Arsip untuk 07/02/2015

Tongkat Ajaib Peri Lili

Posted: 07/02/2015 in Anak
Tag:
Lola adalah peri muda yang tinggal di Kampung Peri. Ia peri yang malas dan selalu ingin cepat mendapat hasil tanpa kerja keras. Benda yang paling diidamkan Lola adalah tongkat ajaib seperti milik Peri Lili .
“Pasti asyik, jika aku punya tongkat ajaib! Nilaiku di sekolah bisa bagus tanpa perlu belajar. Kamarku juga bisa bersih tanpa perlu menyapu,” pikir Lola.
Padahal tongkat ajaib Peri Lili bukan untuk bersenang-senang. Tongkat itu berguna untuk menolong peri-peri yang kesusahan. Pemegang tongkat itu punya tanggung jawab yang besar. Hanya peri terbaik, pandai, jujur, dan bijaksana yang berhak menerima tongkat ajaib itu. Tongkat ajaib itu adalah hadiah dari Ratu Peri.
Setiap pulang dari sekolah peri, Lola selalu mampir ke pondok Peri Lili. Ia mengintip ke dalam pondok, berharap Peri Lili meninggalkan tongkatnya. Selama ini, tongkat ajaib itu tak pernah tertinggal.
Akan tetapi, hari itu berbeda. Ketika Lola mengintip lewat jendela, ia melihat tongkat itu tergeletak di meja rias Peri Lili! Lola sangat girang. Setelah yakin tak ada yang melihatnya, Lola menyelinap masuk ke pondok itu.
“Aku cuma mau pinjam tongkat ini sebentar,” bisik Lola membela diri.
Setelah mendapat tongkat ajaib itu, Lola buru-buru keluar dari pondok. Ia menyembunyikan tongkat ajaib itu di balik bajunya. Namun, betapa terkejutnya ia ketika berpapasan dengan Peri Lili.
“Lola, sedang apa kamu di sini?”
“Aku… eh… aku hanya lewat,” ujar Lola gugup.
“Hm, kamu baru pulang sekolah, ya? Lekaslah pulang. Ayah ibumu pasti sudah menunggu di rumah,” kata Peri Lili lembut.
Lola mengangguk cepat, lalu terbang menjauh. Namun, saat itu juga Lola menyadari sesuatu. Tadi Peri Lili memegang sebuah tongkat. Lola buru-buru melihat ke balik jaketnya. Tongkat ajaib itu masih ada di jaketnya.
“Lo, tongkat siapa yang tadi dibawa Peri Lili?” gumam Lola heran.
Setelah berpikir, ia menarik kesimpulan sendiri. “Oh, Peri Lili pasti punya dua tongkat ajaib! Ini pasti kembaran tongkat ajaib. Oh, aku sudah tak sabar ingin menguji keajaibannya!” pekik Lola dalam hati.
Setiba di rumah, Lola langsung masuk ke kamarnya. Ia mencoba menyihir kamarnya agar menjadi bersih tanpa perlu lelah membersihkannya. Ia mencoba beberapa mantra yang biasa diucapkan Peri Lili.
“Abrakadabra! ” ucap Lola.
Tak terjadi apa pun. Kamarnya tetap saja berantakan.
“Hokus pokus! ” ucap Lola lagi.

Tak ada yang bergerak. Mainannya tetap tergeletak di lantai. Buku-buku yang semalam dibacanya, masih tetap berhamburan di tempat tidurnya.
“Buku-buku! Aku mau kalian kembali ke rak buku!” perintah Lola sambil menganyunkan tongkat ajaib itu ke arah buku-bukunya.
Buku-buku itu bergerak. Lola tersenyum senang. Tetapi, aneh! Buku-buku itu tidak bergerak ke arah rak buku. Malah terbang melayang ke arah Lola.
BUKK! Buku-buku itu menimpa kepala Lola.
“Aduh!” jerit Lola kesakitan.
Lola kembali menyulap ke arah mainannya. “Mainan, ayo masuk ke keranjang mainan!” perintahnya.
PLOKK! BUKK! PLAK! Mainan-mainan itu melayang ke arah Lola.
“Aduuuh! Tongkat payah!” teriak Lola kesal.
“Sekarang, ayo, buat perutku kenyang tanpa harus makan!” Lola mengayunkan tongkat itu ke arah perutnya. Namun, perutnya malah jadi sakit sekali!
“Aduh! Aduh! Ayah! Ibu! Tolong!” teriak Lola. Mendengar teriakan Lola, Ibu segera masuk ke kamar Lola. Ibu lalu meminta Ayah memanggilkan Peri Lili untuk menyembuhkan Lola.

Tak lama kemudian, Peri Lili datang. Ia menyembuhkan sakit perut Lola dengan tongkat ajaibnya.
“Maafkan aku, Peri Lili,” kata Lola takut-takut, setelah perutnya sembuh.
“Kenapa? Memangnya Lola salah apa?” tanya Peri Lili.
Lola tertunduk malu. Ia akhirnya menceritakan kenakalannya mencuri tongkat wasiat Peri Lili. Mendengar cerita itu, Peri Lili tersenyum.
“Tongkat wasiatku ini berguna untuk menyembuhkan. Tapi tongkat yang kamu ambil itu punya kegunaan yang berbeda. Tongkat itu berguna untuk melawan kejahatan,” Peri Lili menjelaskan.
Lola mengangguk mengerti. Pantas tongkat kembaran itu membuatnya sakit. Bukankah ia telah berbuat jahat, mencuri tongkat peri lain. Di dalam hati, Lola bersyukur juga. Tongkat itu telah membuatnya sadar, kalau ia telah berbuat jahat. Lola juga sadar, kalau selama ini ia terlalu malas. Bahkan untuk makan pun ia malas. Lola jadi malu. Ia tertunduk sedih.
“Kalau kau pintar dan rajin, Ratu Peri pasti akan memberikan tongkat seperti ini untukmu!” hibur Peri Lili.
“Aku yakin, kau bisa berubah menjadi peri yang rajin, Lola,” kata Peri Lili lagi. Lola tersenyum senang.

 

Sumber Klik Disini :

Karena Tak Sengaja

Posted: 07/02/2015 in Motivasi
Tag:

Pagi yang cerah dengan warna langit yang biru muda menandakan keceriaan di wajah setiap penduduk di Kota Surabaya di tengah keceriaan penduduk Kota hati Citra merasa bahwa hanya dirinya yang saat ini merasa sedih walaupun pada hari ini Citra akan menerima tanda kelulusan dari pendidikan SMAnya. Saat citra sudah mereimanya Citra masih binggung karena dia tak tahu harus melanjutkan pendidikan ke Universitas yang diketahuinya bahwa biaya yang di perlukan untuk masuk Universitas sangatlah mahal.
“Apa yang harus aku lakukan agar aku dapat melanjutkan pendidikan ke Universitas. Pasti Bunda Anya tak memiliki biaya untuk aku melanjutkan sekolah ke Universitas karna masih banyak adek – adek yang harus di biayai.” Kata Citra dalam hati.
“Apakah aku harus mencari pekerjaan? Siapa yang mau menerima anak yang hanya lulusan SMA seperti aku ini. Lalu aku harus bagaimana? Ya Tuhan tolong bantu aku.” Lanjutnya dalam hati.

Sesampainya di Yayasan Adinda tempatnya tinggal Mia langsung menemui Bunda Anya untuk membicarakan kelanjutan pendidikannya ke Universitas Kedokteran seperti yang ia cita – citakan dari dulu. Saat Citra mencari keberadaaan Bunda Anya, Citra masih ragu apakah akan mebicarakan hal ini pada Bunda atau tidak.
“Kamu sudah pulang, Nak.” Sambut Bunda Anya
“Iya Bunda. Bunda apakah aku bisa melanjutkan pendidikan ku ke Universitas, Bun.” Tanya Citra.
“Maafkan Bunda, Nak. Bunda tak bisa membiayai pendidikanmu ke Universitas. Maafkan Bunda sayang.” Ucap Bunda dengan perasaan sedih.
“Tak apa – apa bunda. Aku tau keperluan Bunda sangatlah banyak. Bunda harus membiayai semua keperluan adik – adik. Aku bisa menerimanya. Aku hanya berharap semoga ada program beasiswa yang bisa aku ikuti. Doakan aku Bunda.” Kata Citra.
“Bunda selalu mendoakan yang terbaik untukmu sayang. Semoga Tuhan mendengar doa mu anak baik.” Doa Bunda.
“Makasih Bunda. Aku ingin mencari pekerjaan dulu saja untuk mengisi waktu luang dan semoga ada yang mau menerima ku menjadi karyawannya.” Ujar Citra.
“Iya, Nak. Bunda tinggal ke dapur dulu, ya. Bunda mau masak untuk adik – adikmu kamu mau bantu Bunda.” Ajak Bunda.
“Mau sekali Bunda.” Ucap Citra dengan semangat.

