Arsip untuk 07/05/2015

Saat matahari mulai lelah menyinari bumi, pelen-pelan dia terbenam ke arah barat, dan bersembunyi di belakang pegunungan, langit pun menjadi kemerahan.
Saat itu juga aku terbangun dari tidur siangku. Sebenarnya aku ingin tidur lebih lama lagi, karena aku ingin melupakan kerinduanku dengan dirinya. Baru 3 hari ini tiada kabar, aku sudah menangis. Ternyata ini rasanya cinta pertama.

Tiba-tiba ada panggilan masuk di hpku dan aku tersadar dari lamunanku. Aku pun mengangkatnya ternyata itu Fano orang yang selama ini ku rindukan.
“halo?”
“iya, ada apa fan?” tanyaku
“kangen aja ma loe” candanya
“bisa aja loe, kemarin nggak da kabar kemana aja loe?” tanyaku
“gua lagi siap-siap nih mau nembak cewek” ucapan yang membuatku sangat sedih, ingin rasanya aku menangis saat itu juga tapi aku menahannya.
“e, elu mau nembak siapa?, cerita dong” agak gagap karena aku sedang menahan air mataku yang akan jatuh.
“ntar juga tau sendiri, gua mau ngepraktekkin nih cara gue nembak loe mau nggak” pintanya
“em bo, boleh kok” jawabku
“selama ini aku tuh cinta sama kamu, walaupun kita deket baru 2 bulan, tapi aku cinta beneran sama kamu em, kamu mau nggak jadi pacarku?” ucapnya
“bagus kok”
“jawab dong, gue tadi kan serius” pintanya
“heh?, beneran jadi gue nih si cewek itu?”
“iya, jawab dong” pintanya lagi
“gu, eh aku juga,” jawabku
“yess!!!, besok aku jemput yah?” ajaknya
“boleh, jangan kesiangan yah”
“oke, ya udah bye, love you” celetuknya
“iya, love you too” lalu panggilan pun berakhir.

Aku pun melaksanakan rutinitasku, tapi kali ini aku merasa sangat berbunga-bunga. Aku pun selalu BBman sama dia, setelah malam semakin larut aku pun tertidur.

Pagi pun tiba, aku langsung mandi, pakai seragam dan tas. Lalu jalan ke depan rumah menunggu pacarku. Dia selalu mengantar-jemputku, bahkan di kelas dia pindah tempat duduk, dan pindahnya ke sebelahku.

Suatu hari dia membuatku kesal, cemburu dan menangis. Karena itu aku tidak mau bicara bahkan tak mau memandang wajahnya.

Saat istirahat tiba, dia langsung pergi ke studio radio sekolah. “maaf Fada sayang (aku), ini lagu untukmu, sekali lagi maaf I LOVE YOU” setelah itu dia menyanyikan lagu yang intinya meminta maaf dan sangat mencintaiku sambil bermain gitar. Lau aku menyusulnya, tiba disana aku langsung memeluk, dan mengecup pipinya dan bilang “I LOVE YOU TOO”

Sumber Klik Disini :

Nama saya Thalia Anggie Angelina. Saya adalah anak perempuan pertama dari dua orang bersaudara. Dalam hidupku, cinta adalah kebahagian yang memiliki rasa tersendiri. Cintaku semasa hidupku penuh dengan air mata. Cinta ku tumbuh pada masa di Sekolah dasar dulu. Selama ku tahu apa itu cinta, maka mulai sejak itu aku merasakan apa yang dinamakan sakit hati dan kasmaran. Cinta ku di SD adalah Renaldy, aku tertarik pada dia karena dia pernah mencoba tuk menyatakan cintanya padaku. Tetapi bodohnya aku, aku menolaknya karena aku lebih memilih seorang sahabatku. Mengapa aku memilih sahabatku? Ya karena sahabatku juga mencintai Renaldy. Dia bernama Icha. Setelah aku menolak Renaldy, maka yang dinamakan Karma mulai muncul dalam hidupku. Aku mendapatkan karma dari Renaldy. Oh ya Allah, aku sungguh menyesal telah menolak Renaldy, ku akui aku juga mencintai dia, aku sayang sama dia. Tetapi aku tak mau melihat sahabatku bersedih.

Dan beberapa tahun kemudian rasa cintaku kepada Renaldy mulai berkurang. Lalu apa ini? Aku mendengar sahabatku disakiti oleh Renaldy, sungguh kejam sekali Renaldy. Tetapi ku berpkir bahwa ini semua bukan kesalahan yang diperbuat oleh Renaldy melainkan oleh Resky. Resky sungguh tak punya hati dia tikung Renaldy dari Icha. Sungguh kasihan sahabatku, sebenarnya aku juga membara karena aku masih memiliki rasa terhadap Renaldy walaupun itu hanya sedikit.

