ludah, tahu bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi padaku. “Aku mau kita temenan aja.”lanjut Denis.

Taaarr ! Seakan ada ribuan cambuk yang mengenai hatiku. Aku langsung menitikkan air mata, tetapi segera kuhapus tanpa sepengetahuan Denis. Aku tak ingin lemah di hadapannya. Aku hanya diam.

“Fio, maafin aku…” Aku langsung berlari sejauh mungkin, tak peduli walau langit sedang menangis seakan tahu apa yang kini tengah aku rasakan. Aku berlari di tengah derasnya hujan, tak ada tanda-tanda kalau Denis akan mengejarku. Biarlah, kataku dalam hati.

Keesokan harinya, tak sengaja aku bertemu Denis di sebuah pusat perbelanjaan. Ia bersama seorang perempuan cantik, berkulit putih, manis, tinggi pula. Ideal sekali untuk ukuran seorang wanita sempurna. Oh Tuhan, ironis. Satu kata yang dapat mewakilkan keadaanku saat ini setelah aku berusaha untuk mempertahankan semuanya. Kini, hancur sudah semuanya karena orang yang kusayangi.

Aku ingin sematkan bintang di dahinya, agar ia tahu betapa besar rasa sayangku padanya. Tuhan, masih bisakah hari itu terulang ? Hari dimana aku dan Denis masih bersama .

Sumber Klik Disini :

Kepergian saudara kembarku tuk selamanya membuat hari-hariku kelabu. Setelah ibu membuka memoriku tentang saudara kembarku, Nida, barulah aku mempunyai semangat baru untuk hidup. Semasa hidupnya, cita-cita terbesar Nida adalah pergi ke Jepang. Kini aku berusaha untuk mewujudkannya. Harapan itu didukung dengan terpilihnya aku menjadi perwakilan sekolah untuk mengikuti lomba kaligrafi Jepang bersama Kak Benny, kakak kelasku di sekolah.
Hasil yang memuaskan akhirnya ku dapat. 

Aku juara pertama sedangkan Kak Benny juara ke dua. Hadiah yang kami raih salah satunya ialah wisata ke Jepang. Aku sangat bahagia karena tercapai sudah apa yang aku inginkan dan Nida cita-citakan. Aku dan Kak Benny menikmati indahnya pemandangan di Taman Sakura. Saat itu hal yang tak ku sangka terjadi.
Di bawah pohon rindang, dengan dihiasi mekarnya bunga Sakura, naungan awan putih, dan sorotan mentari sore aku berdo’a untuk kebaikan kami dan Nida. Ku hadiahkan doa cintaku untuk Nida.

Aku masih merenung di depan cermin. Mataku terfokus menatap diriku yang sebenarnya. Pikiranku kosong tak bermakna, seakan melayang pada kejadian seminggu yang lalu. Kejadian itu amat menyedihkan hingga hatiku remuk berkeping-keping, diriku hancur bak butiran debu yang beterbangan di ruang hampa, seakan aku sudah tak ada artinya hidup di dunia ini.
Seminggu yang lalu, saudara kembarku, Nida, meninggalkanku tuk selamanya. Ia tewas pada kecelakaan maut di kilometer 99 Purwakarta saat kami sekeluarga hendak pergi ke Jakarta. Hujan turun dengan sangat deras, petir menyambar dimana-mana, dan langit hanya menampakkan kelabunya tanpa sinar mentari. Jalan tol yang sangat panjang membuat mata kami lelah memandang. Sejauh mata memandang hanya jalan dan jalan. Mungkin saat itu ayah juga merasakan hal yang sama dengan kami, apalagi ayah yang menyetir mobil. Tiba-tiba ayah kehilangan konsentrasi, mobil kami oleng lalu menabrak pembatas jalan sehingga bagian kiri depan mobil remuk. Orang yang duduk di bagian depan kiri itu adalah Nida. Ia tewas setika dan aku masih ingat kata terakhir yang diucapkannya, “A… Allahu!”.