Tak terasa satu jam pun berlalu saat – saat keceriaan antara Bunda Anya dengan Citra di dapur. Mereka berdua sangatlah dekat walaupun Citra bukanlah darah daging Bunda Anya akan tetapi kedekatan mereka seperti anak dan ibu kandungnya sendiri. Jam pun menunjukkan pukul 12.30 waktunya makan siang. Citra bergegas membangunkan adik – adiknya yang sedang tidur siang untuk makan siang di ruang makan.
“Adek – adek ayo masuk. Sudah waktunya makan siang jangan main mulu. Nanti kehabisan loh.” Kata Citra untuk mengajak adik – adiknya makan.
“Bunda masak apa, Kak Cit?” Tanya Andi salah satu adik Citra di Yayasan
“Yang jelas masakannya Bunda yang selalu enak setiap harinya.” Jawab Citra
“Oke, Kak Cit. Aku segera bangun.” Ujar Andi

Tak lama kemudian adik – adik sudah berkumpul di ruang makan untuk menyantap makan siang mereka. Mereka semua tak sabar untuk mencicipi masakan Bunda Anya yang selalu enak setiap harinya. Walaupun mereka semua hidup dengan serba kekurangan mereka tetap menerima semua rezeki dari Tuhan yang Maha Esa.
“Oke Citra. Sekarang kamu yang memimpin adik – adikmu membaca doa sebelum makan, ya” Ucap Bunda Anya.
“Iya, Bunda. Oke adik – adik sebelum kita makan marilah kita berdoa atas nikmat yang Tuhan berikan kepada kita. Berdoa mulai.” Ucap Citra memimpin doa.
“Selesai” Lanjut Citra
“Ayo sekarang kita serbu makanan masakan Bunda.” Ujar Arya
“Eh, tunggu dulu dong. Antri” Kata Karin
“Iya – iya aku antri” Jawab Arya dengan wajah lesu
“Nah gitu dong, dek Ar. Ngalah sama yang lebih kecil dari kamu.” Ejek Citra pada Arya
“Ah, kak Citra selalu begitu.” Ujar Arya
“Maaf – maaf kakak hanya bercanda. Senyum dong adik ganteng.” Rayu Citra pada Arya.
“Nih… udah senyum ganteng banget kan aku, kak” Kata Arya pede
“Iya, dek Ar. Kamu kelihatan ganteng” Rayu Citra lagi
“Sudah – sudah cepat makan jangan kebanyakan ngobrol. Gak baik makan sambil ngobrol.” Peringatan Bunda pada Arya dan Citra.

Setelah selesai makan siang Citra mengajak adik – adiknya untuk tidur siang agar waktu malam ahri mereka semua bisa belajar dengan enak dan nyaman karena sudah tidak merasa lelah lagi.
“Ayo adik – adik sekarang kalian tidur siang, ya. Biar nanti belajarnya bisa nyaman karna udah gak ngantuk lagi. Nanti sore kakak banguni kalian lagi. Udah cepat tidur, ya adik – adikku yang manis. Kakak sayang kalian” Kata Citra mengajak tidur
“Iya kak Citra. Kami juga sayang sama kak Citra. Selamat tidur.” Ucap serempak adik – adik di Yayasan.

Tak terasa jam pun sudah menunjukkan pukul 02.45. Citra pun bergegas bangun dari tempat tidurnyadan segera mandi. Setelah selesai mandi Citra membangunkan adik – adik yang sedang tidur pulas di ranjangnya masing – masing. Tanpa di sadari Citra ternyata adik – adik sudah bangun dan langsung mandi sore.
“Kalian pintar sekali. Bisa bangun sendiri” Kata kak Citra menyenangkan hati.
“Iya dong, Kak. Masak kita kerjaannya dibangunin terus. Kapan kita mandirinya dong.” Kata salah satu adik Citre
“Iya – ya. Kalian kan sudah mau beranjak menjadi anak yang lebih dewasa lagi. Kalo gitu kak tinggal dulu, ya. Kak ada urusan.” Jawab Citra.
“Iya, Kak. Hati – hati di jalan.” Ucap Karin
“Iya, dek Kar.” Jawab Citra

Beberapa jam kemudian.
Citra tak menyadari bahwa ternyata sekarang sudah menjelang matahari terbenam. Citra pun bergegas untuk pulang ke yayasan tempatnya tinggal, karna Bunda Anya pasti sudah menunggunya. Tanpa melihat kanan kiri Citra langsung saja menyebrangi zebra cross, dan pada waktu itu tanpa diketahui Citra ternyata ada sebuah mobil mewah yang melaju kencang. Pada akhirnya Citra tak bisa menghindar. Citra pun terjatuh lemas tak berdaya di zebra cross.
“Ya ampun. Apa yang aku lakukan. Aku menabrak orang yang tak bersalah. Apa yang harus aku lakukan. Jika aku tak bertanggung jawab dan meninggalkannya di sini dia akan meninggal. Tapi kalau aku turun aku akan masuk penjara. Ya ampun, bagaimana ini.” Kegelisahan hati Pak Anton.
“Bapak harus turun untuk membawanya kerumah sakit sebelum terlambat. Cepat lah, Pak kasihan anak yang tak berdosa ini.” Ucap seorang Tukang becak di sebarang jalan.
“Baiklah, Pak. Tolong saya mengangkat anak ini masuk ke mobil saya.” Ucapan meminta tolong Pak Anton pada tukang becak.

Lima belas menit kemudian.
Pak Anton sampai di sebuah rumah sakit yang cukup mewah dan terkenal mahal di Kota Surabaya. Sesampainya di rumah sakit Pak Anton bergegas memanggil suster untuk membantu menolong Citra.
“Sus, tolong saya. Ada yang sedang sekarat di mobil saya. Tolong cepat, Sus” Ucap Pak Anton.
“Baiklah, Pak”

Lima menit kemudian. Citra baru mendapatkan perawatan intensif di ruang ICCU di salah satu rumah sakit mahal di Surabaya. Tampak rasa gelisah yang terlihat pada raut wajah Pak Anton. Rasa gelisah itu bercampur dengan rasa takut jika Citra tak dapat tertolong.
Sepuluh menit kemudian dokter dan suster keluar dari ruang ICCU dan memberitahukan kabar kalau Citra dapat melewati masa kritisnya.