Alhamdulillah aku lulus dan semua sahabat-sahabatku juga lulus. Yah aku tak bersama sahabat-sahabatku lagi nanti. Tetapi tak apalah karena aku akan menjalani kehidupan yang baru. Hari itu adalah hari terakhir aku melihat wajah Renaldy. Aku sangat bersedih karena aku takut jika aku tidak bisa melihat dia lagi. Tetapi kutabah kan hatiku, ku kuatkan batinku, dan ku tegarkan diriku serta kucoba tuk bisa menerima ini semua. ‘Good bye Renaldy, my First love’

Libur panjang pun tiba, huaahhh rasanya aku kangen sama teman-teman Sdku dulu. Ingin rasanya ku berjumpa dengan mereka lagi. Tetapi aku tak tahu caranya tuk bertemu dengan mereka.
Pagi yang cerah, aku pergi ke Smp 36 mks, untuk mengikuti pendaftaran. Capek banget rasanya, tetapi aku rela berkorban tuk mencapai cita-cita dan masa depanku.

Setelah beberapa lama ku menunggu, aku duduk di dekat taman yang kecil. Aku melihat kesana dan kesini. Dan… tatapanku berhenti sejenak, aku melihat seorang pria. Mataku tak berkedip saat melihat dia, hingga akhirnya temanku ijah memanggilku “oy, ayo mi!”. Maka aku kaget disitu, dan segera aku beranjak pulang.

Beberapa hari kemudian, Mos pun berlangsung Ya Allah tak disangka aku satu gugus dengan dia. Aku selalu memperhatikan dia, dan aku tahu ternyata dia bernama Hidayat. Pada masa mos, aku mulai merasakan cinta Kedua ku. Dan aku mulai bisa melupakan masa-masa saat di SD dulu.

Pembagian kelas, tak sabar aku menunggu hasil pengumuman. Dan akhirnya aku mengetahuinya, ternyata aku berada di kelas VII-5. Ya Allah apa lagi ini? Hidayat sama kelas dengan aku. Aku sangat senang disitu.

Setelah lama kemudian aku mulai berinteraksi dengan teman kelasku. Dulu orang satu-satu yang aku kenal adalah Maryam. Maryam adalah teman pertamaku selama di kelas VII-5. Kebetulan juga loh aku dan Maryam, rumah kami berdekatan. Jadi kalau ada tugas kami tidak kesulitan untuk mengerjakannya apalagi tugas kelompok.
Nah kami pun mulai saling kenal dengan teman-teman sekelas kami. Aku juga mulai lebih kenal dengan Hidayat. Aku dan Maryam kenal dengan Ninda, Icha dan Fitry.

Waktu itu Kami berlima diberikan tugas kelompok oleh guru kami. Kebetulan kami berlima satu kelompok. Dan setelah kerja kelompok kami selesai, salah satu dari kami pun memberi ide “bagaimana kalau kita berlima jadi sahabat?” dan kami pun menyetujuinya. Nama persahabatan yang kami pilih adalah FANMA. Fanma adalah singkatan dari F (Fitry), A (Annisah/icha), N (Ninda), M (Maryam), dan A (Anggie/saya). Persahabatan kami dibentuk pada tanggal 22-november-2012 hingga sekarang. Walaupun kami masih belum saling terbuka satu sama lain. Tetapi kami harap persahabatan kami tidak akan terpecahkan. Amin…

Satu tahun persahabatan kami jalani, walaupun kami berempat bersedih karena salah satu dari kami pindah sekolah. Walaupun jarak kita sangat jauh tetapi kami usahakan tuk tetap kontak dengan Icha. Icha.. “Miss u”
Ya Allah, cobaan apa yang menimpaku ini? Sekolah ku membangun kelas hingga urutan ke delapan. Dan namaku berada pada urutan terakhir di kelas VII-5, itu berarti aku harus dipindahkan di kelas urutan ke delapan. Saat itu aku tak percaya dengan kabar ini. Tetapi setelah aku melihat papan pemberitahuan pembagian kelas. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, aku melihat namaku berada pada urutan ke tujuh belas di kelas VIII-8 (delapan delapan). Saat itu air mata ku tak terbendungkan, dan membayangkan masa-masa saat di kelas VII-5 (tujuh lima). Aku tak ingin berpisah dengan sahabat-sahabatku begitu pula Hidayat. Dan aku berusaha menerima semuanya. Perpisahan yang mendalam “Good bye class Seven five”

Walaupun aku telah berada di kelas VIII-8, tetapi aku tetap mencintai Hidayat. Meskipun dia mungkin tak mencintaiku. Begitu pula Fanma, Fanma walaupun dua orang telah berpisah tetapi kami tidak akan terpecahkan oleh apapun.
Hufft.. dan di kelas VIII-8 hanya beberapa orang saja yang aku kenal. Salah satunya adalah Muli, sebenarnya Muli telah lama aku kenal melalui Maryam. Muli dan Maryam bersahabat sejak kecil.