Awan kelabu, rintikan air turun perlahan. Suasana itu mendukung munculnya kabut kesedihan pada pandanganku. Hatiku masih luka dan kenanganku tentang Nida masih terukir kuat dalam benakku. Tiap hari hanya aku habiskan dengan memandang cermin di kamar. Ya, hanya itu. Mungkin aku keluar kamar hanya pada lima waktu untuk menunaikan kewajiban pada Tuhan dan makan alakadarnya. Saat aku sedang makan, ibu menghampiri dengan raut muka yang sedih.
“Nak, sampai kapan kamu begini? Teman-temanmu di sekolah selalu menanyakanmu.” Lirihnya pilu sambil membelaiku.
Aku hanya diam seribu bahasa sambil memainkan sendok dengan pandangan kosong.
“Mida, jawab pertanyaan ibu! Sikapmu seperti ini membuat Nida tidak tenang di sana! Apa kamu tidak ingin membahagiakan Nida?” Tanya ibu sambil mengangis. Aku tak kuasa saat mata kami beradu pandang hingga akhirnya akupun bicara.
“Bagaimana aku bahagiakan Nida?” Kataku tanpa ekspresi.
“Dengan mewujudkan cita-citanya yang tertunda. Bukannya saat kecelakaan itu kita akan mengantar kau dan Nida untuk lomba bahasa Jepang? Bukannya Nida denganmu sangat ingin ke Jepang?” Ibu berkata dengan nada sendu.
Aku terisak-isak saat ibu membuka memoriku tentang Nida. Aku ingat betul kata-katanya dulu, “Mida, aku ingin mengajakmu ke Jepang. Di sana kita memetik bunga Sakura berdua ya? Wah.. pasti indah sekali!”. Dari kecil cita-cita terbesarnya ialah pergi ke Jepang lalu memetik bunga Sakura. “Jika aku wujudkan Nida pasti senang di sana.” Gumamku dalam hati. Segera aku menatap lekat ibu yang sedang bersedih.
“Ibu, maafkan Mida selama ini. Sikap Mida seperti ini tidak lain karena Mida sangat cinta Nida.” Aku berkata sambil menangis lalu memeluk ibu.
“Iya, Nak. Ibu mengerti perasaanmu, tapi itu tidak baik. Ibu minta kamu semangat lagi, bantu wujudkan cita-cita Nida yang tak sempat ia wujudkan jika kamu memang mencintainya.”
“Iya bu. Mida akan berusaha. Mulai besok, Mida kembali sekolah ya bu?”
“Syukurlah, ibu senang sekali mendengarnya. Kamu memang anak baik.” Ibu mencium keningku. Ia terlihat sangat bahagia mendengar ucapanku.
Udara pagi terasa sejuk, terhirup sampai paru-paru. Butiran embun nampak bersih, bulat-bulat bagai mutiara dan berkilauan saat tersinari matahari. Daun-daun pohon berayun elok. Rumput-rumput yang ku injak sepanjang jalan basah menyegarkan. Hari ini adalah kali pertamaku kembali sekolah. Gerbang SMAN 1 Garut telah terbuka. Hari itu masih sangat pagi sehingga belum ada siswa yang datang selain aku. Aku masuk gerbang lalu mnyusuri koridor kelas. Aku duduk di dekat pohon cemara dan merasakan hembusan angin yang memenuhi seluruh ruangan terbuka SMAN 1 Garut.
Ku langkahkan kaki masuk ke dalam kelas dan segera duduk di bangku paling depan. Tak lama setelah itu, Nissa datang. Raut mukanya nampak senang bertemu denganku.
“Mida?? Aku rindu sekali! Akhirnya kamu sekolah juga!” kata Nissa terkejut sambil memeluk erat tubuhku. Teman-teman perempuan lainpun berdatangan dan melakukan hal yang sama dengan Nissa padaku. Aku hanya bisa membalas dengan pelukan kembali dan sedikit senyuman.
Kami mengikuti pelajaran seperti biasa sampai pukul sepuluh lalu istirahat. Sebelum keluar kelas, Nurla Sensei (Ibu guru Nurla), guru bahasa Jepang menghampiriku dan mengatakan bahwa ia ikut berduka cita atas kepergian Nida. Lalu Nurla Sensei menyuruhku untuk menemui Kak Benny, ketua Japanese Club saat ini di kantin. Namun aku tak paham mengapa aku harus menemuinya. Tanpa bertanya-tanya, aku memenuhi permintaan Nurla Sensei dengan ditemani Nissa.