Ke esokan harinya Citra sudah sadar dari tidurnya. Citra bertanya – Tanya dia sedang berada dimana dan kenapa dia bisa berada di tempat itu. Ternyata ada seorang Bapak yang sedang menungguinya sampai Bapak itu tertidur di sofa. Tak lama kemudian Bapak itu pun bangun dari tidur dan melihat bahwa Citra sudah bangun dan dia sudah membaik.
“Kamu sudah bangun. Maafkan saya, Nak. Saya tak sengaja menabrak kamu hingga kamu seperti ini dan harus di rawat di rumah sakit selama satu minggu.” Permohonan maaf Pak Anton pada Citra.
“Tak apa, Pak mungkin ini semua sudah menjadi takdir saya. Lagian saya juga kurang berhati – hati saat menyebrang.”
“Makasih, Nak kamu sudah mau memaafkan Bapak. Perkenalkan nama bapak adalah Pak Anton. Nama kamu siapa, Nak?” Tanya Pak Anton
“Nama saya Citra, Pak.” Jawab Citra
“Kamu tinggal dimana, Nak?” Tanya Pak Anton lagi
“Saya tinggal di yayasan ADINDA.” Jawab Citra lagi
“Berarti kamu adalah seorang anak yatim?” Ucap Pak Anton.
“Iya, Pak.” Kata Citra
“Kalau begitu kamu mau saya angkat menjadi anak angkat saya. Kebetulan saya sudah menikah bertahun – tahun akan tetapi saya belum di karuniai anak. Apakah kamu mau menjadi anak angkat saya. Saya akan membiayai semua kebutuhanmu, Nak.” Ujar Pak Anton.
“Bapak mau menggangkat saya menjadi anak angkat dan bapak juga mau mebiayai semua kebutuhan saya.” Ucap Citra.
“Iya, Nak. Bapak akan membiayai semua keperluan kamu entah itu pendidikan dan lain – lain. Kamu mau?” Kata Pak Anton
“Kalau bapak mau membiayai pendidikan saya ke Universitas saya benar – benar mau, Pak karna saya bercita – cita menjadi dokter akan tetapi Bunda tak mempunyai cukup biaya untuk mebiayai saya meneruskan pendidikan ke Universitas.” Kata Citra.
“Kalau begitu saya akan segera menggurus surat – suratnya, Nak.” Ucap Pak Anton

Lima tahun kemudian.
Setelah empat tahun Citra meneruskan pendidikannya ke Universitas kedokteran di salah satu Fakultas Kedokteran di Surabaya akhirnya Citra menjadi seorang dokter yang terkenal di salah satu Rumah Sakit ternama di Surabaya. Semua itu berkat Pak Anton yang sekarang menjadi Orang tua angkatnya, karna Pak Anton mau membiayai semua keperluan Citra sampai Citra menjadi dokter ternama. Sungguh mulia hati Pak Anton mau membiayai dan menggangkat Citra sebagai anaknya.

 

Sumber klik Disini :

Kabut Pulau Tanpa Nama

Posted: 07/02/2015 in Remaja
Tag:

Hari ini rencana anak-anak untuk menyeberang ke pulau kecil tanpa nama itu batal total. Dengan sangat terpaksa mereka tidak jadi pergi ke sana, pasalnya air laut sedang pasang. Dan pulau tersebut tampak nyaris tenggelam ditelan air laut.

Kini lima remaja belia itu hanya berdiri di tepian pantau sambil memandangi pulau itu dengan perasaan yang tak bisa dilukiskan. Antar menyayangkan,kecewa, dan damai. Gala sejak tadi mengintip pulau itu pakai teropongnya. Asyik banget kelihatannya. Sandra sejak tadi mencuri pandang ke arahnya. Makin lama Sandra makin merasa, bahwa cowok keren ini makin oke aja. Sampai Sandra merasa heran pada dirinya sendiri. Ini dianya yang makin oke atau hati ini makin teracuni perasaan-perasaan sentimental yang tak tau kapan datangnya.

Sandra memjamkan matanya. Sambil menghela napas pelan. ‘’Kamu nggak apa-apa San?’’ Tak tau pundak Sandra disentuh lembut. Sandra kaget kecil. Gala. ‘’ I’m okey…’’ Sahut Sandra pelan. ‘’Mau pinjam teropong?’’ Gala menyodorkan teropongnya. ‘’Pulau itu tinggal seperempat kini.’’
Tanpa berkata apa-apa Sandra meraih teropong itu. Lalu mengarahkannya pada pulau tanpa nama. Gala yang ada di sampingnya memandangi gadis itu dengan lembut. Saat angin laut membuat rambut Sandra menutupi wajah ayunya, Gala dengan tangan kanannya merapikan rambut gadis itu. Tentu saja Sandra jadi kaget.

Namun Gala malah tersenyum lembut ‘’Kamu… Kamu manis banget…’’ Sandra lebih kaget lagi. ‘’A-ap-apa maksudmu?’’ Gadis itu tergagap. Wajahnya merah. Gala makin melebarkan senyum kerennya. Lalu menggeleng. ‘’Ah enggak kok, saya cuma suka melihatmu dalam keadaan seperti sekarang ini.’’ ‘’Emangnya kenapa?’’ ‘’Nggak pa-pa.’’ ‘’Kenapa sih?’’ ‘’Mm, manis…’’ ‘’Oh ya?’’ ‘’Iya.’’ ‘’Bener?’’ ‘’Sumpah!’’ Sekarang gentian Gala yang memerah wajahnya. Anak itu sempat tersipu. Dan Sandra tersenyum melihat cowok itu jadi salah tingkah.
‘’Ah Gala, rupanya kamu baru tau ya kalau aku manis? Dari dulu aku sudah manis, kok. Kamu aja yang enggak merhatiin.’’ Sandra malah menggoda Gala. ‘’Siapa bilang aku enggak merhatiin kamu?’’ Entah bagaimana Gala bisa kelepasan ngomong kayak gitu. ‘’Oh ya?’’ Sandra surprise banget. ‘’Benarkah kamu merhatiin aku?’’ Gala agak salah tingkah. ‘’Ng, yah…terus terang iya.’’

Ada gemuruh di dada Sandra. Sekuat tenaga ia menahan gejolak di relung-relung hatinya yang paling dalam. Gejolak yang sanggup membuat rona merah di pipinya yang ranum. Tapi ia tetap berusaha untuk tidak ge-er dulu. Sesaat Sandra tak bisa ngomong apa-apa. Gala apalagi. Lalu cowok itu menunduk. ‘’San, saya…’’ ‘’Apa?’’ Sandra sempat dag dig dug. Duh apa ini saatnya dia mengucapkan kata-kata klise itu? Apa sekarang? Waduh, gimana ya?? ‘’Ng…’’ Tiba-tiba penduduk setempat datang menghampiri tempat itu, dan mengangguk pada Gala dan Sandra.
‘’Selamat pagi,’’ ucap seorang laki-laki yang memakai topi nelayan. ‘’Maaf kami ini adalah wakil dari para nelayan di sini, yang mau mengucapkan banyak terima kasih pada adik-adik sekalian. ‘’Iya, kami mau berterimakasih sambung yang satunya lagi, yang memakai kaos garis-garis merah, sambil mengangguk hormat. Gala dan Sandra sempat kaget kecil. ‘’Mau berterimakasih? Ng berterimakasih untuk apa, Pak? Bukankah kita belum pernah bertemu sebelumnya?’’ ‘’Begini, Dik. Selama ini kami para nelayan di sini selalu ketakutan karena ulah para penyelundup itu. Karena mereka itu sering merampas ikan-ikan hasil tangkapan kami, yang susah payah kami peroleh di tengah laut. Mereka sebenarnya perompak alias bajak laut. Apa yang kami miliki selalu dirampas secara paksa. Jadi kami merasa tidak aman mencari ikan di laut.’’ Papar lelaki bertopi itu.

Bersamaan dengan itu, Ali, Rio, dan Lita datang mendekat. Membaur dengan mereka. ‘’Tapi syukur Alhamdulillah, mereka semua tertangkap polisi, Insya Allah kehidupan kami jadi aman. Dan untuk itu, kami berterimakasih pada adik-adik yang telah bekerja sama dengan polisi meringkus mereka.’’
‘’Iya, Dik. Dan sebagai ucapan terimakasih, terimalah cemeti ini sebagai kenang kenangan….’’ Yang memakai baju garis-garis merah itu mengeluarkan sebuah cemeti dari dalam tas yang sejak tadi dibawanya. Lalu diserahkan-nya pada Gala.

Gala menerima cemeti itu dengan senang. Indah sekali cemeti tradisional itu, gagangnya ada pernak pernik warna perak dan biru, Jika dipecutkan di udara, akan menimbulkan suara ledakan yang cukup sangar. Tar-tar-tar! Gala ce-es berterimakasih atas pemberian tersebut. Mereka saling bersalaman dan empat nelayan itu pamit pulang. Di rumah bibi, saat Sandra ce-es mau pamit pulang ke Surabaya, ternyata paman sudah pergi ke Sampang untuk membeli makanan udang. Dan paman menitipkan sepucuk surat untuk Sanda. Bibi menyerahkannya pada Sandra. Buru-buru Sandra membacanya. Sendirian.