Seperti di kelas VII-5 dulu, lama-kelamaan aku mulai bisa berinteraksi dengan teman-teman sekelasku. Dan aku pun membangun persahabatan lagi yang bernama ‘Anggur’. Walaupu simple Anggur memiliki kepanjangan yakni ‘ANGgota Gemar bersyukUR’. Anggota Anggur sama dengan fanma yaitu terdiri atas lima orang pula. Anggota Anggur terdiri atas, Anggie (saya), Muli, Sri, Widya dan Tika.

Semenjak di kelas VIII-8, aku agak menjauh dari Hidayat. Dan aku pun juga pernah mendengarkan kabar bahwa. Katanya Hidayat punya pacar!!. Tetapi setelah lama-lama dan lama kemudian kebohongannya pun terbongkar. Ternyata Hidayat berbohong agar aku tidak terlalu berharap padanya. Tetapi kebohongan dia sudah kelewatan. Mulai hari itu setelah aku mengetahuinya bahwa dia berbohong aku pun memutuskan tuk ‘Move on’. Berat rasanya tuk move on dari dia karena Hidayat adalah cinta pertamaku di SMP. Namun ketika aku mengingat kembali tentang kebohongannya. Maka aku mulai dapat Move on.

Setelah kejadian itu aku pun mencari cinta yang baru. Kebetulan hari itu tepat pada pelaksanaan apel pagi di sekolahku. Aku melihat-lihat wajah dari adek-adek kelas tujuh. Dan sama seperti dulu, tatapanku berhenti setelah memandang seorang pria. Mulai hari itu aku bisa Move on 100%. Kebetulan sekali pria itu adalah adek gugusnya Sri. Dan aku pun mulai mencari-cari tentang pria itu. Aku pun tahu bahwa pria itu bernama Naufal. Dan dia adalah salah satu anak guru di sekolahku.

Setelah 1 bulan berlalu, hari itu tepatnya pada pelaksanaan ujian praktek. Sahabat-sahabatku memiliki ide, idenya yaitu ‘mereka ingin meminta nomor hpnya Naufal. Aku kaget dan aku menangis karena aku takut kehilangan Naufal. Seperti dayat, dulu Hidayat setelah mengetahui bahwa aku memiliki rasa padanya, dia pun menjauh dariku. Aku tak ingin kejadian itu terulang kembali pada Naufal.

Pulang dari sekolah aku pun berlari untuk membeli pulsa. Dan segera mengirimi pesan singkat ke Naufal. Tak disangka ternyata dia membalas pesanku. Waktu itu aku sangat gembira.

Beberapa hari setelah itu tepatnya pada waktu Shalat Isya, dan suasana diwaktu itu gelap (mati lampu, serta didampingi oleh hujan yang cukup lebat). Aku menerima pesan dari Naufal, tak disangka pesannya menanyakan bahwa apakah aku menyayanginya. Saat itu aku sangat terkejut. Dan bertanya-tanya pada Naufal mengapa tiba-tiba dia berkata begitu?.

Aku pun terkejut kembali setelah melihat pesan dia yang berisikan pengungkapan kata cinta, serta dia memberikan tawaran untuk menjadi kekasihnya. Tak disangka aku mendapatkan kata-kata itu. Karena aku mencintainya, maka Aku langsung menerimanya, tetapi dengan beberapa syarat.

Maka mulai saat itu, yaitu tanggal 05 desember 2013, aku mulai merasakan arti cinta yang sebenarnya.
Hmm.. dalam hubungan kami berdua banyak sekali cobaannya. Begitu pula dengan ku, aku yang begitu posesif walaupun dengan hal-hal yang sepele. Tetapi anehnya kami bisa melewatkannya.

Suatu hari aku pernah berniat untuk memutuskan hubunganku dengan Naufal. Tetapi aku berpikir secara logika, apa kesalahannya Naufal sehingga aku berniat tuk memutuskannya?. Maka ku cabut kata-kata dan niatku untuk memutuskannya.

Aku mempunyai prinsip, bahwa di dalam hubungan kami awal-awal hubungannya saja yang penuh cobaan, air mata dan lain lain.. tetapi setelah beberapa bulan kami menjalin hubungan satu per satu cobaan pun mulai hilang. Air mata pun mulai tak menetes lagi. Tawa dan kegembiraan mulai muncul sedikit demi sedikit. Tak ada kecurigaan apapun itu. Tak perlu menengok ke belakang dan mengingat kenangan pahit kita masing-masing. Dan kita hanya perlu mempersiapkan diri tuk menghadapi masa depan.

Hingga sekarang semenjak aku menjalin hubungan dengan Naufal, aku pun masih grogi ataupun malu-malu jika berhadapan dengannya. Itu baru berhadapan saat bicara dengan dia pun mulutku saja gemetar. Hahaha.. aneh banget yah.

Cinta di masa Sdku tak berhasil ku dapatkan kebahagiaan melainkan aku mendapatkan pelajaran. Begitu pula Cinta pertama di masa Smpku, tetapi dari semua pelajaran itu aku mendapatkan Cintaku..
Cintaku.. cinta pertama bagiku adalah kamu Naufal Hazym Miftahul Zain. Semoga hubungan kami akan bertahan lama begitu pula dengan Fanma dan Anggur.
Bagiku Cinta dan persahabatan sangat berharga dalam Hidupku. Begitu pula dengan Keluargaku.. Aku sangat bersyukur telah memiliki kalian semua, akan ku kenang kenangan ku slama ini.. dan akan ku abadikan dengan cara ku tulis di lembaran kertas putih ini..

