Arsip untuk 07/09/2015

My Jupiter

Posted: 07/09/2015 in Sedih
Tag:

Di sini, sekali lagi aku duduk dengan piano di hadapanku. Di hadapan ratusan pasang mata yang telah menanti. Di sini, aku mulai memainkannya. Jariku seakan hidup. Hening, hanya suara pianoku yang terdengar. Mungkin mereka terkesima, atau mereka membiarkan imajinasinya berkeliaran karena permainanku yang membosankan. Tapi, aku mohon dengarkan untuk kali ini saja.

Lukisanku belum selesai. Tapi bel berbunyi. Akankah imajinasiku berakhir lagi? Tidak akan. Lagipula sekarang pelajaran astronomi. Pelajaran terbaik yang pernah ada.

Aku mempercepat langkah, beberapa meter lagi sampai. Yosh, sepertinya aku selamat. Paling belakang adalah tempat terbaik. Dekat dengan jendela. Ya, aku sering menatap langit. Tapi kali ini, biru tak lagi bersama putih. Berubah menjadi abu dan gelap.

“Hey, kau mengamati apa?” seseorang membuyarkan semuanya.

“Ha? Tidak. Hanya.. sebuah planet yang jauh dari sini.”
“Siapa?”

“Eu.. Jupiter.”

Dia tertegun, “Kau.. mengamatiku?!”

“Aku bilang Jupiter, bukan kau. Memang namamu siapa?”

“Jupiter. Astaga, hampir satu semester kau tidak tahu namaku? Parah!”

Aku menggeleng, kembali mengamati langit yang mendung.

“Kau sangat menyukai planet itu ya?”

“Dia itu.. planet terhebat di mataku. Rotasinya sangat cepat.” hanya itu yang ada di pikiranku.

“Wah! Memang. Kau tahu, ketika penciptaan galaksi-galaksi di dunia ini dimulai, semua bintang berevolusi termasuk sistem tata surya kita. Dimana..” dia menjelaskan banyak hal dan aku hanya menyimaknya. Terus seperti itu di setiap hari.

Dia sama seperti wujud planetnya.. sangat hebat..

Jupiter banyak bercerita tentang hukum III Newton hari ini, hal untuk yang terakhir kalinya. Sebelum dia lebih banyak keluar kelas dan membiarkan aku mematung. Menunggu dengan sia-sia. Apa dia tak mau lagi menunjukkan kehebatannya tentang alam semesta? Atau dia sedang tidak mau? Tapi kenapa harus ke luar kelas? Entahlah.

Aku mendengar suara candaan dari ruang kelas A. Hanya sepintas ketika aku melewatinya. Di sana, aku berhenti melangkah. Tepat di depan pintu. Suara tadi, itu suara Jupiter. Dengan seorang anak perempuan yang cantik dan begitu akrab. Ketika aku sadar telah berdiri di sana cukup lama, aku memilih pergi. Aku harus menyelesaikan lukisanku.

Biasanya aku melukis di taman sekolah yang jauh dari keramaian siswa. Tempat yang ku butuhkan untuk mendapatkan ketenangan. Setelah beberapa lama, kuamati hasil lukisan yang ada di depanku. Lukisan itu tidak terlalu buruk. Mungkin butuh warna biru muda yang lebih banyak. Aku menoleh ke deretan tempat cat, ternyata aku kehabisan cat biru muda.

“Lukisan yang bagus.” dia, membuyarkan imajinasiku lagi.

“Ti.. tidak. Ini bukan apa-apa. Kenapa kau ke sini?”

Dia mengerutkan kening, “Ini, buku astronomi yang mau kau pinjam. Ingat?”

“Terima kasih.” aku mengambilnya dari tangan Jupiter. Menyimpannya di atas sebuah tas.

“Itu tas apa?”

“Biola.”

Dia tampak kaget, “Kau.. bisa memainkannya?”

Aku mengangguk.

“Boleh mainkan untukku? Sedikit saja.”

Tanpa menjawab, aku memainkannya. Tampaknya dia menikmati permainanku. Tapi beberapa menit kemudian aku teringat sesuatu. Aku harus beli cat biru muda.

“Maaf ya, aku harus ke toko cat.” pamitku seraya membereskan peralatan melukis dan biola.

“Tidak apa-apa. Itu sudah cukup. Umm..?”

Aku menoleh.

Dia tersenyum kecil. Senyuman yang sangat indah.. sekaligus korosif. Satu senyuman asam klorida, membuatku beku.

“Kau unik Flou. Yosh. Aku mau pulang, kau juga mau ke toko cat kan? Oke sampai jumpa.”

Dia berbalik, menjauh, semakin jauh dari mataku. Terus melaju cepat, seperti planetnya yang berotasi cepat. Jupiter.. kau begitu..

Hawanya dingin sekali. Hujannya memang agak deras. Apa ini mempengaruhinya? Apa sifat juga memiliki kalor yang akan hilang jika terkena suhu dingin? Tolong jelaskan. Tak ada kata. Tak ada cerita bintang. Tak ada senyuman khasnya. Datar, semua seperti garis horizontal.

Hujan semakin deras. Setidaknya aku sudah membawa payung yang cukup besar. Dibanding payung kemarin yang membuatku setengah kehujanan. Ah, seperti biasa. Jalanan sepi. Tidak, maksudku.. aku merasa sepi walau banyak orang yang berlalu lalang.

Aku.. aku melihatnya. Berjalan cepat di antara hujan. Sendirian. Aku berlari. Menghampirinya. Ya! Beberapa meter lagi. Hah.. sampai dan berhenti sesaat. Dia seperti tercengang. Di bawah payung ini, dia terus melihat ke depan dan sama sekali tak menoleh ke arahku.

Sementara aku mengatur napas, tiba-tiba dia berlari. Terus berlari menjauhiku. Mengejar seseorang di depannya. Yang rela berjalan di antara dinginnya hujan. Dia melambat, menyamakan langkahnya. Tanpa menghiraukan aku yang ingin melindunginya dari hujan ini.

“Watashi.. watashi wa.. [aku.. aku..] hiks..” wah, ternyata aku begitu lemah.

Aku menunduk.

“Omae ga suki da, Jupiter.. omae ga suki da.. [aku mencintaimu, Jupiter.. aku mencintaimu] hiks..”

Aku mulai menyapu setiap penonton yang ada dan mataku tenggelam pada satu titik terjauh. I-itu.. aku tak percaya ini! Pembiasan cahaya menyakitkan ini berhasil membuat air mataku meleleh. Tapi semakin aku tatap, titik itu semakin nyata.

Aitai to Tada negau dake de Konna ni mo
Namida afureru kara… My love

Dia tersenyum.. entah untuk siapa..

Yozora ni Ukabeta Tameiki ga koboreru
Please Stay With Me..

Apa itu untukku? Ya kah, untukku?

Aku sadar, ternyata bukan aku kan? Ya kan, Jupiter? Sekarang aku mengerti arti kau menjelaskan hukum III Newton padaku. Ternyata hukum itu memang benar. Aku memberimu gaya terlalu besar, sehingga saat kau memantulkannya lagi, akan terasa sakit.. sangat sakit.

Ini memang salahku.

Seharusnya aku mengerti dari awal.

Seharusnya aku tahu, itu untuk Miranda.

Aitai to ieba Mata kurushimete shimau?
Namida afureru no ni… My love
Surechigau tabi ni Itoshiku natte yuku
Please Stay With Me..

Akhirnya lagu yang kumainkan selesai. Aku sudah mengerti sekarang. Ya, aku menangis. Bukan karena alasan kau tersenyum. Tapi, kenapa aku baru sadar? Aku begitu bodoh. Sejurus kemudian, tirai pertunjukkan ditutup.

“Good job, Flou!” ujar asistenku.