Buat Ananda Sandra….
San, maaf paman harus keluar kota untuk mengurusi tambak udang paman. Jadi tidak bisa mengantar Sandra dan teman-teman. San, paman bangga mempunyai keponakan sepertinmu. Pintar,kreatif,gesit,berpikiran luas, dan cantik. Ah, andai saja paman mempunyai keponakan sepertimu. Betapa senangnya hidup paman dan bibi. Sandra, paman amat berterimakasih atas nasehatmu tadi malam. Itu adalah hal yang amat berarti bagi pamanmu ini. Kamu telah menyadarkan paman dari kekeliruan yang selama ini paman jalani. Terimakasih, San. Paman bangga padamu…. Salam buat papa dan mama, juga teman-temanmu.

Pamanmu, Iqbal.
Sandra melipat surat itu. Hatinya biru, matanya sayu. ‘’Hei, San! Jadi pulang, nggak?’’ teriak Rio tau-tau dari balik pintu. Sandra buru-buru menyimpan surat itu di saku celananya. ‘’Jadi dong! Emangnya kamu kagak mau pulang?’’ ‘’Iya , sih. Asal sama kamu.’’ Seloroh Rio. ‘’Dih.’’ ‘’Lho kok dih?’’ ‘’Soalnya enak di kamu, eneg di aku!’’ ‘’Hahahahaha….’’ Rio cekakakan kayak drakula. Sementara di teras depan telah menunggu Gala,Ali, dan Lita yang udah siap hengkang dari sini. Anak-anak mencium tangan bibi dan meninggalkan rumah bibi diiringi lambaian tangan. Sampai kendaraan itu hilang di tikungan.

Kapal penyeberangan Trunojoyo telah meninggalkan pelabuhan Kamal sepuluh menit lalu. Kini telah berada di tengah selat Madura. Menyeberang menuju pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Deru mesin terdengar membaur dengan ombak yang tersibak. Mata Sandra menatap kosong laut lepas. Sementara Gala masih asyik dengan teropongnya. Sedang Ali dan Lita berada di ruang duduk sambil nonton teve.
‘’Kok ngelamun, San?’’ Tau-tau Rio sudah berdiri di sebelah Sandra memandangi wajah polos gadis itu. Sandra menoleh sekilas. Lalu menggeleng sambil menghela napas panjang. ‘’Aih-aih ada apa, Sayang?’’ hibur Rio sambil mengulas senyum jenakanya. ‘’Sayang gombalmu!’’ Sahut Sandra sebel. Rio ngikik kayak jangkrik. ‘’Ah taukah kamu, San. Hati ini rasanya pilu jika melihat kamu sedih seperti ini.’’ Kata Rio sok puitis.
‘’Rio-Rio, kamu ini ngomong apa cuci piring, sih? Kok asal tancep aja?’’ sungut Sandra. ‘’Eits, aku serius, San!’’ ‘’Gombal!’’ ‘’San….’’ ‘’Hmm’’ ‘’Salahkah, San….’’ ‘’Salah!’’
‘’Ck, ngomong aja belum!’’ sungut Rio lucu. Sandra mesem. ‘’Apa sih?’’ ‘’Terus terang, San….’’ ‘’Philips terang terus.’’ ‘’Duh, San kamu diem dulu dong! Aku mau ngomong nih!’’ ‘’Iya deh, iya. Kamu mau ngomong apaan?’’ ‘’Ng, begini, San. Saya sebenarnya menyimpan sesuatu buat kamu.’’ Suara Rio tak sejenaka tadi. Ada raut serius di wajahnya. ‘’Oh ya? Kamu menyimpan buat saya? Sulit dipercaya!’’ Sandra tampak surprise banget. ‘’Di bank mana Rio? Berapa jumlah simpananmu itu?’’ Rio melengos keki. Menatap Sandra sebal. ‘’Kamu ini senewen apa saraf sih, San?’’

Sandra tertawa renyah. Memamerkan sederet giginya yang putih bagai mutiara. ‘’Kamu aneh Rio!’’ ‘’Aneh? Apa aneh jika ada cowok menyukai cewek, San? Apa aneh jika aku mencintaimu dan ingin seiring sejalan denganmu, San?’’ Sandra langsung diam seribu bahasa, menatap Rio lekat-lekat. Wajahnya memanas. ‘’Kamu…serius, Rio?’’ ‘’Serius! Bahkan dua rius!’’ Sahut Rio tegas. Sandra menghela napas. Angin laut mempermainkan rambutnya. Sejenak mereka saling diam. Sampai akhirnya Sandra berbicara pelan. Pelan sekali. Seperti berbicara dengan dirinya sendiri.
‘’Rio, selama ini kita telah berteman dan bersahabat. Kita telah berbagi suka dan duka. Kita telah jalani bersama. Dan terus terang Rio, saya ingin hubungan kita yang seperti ini berlangsung selamanya. Saya ingin bersahabat denganmu selamanya.’’ Sandra membuang pandangannya ke laut lepas. ‘’Jadi kamu…kamu menolakku, San?’’ Ada sesuatu yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata di wajah cowok itu. ‘’Yah, kamu bisa membuat kesimpulan sendiri.’’ Sakit sekali. Rio teramat kecewa. ‘’Ada cowok lain di hatimu?’’ Sandra menunduk lalu mengangguk.

Sebuah mercusuar kecil baru saja terlewati. Sementara kapal terus melaju. ‘’Siapa cowok itu, San? Damon?’’ Sandra menggeleng. ‘’Angga?’’ Sandra menggeleng lagi. ‘’Kevin?’’ Lagi-lagi Sandra menggeleng. ‘’G-gala?’’ Sandra kini diam. Benarkah dia, San? Gala, kan?’’ Sandra kembali menghela napas. Lalu mengangguk kecil. Dan itu adalah jawaban untuk Rio.

Ada sesuatu yang runtuh di hati Rio, sesuatu yang telah dibangunnya sejak lama. Sesuatu yang menjulang tinggi di angkasa. Tapi kini harus porak poranda. Puing-puingnya berserakan. Dan itu teramat menyakitkan. Untuk beberapa saat keduanya membisu. Mereka sibuk dengan apa yang ada di benaknya masing-masing dan hanyut dalam alam pikirannya.

Sebuah perahu nelayan melintas dari kejauhan. Perahu itu terombang-ambing oleh besarnya ombak. Namun keseimbangannya yang membuat tetap berada di atas air. Seperti kita juga, yang kadang kala harus menghadapi ombak dan badai dalam kehidupan ini. Kita hanya butuh keseimbangan yang kuat agar kita tak terombang-ambing dan tak tenggelam dihantam badai.
‘’Wah, rupanya di sini ada lomba melamun.’’ Tau-tau Gala sudah berdiri di dekat situ. Lalu mengambil tempat pas di samping Sandra. Rio tau diri. Dia segera mundur teratur. Namun sebelum berlalu dia sempat menepuk pelan pundak Gala. ‘’Selamat ya! Jaga Sandra baik-baik!’’ Tentu saja Gala heran dengan Rio. ‘’Apa maksud anak itu, San?’’ Gala tak menutupi rasa herannya, sepeninggal Rio. Sandra cuma mengangkat bahu yang berarti ‘nggak tau’. ‘’Tanya aja sama dia.’’ Ujar Sandra. ‘’Kelihatannya sedih amat tuh anak.’’ gumam Gala. ‘’Kalian ngobrolin apaan?’’ Sandra tak menjawab. Membiarkan Gala mereka-reka sendiri . ‘’Aha, aku tau, kamu pasti habis nolak Rio, ya?’’ Gala tersenyum memandangi wajah gadis manis itu.

Sandra tak tau harus bagaimana. Ia nggak bisa bohong di depan cowok satu ini. ‘’Kasihan si Rio. Kenapa nggak kamu terima aja, San?’’ gumam Gala pelan. Sandra mendengus sebel. ‘’Aku menolaknya karena aku telah mencintaimu!’’ Hampir saja Sandra nekad menjeritkan kalimat itu kepada Gala. Namun itu tak dilakukannya. Hanya dalam hati saja. ‘’Kamu kan tau sendiri, selama ini aku selalu menganggap sahabat pada Rio, jadi mana mungkin akan menerima cintanya?’’ Sandra memaparkan alasannya.