Sumber Klik Disini :

Pembalasan

Posted: 07/05/2015 in Horor
Tag:

Sore itu, hujan yang beradu dengan angin menghantam di sebuah daerah perumahan yang terbilang masih layak huni. Petir sesekali melontarkan geramannya, gelap menyelimuti langit walau matahari sebenarnya masih bersembunyi di baliknya. Terdapat rumah sepi berlantaikan keramik dan bertingkat dua yang berhadapan dengan masjid yang selalu mempunyai kegiatan berkumandang lima kali sehari. Rumah itu bagai lahan kosong yang tak berpenghuni, sunyi sepi tanpa suara.

Di kamar atas terdengar isak tangis seorang perempuan yang setengah lemas, di sampingnya tergolek bayi kecil berjenis kelamin laki-laki berlumuran darah segar dan diselimuti dengan tirai. Tampaknya perempuan tersebut baru saja melahirkan dan tak seorang pun mengetahuinya apalagi membantunya. Perempuan tadi dengan sedikit tenaga membungkusnya dengan tas keresek. Dengan langkah yang terseok-seok, dia membawa tas berisi manusia yang baru melihat dunia tersebut ke depan masjid depan rumahnya yang kebetulan saat itu tidak ada orang beserta kegiatan yang berlangsung.

“Maafkan Ibumu nak.” Bisik perempuan itu dengan lirih disertai tetesan derai air mata yang bercampur hujan sore itu. Dia menaruh bayi tersebut tepat di depan pintu masjid yang tertutup itu. Berharap ada yang menemukan dan bersedia merawatnya. Dengan diiringi petir, dia berjalan menjauh dan kembali ke kamarnya.

Tak lama setelah kejadian tersebut, seorang muadzin yang hendak melantunkan adzan maghrib melangkah masuk masjid dan menemukan tas kresek di depan pintu masjid.
“Dasar orang tak bertanggung jawab, naruh sampah di tempat suci.” Seketika dilemparkannya tas kresek tersebut ke tempat sampah di bawah pohon mangga tanpa tahu apa isinya.
“Ada apa Bang Saleh?” Sapa ustadz yang biasanya menjadi imam saat jamaah menunaikan sholat di tempat ini.
“Eh Pak Ustadz, ini lho Pak, ada orang buang sampah di pintu masjid, buakankah itu dosa besar?”
“Sudahlah, jangan berpikiran buruk, mari lekas mendirikan sholat maghrib.”
“Oh iya, saya lupa, mari Pak.”

Keesokan paginya, aktivitas dimulai dengan bunyi gesekan sapu dengan tanah, suara ternak yang riuh seperti siswa dalam kelas. Tak lama terdengar teriakan dari arah tempat sampah sekitar masjid.
“Tolong! Mayat!” Teriak petugas kebersihan.
Semua orang bergegas menuju tempat tersebut dan melihat dengan mata kepala mereka sendiri bahwa di dalam tas kresek hitam tersebut tergolek seonggok bayi tak bernyawa yang tubuhnya membiru dan dikrumuni lalat di tempat sampah yang terletak di bawah pohon manga depan masjid tersebut. Salah seorang warga yang melihat segera berbalik ke rumah depan masjid dan mengunci diri di kamar. Tak lain dia adalah ibu dari bayi malang tersebut.
“Maafkan ibumu, anakku.” Dengan mendekap sebuah bantal, dia terus menangis terisak-isak.

Mira, seorang perempuan cantik yang selalu berganti-ganti pacar saat SMA. Dia selalu memilih seorang laki-laki yang menurutnya bisa memuaskannya dari setiap permintaan yang dilontarkannya. Ketika lelaki tersebut tak sanggup, maka yang keluar hanyalah kata-kata putus.
Sampai suatu hari, dia mendapatkan sosok kekasih yang bernama Geralds. Tampan dan tajir, idaman setiap perempuan. Dia berhasil menaklukkan hati Mira dengan mengabulkan setiap permintaannya. Kalung emas, handphone, peralatan kosmetik, semuanya dipenuhi layaknya seorang pasangan suami istri. Namun Geralds bukanlah orang yang bodoh, dia juga meminta suatu hal kepada Mira. Akhirnya, suatu hari Mira diputuskan oleh Geralds karena Mira telah mengandung dan Geralds tak mau mengakuinya.

