Arsip untuk 07/14/2015

Clurit dan Linggis

Posted: 07/14/2015 in Kisah
Tag:

Aku terdiam memangu ketika mendengar suara bising dari arah samping rumaku – tetangga. Sering kali pasangan suami istri itu bertengkar, tak jarang keluar jancukannya bahkan kalimat-kalimat pencerai secara tidak sadar terucap. Namun keesokan harinya mereka akur kembali, tengkar lagi, akur lagi. Sepertinya rumah tangga mereka mengambang.
Berbeda jauh dengan keadaan keluaragaku, aku sebagai anak pertama dari 4 bersaudara tak acap kali pertengkaran antara adik-adikku itu yang sering terjadi. Kalau itu terjadi aku hanya bisa diam menatap mereka dan memasang wajah sangar. Tak lama mereka akan ikut terdiam dan berbalik menatapku. Mungkin tatapanku seperti bilah samurai yang siap memenggal leher musuhnya, sehingga membuat mereka lari terbirit-birit sebelum aku melakukan apa-apa.

Tak terasa pertengkaran mereka telah mereda setelah suara benda yang pecah karena terbanting, entah dari pihak si laki atau pihak si bininya.
Sebenarnya aku sudah dari tadi ingin beranjak dari tempat untuk mengambil clurit peninggalan Mbah Kakungku dan aku akan menghampiri mereka dengan tatapan gendruwo. Menghunus clurit ku ke atas pundak di belakang bahu dan aku sabetkan tepat di leher si laki – terkulai mengejang. Bininya menjerit histeris melihat apa yang aku lakukan, sekali lagi aku sabetkan tepat di perut si laki yang sudah tak beraya itu. Bininya mulai kebingungan karena takut akan bahaya yang mengancam. Aku menoleh ke arahnya, ia menggelayap di tembok bersimpuh menyujud memohon-mohon kepadaku. Aku tetap menatapnya, perlahan aku menghampirinya. Bagaimana tidak aku melihat lelehan air bening kekuningan mengambang di lantai tepat di bawah si bini. Bak seekor kucing yang sedang rebutan kawin. Sementara ia menyujud aku serentak melempar cluritku dan mengenai tengkuknya, kepalanya terantuk lantai. Untungnya ia hanya terkena gagang cluritku, balum apa-apa ia sudah lemas pingsan. Aku tak mengambil pusing, aku ambil lagi cluritku dan menyabetkannya tepat di leher si bini. Darah merah tua kehitaman membuyar semburat nyiprat mengenai wajahku.

Namun ketika tersadar aku baru tahu bahwa aku tetap dalam kontrol. Ketika mendengar keributan yang lebih identik dengan pertengkaran, secara tidak sadar otakku bereaksi. Ada semacam proyektor di hadapanku dan menampilkan kejadian-kejadian tragis yang aku sebagai tokoh utamanya – membunuh. Aku menyebutnya dengan trauma masa lalu.

Hal itu berawal 3 tahun yang lalu ketika aku melihat perdebatan antara Pakdeku dan Pakku. Mereka mempertentangkan masalah pembagian warisan, entah bagaimana sistem pembagiannya yang sampai-sampai membuat Pakku tidak terima dengan warisan yang ia peroleh – mungkin karena terlalu sedikit menurutnya.
Pakku bersikukuh tidak terima dengan keputusan pembagian warisan itu, mungkin nalurinya sebagai adik Pakdeku itu yang membuatnya berpikiran bahwa ia harus dapat lebih banyak. Ditambah karena memang sejak dulu Mbah Kakungku diurus oleh keluargaku.

Adu mulut terjadi lama, sampai-sampai Pakku melontarkan sumpah serapahnya. Aku sebagai anak hanya bisa diam melihat apa yang terjadi layaknya menonton sebuah film. Pakku terlihat sangat memerah ketika argumennya tak dihiraukan oleh saudara-saudaranya. Sampai-sampai jancuk dan asu pun disamngkutpautkan. Andai jancuk dan asu tahu, mungkin mereka yang akan mengganyak Pakku.