Aku tersenyum, menyeka air mata, “Ha’i! [ya!]”

“Kau menangis? Ada apa?”

“Tidak, hehe. Jangan cari aku untuk 30 menit, ya!”

“Kau mau kemana?!” Aku tak menghiraukannya, diam dan berlari secepat mungkin. Itu lebih baik.

Nanana.. nanana.. aku bersenandung kecil untuk menenangkan diri dan perasaanku.

“Sedang meluapkan emosi?” seseorang membuyarkan pikiranku. Aku berbalik.

“Ju..pi..ter?” sekarang, dia sangat nyata di depanku.

Dia tersenyum dengan cara yang sama, untuk ketiga kalinya.

“Permainanmu tadi sangat bagus.” pujinya.

Aku membeku.

“Kau kemana saja, Flou?”

“Aku tidak kemana-mana. Hanya..”

“Menjauhiku?” sungguh, aku tak bisa menjawabnya.

Matanya tampak serius, “Aku tahu, kau.. menyukaiku. Teropong bintangmu yang menjelaskan semua. Kau mengamatiku dari sini. Tapi, maafkan aku Flou. Aku..” dia menunjukkan teropong perak milikku.

“Tidak. Maaf, Jupiter. Kau..”

Ternyata kau sudah tahu, ya. Tapi, tidak saat ini. Loving you is a pain, Jupiter. Aku terdiam. Berjalan tenang melewatinya.

“Kau.. hanyalah ilusi optik, Jupiter.”

Sumber Klik Disini :

Gadis itu tak berdaya setelah menerima kenyataan yang begitu pahit dan menyakitkan. Adinda dinyatakan hamil dua bulan oleh dokter kandungan. Awalnya ia tidak percaya saat melihat hasil tespeknya bergaris merah dua yang menandakan positif, kemudian ia berkonsultasi pada dokter dan ternyata hasil tespek itu tidak salah, hasilnya betul-betul positif. Adinda menjerit dalam hati setelah mendengar kenyataan itu. Bagaimana nasib dia selanjutnya? Adinda baru kelas tiga SMA. Dia piatu sejak kecil, ditinggal ibunya karena kecelakaan. Kini Adinda tinggal bersama ayah dan kakak laki-lakinya. Ayah Dinda keras. Sejak kecil Adinda tidak pernah diperlakukan lembut layaknya anak oleh ayahnya, Adinda depresi dan benci sama ayahnya yang selalu kasar pada dirinya. Tetapi kakaknya sangat beda, kakaknya begitu menyayangi Adinda lebih dari apapun.

Adinda tidak menyangka semua ini akan terjadi. Dia menyesal telah melakukan perbuatan yang hina itu bersama kekasihnya Robin. Gadis itu percaya sepenuhnya kepada kekasihnya, sehingga ia mau memberikan apapun yang diminta Robin, termasuk keperawanannya.

“Robin, kita ketemu di tempat biasa, ada yang mau aku bicarakan.” ucap Adinda di dalam telfon, Robin mengiyakan ajakannya. Dan Adinda pun segera bersiap-siap untuk pergi ke sebuah tempat yang telah dijanjikannya.
Sesampainya di taman, tempat favorit Adinda dan juga Robin. Robin sudah duduk di sana, dengan memakai jaket berwarna hijau daun. Adinda langsung duduk di samping Robin.
“Ada apa, Sayang. Kok wajah kamu kayaknya tegang banget.” cetus Robin sembari mengelus rambutnya Adinda yang lurus, hitam dan panjang itu.
“Robin, aku hamil dua bulan..” kata Adinda, matanya berkaca-kaca. Sontak Robin terkejut. Menatap mata Adinda dengan ketidakyakinan.
“Kamu becanda yah..” cetus pria itu tegang.
“Aku gak becanda.. aku serius, Robin. Dokter sendiri yang bilang sama aku, kalau di perutku ada janinnya. Robin, kamu janji kan, kamu mau tanggung jawab apapun yang akan terjadi sama aku. Dan sekarang aku mau kamu temui papahku, dan bilang kalau kamu sudah menghamili aku, setelah itu kamu nikahi aku.” teras Adinda. Robin terdiam lama. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Laki-laki itu hanya menelan ludah getir, dan berharap cepat menyelesaikan masalah yang sangat pelik ini. Dia tetap diam tak menjawab sepatah kata pun, membuat Adinda mulai kesal.
“Robin! Kamu jangan diam aja dong. Jangan buat aku semakin gelisah.” Kemudian Robin berdiri. Kedua tangannya dimasukkan ke saku jaketnya. Ia membelakangi Adinda. Entah apa yang tengah dipikirkan lelaki itu?
“Aku belum siap, Adinda. Aku belum siap untuk menikah.” kata Robin. Adinda langsung berdiri tepat di belakang Robin. Airmatanya semakin menghimpit. Mendengar Robin bicara seperti itu.
“Apa kamu bilang, belum siap? Robin! Siap gak siap, kamu harus tetap nikahin aku. Kamu harus tanggung jawab atas bayi ini. Aku gak mau yah, jadi bahan hinaan orang, sedangkan kamu malah enak-enakan ninggalin masalah ini gitu aja. Ini masalah kita berdua, jadi kita yang harus menanggungnya berdua. Kamu tuh jangan bikin aku stres, Robin..” Adinda mulai mengeluarkan airmatanya. Menahan rasa sakit di dadanya.
“Aku masih sekolah, Dinda.. dan aku masih pengen tetep sekolah. Jadi aku belum siap untuk menikah sekarang.”
“Kamu pikir aku enggak? Aku juga masih pengen sekolah.. kalau bukan karena perbuatan kamu, aku gak mungkin menderita seperti ini, Robin..” Adinda semakin menangis, ia tak kuasa membendung airmatanya itu. Airmata kepedihan.
“Okeh, gini aja. Sebaiknya kamu gugurkan kandungan itu. Karena gak akan ada gunanya juga kalau kamu melahirkan bayi haram itu.”
CPRETTT…!!! satu tamparan melayang ke pipinya Robin. Emosi Adinda sudah terbakar. Dia tidak menyangka kalau Robin bakal bicara seperti itu. Benar-benar menyakitkan batinnya.
“Tega kamu, Robin. Kamu tega mau bunuh bayi kamu sendiri. Apa kamu tidak memikirkan perasaanku?” sahut Adinda dengan suara meninggi. Robin hanya mengerang kesakitan, sembari mengusap pipi yang merah bekas tamparan dari tangan Adinda itu.
“Ini jalan satu-satunya, Dinda, kalau kamu gak mau malu dan dihina di depan semua orang. Bayi itu hanya akan membawa sial dalam kehidupan kamu. Terserah kamu mau lakuin atau enggak, yang penting sekarang, jangan pernah ganggu hidup aku lagi. Hubungan kita cukup sampai di sini.” Robin hendak melangkah pergi. Adinda segera mencegah dan menangkap tangan Robin sembari menangis histeris.
“Robin kamu mau kemana? Kamu jangan tinggalin aku.. aku butuh kamu, Robin. Kamu harus tanggung jawab.. kamu gak boleh pergiii..” Adinda mengangis histeris, sembari mengenggam erat tangan Robin. Ia tidak peduli, karena di taman itu pun tidak terlalu banyak orang.
“Haah.. sudahlah.. jangan ganggu hidup aku lagi!!” Robin dengan ganas melepaskan genggaman tangan Adinda, sehingga Adinda tersungkur ke dasar tanah. Robin terus melangkah pergi, tanpa memperdulikan Adinda sama sekali.
“Robiiinn…” Adinda menjerit memanggil nama Robin, sembari dihujani airmatanya.