Berbulan-bulan Mira menyembunyikan semua itu dari orangtua dan semua orang yang dikenalnya. Walaupun dia selalu masuk dan mengikuti semua pelajaran, tak tampak sekali akan perutnya yang lambat laun membesar. Bermodalkan jaket dan baju yang sedikit longgar, taktik jitu tersebut berhasil mengelabuhi mata teman dan keluarganya. Geralds pun sudah pindah sekolah karena takut rahasianya terbongkar. Sandiwara mereka benar-benar berhasil. Semua tahu, sekolah akan mengeluarkan anak didiknya yang hamil diluar nikah dan masa depan pun akan bergantung dari situ semua. Kesenangan yang mereka lakukan hanya sesaat, beban hidup selamanya telah menanti. Karena cinta serong dan iman yang lemah, hidup telah robek bagai kertas yang tersayat silet.

Sebulan menjelang Ujian Nasional, semua siswa sibuk mempersiapkan performa terbaik mereka setelah menuntut ilmu selama tiga tahun di almamater tercinta ini. Saat itu ada kegiatan pendalaman materi atau pelajaran ekstra, Mira minta izin karena tidak enak badan. Dia segera pulang ke rumah walau hujan lebat mengguyur jalanan. Kebetulan orangtua Mira saat itu sedang bekerja dan belum pulang, Mira mengunci diri di kamar.

Insiden di depan masjid telah berlalu, polisi menyerah karena tidak berhasil menemukan pelaku. Pak Shaleh pun tutup mulut dan tidak bercerita apa-apa kepada polisi yang melakukan penyelidikan. Kejadian itu telah menjadi cerita misteri yang tak terpecahkan. Lambat laun, kejadian itu telan berlumut dan basi, tak ada orang yang peduli lagi, semua menganggap itu hanya misteri, sampai sekarang pun tak satu pun orang yang tahu. Tidak satu pun kecuali Mira sendiri.
Setelah Ujian Nasional berlalu, pengumuman kelulusan telah bertebaran kemana-mana. Disambut dengan pengumuman SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) dan SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Mira masih aman-aman saja dengan rahasia yang dikubur rapi dan dalam melebihi inti bumi. Dia diterima di sebuah universitas favorit. Mira melanjutkan sekolahnya hingga sarjana dan bekerja menjadi sekertaris sebuah perusahaan ternama.

Di perusahaan ini, dia bertemu dengan laki-laki yang membuatnya jatuh hati. Namanya Anton, walau dia Tampan, kondisi ekonominya tak sebaik wajahnya. Namun Mira sepertinya telah kehilangan sifat jeleknya waktu SMA dulu. Dia tak memperhatikan seberapa uang yang dimiliki oleh lelaki, Akhirnya mereka menikah dan dikaruniai seorang anak perempuan yang cantik mirip ibunya. Anak perempuan tersebut diberi nama Sati.

Menginjak SD, Sati menjadi anak yang tergolong pandai. Dia diberi kamar sendiri dan ruang belajar yang nyaman oleh orangtuanya. Dia selalu mendapat juara kelas setiap semester di tingkatannya. Banyak teman yang mendekati Sati karena dia adalah anak yang baik, ramah dan selalu rendah hati kepada siapa pun.

Suatu pagi saat jam istirahat, ada anak laki-laki yang menghampiri Sati yang sedang duduk di bangku taman sekolah sendirian.
“Hai Sati.”
“Hai juga, ada apa?”
“Aku hanya ingin berteman denganmu.”
“Siapa namamu?”
“Andi, kamu mau kan menjadi temanku? Besok aku akan datang lagi.” Kata anak laki-laki tersebut sambil melangkah pergi yang meninggalkan Sati dengan kebingungan.

Setelah kejadian itu, anak laki-laki tersebut selalu menemui Sati setiap hari dan berbincang-bincang dengan akrab. Mereka membicarakan hal-hal lucu ataupun serius dan membahas cerita-cerita tentang dongeng-dongeng lama. Mereka kemudian menjadi sahabat baik. Andi selalu bercerita tentang dongeng yang selalu disukai oleh Sati. Berikut ceritanya:

Di sebuah kerajaan ada putri.
Putri mencintai pangeran seberang yang kaya raya.
Hubungan mereka menghasilkan sebuah bayi.
Namun sang Putri takut dimarahi Raja.
Bayi pun dibuang ke sungai diwadah peti.
Dikira sampah, peti tersebut dibakar.
Setelah hangus, baru tahu isinya adalah bayi.

Kenapa bayi tersebut malang sekali. Apakah Tuhan tidak merasa kasihan dengan bayi tersebut. Seharusnya Putri dan Pangeran tersebut dihukum. Selalu demikian celoteh Sati menanggapi dongeng dari Andi yang sangat dia sukai tersebut.

Setelah lulus SD, Sati tidak pernah bertemu dengan Andi. Untuk mengusir penat dan rindu terhadap Andi, dia menulis dongeng tersebut dalam buku diarynya. Dia terus terbayang wajah Andi yang selalu menemani dan menghibur Sati waktu SD dahulu.