Entah di mana letak hati nurani Pakku pada saat itu yang membuatnya tak mau ikhlas dan qona’ah, ia malah memilih pertengkaran dari pada persaudaraan. Padahal memang sudah jelas status mereka adalah saudara.

Tiba-tiba Pakku beranjak dari tempatnya menuju dapur, entah apa yang akan ia lakukan dan sedang lakukan. Suasana pun mencair. Saudara-saudaraku mulai memberi dukungan kepada Pakdeku untuk lebih sabar menghadapi Pakku.
Tak lama kemudian Pakku kembali dengan wajah yang datar dan kedua tangannya bersedekap di belakang. Ia menghampiri Pakdeku sambil berucap “Baiklah aku ikhlas dan menerima atas pembagian warisan ini”. Serentak Pakdeku berdiri berjalan menghampiri dan berniatan memeluknya.
Tak dinyana clurit peninggalan Mbah Kakungku mendahului pelukan Pakdeku yang jadinya Pakdeku memeluk angin dan terantuk clurit di bagian kepalanya. Darah mengucur deras. Aku masih sangat ingat waktu itu ada cipratan darah sedikir di wajahku. Aku terhenyak melihat kenyataan seperti itu. Pakku secara tidak sadar mengajariku dan aku pun tak sadar menerima ajaran itu dengan terbuka. Darah merah menggenang di mana-mana. Saudara-saudaraku menjauh – takut. Pakku terdiam dan sempoyongan meroboh, njungkel njlungop, tiba-tiba bersujud. Entah apa maksudnya aku hanya mlongo.

Keesokan harinya aku bangun dari tidurku, aku tak menemukan Pakku yang biasanya membangunkanku – malah Paklekku. Paklekku memelukku dan berbisik lirih “Berdoalah semoga Pakdemu diterima disisi-Nya dan bersabarlah menghadapi kenyataan.” Aku terbelalak dan bertanya mengheran “Ada apa?”

Ternyata Pakku telah diringkus oleh aparat kepolisian dan kini meringkuk di balik jeruji besi. Entah berapa lama aku pun tak tahu. Pernah aku tanyakan tapi malah mendapat jawaban yang terkesan membijak.

Di sekolahan aku terpojok oleh pengucilan – terasingkan. Berita tentang Pakku sudah menyebar ke seluruh desa sampai-sampai teman sekelasku pun tahu tentang berita itu. Selain pengucilan aku pun mendapatkan cacian memaki, mereka menganggap aku adalah anak seorang pembunuh. Aku hanya bisa terdiam dan mengernyitkan dahi ketika mereka mengolok-olokku seperti itu.

Anak almarhum Pakdeku pun begitu, ia seperti bertemu babi saat bertemu denganku. Ia selalu menjauh seperti enggan denganku. Kini semakin berat dan kejam laku kehidupanku, dengan keterasingan yang seperti ini membuatku merasa sakit – sakit batin. Tak terasa kini aku menjadi lebih pendiam dan acuh tak acuh atas keadaan sekitar.

Lamunanku akan masa lalu tiba-tiba membuyar hilang oleh suara gebrakan pintu di rumah sampingku yang tadi. Pintu tertutup tapi suara pertengkaran mereka masih sangat kentara di telingaku. Terdengar suara pipi ditempeleng keras dan berulang kali dan disertai jerit tangis si bini.

Otakku pun secara spontan bereaksi tetapi bukan lagi sorotan cahaya dari proyektor tapi ini tidakan dari alam bawah sadarku yang terwujud secara nyata. Di dapur aku tak menemukan clurit peninggalan Mbah Kakungku tapi aku menamukan linggis yang berukuran kecil tapi lumayan panjang yang biasa dipakai Paklekku untuk memanen ketela pohon di kebun depan rumahku. Mungkin pikirku saat ini waktuku memanen dengan bringasan dengan mencongkelnya tepat di dada sebelah kiri.

Aku mengetuk pintu berkali-kali namun tak kunjung dibuka, aku muak langsung mendobrak pintu. Tapi tidak berhasil. Perlahan aku mendengar umpatan dari dalam, aku yakin itu si laki. Suara bininya terdengar menangis memilu. Pintu terbuka dan wajah si laki yang penuh dengan amarah itu menatapku nanar, jancuk pun keluar. Tapi jancukannya belum sepenuhnya terucap, linggis yang semula ada di tanganku kini berpindah di dada sebelah kiri si laki.

