Cinta Dalam Gelap

Posted: 06/16/2015 in Cinta
Tag:
“Vio, gue mau jujur sama lo” tiba-tiba Raka bicara serius seakan hal yang akan ia bicarakan sangat penting dan wajib untuk diketahui.
“Ada apa ka ? Serius amat ?” Jawabku seraya melahap ice cream ditanganku.
“Vio, kita udah lama temenan, gue sayang sama lo, gue…” Belum selesai Raka melanjutkan ceritanya, aku memotongnya.
“Stop Raka, gue tau kemana arah pembicaraan lo ini. Raka, lo tau kan gue ini baru putus dari Evan, dan gue belum bisa buka hati gue buat siapa-siapa, bahkan elo, temen gue sendiri, maaf”.

Aku dan Raka telah lama berteman, dia adalah soulmate bagiku, kemanapun aku pergi ia pasti turut serta. Bahkan ia adalah orang yang paling mengenalku setelah kedua orang tuaku. Baru-baru ini aku baru saja memutuskan hubungan dengan orang yang sangat kucintai. Evan. 6 bulan bersama Evan cukup membuatku sangat menyayanginya, namun aku dikhianati, dan kuputuskan untuk mengakhiri hubungan dengannya walaupun aku masih sangat mencintainya.
“Oke, sorry Vio gue lancang, tapi gue ga janji untuk berenti sayang sama lo” kata Raka yang sepertinya merasa bersalah, kemudian kami meluncur ke rumah Raka yang tak jauh dari tempat aku dan Raka berpijak saat ini.

Setibanya dirumah Raka, seperti biasa aku menuju ke tumpukan majalah yg terletak dipojok ruang tamu rumah Raka. Sedangkan si tuan rumah beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan badan. Tiba-tiba hujan turun dengan sangat derasnya. Gelisah mulai berkecamuk dalam hatiku, sedangkan Raka tak kunjung keluar dari kamar mandi. Kegelisahanku semakin lengkap ketika listrik dirumah Raka padam. Sontak aku berteriak histeris karena takut.

Aku terduduk sembari memeluk lutut, dan memejamkan mata agar aku tak dapat melihat kegelapan. Tiba-tiba seseorang datang membawa sebatang lilin yang menjadi sumber cahaya kala ini. Terkaget aku karena ia meraba pundakku dan berkata
“Gausah takut, gue disini ko” ternyata itu Raka yang telah selesai. Seketika aku memeluk Raka karena aku benar-benar sedang ketakutan.

Aku memang sangat takut akan kegelapan, makanya aku benci dengan kegelapan. Dan kini aku sedang berhadapan dengan kegelapan.
“Sorry yah gue lama, dan ninggalin lo gelap-gelapan sendirian kaya gini, gue tau lu takut gelap, makanya gue bawa lilin buat lo” Raka benar-benar jadi seorang pahlawan untukku saat ini.
“Makasih ka, gue bener-bener takut”.

Setelah kembali tenang, namun listrik tak kunjung menyala. Aku kembali berbincang dengan Raka agar gelap ini tak terlalu terasa dan tak menjadi sepi.
“Raka, makasih ya”
“Yaampun Vio, kaya baru kenal gue aja sih”

Teringat percakapan antara aku dan Raka sore tadi, aku menjadi merasa bersalah, dan membuatku berpikir, apa sudah saatnya aku membuka hati untuk orang lain ? Tapi aku takut kecewa (lagi). Ah, entahlah.
“Vio, ketakutan lo sama gelap kaya gini, gabisa dibiarin, harus disembuhin”
“Ya tapi gimana Raka ? Gue bener-bener kikuk banget deh sama yang namanya gelap, kan lo tau sendiri”
“Iya gue tau kok, makanya gue pengen nyoba buat ngilanginnya, boleh kan ?”
Yaampun, kenapa tiba-tiba tatapan Raka menjadi lain kepadaku, aku jadi merasa, mengapa pintu hatiku perlahan terbuka kuncinya ?
“Vio, gue tau alesan lo takut gelap, karena lo gabisa liat apapun kan, Vio, mata itu pancaran dari hati, mata yang melihat, tapi cuma hati yang merasakan”

Keheranan aku memperhatikan kata per kata yang diucapkan oleh Raka.
“Maksud lo ?”
“Gini.. Dalam keadaan gelap kaya gini, lo emg ga bisa liat apapun, tapi gue yakin lu pasti bisa rasain kan ?”
“Rasain apa ?”
“Rasain kalo selalu ada cinta yaang nemenin lo dalam gelap, yaitu gue”

Terkejut aku, Raka masih saja membahas pembicaraan sore tadi. Ya Tuhan, mengapa kini hatiku luluh, dan malah melupakan ketakutanku akan kegelapan, karena saat ini aku malah merasa, selalu ada cahaya dalam gelapku.
“Raka, maksud kamu ?”
“Vio, aku ini sayang banget sama kamu, please kasih aku waktu untuk menyembuhakan luka hati kamu, dan menumbuhkan cinta yang baru dihati kamu”
“Raka, aku gatau, aku bingung.”

Tanpa berkata-kata Raka memeluk erat tubuhku, dan tak sadar bahwa lengannya telah melingkar dipinggangku.
“Raka ?”

Tak ada suara sama sekali dari mulut Raka, dari jarak sedekat ini, aku dapat merasakan detak jantung Raka yang benar-benar kencang, dan disini, dalam pelukan raka aku dapat merasakan ketulusan Raka.
“Raka, aku mau kasih kamu kesempatan, aku mau kamu jadi cinta dalam gelapku, dan ajarkan aku untuk melupakan ketakutanku terhadap gelap”

Rakapun melepaskan pelukannya, dan tersenyum terhadapku
“Aku janji Vio, aku akan jadi cahaya dalam gelapmu, I love you”.
Cinta itu jangan terlalu meratapi masa lalu, tapi cobalah menyapa masa depan, agar ketika cinta baru datang, kau siap menyambutnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s