Di sekolah. Adinda terkejut saat masuk kelas, melihat tulisan di papan tulis yang menjelek-jelekkan namanya ~ Adinda cewek murahan. Hamil diluar nikah, cewek gampangan. Munafikk!! ~ Dia terkejut. Ternyata kabar kehamilannya itu sudah tersebar dimana-mana, termasuk teman-teman sekelasnya mengetahui aibnya itu. Siapa yang menyebarkan? Apa mungkin Robin? Tidak mungkin, dia bukan siswa sekolah ini. Adinda menangis dan meronta. Semua yang di kelas memandangnya sinis dan jijik.
“Kelihatannya aja alim, tapi dalemnya busuk. Ih.. amit-amit deh..” cetus salah seorang siswi di kelas itu. Adinda tidak bisa berbuat apa-apa selain menangis dan menangis. Tiba-tiba seeorang siswa masuk kelas memanggil Adinda.
“Adinda, kamu dipanggil kepala sekolah..” Jantung Adinda semakin berdebar kencang, saat dirinya dipanggil kepala sekolah. Kemudian ia langsung pergi dengan membawa tasnya menuju ruang kepala sekolah.
Sesampainya di sana, Adinda begitu terkejut melihat papanya tengah duduk di depan kepala sekolah. Rasanya saat ini dunia benar-benar serasa runtuh. Adinda menahan tangisnya dalam hati, kemudian duduk di samping papanya yang tengah menunjukan mimik muka kecewa.
“Adinda, dengan berat hati, saya putuskan untuk mengeluarkan kamu dari sekolah ini.” Dug! Petir menyambar dengan cepat. Adinda tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya rasa terkejut dan sesak saat mendengar dirinya dikeluarkan dari sekolah. Adinda benar-benar tidak menyangka, bahwa berita kehamilannya sampai terdengar oleh kepala sekolah. Gadis itu mencoba menahan tangisnya setelah menerima kenyataan yang begitu pahit ini.

Setelah sampai di rumah. Tak segan-segan amarah ayahnya mulai membara setelah menerima kenyataan anak gadisnya hamil diluar nikah. Belum sempat Adinda tepat menginjak anak tangga untuk memasuki kamar, kepalan tangan yang keras telah mendarat di wajahnya yang sejak tadi merasa ketakutan. Adinda merintih kesakitan. Ayah Adinda semakin kalap dan seperti ingin membunuh anaknya.
“Anak nggak tahu diuntung! Bikin malu! Kamu sudah mencoreng nama baik keluarga ini! Kamu sudah melempar kotoran ke muka saya. Anak kurang ajar!” cptreet…! plak..! dug..! dess..! Bentakan ayah yang membuming dan pukulannya yang nyaring hingga terdengar oleh seorang pembantu di rumah itu, hanya saja pembantu wanita separuh baya itu hanya bersembunyi sembari menatap kejadian itu dengan pilu dan iba. Ayah Adinda terus menghajar anak perawannya dengan menyambit tubuh Adinda memakai gesper. Adinda terus menjerit kesakitan, sambil terus memohon ampun kepada ayahnya dan meminta untuk menghentikan siksaannya.
“Ampun, Pah.. ampuun..” Rintih Adinda mengaliri airmata yang begitu deras.

Tidak lama setelah Adinda habis bersih disiksa ayahnya, barulah Rezas segera datang, dan cepat menghentikan siksaan ayahnya terhadap adiknya tersebut.
“Cukup, Pah! Kenapa papah tega menyiksa Adinda, Pah? Apa salah dia..?” Suara Rezas terdengar meninggi, sepertinya ia tidak terima Adinda diperlakukan seperti itu.
“Apa salah dia, kamu bilang? Dia.. dia aib keluarga ini. Dia hamil diluar nikah. Dasar anak pembangkang! Anak tidak tahu diuntung!” Kembali ayahnya hendak memukul Adinda, tapi Rezas segera mencegah, hingga ayahnya merasa kelelahan dan kemudian pergi menuju kamarnya.

Di pojok sana, Adinda hanya menangis menahan rasa perih dan sakit di seluruh tubuhnya bekas pukulan yang dilampiaskan ayahnya barusan. Rezas segera menghampiri adiknya yang malang itu. Ia menjongkok dan mulai menanyakan kebenarannya.
“Benar apa yang dikatakan papah? Kamu hamil?” tanya Rezas pelan. Adinda hanya menganggukan kepala, sesekali airmatanya terus terjatuh. Rezas terlihat menahan rasa kecewa. Matanya berkaca-kaca penuh kepiluan. Ini adalah kenyataan yang paling buruk yang menimpa keluarganya.
“Siapa ayah dari bayi itu? Siapa yang akan tanggungjawab dengan semua ini, Dinda..?” Suara Rezas terdengar membentak. Adinda terus saja menangis, setelah bentakan dari ayahnya, sekarang Adinda harus menerima benatakan dari kakaknya. Sungguh hidup ini sangat kejam.
“Jawab, Dinda.. jawab pertanyaan kakak. Apa kamu sanggup menanggung beban ini sendirian? Siapa laki-laki yang menghamilimu? dan di mana dia sekarang? Apa dia mau bertanggungjawab?” Adinda mengusap sedikit airmatanya, dan menggelengkan kepalanya dengan tiada pasti. Rezas kewalahan. Sepertinya ia telah direndam emosi yang lebih-lebih dari ayahnya.
“Bodoh kamu! Sekarang kamu tahu akibatnya kan? Kamu ditinggalin sama laki-laki biadab yang kamu percayai itu. Sekarang hidup kamu benar-benar hancur, Dinda.. kenapa kamu tidak bisa berpikir kesana, hah!!.. Kakak kecewa sama kamu..” Setelah itu Rezas segera pergi dari hadapan Adinda yang masih tersedu-sedu menangis. Rasanya memang dunia ini sudah runtuh dan tidak tersisa apa-apa lagi. Semua orang jadi membenci Adinda. Tiada lagi orang yang sayang kepadanya. Mungkin dunia juga sudah terlanjur benci, sehingga Adinda diberikan hukuman yang begitu berat. Sekarang bagaimana nasib Adinda dan anaknya? Mau dibawa kemanakah janin yang sangat tidak diharapkan itu? Sementara dirinya betul-betul tersiksa dan tidak ada lagi yang memperdulikannya. Bahkan laki-laki yang amat dicintainya, yang begitu dipercayainya, sampai Adinda rela memberikan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya, laki-laki yang sudah merenggut kesuciannya pun kini telah mengkhianatinya.

Semenjak itu Rezas jadi cangguh kepada Adinda. Dia tidak pernah menyapa adiknya seperti biasa, bahkan tersenyum pun sudah enggan lagi. Adinda merasa tidak ada gunanya lagi tinggal di rumah yang seperti neraka itu. Gadis itu pun memutuskan untuk pergi dari rumah, dan meninggalkan semua kenangan buruk yang pernah terjadi di rumah yang tiada kasih sayang itu.

Adinda berjalan di pinggir jalan raya dengan sempoyongan sembari mendendeng tas besarnya. Entah kakinya akan melangkah kemana, Adinda sendiri berjalan dengan tiada kepastian. Dia tidak punya saudara, dan juga teman dekat, karena semua teman dan sahabat-sahabatnya selalu menghindarinya. Gadis itu berkali-kali hanya bisa menangis meratapi penderitaannya.

Adinda berdiri di depan rumah yang sudah tidak asing lagi baginya. Ya, rumah yang bercat putih dan megah itu adalah rumahnya Robin. Rumah inilah yang menjadi saksi kenangan buruknya bersama Robin. Andai waktu itu tidak kejadian, Adinda tidak mungkin menderita seperti ini.

