Arsip untuk 07/01/2015

Take A Bow

Posted: 07/01/2015 in Cinta
Tag:

Kusingkap tirai yang menutupi jendela kaca kamarku. Rinaian hujan mengguyur rumahku, membuat bercak-bercak putih kecoklatan di jendela. Dari kaca yang bernoda ini, kulihat samar-samar halaman rumahku yang basah kuyup. Daun-daun hijau dan bunga-bunga yang bermekaran terlihat bermandikan air hujan. Daun talas-talasan yang lebar menampung butiran air hujan di mangkuknya. Beberapa burung yang hinggap di pohon rambutan, mengepak-epakkan sayapnya yang basah.
Aku tersenyum singkat.

Jika panas yang berkepanjangan bisa dihapus dengan sehari hujan. Jika kebakaran yang besar bisa dipadamkan dengan sekali hujan. Apa bisa, sebuah kesalahan dihapuskan dengan satu kali maaf?. Mungkin menghapusnya mudah, tapi aku tidak yakin melupakan kesalahannya itu akan semudah itu.
Sejauh ini, aku adalah gadis pengecut yang tak mau memandang wajah lelaki yang sangat kubenci. Ya! Lelaki yang telah melakukan satu kesalahan yang tak bisa kumaafkan. Lelaki yang dengan segala sumpah apapun, aku takkan mau memandangnya barang satu menit saja. Lelaki yang kini berdiri di depan rumahku menghadap kearahku.

Dia terlihat bodoh sekarang. Terlihat bodoh untuk seukuran lelaki play boy yang mau melakukan apapun demi uang. Seluruh badannya basah kuyup oleh air hujan. Rambut hitam tebalnya sudah bercampur dengan kotoran yang dibawa air hujan. Badan tegapnya kini tak lagi menjadi daya tarik karena tak sanggup menantang derai air hujan. Benar-benar bodoh.

Apa aku harus bertepuk tangan melihat ini. Begitu menghibur. Ia pasti adalah seorang aktor yang hebat. Aku bertanya-bertanya, berapa uang yang bisa didapatkannya bila aku mampu luluh sekali lagi dalam perangkapnya. Padahal bila ia bisa membuatku percaya sekali lagi, pasti sudah kuberikan sertifikat rumah ini beserta perabotnya kepada dirinya, sementara aku dengan senang hati akan tinggal di bawah jembatan.

Cih, berapa menit sudah aku memanatapnya?.

Pergilah!. Pergilah dan tundukkan kepalamu. Pertunjukkan sudah berakhir, kau adalah penipu terbaik karena sudah berhasil membuatku mempercayaimu. Dan perlu kau catat, aku takkan masuk ke dalam jebakan mautmu untuk kesekian kalinya lagi.

Jendela kamar segera kututup begitu mata kami tak sengaja bertemu pandang. Aku mengambil nafas panjang berulang kali sebelum kubaringkan tubuhku ke tempat tidur. Bukankah kita ingin tidur? Setelah melihat film yang membosankan?. Kuharap lelaki itu juga akan pulang ke rumahnya tanpa menunggu tip dariku terlebih dahulu.

“Non… Non… Bangun Non…” Seseorang berusaha membangunkanku dengan menepuk-nepuk pundakku. Dengan ogah-ogahan kubuka mataku yang sembab. Sepertinya aku menangis dalam tidurku.

“Ada apa bik?.” Tanyaku dengan suara parau. Apa-apaan suara ini?. Rasanya aku baru saja dipindahkan ke dunia jin.

“Cowok yang di depan tadi pingsan, bibik takut terjadi apa-apa, jadinya bibik bawa masuk.” Jawab bibiku takut-takut.

Mataku yang tadinya menyipit kini terbuka lebar. “Apa?. Sekarang dia dimana?.” Tanyaku seketika.

“Dia ada di ruang tamu, katanya ingin bicara sama nona.” Ujar bibik dengan menundukkan kepala.

Kusingkap selimut tebal yang menutupi tubuhku, dan dengan segera kulangkahkan kakiku menuju tempat dimana lelaki itu akan melakukan pertunjukkan murahannya lagi.