Pada suatu malam, Sati tertidur lelap di kamar tercintanya. Dia bermimpi bertemu dan bercengkrama dengan Andi persis waktu SD dulu. Namun Andi tidak seperti biasanya, wajahnya kaku dan pucat. Dia berkata pada Sati.
“Kamu adalah sahabatku bukan?” Tanya Andi dengan wajah datar.
“I-iya.” Jawab Sati tergugup dan sedikit takut.
“Kamu harus mau menuruti kemauanku,”
“Apa itu? Apa yang kau mau?”
“Ibumu cantik, tapi aku tidak suka dengannya. Dia harus dibunuh.”
“A-apa M-mak-maksudmu?”
“Jika kau sahabatku, turuti perkataanku!”
Sati terbangun dengan segera dan mengusap matanya. Dia ternyata hanya bermimpi. Dengan melenguh dan menghela nafas panjang, dia bersyukur itu hayalah mimpi.

“Sati!” Suara dari sesosok lelaki yang dikenalnya itu telah berada di samping Sati dengan berpakaian SD rapi dan berwajah putih pucat pasi.
“Andi!”
“Kau sahabatku! Kau ADIKKU! Turutilah permintaan kakakmu ini!”
“Apa maksudmu?”
“Dongeng yang kau sukai itu! Putri itu adalah ibumu, bayi itu adalah aku! Tolong bebaskan aku Sati!”
Dengan cepat sosok itu telah menghilang. Detak jam semakin berbunyi keras seiring dengan jalan sang malam. Sati masih tertunduk lesu. Dengan sedikit lemah, Sati beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan menuju kamar Ibunya.

“Mama.” Teriak Sati.
“Iya sayang, malam-malam begini ada apa?” Kata Mira sambil mengusap-ngusap mata tanda mengantuk yang membukakan pintu kamarnya untuk Sati.
“Aku mau mangga Ma.” Kata Sati.
“Ya ampun Sati, malam-malam begini kamu minta mangga! Besok saja ya?”
“Nggak mau! Pokoknya sekarang! Aku tidak bisa tidur Ma.” Rengek Sati menjadi.
“Baiklah-baiklah.” Kata Mira dengan malas dan bergegas menuju dapur utuk menguliti manga. Sati mengikuti dari belakang.
“Ambilkan pisau itu, Sati.” Perintah Mira.
Sati mengambil pisau di dapur dan bukan segera memberikannya kepada ibunya. Dia menghujamkan pisau tersebut ke perut ibunya tersebut, seketika darah mengucur pelan dari perut Mira. Sati melanjutkan dengan merobek perut ibunya secara pelan. Mira hanya bisa menatap anaknya dan perutnya yang mulai terbuka.
“S-s-s-sa-sa-sa-sati.”
“Bukan, aku anak yang pernah Ibu buang! Aku bayi yang tak Ibu inginkan! Aku di sini ingin membalas dendam! Agar Ibu tahu betapa sakitnya aku dulu!”
Mira tersadar bahwa Sati tidak pernah memanggilnya dengan sebutan “ibu”.
“Sekarang rasakan sakit hatiku Bu,” Dengan senyum kecil dari bibir anak kecil itu, pisau dihujamkan menusuk dalam di bagian dada. Darah bercipratan ke dinding dan muka Sati.
“Maafkan aku Ibu, mafkan aku adikku.” Dengan pisau masih di genggaman tangan, Sati yang pikirannya sudah dijajah tersebut segera menghunuskan pisau tersebut ke perutnya sendiri. Di dapur tersebut, tergeletak dua sosok manusia yang bersimbah darah.

Buku diary Sati malam itu terbuka tertiup angin. Halaman menunjukkan tulisan berisi dongeng kegemaran Sati. Namun tulisan-tulisan bertambah dengan sendirinya.
Kamu sudah tahu rahasiaku, sekarang kamu sahabatku, aku selalu bersamamu, kapan pun dan dimana pun.

Sumber Klik Disini :

Pagi itu, sahabatku, Clara menghampiriku.
“Ra, bagaimana menurutmu kalau aku mempunyai seorang pacar?” tanyanya.
“Tergantung siapa orangnya kan?” balasku.
“Ya,”
“Memang, siapa yang menyatakan perasaan padamu?” tanyaku.
“Ah, tidak. Tetapi, ada yang kusuka!!” seru Clara.
“Betulkah? Siapa?” tanyaku semangat.
“Bill dari kelas sebelah!” jawab Clara. Aku mendadak terdiam. Kehabisan kata-kata.
“Laura? Kenapa diam? Bill pacarmu, ya? Atau, kau menyukainya juga? Atau, hubungan yang lain?” tanya Clara. Ya, aku memeng menyukai Bil juga. Tetapi, aku lebih tidak mau kalau Clara sampai marah karena aku menyukai Bill juga. Aku tidak mau itu! Itu pertama kali untukku!
“Eh, um, tidak. Aku tidak menyukainya,” kilahku. Clara tersenyum puas.
“Kalau kamu punya info baru tentang Bill, beritahu aku, ya!” pinta Clara. Aku mengangguk saja.