Setelah diterima masuk oleh satpam yang menjaga gerbang di depan, Adinda dengan pelan mengetuk pintu rumah itu. Tidak lama kemudian, seorang pria berbaju darbos merah dengan celana pendek selutut muncul di hadapan Adinda setelah pintu dibuka. Adinda terkejut menatap wajah Robin yang sepertinya tidak suka melihat kedatangan Adinda.
“Ngapain lagi kamu ke sini? Denger yah, di antara kita udah gak ada hubungan apa-apa lagi. Jadi meningan sekarang kamu pergi dari sini..” Robin membentak, yang justru malah mengundang airmata Adinda yang sudah hampir kering.
“Robin.. aku udah gak punya siapa-siapa lagi.. cuma kamu yang aku butuhin sekarang, demi bayi kita, Robin..! aku mohon.. Cuma kamu satu-satunya yang aku harapkan..” Adinda memohon sambil menangis. Tangannya menggenggam erat tangan Robin yang kekar. Robin tidak memberikan reaksi apapun. Dia hanya memendam amarah.
“Lepasin! Kamu pikir aku peduli? Denger yah, aku udah ngasih saran buat kamu supaya kamu gugurin kandungan itu, maka semua masalah akan selesai. Tapi kamu gak pernah mau denger. Dan sekarang itu terserah kamu. Jangan campur adukkan aku dengan masalah yang gak jelas ini.” Robin segera melepaskan tangannya dari genggaman Adinda.
“Kamu tidak pernah tahu bagaimana menderitanya aku. Kamu egois, Robin. Kamu sudah mendapatkan apa yang kamu mau, setelah itu kamu tinggalin aku gitu aja. Kamu itu gak lebih dari seorang baj..” Cpreeett..! satu tamparan mendarat keras di pipi Adinda yang basah. Robin geram dan menahan kepalan tangannya setelah melampiaskan tamparan yang menyakitkan itu kepada mantan pacarnya, sekaligus gadis yang sudah dihamilinya. Adinda hanya bisa merintih dan airmatanya semakin deras. Dengan teganya Robin segera masuk ke dalam dan menutup pintu itu rapat-rapat.
“Robin.. Robin buka pintunya.. Robin…” Adinda menghujam tangisan yang tak terbendung lagi, sembari digedur-gedurnya pintu itu dengan perasaan kesal yang amat dalam. Mungkin disinilah akhir harapannya yang pelan-pelan menghisap semua kebahagiaannya. Sudah tidak ada lagi harapan hidup untuk seorang gadis yang masih belia itu. Siapa yang peduli? Tiada lagi malaikat cinta dalam hidupnya, seperti almarhum ibunya. Ia duduk sempoyongan tiada berdaya. Sesekali menggebuk-gebuk perutnya yang di dalamnya terdapat janin yang sangat tidak diharapkannya itu. Adinda sungguh tidak rela jika bayi itu lahir tanpa seorang ayah. Rasanya memang sudah mau kiamat. Mungkin mati adalah jalan untuk menghapus semua penderitaannya yang tiada kian berujung.

Sebulan kemudian. Rezas sudah gelagapan seminggu terakhir ini mencari keberadaan Adinda. Setelah satu hari Adinda kabur dari rumah, Rezas baru menyadari kesalahannya yang selama ini tidak memperhatikan Adinda lagi. Seharusnya bukan sikap itu yang ditonjolkan di depan Adinda yang justru membutuhkan semangat dan dorongan dari orang-orang terdekatnya. Rezas hanya bisa menangis setelah membaca buku diary Adinda yang tertinggal di bawah bantalnya.

~ Preity.. dunia rasanya gelap sekali. Tidak ada cahaya yang menerangi sedikitpun. Mata hatiku sudah gelap. Semuanya gelap, Preity.. sehingga aku tidak bisa mengenal apa-apa lagi. Mengapa dunia begitu kejam, Preity.. aku tahu ini kesalahanku, aku tahu ini kebodohanku. Tapi aku tidak sanggup menahan penderitaan ini, sungguh aku tidak sanggup, Preity. Rasanya aku ingin menyusul Mama yang sudah lama ada di sana. Aku ingin mati. Aku sudah tidak mau lagi hidup di dunia ini… T_T ~

Seperti itulah curahan hati Adinda di buku diary yang dinamainya preity pada lembar terakhir. Rezas merasakan kekhawatiran yang amat dalam. Bagaimana nasib adiknya sekarang? Di mana Adinda? Sudah satu bulan ia tidak berjumpa dengan Adinda.

Rezas kembali menyalakan mobilnya. Setelah pulang dari kampus ia segera pergi untuk mencari Adinda kembali. Rezas tidak akan menyerah, sebelum menemukan Adinda, dan memastikan bahwa Adinda baik-baik saja.
Dengan keadaan pusing dan cemas, laki-laki yang sudah berumur matang itu menyetir mobilnya, sembari memikirkan Adinda. Pikirannya terfokus pada Adinda yang sekarang tidak diketahui keberadaannya. Pada saat itu Rezas kebingungan melihat segerombolan orang berlari-lari di pinggir jalan seperti tengah mengejar maling. Benar saja! Karena sebagian orang juga tengah meneriakkan maling. Rezas segera memakirkan mobilnya, dan bertanya kepada salah satu warga yang ikut kejar-kejaran itu. Sebetulnya ini tidak penting, karena Rezas harus terfokus mencari Adinda. Tetapi hatinya merasa bahwa sedang ada yang tidak beres.
“Pak, orang-orang itu lagi pada ngejar apa?” tanya Rezas.
“Oh, itu. Ada orang gila maling duit di dagangan orang.”
“Orang gila?”
“Iyah, orang gila baru di desa ini. Sebulan yang lalu mau bunuh diri tapi ketolong sama warga di sini, dan akhirnya dia jadi stres.” Kemudian terdengar sebuah teriakkan lagi dari seorang warga.
“Weyy.. malingnya udah ketangkap, ayo kita gebukin..” teriaknya sampai terdengar oleh Rezas yang sedang ngobrol sama bapak-bapak itu.
“Udah ketangkap katanya. Mari mas, saya kesana dulu.” Rezas pun membuntuti bapak-bapak itu dari belakang, menuju ke segerombolan warga yang tengah memukul-mukul maling tersebut.
“Huu.. dasar maling tidak tahu diri.. cantik-cantik kok jadi maling. Gila lagi..” sahut salah seorang warga yang ikut beraksi menghakimi maling itu. Rezas tanpa sengaja melihat siapa yang tengah dikerumuni masa itu. Refleks Rezas terkejut bukan main. Wajah gadis yang tengah dipukul masa itu seperti wajah Adinda, tapi tidak terlalu jelas. Rezas segera menghentikan aksi warga tersebut. Setelah para warga itu menghentikan aksi pukulannya, Rezas langsung berlinang airmata, ternyata yang dilihatnya itu benar. Gadis itu memang Adinda adiknya. Rezas sembari menangis menghampiri gadis yang tengah tidak berdaya merintih kesakitan karena dipukul-pukul masa. Gadis itu hanya jongkok dan menunduk menahan sakit.
“Adinda..” Rezas menatap muka memar adiknya yang sepertinya tidak mengenali dirinya. Gadis itu terlihat kebingungan menatap Rezas.
“Maaf, pak polisi.. saya sudah mencuri. Karena saya butuh uang buat makan. Saya gak punya uang pak polisi..” kata Adinda ketakutan. Rezas langsung memeluk Adinda yang memang sudah tidak mengenalnya lagi. Adinda sudah terkena gangguan jiwa, sehingga ia tidak mengenal siapa Rezas. Semua warga menatapnya dengan heran. Bahkan ada juga yang menangis melihatnya. Rezas sungguh tidak menyangka adiknya akan menjadi seperti ini.
“Ini kakak, Dinda.. ini kakak.. kita pulang yah.. kamu punya rumah, kamu punya kakak..” sahut Rezas sembari menangis. Adinda masih menunjukan muka heran.
“Rumah? Kakak?”
“Iya, Dinda.. ini kakak. Kakak sayang sama Dinda. Maafkan kakak sudah menelantarkan kamu selama ini. Kakak sayang sama kamu, Dinda..” Rezas kembali memeluk Adinda erat. Linangan airmatanya semakin mengundang warga untuk ikut merasakan haru biru yang terjadi pada adik kakak ini.