Dengan masih menggunakan piyama dan syal berbulu halus, aku menghampirinya. Lelaki itu mendongak dan menyunggingkan senyum termanisnya. Betapa sakitnya hatiku begitu sadar bahwa senyum itu yang membuatku jatuh ke dalam perangkapnya pertama kali.
Kita lihat saja, apa yang akan dia ucapkan setelah ini.

“Ada apa?.” Tanyaku berusaha terlihat biasa. Lupakan mata sembab dan suara parauku.

“Kamu habis nangis?.” Dia balik bertanya dengan suara yang tak kalah kacaunya dengan suaraku. Aku salut, pasti sakit sekali bersuara dengan kondisi tenggorokan yang seperti itu.

Rupanya, hujanlah yang membuat tenggorokannya sakit, itu terlihat dari bajunya yang masih basah kuyup berselimutkan handuk tebal.

“Bukan urusanmu. Ada apa?.” Aku masih keukeuh mempertahankan sifatku.

Dia menghampiriku dan hendak memegang lenganku, sebelum pada akhirnya kutolak dengan satu gerakan.

“Kau boleh mengatakan kalimat yang sudah kau rancang kepadaku, tapi aku tidak mengizinkan kau menyentuh diriku.” Ujarku.

Ia memandangku dengan nanar, “Aku minta maaf, seharusnya aku tidak melakukan ini kepadamu. Percayalah… Kau hanya salah mendengar. Kau hanya salah paham, ini tidak seperti yang kau dengar.”

Ia hendak memegang bahuku, aku mundur beberapa langkah menjauhinya.

“Tapi maaf, sekarang aku lebih percaya dengan apa yang kulihat, apa yang kudengar, daripada apa yang kau ucapkan.”

“Aku mohon, percayalah padaku kali ini. Aku benar-benar mencintaimu sekarang, aku… benar-benar mencintaimu.”

“Berapa?.”

“Hah?.”

“Berapa uang yang kau dapat bila aku bisa kembali percaya kepadamu.” Ucapku dingin.

“Apa maksudmu?.” Ia menyipitkan matanya, berusaha membuatku terlihat gadis yang jahat.

“Oh, dan apa rencanamu kemudian?. Apa kau mau mengambil alih perusahaan? Atau rumahku?.” Aku menaikkan sebelah alis untuk menantangnya.

“Aku tau aku bersalah dahulu, tapi ketauhilah aku benar-benar mencintaimu sekarang. Aku bersalah karena memulainya dengan kebohongan. Aku…” Ia menundukkan wajahnya, mencoba menyembunyikan mata bohongnya.

“Lebih besar dari itu kuyakin.” Selaku, tidak menghiraukan ucapannya.
Ia memandangku dengan tidak percaya.

“Apa kau sudah selesai dengan ucapanmu?. Pergilah, aku tidak mau lagi melihat dan mendengar sketsa di otakmu lagi. Tak peduli kau aktor terbaik, sutradara terhebat, atau bahkan penulis naskah termahir. Aku tidak mau menjadi bagian dari gadis malang di dalam skenariomu lagi. Cukup.”

“Tapi, aku…”

“Cukup, pulanglah. Tundukkan kepalamu dan akhiri pertunjukkanmu sekarang.”

“Callista…”

“Jujur, aku tersentuh dan ingin percaya dengan kalimat yang kau ucapkan barusan. Pulanglah, dan katakan kepada teman-temanmu, ‘Callista percaya kepada ucapanku’ Aku menghargai usahamu untuk menantang hujan, maka dari itu kuperkenankan dirimu menjatuhkan nama baikku, sekali lagi.”

Aku menunduk selayaknya pemain drama dalam sebuah gedung pertunjukkan dan meninggalkannya, tanpa melihat ekspresi di wajahnya setelah itu.

Kemarau bisa dihapus dengan sehari hujan.
Kebakaran bisa dipadamkan dengan sekali hujan.
Tapi hati yang dendam, tidak bisa dipatahkan dengan sekali lagi kebohongan.