Di kantin, Kak Benny telah menunggu. Entah mengapa tiba-tiba jantungku berdegup kencang. Darah berdesir dari ujung kepala sampai ujung kaki. Tubuhku yang tadinya hangat berubah seperti es batu yang kaku. “Ya Tuhan, kenapa tingkahku kikuk kayak gini?” Lirihku dalam hati.
“Gimana kabarnya Mida? Sehat?” Sambut Kak Benny dengan hangat.
“Sehat.” Jawabku singkat sambil menarik kursi tepat di depan Kak Benny. Nissa hanya memandangiku sambil senyum-senyum sendiri.
“Langsung saja ya Mid. Sebelumnya kakak minta maaf telah mengganggu istirahatmu. Gini, tanggal 1 Maret ada lomba kaligrafi Jepang di Universitas Seni Bandung. Kata Nurla Sensei kamu terpilih menjadi perwakilan sekolah ini, kamu bersedia kan?” Jelas Kak Benny.
“Apa Kak? Saya yang jadi perwakilan?” Tanyaku kaget.
“Iya. Kamu bersedia kan?” Tanyanya kembali.
“Sebenarnya saya mau saja Kak. Tapi…”
“Tapi apa?” Potong Kak Benny.
“Saya sendirian Kak?” Tanyaku kembali.
“Tidak. Kamu perwakilan kelas X dan kakak perwakilan kelas XI. Kau tidak keberatan kan?” Kak Benny tersenyum.
“Apa? Bedua?” Aku kembali terkaget. Jantungku berdegup lagi, bahkan lebih kencang dari degupan yang pertama.
“Iya, tapi jangan kaget gitu dong… Kan ada guru yang jadi pembimbing.”
Aku mengangguk.
“Oh iya, hadiahnya lumayan lho, tiga juara utama bisa pergi ke Jepang!” Kata Kak Benny.
Aku kembali mengangguk, pertanda bahwa aku paham.
“Oke, kalau kamu siap dan bersedia setiap Kamis dan Sabtu kita latihan di rumah Nurla Sensei pulang sekolah. Wah, sudah jam setengah sebelas, sebentar lagi masuk. Kakak duluan ya Mid, kita ketemu di rumah Nurla Sensei ya… Bye!”. Kak Benny berlalu dengan tergesa-gesa, sambil melambaikan tangan ke arahku. Akupun hanya bisa membalas lambaian tangannya hingga ia terlihat menghilang dari pandangan.
Hari demi hari berlalu. Tak terasa, tanggal 1 Maret di depan mata. Kini saatnya aku dan Kak Benny unjuk kebolehan dalam lomba kaligrafi Jepang di Universitas Seni Bandung se-Jawa Barat. Pesertanya sangat banyak. Hampir semua SMA favorit tak ketinggalan mengikuti lomba ini. Biasanya ketika aku melihat banyak peserta, semangatku menjadi ciut, tapi saat ini tak sedikitpun rasa cemas terasa bahkan aku dan Kak Benny adalah peserta tercepat dalam membuat karya. Kami rasa berkat latihan yang optimallah kami menjadi cepat dalam pengerjaan ketika lomba.
Tepat pukul satu siang, saat mentari sedikit tergelincir dari tengah petala langit, pengumuman pemenang dimulai. Moderator berdiri tegap di atas panggung aula dengan microfon dalam genggamannya. Suaranya menggema menyebar ke setiap sudut aula. “Baik hadirin, untuk mengefektifkan waktu, saya akan membacakan tiga pemenang utama lomba kaligrafi Jepang tingkat SMA se-Jawa Barat. Juara ke tiga diraih oleh… A… Amelia Madani dari SMAN 3 Bandung. Kepada Amelia saya persilakan naik ke atas panggung.”