Gala tersenyum keren. ‘’Lalu kamu juga menganggap sahabat padaku, San?’’ ‘’Iya, San?’’ Sandra menghela napas. Ada rona merah yang menghiasi pipi ranumnya. ‘’Entahlah.’’ ‘’Apakah kamu juga akan menolakku seperti menolak Rio, San? Lalu berapa cowok lagi yang harus bertekuk lutut di depanmu? Berapa cowok lagi yang harus sakit dan kecewa, San? Apakah kamu memang sengaja begitu? Biar dapat menakhlukkan para cowok satu demi satu? Iya?’’
‘’Cukup, Gala!’’ sentak Sandra dengan mata berkaca-kaca. Ada sesuatu yang bening di kelopak matanya. ‘’Tega benar kamu bicara macam itu padaku! Aku nggak nyangka kamu punya pikiran seburuk itu!’’ Gala terkesiap. Maafkan aku, San. Maaf, aku jahat sekali.’’ Sandra membuang pandangannya ke laut lepas. Menyembunyikan sepasang matanya yang basah.
‘’Sorry, San. Aku bicara seperti tadi karena aku tak ingin mengalaminya juga. Aku takut merasa sakit dan kecewa sama seperti cowok-cowok yang sudah kamu tolak. Karena itu amat menyakitkan sekaligus memalukan. Padahal aku… aku amat menyayangimu, San.’’ Pelan dan lembut suara Gala, membuat Sandra tergugu. Dibiarkannya Gala memegang jemarinya. Hanya sesaat. Lalu Sandra berusaha menarik jemainya dari genggaman tangan Gala.

Kalau saja perasaan Sandra tidak sedang sebal, tentu dia akan menikmati saat-saat indah ini, berduaan dengan Gala di atas kapal dengan pemandangan laut lepas yang damai. Sambil bergenggaman tangan. Namun perasaan Sandra sedang jengkel, sebel, campur mangkel. Dan yang membuatnya begitu adalah Gala sendiri. Maka ia memilih diam saat Gala mengutarakan perasaanya. Dia sengaja tak memberikan jawaban. Padahal Sandra telah menyimpan jawaban sejak lama. Biarlah, biarlah hanya diam. Biarlah Gala mereka-reka sendiri. Biarlah cinta itu tak berkepastian. Biarlah dua hati tak harus menyatu. Biarlah camar-camar terbang bebas melanglang buana di atas samudra. Biarlah…..

Sandra yakin, jodoh itu pasti ada. Dan jodoh itu tidaklah sama dengan pacar. Kalau pacar masih mempunyai banyak kemungkinan, tapi kalau jodoh itu hanya satu kemungkinan terakhir. Love Forever. Dan itu tidak bisa dipungkiri lagi. Biarlah tak perlu menerima Gala untuk saat ini. Kalau memang jodoh, pasti nggak akan ke mana-mana. Pasti bersatu juga. Meski tidak harus saat ini. Biarlah…..

Peluit kapal berbunyi panjang. Terasa sebentar lagi kapal ini akan merapat di bibir dermaga Tanjung Perak Surabaya. Para penumpang bersiap-siap mendarat. Sandra ce-es pun siap melompat. Welcome to Surabaya…..

Sumber Klik Disini :

Mempunyai teman memang menyenangkan. Setiap hari selalu bersama sambil menceritakan banyak hal yang dialami. Kadang bercerita tentang sesuatu hal yang menyedihkan, tapi terkadang juga menceritakan hal yang menyenangkan hingga membuat kami tertawa bersama. Seperti itulah hubungan persahabatan yang telah kami jalin selama 3 tahun ini.
Namaku Alicia. Saat ini usiaku baru menginjak 14 tahun dan duduk di bangku kelas 3 SMP. Tak ada yang istimewa dariku. Aku hanyalah gadis biasa, bodoh, dan selalu bersikap dingin, sehingga tak memiliki banyak teman karena hampir semua orang selalu menjauhiku. Sejak saat itu, aku jadi sulit mempercayai orang lain. Aku selalu menganggap kalau sendirian itu lebih menyenangkan dari pada memiliki teman, tapi ternyata anggapanku itu salah. Pada akhirnya, selama SD aku selalu merasa sangat kesepian dan iri pada orang lain karena mereka memiliki banyak teman.
Tiga tahun lalu aku bertemu dengan 4 orang gadis yang seumuran denganku. Tepatnya pada saat upacara penerimaan murid tahun ajaran baru di SMP tempatku bersekolah saat ini. Rasti, Angel, Diana, dan Tricia. Itulah nama keempat gadis itu dan sekarang mereka telah menjadi sahabatku. Sejak saat itu hidupku berubah menjadi lebih baik dan menyenangkan.
Hari ini masih sama seperti biasanya. Di bawah langit yang cerah, kami berkumpul di sini, di sebuah lahan kosong yang tak jauh dari rumah kami. Tempat ini memang hanya sebuah lahan yang terabaikan dan dipenuhi rumput dan tanaman liar. Namun, kami selalu merasa kalau tempat ini sangat nyaman. Biasanya yang kami lakukan di sini hanya bermain bersama sambil menceritakan banyak hal yang telah kami alami.
“Oh, ya. Bukannya satu minggu lagi Ujian Nasional, ya?” tanya Rasti memastikan.
“Hm… kurasa itu akan menjadi saat-saat yang menyiksa bagi otakku yang pelupa ini,” gumamku sambil memukul-mukul kepalaku pelan.
“Tenang saja! Kan, di setiap nomor ada pilihan jawaban. Tinggal pilih saja salah satunya. Kalau beruntung mungkin hasilnya akan memuaskan,” ujar Diana santai sambil tertawa.
“Iya, kalau beruntung. Kalau nggak beruntung, kan nanti nilainya jelek,” sahut Angel sambil menyenggol bahu Diana. Sementara Diana tak menjawab dan terus tertawa.
“Eh, tadi malam aku mimpi buruk,” kata Tricia secara tiba-tiba, sehingga membuat pandangan kami langsung tertuju padanya.
“Mimpi apa?” tanya kami kompak.
“Tapi jangan marah, ya? Soalnya mimpiku benar-benar buruk,” jawab Tricia dengan wajah yang tampak ragu.
“Udah, cerita aja!” kata Rasti tak sabar. Sepertinya ia benar-benar merasa penasaran dengan mimpi yang dialami Tricia.

Tricia menghela nafas. Ia menatap kami satu-persatu dengan tatapan ragu. “Tadi malam…” Tricia mulai bercerita dengan suara kecil. Kami segera mendekatinya agar bisa mendengarkan suaranya lebih jelas. “Tadi malam…” Tricia mengulang kalimat yang tadi telah ia ucapkan.
“Udah, cepet cerita!” gerutu Rasti yang merasa jengkel karena sejak tadi Tricia hanya mengulang-ulang kalimatnya.
“Iya, iya,” jawab Tricia. “Tadi malam aku bermimpi melihat diriku sendiri, Rasti, Angel, dan Diana sedang duduk mengelilingi mayat…” Tricia tak melanjutkan kalimatnya.
“Mayat apa?” tanya Angel.
Tricia kembali menatap kami satu-persatu sambil menghela nafas. Sepertinya ia merasa sangat ragu untuk menceritakan mimpinya pada kami. “Mayat Alicia,” sambungnya dengan wajah tertunduk.

Rasti, Diana, dan Angel tampak kaget. Sementara aku hanya terdiam karena merasa sangat terkejut dengan cerita Tricia. Apalagi di dalam mimpi Tricia, aku telah meninggal. Hal itu membuat jantungku tiba-tiba berdetak kencang tak terkendali.
“Sudah, tenang saja! Itu kan, cuma mimpi. Jadi nggak ada yang perlu dikhawatirkan,” Diana berusaha menenangkanku sambil menepuk-nepuk bahuku perlahan.
Aku menatap keempat sahabatku sambil tersenyum tipis. “Apa kalian mau berjanji?” pertanyaan itu tiba-tiba saja keluar dari bibirku. Mereka berempat langsung menganggukkan kepala tanpa ragu. “Jika setelah lulus SMP nanti kita berpisah, maukah kalian berjanji untuk tidak melupakan satu sama lain?” tanyaku.
Awalnya mereka terdiam, tapi kemudian mereka tersenyum lalu mendekatiku. “Tentu saja,” jawab mereka dengan suara keras, sehingga membuat telingaku terasa sedikit sakit.
Tiba-tiba hujan turun dengan merasa derasnya. Kami merasa sedikit aneh karena sebelumnya, langit tampak begitu cerah dan tak sedikit pun awan mendung yang terlihat. Namun kami tak memperdulikan hal itu. Kami lebih memilih untuk berlari dengan cepat dan pulang ke rumah masing-masing agar tidak kehujanan.