Sumber Klik Disini :

Kamu PHPin Aku

Posted: 07/01/2015 in Sedih
Tag:

Hy nama ku indah. Aku sekolah di smp Nusa bangsa, tepatnya kelas VIII smp. Saat ini aku lagi naksir cowok. Dia beda 1 kelas sama aku, namanya kak Rico menurut aku dia orangnya sombong gitu padahal aku selalu bersikap baik sama dia. tapi dia cuek dan gak pernah hiraukan aku.

Hari ini aku seperti biasa masuk sekolah. Tapi ada keanehan terjadi, yaitu kak Rico tiba-tiba nyapa aku. Trus nanya nanya kabar aku. Rasanya aneh deh, cowok yang selama ini jutek, sombong dan acuh itu tiba-tiba nyapa aku.
Saking aku gak percaya. Akhirnya aku cubit tanganku, dan rasanya sakit. Berarti aku gak bermimpi. Lalu sampainya di kelas, aku ceritakan kejadian ini sama Lika teman terbaikku.
“aduh!!! Lika ada kejadian penting?” ucap ku sambil panic
“kenapa? lu dicuekin lagi sama kak Rico?” jawabnya cuek
“ih malah sebaliknya. Tadi dia nyapa gue? Trus nanya-nanya kabar gue? so sweet kan?” ucap ku senang
“pake pellet apa lu?” ujarnya meledek
“yee… gini-gini gue laku?” ucap ku membantah
Kami pun terus bercanda bersama. hingga jam istirahat pun tiba. Dan seperti biasa aku dan lika pergi ke kantin. sesampainya di sana aku pun langsung memesan bakmie dan beberapa snack. Namun ketika aku dan lika mencari tempat duduk, ternyata tak ada tempat duduk yang kosong.

Akhirnya kak Rico pun menyapa ku dan menyarankan aku untuk duduk bersamanya. karena di sebelahnya masih ada tempat kosong. aku pun tak menolak tawaran kak Rico.
Aduh seneng banget deh rasanya aku. Kaya mau melayang gitu hihi. kita pun ngobrol ngobrol bersama. Gak nyangka ternyata kak Rico yang selama ini aku kenal sombong, cuek dan jutek ternyata orangnya asik dan baik. Aduh jadi makin cinta.

Bel pulang pun berbunyi. Anak anak pun berhamburan keluar gerbang. Saat aku menuju gerbang dengan teman ku lika. Tiba tiba kak Rico datang dan mengajak aku pulang bareng karena rumah kita satu arah. aku pun melirik lika yang di sebelahku. ia pun mendukung ku untuk gak nolak pulang bareng kak Rico.

Aku pun segera naik motor kak Rico. Saat di perjalanan kak Rico pun memulai percakapan terlebih dahulu.
“emmm. Dah?” tanyanya
“iya ada apa kak?” jawabku
“mau nanya nih, kamu temenan sama lika asik gak sih orangnya?” Tanyanya
Mendengar pertanyaan itu aku pun curiga pada kak Rico yang kesannya inggin tau.
“emm. Emang kenapa kak?” jawabku
“emm gak, cuman setiap kali aku liat kamu sama lika kaya yang kompak gitu?” ujarnya
“oh” jawabku bingung
Suasana pun kembali menjadi hening.

Sesampainya aku di depan rumah, aku pun langsung turun dari motor kak Rico. dia pun berpamitan untuk pulang. Aku masih tak mengerti dengan pertannyaan kak Rico yang aneh itu. Tapi tak apalah. Aku anggap itu sebagai angin lalu.

Keesokan harinya. Aku pun pergi sekolah bersama teman ku Lika. aku pun menceritakan tentang kejadian kemarin, wajah Lika pun terlihat kebinggungan. Tak lama kemudian. kak Rico pun kembali menghampiriku, dan kami saling sapa menyapa. Namun aku pun masih teringat dengan pertanyaan kak Rico kemarin. Tapi sudahlah untuk apa aku selalu memikirkan hal itu.