Beberapa hari kemudian…
“Laura! Temani aku ke kelas sebelah, dong!” pinta Clara tiba-tiba.
“Eh? Memang kenapa?” tanyaku.
“Menunggu Bill itu lama. Lebih baik, aku saja yang mulai duluan,” jawab Clara. Aku masih tak mengerti. Tetapi, Clara sudah menggandeng tanganku menuju kelas Bill.
“Permisi… apa Bill ada?” tanya Clara diambang pintu kelas Bil.
“Oh, ada! Tunggu, ya. Biar kupanggilkan!” jawab salah seorang teman sekelas Bill.
“Clara, kamu ada urusan apa sama Bill?” tanyaku penasaran.
“Rahasia! Kamu sabar, ya. Nanti juga tahu,” jawab Clara sambil senyum-senyum sendiri. Aku jadi makin bingung.
“Hai!” sapa Bill. Aku dan Clara kaget. “Ha.. hai juga,” jawabku gugup.
“Iih! Laura! Yang jawab sapaannya Bill itu harusnya aku!” protes Clara. Dia memelototiku.
“Aduh, Bill, maafkan kelakuan sahabatku, ya,” kata Clara pada Bill. Nadanya dibuat semelas-melas mungkin. Iuh… alay.
“Ya, tidak apa,” jawab Bill. “Clara, apa urusanmu?”
“Kyaa!! Dia tahu namaku!!!” seru Clara senang. Dia memukul-mukul pundak Laura.
“Clara! Jangan jadi gilaa..?!” seruku khawatir. Dia memang jadi aneh sejak menyukai Bill.
Clara menghentikan tawanya. Dia menatap Bill lekat-lekat. Bill merasa risih. “Apaan sih, tatapanmu itu?” tanya Bill. Clara tertawa lagi. Bill menoleh ke arahku. Aku terperanjat.
“Dia kenapa, sih?” tanya Bill padaku. Dalam hati, aku senang sekali. “A… aku tidak… ta…hu…,” jawabku gugup karena senang. Clara kembali melototiku.
“Diam kau, Laura! Aku mau bicara, nih!” keluh Clara. “Bill, urusanku …”
Aku masih menunggu lanjutan kata dari Clara. Aku berdebar-debar. Pikiran negatif mulai merasuki benakku. Seperti: Clara berniat menyatakan perasaan pada Bill!! TIDAK!!!
Aku komat-kamit, berharap pikiran negatifku salah. Clara mulai membuka mulut, “Aku menykaimu!! Jadilah pacarku!!!” seru Clara. Oh, tidak. Pikiran negatifku ternyata benar. Sangat benar. Sementara Bill, dia terdiam. Harapan muncul di benakku. Aku berharap, Bill menolaknya! Aku tahu, itu menyakitkan untuk Clara, tetapi, aku lebih tidak kuat melihat mereka bersama. Aku tahu itu egois, tapi… apa mau dikata? Aku menyukai Bill juga.
“Baiklah,” jawab Bill. Eh? Apa katanya?
“Wuah!!! Serius??” tanya Clara senang. Bill mengangguk. “Terimakasih!” seru Clara. Ah.. ternyata tidak seperti harapanku. Bill ternyata menerima Clara. Aku… aku… sudah tidak kuat…
“Ngomong-ngomong, siapa orang yang bersamamu itu?” tanya Bill pada Clara sembari munjukku. Aku semaikn tidak kuat. Dia bahkan tidak mengenaliku. Tetapi, aku harus sabar.
“Oh. Dia sahabatku, Laura,” jawab Clara. Aduh, rasanya ingin menangis…
“Ra, aku balik ke kelas duluan, ya. Selamat,” kataku dingin. Aku sudah tidak kuat lagi. Aku tidak mau bertemu Bill lagi. Aku tidak mau berbicara pada Clara lagi. Aku.. sudah tidak kuat