Pagi ini langit tampak begitu cerah. Namun tak secerah hatiku. Sama seperti yang dikatakan Rasti seminggu yang lalu. Hari ini adalah hari dimulainya Ujian Nasional. Hal itu benar-benar membuatku merasa seperti orang gila. Apa lagi tadi pagi aku bangun kesiangan. Rasanya kepalaku seperti mau pecah saja.
“Duh, udah jam segini lagi,” gerutuku setelah menatap jam tanganku yang telah menunjukkan pukul tujuh kurang dua puluh menit. Dengan terburu-buru aku mempercepat lariku karena takut terlambat.
“Tin…. Tin….” Suara klakson mobil itu terdengar sangat keras. Aku menghentikan langkahku. Aku melirik kearah suara itu berasal. Ternyata saat itu sebuah mobil melaju kencang menuju kearahku. Aku berusaha berlari menuju ke seberang jalan, tapi terlambat. Mobil itu telah menabrakku. Tubuhku yang terbaring lemas di tengah jalan tak bisa merasakan apa-apa, bahkan rasa sakit sekali pun. Yang bisa kurasakan hanya pandanganku yang terasa buram sampai akhirnya aku tak sadarkan diri.
Saat sadar, aku sudah terbaring di sebuah kasur yang berada dalam kamar dengan tembok yang di cat warna putih. Aroma obat terasa menusuk hidung. Sepertinya saat ini aku sedang berada di salah satu kamar rumah sakit.

Aku melihat di sekelilingku. Kulihat Ayah dan Ibu sedang duduk di sebelahku sambil menangis. Aku bertanya kenapa mereka menangis, tapi mereka tak menjawab dan terus menangis. sudah berkali-kali aku bertanya, tapi mereka tetap tak menjawab. Karena merasa jengkel, aku pun segera bangkit lalu turun dari kasur.

Aku berbalik untuk menatap mereka. Namun tepat di saat itu juga aku langsung kaget. Kakiku terasa kaku dan tak bisa di gunakan untuk berjalan. Bagaimana tidak? Saat ini, aku melihat tubuhku sendiri yang masih terbaring di kasur dengan beberapa peralatan medis yang dipasang dokter untuk membantuku bernafas. Kucoba untuk bertanya pada Ibu lagi sambil menggenggam tangannya, tapi hal yang buruk membuatku semakin terkejut. Saat aku mencoba menyentuh tangan Ibu, tanganku menembus tangan Ibu begitu saja.
“Kenapa kau tidak mati saja? Tidak ada untungnya hidup dalam keadaan koma. Mungkin pada akhirnya kau juga akan mati sepertiku,” ujar seorang pria dari sudut ruangan. Tubuhnya terlihat tak pernah diurus. Ia membiarkan rambutnya panjang sampai bahu. Bahkan pakaian yang ia gunakan hanyalah baju berwarna hitam dan panjang yang telah lusuh.
“S-siapa k-kau? D-dan apa maksudmu tadi?” tanyaku sambil menatapnya ketakutan.
“Aku adalah orang yang meninggal di kamar ini dua bulan lalu. Tepatnya setelah aku koma hampir setahun,” jawabnya.
“A-apa? Itu berarti kau hantu?” tanyaku dengan suara keras karena merasa kaget.
“Tidak usah kaget seperti itu. Bukankah sekarang kau juga hantu?” pria itu malah balik bertanya.
“A-apa?” aku tersentak kaget mendengar ucapan pria itu.
“Kau tak percaya? Coba lihat dirimu sekarang! Tubuhmu dengan mudahnya menembus benda padat, berkeliaran ke sana-sini tanpa disadari orang lain, suara yang tak bisa di dengar oleh siapa pun, dan seragam berlumuran darah yang kau kenakan sekarang. Apa itu belum membuktikan bahwa kau sekarang telah menjadi hantu?” pria itu berusaha meyakinkanku kalau aku benar-benar telah menjadi hantu.

Berkali-kali aku membantah apa yang dikatakan pria itu, tapi dia terus mengatakan kalau aku tidak punya banyak harapan untuk tetap hidup. Setelah kami berdebat cukup lama, akhirnya pria itu pergi dan menghilang dalam sekejap. Sementara aku hanya duduk tersipuh di lantai. Yang bisa kulakukan saat ini hanyalah menangis.
Waktu terus berlalu. Hari pun semakin siang. Aku menatap jam yang tergantung di dinding. Jarum jam telah menunjukkan pukul 12.45. Meski begitu, keadaan masih belum berubah. Ayah dan Ibu masih duduk di samping tubuhku yang terbaring lemah sambil terus menangis tanpa henti. Hal itu membuatku sedikit khawatir karena melihat mata mereka yang sembab.

Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Saat kulihat, ternyata yang membuka pintu itu adalah Tricia, Rasti, Diana, dan Angel. Wajah mereka tampak sangat kaget ketika melihat tubuhku yang sedang terbaring di kasur. Tepat saat itu juga, tiba-tiba Angel jatuh pingsan, sehingga ia harus dibawa ke ruangan lain. Karena merasa cemas, aku pun mengikuti ke tempat dimana Angel dibawa. Sementara Rasti, masih berada di dalam kamar tempatku dirawat.
“Diana, bukankah ini sedikit mirip dengan mimpi yang kuceritakan pada kalian seminggu lalu?” tanya Tricia dengan wajah yang terlihat takut.
“Entahlah, mungkin kau benar,” jawab Diana.
“Lalu apa Alicia akan meninggal?” tanya Tricia lagi.
“Aku tak tahu. Lebih baik sekarang terus berdoa agar Alicia bisa sembuh dan berkumpul bersama kita lagi,” jawab Diana. Ia memeluk Tricia untuk membuatnya tenang.

Aku berusaha mengingat mimpi yang diceritakan Tricia seminggu lalu. Beberapa saat kemudian, aku mulai mengingat cerita Tricia. Ya, dia bilang kalau di malam sebelumnya, ia sempat bermimpi melihatku yang sudah terbaring tak bernyawa. Aku terus berpikir kalau mimpi itu mungkin adalah suatu pertanda. Namun, aku berusaha untuk melupakannya karena sekarang semuanya sudah terlanjur terjadi dan tak ada yang bisa kulakukan. Akhirnya dengan perasaan sedikit putus asa, aku melangkahkan kaki meninggalkan ruangan itu.
“Kenapa berwajah kusut seperti itu?” tanya seorang wanita dari arah samping.

Aku melirik kearah wanita itu. Wajahnya terlihat sangat pucat. Sepertinya dia juga bukan manusia. “Kau siapa?” tanyaku sedikit sinis karena saat ini, aku merasa sedang tidak ingin bicara.
“Namaku Vani. Aku memang roh, tapi aku belum mati,” jawabnya.

Aku menatapnya tajam. “Kau bilang, kau belum mati?” tanyaku bingung. Aku merasa itu adalah hal yang sangat tak mungkin setelah melihat kulitnya yang pucat seperti orang yang sudah mati.
“Ya, sama sepertimu. Saat ini tubuhku sedang terbaring koma setelah mengalami kecelakaan empat bulan yang lalu,” jawabnya santai.
“Lalu apa kau masih bisa hidup?” tanyaku sedikit berharap untuk mendapatkan jawaban yang akan membuatku mempunyai sedikit harapan untuk hidup lagi.
“Ya, mungkin jika aku masih diberi kesempatan untuk hidup,” jawab Vani sambil beranjak pergi meninggalkanku.
“Setidaknya aku masih punya harapan untuk hidup. Jadi sekarang lebih baik aku menjalani hidupku sebagai hantu,” gumamku sambil menghela nafas dengan sedikit senyum yang terpancar dari wajahku.