Kemudian Rezas membawa Adinda ke mobil. Sebelum akhirnya pulang, Rezas minta diceritakan apa yang sebelumnya terjadi kepada Adinda sehingga membuatnya seperti ini? Salah satu warga pun menjelaskan, bahwasanya sebulan yang lalu, ada seorang gadis yang sepertinya tengah hamil nekat mau bunuh diri dengan berdiam diri di rel kereta, menunggu kereta datang. Pada saat kereta sedang melaju, akhirnya ada seorang warga yang melihat dan langsung mencegah si gadis itu. Namun gadis itu gelagapan dan tidak mau ditolong, ia berlari ke jalan raya, sehingga sebuah mobil menabraknya. Kejadian itu membuat sang gadis keguguran. Setelah pulang dari rumah sakit, gadis itu menjadi bertingkah aneh. Sering ngomong sendiri, nangis sendiri, ketawa-tawa sendiri. Warga jadi takut melihat tingkah polah gadis itu. Dan kesananya kelakukan gadis stres itu semakin menjadi-jadi. Ia jadi sering maling barang-barang warga, harta benda warga. Dan sampai saat ini, dia menjadi seperti itu.

Rezas cukup hanya mengeluarkan airmatanya setelah mendengar cerita yang memilukan yang terjadi pada adiknya itu. Ia hanya menatap Adinda yang masih merintih kesakitan di dalam mobil. Menatapnya penuh pilu. Rezas hanya bisa ikhlas, jika pada akhirnya Adinda harus mengalami depresi berat dan mengalami tekanan batin, sehingga membuat jiwanya terganggu. Dan kini pada akhirnya, Adinda harus menjalani hidupnya dengan setengah nyawa, karena setengahnya lagi pergi entah kemana. Tetapi Rezas berjanji akan merawat dan mengasihi adiknya sampai sembuh kembali. Ia akan menjaga Adinda dengan penuh kasih sayang. Mungkin itulah yang Adinda harapkan selama ini. Rasa kasih sayang yang tak kunjung datang dalam hidupnya.

“Adinda.. kakak sayang kamu..” Rezas mengecup kening adiknya dengan linangan airmata. Baginya, Adinda adalah harta satu-satunya yang harus ia jaga dan ia rawat sepanjang hidupnya.

Sumber Klik Disini :

Eyes

Posted: 07/09/2015 in Kisah
Tag:

Mata itu..
“Aku bilang hentikan!” jerit gadis itu sambil menodong pistol.
Tidak mungkin..
“Tak ada yang tidak mungkin, kau memang gadis yang telah ditakdirkan.” sang pemuda terus mendekat.
Mata biru itu, pemuda itu..
“Mundur!” gadis itu menjerit lagi.
Dia..
“Kau tak bisa lari, ‘The Lost Number’ yang ada dalam dirimu lebih lemah dibandingkan aku.”
Ya, aku kenal mata itu..
“Kau pembohong!”
Mata yang sempat aku kejar..
“Kau harus tahu kapan aku jujur dan kapan aku berbohong.”
“Kenapa? Kenapa, Light?!”
“Kau pasti tahu alasannya. Kau tahu makna mataku, kan?”
Mata penuh tipuan dan ilusi..
Light kini berdiri di depan gadis itu, “Three, kau tak bisa merubah takdir.”
“Kenapa? Kenapa harus aku?” Three menangis, tangannya melemas dan pistolnya terjatuh.
“Kau membuat kesalahan, Three. Seharusnya kau tak mengejar mata biruku dan sekarang kau terjebak di dalamnya. Kau harus memberikan jantungmu.”
Apa aku akan..?
“Mata birumu selalu penuh ilusi, Light.” ujar Three lirih.
Sreeet.. crash..
“Ya, aku tahu.” pemuda itu menyeringai, “Bahkan jantungmu masih sempat berdetak pada pisauku..”

Ibu bilang, aku punya kemampuan khusus. Mungkin, tapi aku tak merasa begitu. Katanya mataku sangat istimewa. Mata yang bisa membaca kehidupan orang hanya dengan menatap matanya. Mata ‘The Lost Number’. Tapi aku tidak terlalu menyukai mataku ini. Karena mataku lah yang telah membunuh Ibuku sendiri.

“Hai, Three,” sapa Nema. Ia mengangkat alis, “Kau tahu, kau sering melamun akhir-akhir ini. Jujur deh, ada apa?”
Aku tersadar, “Eh? Tidak ada apa-apa.”
“Baiklah. Terserah kau saja. Umm, kau sudah tahu ada anak baru yang bakal masuk ke kelas kita?”
“Belum,” jawabku diikuti gelengan pelan.

Bel masuk berbunyi tiga kali. Nema kembali ke bangkunya dan meninggalkan rasa penasaran tentang sosok anak baru itu di otakku. Ah, untuk apa aku pikirkan. Buang-buang waktuku saja.
Pak Hendri masuk ke kelas dengan dua buku paket Fisika di tangan kanannya. Ia diikuti seorang pemuda di belakangnya. Itukah anak baru yang Nema katakan?
“Sebelum kita mulai pelajaran hari ini, kita kedatangan anak baru. Silakan perkenalkan diri,” tutur Pak Hendri di depan kelas dan mempersilakan pemuda di sebelahnya memperkenalkan diri.

Jika ku perhatikan, pemuda itu cukup tampan. Ku tatap matanya dan dia menatap mataku. Warna matanya biru, warna yang jarang. Tapi entah kenapa aku tidak bisa memaknai apapun dari matanya. Tak satu pun kehidupannya bisa ku baca. Sangat aneh.

Cukup lama kami bertatapan, dia segera berpaling ke teman-temanku, “Nama saya Light Dimithry. Kalian bisa panggil saya Light. Saya pindahan dari SMA Negeri Langit Emas. Salam kenal.”

Pak Hendri mempersilahkan Light duduk. Dia berjalan hampir melewatiku dan duduk tepat di sebelah kananku. Aku masih menatap mata birunya. Sebisa mungkin aku coba untuk membacanya. Tapi nihil. Dia menoleh ke arahku dan membalas tatapanku. Lalu tersenyum.

Ku kumpulkan keberanian untuk membuka suatu pembicaraan, “Hai! Namaku..”
“Three, kan?” tebaknya.
Aku terkejut, “Bagaimana kau bisa tahu namaku?” tanyaku heran.
“Entahlah. Tapi matamu menyebutkan nama itu padaku.” jawabnya sambil memainkan pulpen.
Mataku? Bagaimana dia tahu namaku hanya dengan menatap mataku? Ku kira hanya aku yang bisa melakukan hal itu. Apa mungkin dia memiliki mata ‘The Lost Number’ juga?
“Matamu indah dengan warna biru,” ungkapku. Hanya sekedar untuk basa-basi.
Dia tertawa pelan, “Matamu juga indah, Three.”
“Hmm,” aku hanya mengulum senyum. “Apa.. kau bisa membaca sesuatu dari mata orang yang sedang kau tatap?”
Kali ini wajahnya berubah menjadi serius dan kaku. Dia berhenti memainkan pulpen. Aku jadi merasa tidak enak menanyakan hal itu. Tapi dia malah menatapku lekat-lekat.
“Ya, Three. Aku bisa melakukannya. Membaca kehidupan orang lain sama sepertimu. Tapi, aku mohon. Jangan pernah menatap mataku lebih lama. Terlalu berbahaya untukmu. Oke?” pintanya dengan nada cemas.
“Tapi kenapa aku tidak bisa membaca matamu? Bahkan hanya sekedar memaknai matamu pun aku tidak bisa.”
Light menghembuskan napas panjang dan beralih ke papan tulis yang telah dipenuhi rumus-rumus ‘Tumbukan Elastis Sempurna’, “Karena aku telah menguncinya.”
Aku tidak mengerti, “Menguncinya bagaimana?”
“Ekhem. Three, apakah ada masalah?” tegur Pak Hendri menatapku dengan tatapan menyelidik.
Aku menunduk, “Maaf, Pak. Tidak ada apa-apa.” mataku ku paksakan untuk menatap papan tulis agar Pak Hendri tidak menginterogasiku lebih lanjut.