Esoknya, Clara tidak masuk sekolah. Dia sakit demam. Temanku Evy, menanyakannya.
“Clara kok sakit, ya? Padahal kemarin dia sehat,” kata Evy.
“Dia demam karena terlalu senang,” jawabku.
“Senang? Senang kenapa?” tanya Evy penasaran.
“Senang, lah. Dia kan, habis menyatakan perasaan pada Bill, dan Bill menerimanya,” ceritaku. Jujur, aku cukup berat untuk menceritakannya tapi, tak apalah. Sementara Evy, dia terperanjat.
“Permisi..” ada seseorang yang mengetuk pintu kelas. Evy membukakannya. Dia makin terkejut karena yang membuka pintu adalah… Bill!!
“Wuah!!! Cari Clara, ya?” tanya Evy semangat. Bill mengangguk.
“Sayang sekali, tetapi dia tidak masuk hari ini. Dia demam,” kata Evy kemudian. Bill terdiam. Dia menolah ke arahku.
“Kalau Laura? Itu.. sahabatnya Clara,” kata Bill. Aku yang mendengarnya sangat senang. Tetapi aku berpura-pura tidak tahu.
“Oh… ada, kok! Tetapi, aku juga sahabatnya Clara, lho,” kata Evy. Bill meminta maaf. Evy pun segera menghampiriku. “Ra, ada Bill, tuh! Dia mencarimu!” dengan segera, aku menghampiri Bill. Deg! Aku baru sadar. Bukannnya kemarin aku sempat tidak mau bertemu Bill lagi, ya? Nah, sekarang aku menemuinya dengan semangat. Ternyata aku juga masih menyukainya.
“Haii!! Ada apa?” sapaku padanya. Aku berusaha terlihat semanis mungkin, sebaik mungkin, dan membawakan senyum terbaikku. Maski aku sedikit tidak rela senyumku aku berikan pada ‘mantan calon pacar’. Telebih, dia menerima sahabat baikku, Clara.
“Apa Laura punya nomor telepon Clara?” tanyanya.
“Ada,” jawabku singkat.
“Bisa kamu catatkan nomor telepon Clara?” pinta Bill. Aku mengangguk. Bill memberikan telepon genggamnya. Aku menerimanya dan mulai mengetik nomor telepon Clara. Aku hafal betul nomor telepon Clara. Bill berterimakasih. Sesaat, kami terdiam. Aku masih menunggu apa yang akan diucapkan oleh Bill. Atau, harus aku yang memulainya? Dengan apa? Menyatakan perasaan? Itu tidak mungkin!!
“Bisakah aku meminta nomormu?” tanya Bill kemudian. Aku terperanjat. Senang, bahagia. Semua bercampur aduk di dalam benakku. Ternyata, aku masih memiliki harapan. Dengan segera, aku memberikan nomor teleponku. Dan bill segera pergi dari kelasku.

2 bulan kemudian… Bill mungkin masih menyimpan nomor teleponku. Tetapi, tak satu pun pesan datang darinya, terlebih telepon datang darinya. Aku bisa saja mengirimi pesan padanya. Tetapi aku malas melakukannya. Pagi itu di kelas…
“Lauraaa…!!!” seru Clara. Dia tampak sedih, matanya sembap. Aku jadi kahawatir.
“Clara? Ada apa?” tanyaku panik.
“Bill…” jawabnya. Dia berusaha menyusun kata-kata. “Bill… ya, dia… dia bilang… ka… kami… harus… berpisah! Huwaaa!” Clara semakin terisak aku jadi merasa kasihan padanya. Meskipun, di dalam hati kecilku, aku merasa senang karena Bill dan Clara putus. Clara masih menangis. Dia berkata, “Ra, kamu jangan pernah dekati Bill lagi!”
Aku kaget. Padahal aku sudah menyusun rencana kalau kalau mereka putus. “Kenapa?” tanyaku kecewa.
“Karena dia tidak pantas untukmu,” jawab Clara. Aku masih tidak mengerti. “A.. apa?”
“Pokoknya, kamu turuti kataku!!” teriak Clara.. aku tahu, Clara pasti emosi. Tetapi, melarangku menemui Bill itu egois, kan?
“Aku tidak mau!!” seruku. Aku mencoba melawan Clara.
“Apa? Tidak mau?”
“Ya! Kenapa? Masalah?”
“Masalah banget!”
“Apa hakmu melarangku seperti itu?”
“Suka-suka aku, dong! Memang kamu menyukai Bill juga?”
“Ya! Itu benar. Sangat benar!!”
Kami berdua adu mulut. Tiba-tiba, ada yang berteriak. “STOP KALIAN BERDUA!!” aku dan Clara langsung menoleh. Betapa terkejutnya kami karena yang berteriak tadi adalah… BILL!!!
“DISINI AKU PUNYA URUSAN,” serunya lantang.
“Urusan apa?” tanya Clara dengan nada menyindir. “Oh, jadi kamu sudah sadar kalau aku itu penting buatmu. Ya, kan?”
“Aku tidak berpikir seerti itu, Clara.”
“Lalu apa?”
Bill langsung menatapku. Aku terperanjat. Bill mendekatiku. Dengan pedenya, dia berkata, “Laura, apa kamu mau jadi pacarku?”
Aku gelagapan. Bagaimana nih? Terima tidak ya? Terima saja, deh…
“TIDAK BOLEH!!!!” sergah Clara. Aku kaget.
“Apa hakmu?” bentakku. Aku mulai emosi. “Memangnya, aku ini robotmu, yang harus menuruti setiap katamu? Bukan. Suka-suka aku, dong, mau terima Bill atau tidak,”
Clara terdiam dia menangis. Aku kaget melihatnya. Aku menghampirinya dan memeluknya. Dia membalas pelukanku. “Ra, maaf aku bicara kasar padamu,” clara menanggguk. Dia melepas pelukanku dan berlari keluar. Bill menghampiriku. “Kau belum menjawab,” katanya. Oh, iya! Aku belum sampat menjawab. Hehe…
“Boleh, lah… apapun buat Bill,” kataku. Bill tersenyum
“Kamu jauh lebih baik daripada Clara,” bisiknya. Ah… akhirnya cintaku tersampaikan…

Sumber Klik Disini :