7 bulan kemudian…
Aku berdiri di sini. Di depan gerbang SMP tempatku bersekolah. Murid baru telah diterima. Sementara semua murid kelas 9 telah meninggalkan sekolah ini dan saling berpisah menuju SMA favorit yang telah mereka pilih. Sering kali aku merasa iri ketika melihat teman-teman sekelasku dulu telah menggunakan seragam SMA. Namun sayang, tubuhku masih terbaring lemah di rumah sakit.
Seiring berjalannya waktu, kini semuanya telah berubah. Setelah lulus dari SMP, ternyata Rasti, Angel, Diana, dan Tricia memilih untuk bersekolah di SMA yang berbeda. Akibatnya, lama-kelamaan mereka mulai melupakan satu sama lain. Bahkan, aku yang sekarang sedang koma. Padahal dulu mereka sering datang ke rumah sakit untuk menjenguk dan membantu Ibu merawatku. Namun sejak lulus SMP, mereka tidak pernah datang lagi. Hal itu membuatku merasa tidak tenang. Aku ingin seperti dulu lagi. Tidak seperti kami yang sekarang saling melupakan.

Hampir setiap hari aku duduk di halaman rumah sakit. Yang aku lakukan hanya diam dan menatap langit sambil menunggu sampai arwahku bisa masuk ke dalam tubuhku dan hidup lagi sebagai manusia. Namun hari ini aku tidak hanya duduk dan diam, tapi juga sibuk memikirkan masalah tentang keempat sahabatku.
“Hei, lagi mikir apa?” tanya Vani yang tiba-tiba muncul dan duduk di sampingku. Kehadirannya yang secara tiba-tiba itu membuatku sedikit kaget.
“Ini tentang sahabat-sahabatku,” jawabku lesu.
“Oh, empat gadis yang dulu sering datang untuk menjengukmu?” tebak Vani. Aku menganggukkan kepala. “Apa terjadi suatu hal yang buruk pada mereka?” tanya Vani lagi. Aku hanya menggeleng dengan wajah kusut. “Lalu?” Vani tampak bingung.
“Akhir-akhir ini aku merasa kalau hubungan diantara kami sudah tidak seperti dulu lagi. Bahkan, aku sering berpikir kalau mereka telah melupakan satu sama lain. Hal itu membuatku merasa tidak tenang dan takut jika suatu saat nanti, mereka benar-benar akan melupakan persahabatan yang telah kami jalin selama tiga tahun. Aku ingin melakukan sesuatu, tapi aku tidak bisa karena saat ini, wujudku saat ini hanya arwah yang tak bisa dilihat. Bahkan, suaraku pun tak bisa didengar,” jawabku dengan wajah tertunduk. Tanpa terasa air mata mulai mengalir di pipiku. Setelah sadar, aku pun segera menghapus air mataku.
“Tenang saja! Kau masih bisa berkomunikasi dengan mereka, kok,” ujar Vani. Aku melirik kearahnya. Kulihat, ia sedang menatapku dengan senyum yang tersirat di wajahnya.
“Bagaimana caranya?” tanyaku penasaran.
“Kau, kan hantu. Jadi kau bisa menampakkan diri atau merasuki tubuh orang lain,” jelas Vani.
“Apa kau yakin?” tanyaku sedikit berharap.
“Seratus persen aku yakin,” jawab Vani sambil tersenyum sebelum akhirnya menghilang.

Hampir seharian aku memikirkan ucapan Vani tadi siang. Ada sedikit rasa cemas dalam hatiku. Bagaimana kalau aku gagal melakukan komunikasi dengan mereka? Namun dalam hatiku, aku merasa harus mencobanya. Walau mungkin pada akhirnya akan gagal, tapi setidaknya aku harus mencoba untuk mengetahui hasilnya.
Setelah mencari tahu dimana tempat sahabat-sahabatku bersekolah, aku memutuskan untuk mencoba berkomunikasi dengan Angel lebih dulu. Pagi-pagi sekali aku sudah berada di depan gerbang. Tak kulihat satu pun murid yang beraktivitas. Mungkin karena sekarang masih terlalu pagi. Namun setelah menunggu beberapa lama, akhirnya aku melihat segerombolan murid mulai berdatangan dan memasuki area sekolah. Di tengah-tengah gerombolan itu, akhirnya aku menemukan Angel. Tanpa berpikir panjang, aku pun segera berjalan mengikutinya karena takut kalau nantinya akan kehilangan jejaknya. Setelah menemukan waktu yang tepat, barulah aku akan mencoba melakukan komunikasi dengan Angel.
Waktu terus berlalu. Saat ini pelajaran sedang berlangsung di kelas Angel. Aku menatap jam dinding yang telah menunjukkan pukul 10.30. Sudah berjam-jam aku menunggu, tapi belum juga menemukan waktu yang tepat untuk melakukan komunikasi dengan Angel. Hal itu membuatku merasa ingin menyerah saja.
Bel berbunyi menandakan waktunya bagi para murid untuk istirahat. Sebagian murid memilih keluar dari kelas. Kebanyakan dari mereka terlihat menuju kantin. Begitu juga dengan Angel. Dengan segera aku mengikutinya yang sedang berjalan bersama teman-temannya menuju kantin.
Seperti saran Vani. Saat Angel sedang asyik menyantap makanannya di sebuah meja yang ada di kantin, aku masuk ke dalam tubuh seorang gadis yang sedang berjalan menuju meja Angel sambil membawa segelas minuman di tangannya. Setelah berhasil masuk, aku pun menumpahkan sedikit minuman itu ke baju Angel karena aku yakin, Angel akan pergi ke toilet untuk membersihkan tumpahan minuman itu.
Ternyata perkiraanku benar. Bersama seorang temannya, Angel bergegas meninggalkan kantin untuk menuju toilet. Saat sampai, untunglah teman Angel tidak ikut masuk, jadi aku bisa lebih mudah berkomunikasi dengan Angel.

Saat di dalam toilet, kulihat Angel sedang sibuk membersihkan tumpahan minuman itu dengan air yang mengalir dari sebuah keran. Segera aku berdiri di belakangnya. Tiba-tiba dadaku terasa berdebar. Rasanya gugup sekali. Aku pun menghela nafas untuk menghilangkan rasa gugup itu.
“Angel, masih ingatkah kau padaku?” tanyaku dari arah belakang. Angel menoleh ke belakang. Tepat di saat itu, ia seperti akan berteriak, tapi tak bisa. Sepertinya Angel ketakutan karena ia mungkin melihat sosokku. “Jangan takut. Aku Alicia, sahabatmu yang sedang koma,” kataku mencoba menenangkannya agar Angel tak merasa semakin takut dan akhirnya membuatnya berteriak hingga membuat keributan.
“Aku tak mengenalmu! Jangan ganggu aku!” kata Angel yang ketakutan. Mendengar hal itu, aku merasa sangat kecewa. Akhirnya, aku pun memutuskan untuk pergi.

Hari semakin malam. Aku berdiri di kamar tempatku di rawat. Kulihat tubuhku masih terbaring dan tak bisa melakukan apa-apa. Sementara Ibu, sedang tertidur di sebuah kursi yang berada tak jauh dari tempat tidurku. Tiba-tiba aku teringat ucapan pria yang kutemui saat pertama kali aku dirawat di sini. Benar juga apa katanya. Bukankah aku memang lebih baik mati saja dari pada harus hidup dalam keadaan seperti ini?
“Lagi-lagi wajahmu kusut begitu,” ujar Vani yang baru saja muncul dan sekarang sedang berdiri sambil menatapku.
“Sepertinya aku tidak akan berhasil membuat teman-temanku ingat padaku. Aku rasa mereka benar-benar telah melupakanku,” jawabku.
“Kau baru mencoba sekali, kan?” tanya Vani. Aku menganggukkan kepala. “Kalau begitu coba saja lagi. Jika hanya mencoba sekali, mana mungkin langsung berhasil,” ujarnya.