Untuk beberapa menit, aku terjebak dalam kebingungan di antara rumus-rumus indah penghias papan tulis yang tak ku mengerti sama sekali dan pernyataan Light yang masih menggantung. Hingga Light memegang pergelangan tangan kananku erat dan kembali menatap mataku.

“Three. Mata ‘The Lost Number’ milikku lebih berbahaya dari pada milikmu. Aku bisa menguncinya dan membukanya agar orang lain sepertimu bisa membacanya. Tapi kau tak bisa melakukan itu di depanku, kau hanya bisa melakukan itu di depan orang dengan kemampuan lebih rendah dari matamu.” jabarnya yang lebih mirip dengan peringatan, “dan itu alasan.. mengapa matamu bisa membunuh Ibumu sendiri saat itu. Ibumu tak bisa membaca matamu dan mengejarnya. Beliau menatap matamu lebih lama. Itu yang membuat matamu menginginkan kematian Ibumu. Matamu yang menyuruhmu membunuhnya tanpa kau sadari. Matamu saat itu lebih berbahaya dibanding mata Ibumu.”
Dengan cepat ku tarik tanganku dari genggaman Light. Sungguh, apa-apaan ini?! Dia membaca terlalu banyak. Dia membaca semua masa laluku dan aku benci ini.
“Maaf. Aku tak bermaksud untuk menyinggung hal itu. Huft.. kau boleh, tapi hanya sebagai permohonan maafku.” dia memberiku sedikit harapan, “Dan jangan menatapnya lebih lama.”
Aku mengangguk cepat, erupsi eksplosif kebahagiaanku membuat senyumku mengembang. Light menutup matanya cukup lama dan membukanya kembali.
Dia membuka kuncinya. Mata itu..
“Matamu.. mata penuh tipuan dan ilusi.” bisikku. Sementara mataku bergerak-gerak mencoba membacanya, Light menggenggam pergelangan tanganku lebih erat dari sebelumnya.
“Uh, Three,” dia mendengus kesal, “Kau melakukan kesalahan.”

Sekarang aku baru menyesal. Gambaran seluruh kehidupannya mengitariku hingga membuat kepalaku pening. Itu memang salahku. Seharusnya, waktu itu aku tak menatap matanya lebih lama.

Yang bisa ku lakukan kini hanya berlari di antara kelas-kelas dan di sepanjang lorong sekolah. Di tanganku hanya ada sebuah pistol yang ku temukan di ruang kedisiplinan. Aku tidak tahu kenapa benda ini ada di sana. Aku sudah terlalu frustasi untuk memikirkannya. Aku tidak tahu harus lari ke mana lagi.

Tring.. tring.. tring..
Aku berbalik dan ku dapatkan Light sudah ada lima meter di hadapanku. Pisaunya mendentingkan setiap batang pagar besi pembatas taman. Ku biarkan diriku dilanda ketakutan, yang mampu ku pikirkan hanyalah menodongkan pistol ini ke arahnya. Berharap membuatnya mundur.
Aku menjerit, “Aku bilang hentikan!”

Sumber Klik Disini :

Mas Roy

Posted: 07/09/2015 in Kisah
Tag:

Siang di Kota Surabaya. Hari itu batas hidup dan mati sudah berjarak lebih tipis ketimbang sehelai kertas. Di tengah-tengah suara desingan dan ledakan, aku, Mas Roy serta ratusan laki-laki lainnya pontang-panting menghindari hantaman biji-biji peluru mortir yang jatuh dari langit.

Peluru-perluru altileri berat itu jatuh meledak dahsyat, membongkar tanah dan menghamburkan serpihannya ke segala penjuru. Beberapa diantaranya menghantam tubuh rekan-rekan kami yang kurang beruntung hingga hancur dan tercerai. Sementara suara pesawat-pesawat pembom terdengar berputar-putar di atas langit kota.

“Mundur!”
“Mundur!”
“Bawa persenjataan yang memungkinkan saja!”
“Ke Gunungsari! Ke Gunungsari!”

Tanpa pikir panjang kami segera mematuhi komando dari pimpinan pasukan, segera lintang-pukang sekencang-kencangnya. Sementara peluru-peluru mortir terus memburu kami, jatuh meledak-ledak di belakang punggung dan meninggalkan lubang hitam yang menganga besar di permukaan tanah.

“Inggris Set*n! Ibl*s!”

Di tengah-tengah gelegar ancaman maut, lamat-lamat kudengar suara Mas Roy yang memaki-maki.

“Monyet pengecut! Inggris set*n!”

Aku tak habis pikir, dalam kondisi genting seperti ini masih saja sempat manusia satu itu merapalkan umpatan-umpatan khas miliknya. Dasar orang gila.

Belum selesai pikiranku sejenak tersita oleh Mas Roy, tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara desingan panjang yang memekakkan. Suara itu ditutup dengan sebuah letusan dahsyat menggelegar melumat telingaku. Aku dihempaskan ke depan oleh dorongan angin panas yang sangat kuat.

Tubuhku terbanting keras, mataku gelap, pusing, telingaku berdenging-denging. Tak tahu berapa lama aku terkapar. Tulang-tulangku terasa remuk, kulitku perih, bahu kiri ku nyeri luar biasa. Hanya indra penciumanku yang tampaknya masih berfungsi. Terhirup olehku udara beraroma mesiu dan daging yang terbakar.

Suara denging panjang masih mengisi telinga, lalu perlahan hilang dan samar-samar digantikan oleh suara teriakan seorang lelaki memanggil-manggil namaku. Aku rasa ia berusaha mengangkat tubuhku. Sekuat tenaga kubuka mata, rupanya Mas Roy yang berusaha memapahku lari. Kulirik bahu kiriku yang nyeri, ternyata lenganku telah kutung sampai bahu dan mengucurkan darah.

“Bertahanlah, Dik!”
“Mas, tinggalkan saja aku! Larilah, Mas!” teriak ku padanya lemah.
“Tak usah banyak bicara! Ayo lari!”

Tiba-tiba sebuah ledakan kembali menggelegar begitu dekat dengan tubuh kami. Kilatan cahaya dan angin panas menyambar. Aku jatuh tertelungkup lalu kemudian gelap. Ketika terbangun tiba-tiba aku sudah berada di sebuah barak perawatan yang dipenuhi oleh pejuang-pejuang yang terluka.

Peristiwa itu terjadi 64 tahun yang lalu, namun masih membayang jelas dalam otakku. Tak terlupakan. Lengan kiriku tak pernah kulihat lagi sejak hari itu, juga Mas Roy sahabatku yang mencoba menyelamatkanku itu, hilang begitu saja. Hilang maksudku benar-benar hilang. Nasib Mas Roy setelah serangan itu tak diketahui lagi.

Kusno dan Dirman yang berhasil kembali ke reruntuhan pertahanan kami untuk menyelamatkan aku dan sisa-sisa pasukan lainnya yang terluka mengaku tak melihat jenazah Mas Roy di sekitar tempat itu. Hingga kini aku tak tahu kabar Mas Roy, entah hidup atau telah mati.