“Wah, hebat sekali dia. Apa aku akan menjadi juara? Ataukan harapanku tuk pergi ke Jepang pupus saat ini karena aku tak berhasil menjadi juara? Ya Tuhan, luruskanlah niat hamba. Hamba semata-mata hanya ingin membahagiakan Nida di sana.” Gummamku dalam hati. Aku merunduk seolah merasa bersalah jika kali ini aku tidak juara. Perlahan butiran bening membasahi pipiku.
“Mida, kenapa?” Kata Nurla Sensei dari sampingku.
Aku menggeleng dengan kepala masih tertunduk. Walau begitu telingaku masih siaga mendengarkan hasil lomba yang kembali diumumkan moderator. “Juara ke dua… jatuh kepada… Benny Ramansyah dari SMAN 1 Garut…” Kata moderator dengan keras. Hatiku sangat bahagia karena Kak Benny akhirnya juara juga. Namun diriku kembali menciut, pikiranku cemas sekali .
Moderator menarik nafas untuk mengumumkan juara pertama. Hadirin nampak sangat antusias sehingga suasana hening, tak ada suara kecuali tarikan nafas moderator. Akupun mengangkat wajahku dan menghapus air mata. Mataku segera ku tujukan kepada wajah moderator di depan panggung.
“Juara pertama.. jatuh.. ke.. pa.. da.. Mida Aghniya dari SMAN 1 Garut. Kapada Mida saya persilakan naik ke atas panggung. Selamat ya.. Ketiga juara ini selain mendapat uang tunai dan sertifikat juga akan mendapat tiket wisata ke Jepang!”.
Aku sangat bahagia. Syukur ku panjatkan kepada Tuhan yang tak henti-hentinya mendengar do’aku. Di depan panggung Kak Benny menghadiahkan senyuman dan ucapan selamat. “Kamu memang hebat Mid! Tak salah kau bersama kakak mengikuti lomba ini.” Kata Kak Benny. Aku sedikit tersanjung. Tepuk tangan terdengar meriah menyambut keberhasilan ketiga juara. Nurla Senseipun tampak menitikkan air mata bahagia. Jika ibu ada di sini pasti ia akan sangat bangga dan terharu.
Kabar keberhasilanku tercium semerbak wanginya di sekolah. Kepala sekolah mengucapkan terima kasih secara langsung kepada aku dan Kak Benny pada saat upacara bendera. Besok, hari Selasa kami akan pergi ke Jepang bersama ibu kami masing-masing karena tiap juara ada dua jatah tiket. Kak Benny mengajak ibunya, begitupun aku.
Di sore yang cerah, sebelum mentari menuju tempat persinggahannya di ufuk barat, aku, ayah, dan ibu pergi ke kuburan Nida. Di sana kami berdo’a untuk Nida. Haru sangat kami rasa. Air mata berderai tak terbendung. Saat itu aku membawa kabar gembira bagi Nida karena harapannya akan segera aku wujudkan. “Nida, besok aku akan ke Jepang. Akan ku tunaikan harapanmu yang indah itu. Memetik Sakura untukku dan untuk kebahagiaanmu. Jangan sedih karena kau tak bisa ikut. Aku yakin di sana kau akan mempunyai tempat lebih indah dari taman Sakura. Di sana kau baik-baik ya…” Aku melambai ke arah kuburan Nida sambil berlalu meninggalkannya.
“Ngiung…” Suara pesawat terbang semakin jelas terdengar. Kami berempat telah sampai di Bandara Soekarno-Hatta. Setelah semua bersiap kami masuk pesawat. Lima jam lamanya di dalam pesawat lalu setelah itu kami sampai di Tokyo, ibu kota Jepang. Di bandara Tokyo kami disambut hangat oleh perwakilan panitia dari Universitas Seni Bandung, kamipun menuju Hotel Hana, sebuah hotel mewah berbintang lima. Dari pukul satu siang hingga pukul tiga kami istirahat di hotel. Sore harinya kami dijemput pemandu wisata untuk pergi ke Taman Sakura.
Kebetulan saat itu adalah musim semi. Langit masih cerah meski jarum jam menunjukkan pukul setengah empat sore. Angin berhembus lembut. Kami berjalan menikmati indahnya Sakura. Kak Benny mengajakku untuk pergi ke tempat yang lebih tinggi dan lebih banyak bunganya. Di sana kami berfoto besama.