Aku berpikir sejenak. “Kurasa kau benar. Besok aku akan mencoba lagi,” jawabku sambil tersenyum pada Vani.
“Semoga berhasil,” ucap Vani sebelum pergi.
Hari-hari berikutnya, aku kembali mencoba melakukan komunikasi dengan sahabat-sahabatku yang lain. Setelah Angel, aku mencoba melakukannya bersama Rasti, lalu Diana,dan yang terakhir, aku mencoba melakukannya dengan Tricia. Namun, hasilnya sama seperti saat aku menemui Angel. Mereka juga telah melupakanku. Entah cara apa lagi yang harus kucoba. Tapi yang jelas, sekarang aku benar-benar telah menyerah.

Siang yang tenang. Aku menelusuri lorong rumah sakit yang sepi untuk menuju kamar dimana Vani dirawat, karena sejak tadi aku mencarinya, tapi belum juga menemukannya. Jadi kupikir mungkin saat ini dia sedang berada di kamarnya. Namun saat sampai di kamarnya, aku juga tak menemukannya. Bahkan aku tak melihat tubuh Vani di kasur.
“Apa dia sudah sadar dan dipindahkan ke ruangan lain?” pikirku.
“Kau mencari siapa?” tanya seorang wanita berambut panjang yang tiba-tiba muncul. Aku menoleh kearahnya yang saat itu sedang berdiri di sudut ruangan. Jika dilihat dari kakinya yang tidak menyentuh lantai, sepertinya dia juga bukan manusia.
“Apa gadis yang dirawat di ruangan ini sudah dipindahkan ke ruangan lain?” tanyaku.
“Oh, tadi siang dia meninggal. Jadi mungkin sekarang, arwahnya sudah tidak di sini lagi,” jawab wanita berambut panjang itu.

Aku tersentak kaget mendengar jawaban wanita itu. Rasanya aku tak percaya kalau Vani sudah meninggal.
“Kau baik-baik saja?” tanya wanita itu sambil menatapku. Aku tak menjawab pertanyaannya dan lebih memilih untuk pergi meninggalkan ruangan itu.

Di bawah langit yang cerah, aku duduk sendiri di sini. Di lahan kosong tempat dimana aku dan sahabat-sahabatku dulu sering berkumpul untuk bermain bersama dan saling bertukar cerita. Tapi sekarang, tak ada lagi sahabat yang bisa kuajak bertukar cerita. Mereka semua telah melupakanku. Padahal saat ini ada banyak hal yang ingin kuceritakan pada mereka.
“Bagaimana jika nasibku akan sama seperti Vani?” pikirku sambil menatap langit. Tanpa terasa aku meneteskan air mata. Namun sekarang aku tak lagi menghapusnya. Aku membiarkan air mataku mengalir bebas di pipiku karena aku merasa lebih tenang saat menangis.
“Alicia?” suara itu terdengar dari arah belakang. Saat kutoleh, aku benar-benar terkejut. Ternyata orang yang memanggilku itu adalah Angel. Tidak hanya itu, tapi di sampingnya juga ada Rasti, Diana, dan Tricia yang sedang berdiri sambil tersenyum padaku.
“K-kalian mengingatku?” tanyaku yang merasa sagat keget sambil menatap mereka penuh harap.

Tiba-tiba mereka memelukku. Walau tak bisa saling menyentuh karena kami berbeda, tapi aku masih bisa merasakan rasa hangat saat berada dalam pelukan keempat sahabat yang sangat kusayangi. Saat itu aku benar-benar merasa senang. Walau masih menjadi arwah, tapi saat berada dalam pelukan mereka, aku merasa seperti telah hidup kembali sebagai manusia.
“Maafkan kami yang sudah melupakanmu,” ujar Rasti. Bisa kurasakan air matanya yang jatuh tepat di bahuku.
“Padahal kami sudah berjanji untuk tidak melupakan satu sama lain, tapi kami melupakan janji itu. Bahkan, kami juga melupakanmu yang saat ini sedang koma di rumah sakit,” sambung Angel.
“Maaf juga karena telah membuatmu sampai harus berusaha keras hanya untuk membuat kami kembali mengingat persahabatan ini,” ujar Diana.
“Sekarang kami sadar kalau persahabatan yang indah ini tidak boleh dilupakan,” kata Tricia.
Aku tak bisa mengatakan apa-apa. Yang kulakukan hanya memeluk mereka sambil menangis. Rasanya aku tidak ingin kehilangan saat-saat indah seperti ini. Apa lagi saat ini aku merasa kalau mungkin sebentar lagi aku akan mati. Tapi yang jelas, aku sangat berharap agar persahabatan kami tetap abadi meski kami terpisah sangat jauh.

Tiba-tiba cahaya menyilaukan muncul dan mengelilingi tubuhku. Hal itu membuat Rasti, Angel, Tricia dan Diana harus melepaskan tubuhku. Lama-lama tubuhku juga berubah menjadi butiran-butiran cahaya yang semakin lama terus menjauh dari sahabat-sahabatku dan terbang menuju langit. Aku rasa sepertinya aku akan mati sekarang. Namun sebelum menghilang, aku sempat tersenyum kepada keempat sahabatku. Sambil menangis, mereka pun membalas senyumanku.

Kini semua menjadi gelap. Tak ada sedikit pun cahaya yang menerangi, sehingga aku tak bisa melihat apa pun yang ada di sekelilingku. Apa mungkin aku sudah mati?
“Selamat ya, karena kau telah berhasil membuat teman-teman yang kau sayangi kembali mengingatmu,” suara itu terdengar tak asing lagi bagiku.
“Vani?” aku mencoba menebak pemilik suara itu, tapi tak mendapatkan jawaban.

Tiba-tiba aku merasa seperti ada seseorang menggenggam tanganku. Aku juga merasa ada air mata yang menetes tepat di pipiku. Aku tak tau siapa pemilik tangan mau pun air mata itu, tapi yang jelas, aku merasa sangat bingung saat berada dalam kegelapan ini.
“Kamu sudah sadar, Alicia?” bisa kudengar suara Ibu dengan jelas.

Aku membuka mata. Semua kegelapan yang tadi kurasakan telah tergantikan oleh cahaya lampu yang menerangi ruangan yang terasa tak asing lagi bagiku. Ya, aku ingat! Ini adalah ruangan tempat dimana aku dirawat selama hampir 8 bulan. Meski terasa pusing, tapi aku mencoba melirik ke sekelilingku. Kulihat Ayah dan Ibuku sedang duduk sambil menggenggam tanganku. Bahkan di belakang mereka, aku melihat Rasti, Angel, Tricia, dan Diana sedang berdiri sambil menatapku. Air mata mengalir deras di pipi mereka.

Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Aku melihat seorang dokter bersama suster yang mendampinginya datang. Dengan sigap, dokter itu memeriksa keadaanku. Setelah selesai, tiba-tiba dokter itu tersenyum. Aku tak tahu apa arti dari senyuman dokter itu, tapi aku sangat berharap agar dokter itu memberi berita yang menyenangkan.
“Sepertinya putri anda akan sembuh dalam beberapa hari lagi,” kata dokter itu setelah selesai memeriksa keadaanku. Berita itu disambut senyum bahagia dari keluarga dan sahabat-sahabatku. Begitu juga aku yang tak kalah senang.

5 hari kemudian, aku telah diijinkan keluar dari rumah sakit ini. Karena masih belum bisa berjalan, terpaksa aku harus menggunakan sebuah kursi roda. Di gerbang, aku melihat Rasti, Angel, Tricia, dan Diana sedang menungguku. Setelah melihatku, mereka segera berlari menuju kearahku lalu menggantikan Ibuku untuk mendorong kursi rodaku menuju mobil. Kurasa setelah ini akan menjadi lebih menyenangkan lagi.
Setelah benar-benar sembuh, aku kembali bersekolah dan harus mengulang semester kelas 3 di SMP tempatku bersekolah dulu. Meski terasa sepi karena harus bersekolah tanpa sahabat-sahabatku, tapi aku tetap merasa senang karena masih bisa menemui mereka di lahan kosong yang sering kami gunakan untuk berkumpul bersama. Selain itu, aku juga merasa sangat berterima kasih pada Tuhan karena telah memberiku kesempatan kedua untuk hidup.

 

Sumber Klik Disini :