Aku jadi ingat saat pertama kali melihat Mas Roy. Akhir tahun 1944, aku dan beberapa orang teman menemukan seorang pemuda terkapar di pinggir Kali Mas tak sadarkan diri. Kondisinya berantakan dengan jaket dan pakaian yang telah robek-robek di beberapa bagian. Jaket dan pakaian yang dipakainya mengherankan kami, terutama bentuk dan bahan kain dari celananya, sungguh tak lazim terlihat.

Kami bawa pemuda itu ke rumah majikanku Haji Mustafa, saudagar kain keturunan Arab yang terkenal suka bersedekah. Haji Mustafa pun mau menampung pemuda asing itu di rumahnya hingga ia sadar dan dan dapat diantarkan pulang.

Setelah siuman pemuda itu mulai bercerita tentang dirinya. Sayang sekali ia mengaku tak bisa mengingat banyak hal. Dia ingat namanya adalah Roy, tinggal di daerah Krembangan tapi ia lupa di mana persis alamat rumahnya. Ia tak bisa mengingat jelas tentang keluarganya. Ia juga menyebut-nyebut pos pendakian Gunung Semeru. Sungguh mengherankan, mengingat Gunung Semeru jauh dari Kota Surabaya.

Semua informasi dari mulut pemuda itu tak beraturan dan malah menambah kebingungan kami. Sebagian dari kami mengira dia hanya orang gila yang kebetulan pingsan di pinggir Kali Mas. Ada juga yang berpikir mungkin saja dia adalah anak pungut seorang Belanda yang disiksa lalu dibuang karena melakukan kesalahan. Kami juga heran dengan nama pemuda itu. Roy, nama yang tak lazim untuk orang Surabaya yang berkulit Jawa pada zaman itu, lebih mirip nama orang-orang Eropa.

Setelah dirawat satu minggu lebih di rumah Haji Mustafa, pemuda itu kemudian diajak pegi ke Krembangan yang diakui sebagai daerah tempat tinggalnya. Namun sia-sia, ia lupa di mana persis dia tinggal, bahkan ia mengaku tak mengenal daerah itu. Lebih aneh lagi, di sepanjang perjalanan dia bertanya-tanya apakah ini Kota Surabaya. Dia yakin kota ini bukan Kota Surabaya, ia mengaku ingat betul bentuk Kota Surabaya, bukan seperti apa yang dilihatnya waktu itu.

Tak menemukan alamat rumah pemuda itu, akhirnya Haji Mustafa memutuskan untuk menampung dia di rumahnya hingga ingatannya pulih. Demikianlah, bersama diriku, pemuda itu selanjutnya bekerja membantu Haji Mustafa berdagang kain di Pasar Turi. Dari sanalah persahabatanku dengan Mas Roy dimulai.

Tak banyak yang mau berteman dengan Mas Roy. Sebagian orang menganggapnya kurang waras karena pribadinya amat pemurung, terkadang bicara dan mengumpat-umpat sendiri. Aku sendiri mulanya sedikit risih harus berkerja bersama orang seperti Mas Roy. Namun pelan-pelan aku mulai terbiasa.
Lalu di sebuah pagi dalam sebuah perbincangan ketika kami sedang berdagang, Mas Roy mulai menyebut-nyebut tentang tahun 2009.

“Mengapa kau selalu saja tampak resah dan murung, Mas?”
“Kau pikir kenapa? Apa kau bisa tertawa kalau kau jadi aku? Bisa kau tersenyum saat kau terdampar di tempat yang tak kau kenal lalu tak ingat dimana kau tinggal dan siapa keluargamu?”
“Terdampar katamu? Ini Surabaya, Mas. Kotamu. Kau mengaku orang Surabaya, kan?”
“Sudah dari awal aku ceritakan padamu ini bukan Kota Surabaya yang aku kenal. Surabaya yang aku kenal adalah kota metropolitan yang megah dan ramai, bukan seperti ini.”
“Metro… apa?” keningku berkerenyit.
“Halah… kau tak mengerti…”
Kami terdiam sejenak saat beberapa tentara Jepang berjalan masuk ke dalam pasar melakukan patroli keamanan.
“Mengapa ada tentara-tentara itu di sini?”
“Tentara Jepang. Mereka patroli, Mas.”
“Maksudku, mengapa masih ada tentara Jepang di Surabaya ini?”
“Maksudmu? Jepang kini yang berkuasa di Surabaya, Mas, bukan Belanda lagi.”
“Terakhir kali yang kuingat, tak ada lagi tentara-tentara Jepang semacam itu di negeri ini. Indonesia sudah lama merdeka, Surabaya juga merdeka.”
“Hussh.. Mas! Jangan keras-keras bilang kata-kata merdeka, kau bisa ditangkap!”
“Aku tak bohong, Dik. Negeri ini sudah merdeka. Agustus 1945 Indonesia merdeka”
“Merdeka, Negeri Hindia ini? Maksudmu bagaimana? Bebas dari Jepang? Belanda? Bulan Agustus? Ini baru Juli, Mas”
“Dengar, Dik, dalam ingatanku aku hidup di tahun 2009. Di Tahun itu tidak ada lagi Jepang, Belanda, atau negeri manapun yang menjajah. Negeri kita sudah merdeka, Dik. Tak ada lagi Negeri Hindia, yang ada Negara Republik Indonesia.”
“Tahun 2009?”
“Ya, 2009.”

Aku tertawa mendengarnya. Herannya, Mas Roy ikut tertawa, bahkan lebih keras ketimbang tawaku. Dasar gila.

“Ngimpi kamu, Mas! Gila! Ini kan tahun 45.”
“Memang semua hanya mimpi. Semuanya, kota ini, pasar ini, tentara Jepang, Haji Mustafa, juga kau. Atau memang aku yang mungkin sudah gila.”
“Tahun 2009…?” aku masih menahan geli.
“Dengar, Dik, kalau memang ini tahun 45. Bulan depan tanggal 17 seharusnya Jakarta akan memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Kau buktikan saja kata-kataku.”
“Negeri kita merdeka? Tapi bagaimana bisa? Bulan depan?”
“Bulan depan Jepang kalah perang.”

Satu bulan kemudian aku benar-benar terkejut. Kata-kata Mas Roy terbukti, proklamasi kemerdekaan Indonesia dikumandangkan bulan Agustus tanggal 17 di Jakarta. Jepang kalah perang, Indonesia merdeka. Persis seperti yang diramalkan Mas Roy. Bahkan lebih aneh lagi ramalan Mas Roy tentang akan terjadinya peristiwa perobekan bendera Belanda di Hotel Oranye juga terjadi tak lama setelah berita kemerdekaan sampai ke Surabaya.

Kemampuan Mas Roy meramal sungguh luar biasa. Namun Mas Roy bersikeras bahwa dia bukan meramal, melainkan semua yang dikatakannya itu telah menjadi sejarah di alam tahun 2009-nya. Mas Roy juga mengaku jadi bingung ketika semua ramalannya terwujud. Ia mulai ragu apakah benar ia tidak sedang hidup di tahun 1945.

Lalu, September 45, kapal-kapal perang sekutu telah mendarat di Pelabuhan Ujung. Kehadiran Sekutu yang diwakilkan oleh tentara Inggris membuat situasi Surabaya menjadi panas. Gejolak revolusi telah membuat pribumi menjadi sangat anti dengan kedatangan bangsa asing. Tentara Inggris diyakini hendak mengembalikan penjajahan Belanda ke tanah air. Pemuda-pemuda bergerak cepat mendahului, gudang-gudang senjata Jepang diserbu dan dilucuti sebelum Inggris melakukannya.