Hari ke hari berubah menjadi minggu ke minggu. aku pun semakin dekat dan akrab sama kak Rico. Dan pada kesempatan ini kak Rico bertanya kepadaku.
“eh, dah kamu malam ini ada acara gak?” Tanyanya padaku
“enggak. Emang ada apa kak?” ucapku kebingungan
“em, aku mau ngajak kamu makan di café di deket sekolah. Kamu bias gak?”
“emm, bisa-bisa.” jawabku
“oh ya. Aku tunggu kamu jam 07:00 ya?” ucapnya
“iya” ucapku singkat

Sesampainya aku di rumah. Aku memikirkan hal itu. Aku berpikir bahwa ia pasti akan menembakku. Aduh rasanya tak sabar menunggunya.

Jarum jam pun menunjukan angka 06:40 aku pun bersiap-siap dan pergi berangkat. Sesampainya di café aku pun melihat kak Rico memakai kemeja putih dan memakai celana jeans hitam, dandanannya rapih sekali membuatku yakin bahwa ia akan menembakku.
Aku pun duduk di sebelahnya. dan kami mulai mengobrol hingga pada waktunya ia bertanya padaku.
“dah? aku mau nanya nih?” ucapnya nada serius
“oh ya. Nanya apa?” ucapku
“emmmm…” ucapnya ragu
“ayo kak katakan aja?” ucap ku dalam hati
“em, lika udah punya pacar belum ya?” tanyanya
Pertanyaan yang keluar dari mulut kak Rico tak sesuai dengan yang aku inginkan. Aku pun mulai curiga, lalu aku menanya balik.
“hah? Lika? Maksud kakak apa?” tanyaku curiga
“iya, aku nanya lika udah punya pacar apa belum? Soalnya aku menyimpan rasa suka untuknya?” jawabnya sambil tersenyum
Mendengar perkataan itu. Hatiku sakit sekali. Bagaikan ada ribuan panah yang menancab di hatiku, kepalaku rasanya mau meledak. aku pun tak kuasa untuk menahan air mata ini. akhirnya air mata pun jatuh membasahi pipiku. Melihat aku meneteskan air mata, kak Rico pun bertanya padaku.
“kamu kenapa nangis?” Tanyanya bingung
“kakak mau tau kenapa aku nangis? Aku itu memendam rasa suka sama kakak sejak kelas VII?” jawabku sambil menangis
“tapi…” ucapnya dengan wajah bersalah
“tapi apa kak? Kakak gak pernah rasa apa yang aku rasa? Untuk apa kakak ajak aku ke café ini? Aku kira kakak suka sama aku. Tapi nyatanya kakak suka sama lika? Kenapa gak dari dulu aja kakak deketin Lika? Dengan cara kakak deketin aku untuk menanyakan hal tentang Lika. Hati aku sakit kak? Ternyata aku salah menilai kakak.” Ucapku sambil pergi meninggalkan kak Rico
Aku lihat wajahnya bersalah. Namun aku tak menghirau kan itu, aku pun mencoba move on dari kak Rico.

Sumber Klik Disini :

Silih Bergantinya Keadaan

Posted: 07/01/2015 in Sedih
Tag:

Pikiranku tercampur aduk, bekas tangisanku masih ada berwarna hitam di pipiku, warnanya seperti kehidupanku sekarang yang suram. Aku tak tau mengapa setega itu kepadaku, apa salahku? Aku masih ingat persis kejadian itu, memang itu sengaja, tapi apakah dia tak sadar bahwa dia itu sahabatku? benar-benar kecewa sekali aku, di memori otakku masih tersimpan kejadian itu, ingin aku membalasnya tetapi hal itu sudah terbalaskan, memang terbalaskan, tapi balasan itu tak seperih yang kurasakan.

Kemarin malam aku merayakan acara peresmian hotel yang telah kubangun 2 tahun yang lalu, aku mengundang tamu-tamu penting, termasuk orangtuaku dan keluargaku. Acaranya cukup mewah dengan tampat duduk bertingkat seperti acara menonton bioskop. acaranya juga unik dan mengasyikkan. Tapi tiba-tiba ayahku sesak nafas, aku langsung mengambil handphone ku dan langsung menelfon ambulan.