“Mida, indah sekali ya bunganya?” Kata Kak Benny.
“Iya, Sakura kan favoritku Kak.” Jawabku.
“Oh ya? Kalau begitu mana bunga yang paling kau suka?” Tanya Kak Benny sambil tersenyum manis. Aku sedikit gerogi dibuatnya.
“Itu Kak!” Aku menunjuk bunga yang paling mekar dan terletak agak tinggi.
Dengan tubuh tingginya Kak Benny meraih bunga itu lalu memberikannya padaku.
“Kau tau Mid? Jika aku memberi bunga kepada seseorang, berarati seseorang itulah yang aku suka. Sekarang jika bunga itu telah ada di genggamanmu, akan kau berikan kepada siapa bunga itu?” Kata Kak Benny sambil menatapku denga serius.
Aku salah tingkah dibuatnya. Apakah ini pertanda bahwa Kak Benny suka padaku? Ah, sudahlah… Tiba-tiba memoriku membayangkan Nida. Aku yakin Nida ada di sisiku. Seketika aku teringat akan sebuah hal. Kami berprinsip untuk tidak pacaran sebelum waktunya. Ya, aku membuat janji itu bersama Nida dan aku tak mungkin mengkhianati janji itu.
“Hey? Kok melamun sih? Jawab pertanyaan kakak dong Mid…” Pinta Kak Benny.
“Eh, maaf kak.” Aku kaget. Dengan memberanikan diri aku berkata, “Maaf kak, jika aku menerima bunga dari orang yang ku sayangi, aku akan memberikannya ke orang yang ku sayangi juga. Jika bunga itu dari kakak, akan ku berikan kepada Nida…”
“Maksudmu?” Tanya Kak Benny.
“Kak, aku menyayangi kakak sebagai kakakku sendiri, tak lebih dari itu. Aku juga mempunyai orang yang sangat aku sayangi lebih dari kakak yaitu saudara kembarku, Nida. Saat kami masih bersama Nida sangat ingin pergi ke sini. Memetik bunga Sakura bersama berdua. Namun saat tiba waktunya, kakak lah yang menemaniku memetik bunga itu. Aku yakin kakak dianugerahkan Tuhan untuk menjadi orang yang aku sayangi seperti Nida. Namun, itu bukan artinya aku lebih menyayangi kakak dibanding Nida. Maaf jika jawabanku mengecewakan kakak, tapi aku tidak bisa menggeser posisi Nida di hatiku saat ini.” Tuturku panjang lebar.
“Itu jawaban yang bijak adikku. Kau memang yang terbaik. Kakak juga bersyukur pada Tuhan karena bisa bertemu dengan orang sepertimu.” Jawab Kak Benny dengan memperlihatkan kebesaran hatinya.
“Syukurlah, kalau begitu kakak memahami keadaanku. Kakak, dengarkan aku berdo’a untuk Nida ya? Kita duduk di bangku bawah pohon itu.” Ajakku kepada Kak Benny. Kak Benny mengangguk lalu mengikutiku.
Di bawah pohon rindang, dengan dihiasi mekarnya bunga Sakura, naungan awan putih, dan sorotan mentari sore aku berdo’a, “Ya Tuhanku, aku berada di sini atas takdirmu. Aku adalah hamba yang tak kuasa dan tak berdaya. Terimakasih kau telah anugerahkan nikmat yang berlimpah. Ku menggapai cita berkat cinta-Mu dan cinta saudaraku, Nida. Berikan Nida keberkahan dan rahmat-Mu. Ampuni dosanya. Mekarkan amalannya seperti mekarnya Sakura di sore ini. Mekarkan cinta-Mu, cintaku, dan cinta hamba-hamba yang sholeh di dunia ini sehingga tak ada perpecahan di antara kita. Amin.”
Ku meminta pada-Mu Tuhan dengan penuh pengharapan. Berkat-Mu, ku merasakan indahnya cinta dan persahabatan. Ku harapkan selalu naungan dan perlindungan. Sampai akhir hayat dikandung badan.