Segera saja pertempuran melawan Inggris pun pecah di Kota Surabaya. Seluruh pemuda terlibat dalam perjuangan, tanpa terkecuali aku dan Mas Roy. Perlawanan pribumi membuat Inggris terdesak hingga akhirnya pengecut-pengecut itu mengundang pemimpin-pemimpin dari Jakarta agar datang ke Surabaya supaya kami semua mau diajak melakukan gencatan senjata

Aku ingat saat aku dan Mas Roy menyaksikan iring-iringan mobil pemimpin-pemimpin Jakarta datang ke Surabaya melewati Jalan Tunjungan. Aku lihat Mas Roy terkesima ketika mobil yang membawa Presiden lewat di depannya. Matanya melotot terpaku, mulutnya ternganga lebar ketika wajah Soekarno terlihat dari balik jendela mobil.

“Sulit kupercaya, Dik… itu… itu Sukarno… Sukarno, Dik…” bisiknya pelan mirip suara igauan orang yang sedang tidur, kepalanya menggeleng-geleng pelan.

Lalu di sore harinya, kami berbincang-bincang. Gencatan senjata membuat kami dapat sedikit rehat dari pertempuran. Di senja itu aku sempat bertanya tentang nasib revolusi, kemerdekaan dan masa depan negeri ini kepada Mas Roy.

“Perang belum usai, Dik. Aku ingat sesuatu, perang besar segera akan terjadi di Surabaya.”
“Perang besar? Maksudmu?”
“Akan ada Jenderal Inggris yang mati oleh kita lalu Surabaya akan diserbu dengan kekuatan besar.”
“Yang benar saja, Mas? Kapan itu terjadi?”
“Tanggal sepuluh bulan sebelas nanti. Dan kita kalah dalam peperangan”
“Kau jangan bercanda, Mas!”
“Kau tidak percaya? Kau lupa aku ini datang dari tahun 2009?” lalu ia terbahak-bahak membuatku jengkel.
“Kalau kita kalah, bagaimana nasib negeri ini, Mas? Perjuangan kita selama ini?”
“Kita kalah, tapi kita tetap menang. Negeri ini akan tetap merdeka sampai tahun 2009.”
“Kau mengingat banyak hal dari tahun 2009-mu itu. Tapi kau tetap tak bisa mengingat keluargamu dan tempat tinggalmu. Yang kau ingat hanya tanggal-tanggal kejadian di tahun ini? Aneh..”
“Entahlah, Dik..”

Aku terdiam menatap wajah Mas Roy sambil mengusap-usap karaben(1) -ku hasil rampasan dari markas Kempetai(2) . Rasanya aku tak percaya kami bakal kalah dalam pertempuran besar yang diramal Mas Roy bakal datang dalam jangka waktu dekat.

Dan lagi-lagi ramalan Mas Roy terbukti. 10 November, Surabaya diserbu Ingggris dengan kekuatan yang jauh lebih besar dari sebelumnya. Aku mengenang hari kelima pertempuran itu. Di hari itu, Aku dan Mas Roy bersama ratusan pasukan lainnya sedang mempertahankan front pertahanan di Viaduct bagian timur. Sebuah tank Inggris terus bergerak mendesak dan menghajar pertahanan kami. Mesin perang itu benar-benar membuat kami tak berkutik dengan tembakan kanon dan senapan mesinnya. Gerakan majunya membuat kami terpaksa mundur perlahan.

“Kono! Kono!”
“Iya, Mas!”
“Cepat kemari!”

Kuhampiri Mas Roy dengan berlari membungkuk menghindari ciuman timah panas.

“Ada apa, Mas?”
“Berikan granat tempel punyamu!”
“Kau mau apa, Mas?”
“Berikan saja granatnya padaku! Monyet!”

Pemandangan selanjutnya adalah merupakan sebuah adegan yang tak terlupakan dari dalam ingatanku. Setelah menyambar granat tempel dari tanganku, Mas Roy melesat lincah mendekati tank Inggris. Di luar dugaan kami semua, Mas Roy bergerak begitu dekat ke arah tank. Senapan mesin tank itu segera mengarahkan tembakan ke arah tubuhnya. Entah beruntung atau apa, tak ada satu butir peluru pun yang mengenai tubuh Mas Roy, hingga ia akhirnya berhasil mengaktifkan granat dan menempelkannya pada salah satu rantai roda tank.

Tak lama granat pun meledak menghancurkan rantai dan membuat susunan roda-roda tank berantakan. Mas Roy berhasil menghentikan pergerakan tank, namun belum bisa menghentikan tembakan-tembakan kanon dan senapan mesinnya. Mas Roy kemudian memanjati badan tank, lalu membuka paksa tutup palka tank dan menarik caling granat tangan sebelum melemparkannya ke dalam ruang kemudi tank. Mas Roy melompat turun, granat pun meledak membunuh pengemudi tank di dalamnya. Tank itu berakhir selamanya.

Begitulah sahabatku itu. Sejak perang besar itu meletus, aku melihat pribadi Mas Roy berubah menjadi begitu ganas di medan pertempuran. Tidak seperti sebelumnya. Ia seorang pejuang yang sangat berani menantang maut demi membunuh musuh-musuh republik. Ia pernah berkata padaku, “Andai kau tahu bagaimana rasanya alam merdeka, maka kau akan sama seperti aku. Kita butuh pengorbanan dan keberanian yang lebih banyak demi membayar harga kemerdekaan”.

“Kalau ini memang tahun 45, maka aku pastikan kita bakal kalah dalam perang ini. Tetapi paling tidak aku bisa mati membela negeriku,” demikian katanya 64 tahun yang lalu.

Hari ini aku masih hidup, nafasku masih menghirup dan menghembus udara tahun 2009, tahun yang berkali-kali disebut Mas Roy 64 tahun yang lalu. Mas Roy benar, kami kalah dalam perang itu, namun republik ini tetap merdeka hingga saat ini. Hari ini kuingat sebuah kata-kata Mas Roy pada sebuah pagi kira-kira empat jam sebelum datang serangan mortir Inggris yang menghancurkan lenganku dan memisahkan kami

“Aku ingat semua, Dik. Akhirnya aku bisa mengingat semuanya. Aku ingat nama lengkapku Roy Adisaka. Aku ingat tempat tinggalku, aku ingat keluargaku, aku ingat kampus kuliahku. Aku ingat terakhir kali aku sedang mendaki Gunung Semeru bersama teman-teman,” kata Mas Roy sambil tersenyum girang.

“Saat itu, tiba-tiba saja badai berpasir terjadi di Semeru. Aku terpisah dari teman-teman. Aku terhempas dihisap dan digulung angin yang sangat kencang, hingga akhirnya semuanya gelap, lalu tiba-tiba saja aku bersama kalian di Rumah Haji Mustafa,” sambung Mas Roy dengan penuh keyakinan.

“Aku tahu sekarang, Dik! Aku tahu sekarang! Di Gunung Semeru pasti ada Lubang Cacing, Dik! Lubang Cacing, Dik. Kau mengerti Lubang Cacing? Ah, aku lupa, kau tentu tak mengerti apa artinya,” aku hanya melongo mendengarnya.

“Lubang Cacing memungkinkan orang atau benda apa saja untuk melintasi waktu, pindah dari satu masa ke masa yang lain. Dan aku terlempar ke masamu, tahun 45, Dik,” Mas Roy menutup penjelasannya dengan tawa gembira.

Kata-kata itu membingungkanku 64 tahun yang lalu. Tapi hari ini, kata-kata itu membuatku terkesiap, jantungku terasa berhenti sejenak sesaat setelah cucuku membacakan sebuah berita di koran. Koran hari ini mengabarkan bahwa: seorang mahasiswa Surabaya, Roy Adisaka, hilang dalam pendakian di Gunung Semeru. Astaga…! Mas Roy, kau kah itu!?

Sumber Klik Disini :