Acara menjadi kacau. Aku menghiraukan acara itu dan hanya ayahkulah yang ada di pikiranku saat ini. Ibuku tidak ikut karena kebetulan kakinya sakit, dia menunggu di hotel bersama keluargaku. Semua khawatir atas kejadian itu.

Sambil berlari mengikuti ayahku, aku dihentikan oleh perawat di depan ruangan. Aku tidak mau, tapi perawat itu memaksaku untuk menunggu di depan ruangan dan akhirnya aku menurutinya.

Lama sudah jam berdetik terdengar di telingaku. Ayahku sudah selesai diperiksa dan sembuh. betapa bahagianya aku. Aku dan keluargaku langsung pulang, sesampai di rumah, baru ku hembuskan nafasku, aku langsung pergi lagi.

Di jalan ada mobil yang menabrakku, aku tak tahan sakit yang kurasa, tapi seseorang yang menabrakku mempunyai trik yang kancil. kepalaku berdarah, kakiku lebih parah lagi. ambulan berhasil menjemputku dan polisi berhasil menangkapnya.

Tak kusangka malam ini aku sadar dan dokter menyatakan bahwa aku terkena penyakit lumpuh kaki dan aku harus menggunakan kursi roda untuk menjalani hidupku.

Sumber Klik Disini :

Mobil Nyangkut

Posted: 07/01/2015 in Humor
Tag:

Di sebuah pelataran parkir basement, dua pemuda berseragam jasa pengiriman paket tampak kebingungan di dekat kendaraan mereka. Pemuda satu sedang duduk di balik kemudi, sedangkan pemuda satunya lagi bertolak pinggang di depannya. “Dik… ban depan kanannya nyangkut di sudut siku pancang gedung. Maju nggak bisa, mundur juga nggak bisa. Gimana dong?” Budi bertanya pelan sambil terkekeh menertawakan kebodohannya, tak becus memarkir mobil. “Lah, tadi parkirnya bagaimana? Masuk bisa, masa keluarnya nyangkut, sob?” tanya Didik protes. Budi menyasar pandangan ke sekeliling, namun tak ditemuinya satu pun satpam untuk dimintai tolong.

“Sudah, kita angkat saja mobilnya! Biasa angkat motor, masa geser dikit ke kiri aja loyo?” komando Budi ngasal.
“Hah?! Ngangkat mobil? Yang bener aja! Emang bisa?”.
“Ya, kita coba dulu, yang penting kan usaha. Ente bagian kiri, ana bagian kanan. OK?”
Keduanya ambil ancang-ancang, memegang bagian dari belakang mobil operasional kantor.

“Satu… Dua… Tiiiigaaaa…!!!” urat-urat nadi mereka mulai menonjol sekaligus menegang. Keringat membahasi kening. Tiba-tiba Didik berteriak dengan logat jawa-nya, “E.. E.. Ehhh.. Aduuhhh.. Pinggang… Encok.. Encookkk.. cuklek suwi suwi balungku ‘ne ngene iki cerita ‘ne!” Spontan Budi yang mendengarnya tertawa terbahak-bahak. “Ahhh.. Ente.. giliran serius malah ngelucu! Hilang deh tenaganya” ujar Budi menepuk pundak temannya itu yang asli kota Jember.
“Ya habis… masa disuruh angkat mobil! Yang bener aja!”
“Aduh… terus gimana dong ya?” Budi kembali bertanya. Serius deh, Budi kali itu kehabisan akal. Dia takut balik ke kantor, mau bilang apa ke atasannya?

Budi duduk di balik kemudi, pintu mobil sebelah kanan ia buka separuh agar tak menyenggol mobil lain. Iseng saja mesin mobil Carry butut itu ia nyalakan dan perlahan-lahan memundurkan mobil sembari melihat ke arah ban kanan depan biar bisa lihat lebih leluasa.

“Didiiikkk.. Mobilnya bisa keluar!!” pekik Budi.
“Ahhh… sial, tau gitu kenapa nggak dari tadi mundurin mobilnya kayak gini sih?” maki Didik.
“Ya mana tauuu… yuk naik, Sob! Kita pulang ke kantor!”
Dan mereka pun berhasil keluar dari parkir basement.

Sumber Klik Disini :