Aku masih terdiam ketika menatap si laki yang sudah terkapar membujur mengaku. Tak sadar ternyata sudah 2 jam aku berdiri mematung di depan mayat si laki. Sampai pada akhirnya rumah si laki itu sudah berjumbal dengan orang-orang yang menatap miris.

Adikku menerobos masuk dari kerumunan orang itu untuk menemuiku. Ketika ia sudah berada di belakangku, ia memanggilku “Mas…” Aku menoleh ke arahnya “Ada apa dik?” ujarku dengan santai dan tersenyum sumringah. Sementara di antara kerumunan orang sekilas terdengar suara memuntah mungkin karena jijik melihat darah yang mengambang di lantai teras rumah si laki.
“Sampeyan ini psikopat ternyata, ayo muleh.” Ucap adikku sambil menarik tanganku. Aku pun menurutinya dan tetap tersenyum. mayat si laki itu tetap terkulai perlahan-lahan mengaku seperti dalam tumpukan salju dan membeku. Aku melihat sang bini keluar dari rumah, ia tersenyum kepadaku dan aku pun menyambut senyumannya dengan senyumku.
Ketika aku melakukan itu aku cuma punya satu pikiran dan tujaun; ingin segera menyusul Pakku di balik jeruji besi karena aku sangat merindukannya. Kini itu pun terwujud, aku bertemu dengan Pakku – ini bahagiaku.

Sumber Klik Disini :

Penjaga Langit

Posted: 07/14/2015 in Cinta
Tag:

Pagi yang cukup cerah di Jogja. Langit yang biru, dihiasi dengan awan tebal yang berwarna putih seperti arum manis. Pukul 7 pagi aku sudah siap dengan pakaian kaos lengan panjang dan celana kain bersaku banyak yang berwarna hitam kesayanganku. Masih kurang sedikit barang bawaanku seperti coklat, tissu basah dan roti sobek. Sesegera mungkin aku pergi ke swalayan terdekat untuk membelinya. Angin di pagi hari menemaniku bersepeda di jalan raya.

Setelah dirasa cukup lengkap barang bawaan di tas carrierku, aku melihat jam di dinding. Masih terlalu pagi untuk aku berangkat dan berkumpul di sekolah. Sambil menunggu waktu tiba, aku mulai membuka laptop dan menancapkan modemku. Jariku yang di atas mouse mengeklik dua kali pada ikon mozilla, dan mengetikkan alamat twitter. Aku memantau isi timeline untuk menyaksikan apakah teman-temanku sudah berangkat atau masih bersantai. Cukup lama juga aku berada di depan laptop, sekitar satu setengah jam. Tiba-tiba aku mendapatkan sms dari Jerry yang berisi agar aku segera berangkat dan berkumpul bersama teman-teman di sekolah. Menerima pesan singkat itu, aku segera menggendong tas carrierku ke pundak dan menenteng 2 matrasku yang nantinya akan kupinjamkan satu pada Jerry.

Sampai di sekolah rupanya sudah banyak teman-teman yang berkumpul di sana. Aku tersenyum pada mereka semua. Ada satu yang janggal di situ. Oh.. aku baru ingat, ternyata Ardi belum berangkat.
“Ini Jer matrasnya,” kataku sambil memberikan matras hitamku.
“Terimakasih Ngit, maaf lho merepotkanmu…” balas Jerry yang tersenyum sambil menerima matras yang kuberikan.
“Ahh santai saja, kan aku punya dua…”
“Ciee.. ciee..” sorak teman-teman padaku dan Jerry. Aku hanya tersenyum membalasnya.

Tiba-tiba sang ketua datang dan sepertinya membawa suatu kabar. Menurutku itu kabar yang kurang mengasikkan. “Teman-teman, aku ada kabar nih dari pembimbing. Kata mereka mobilnya baru diservis dan tak bisa berangkat pagi ini. Mungkin jam satu siang baru selesai.”
Oh my God… Jam satu siang itu lama. Kami menunggu dari pukul sembilan pagi hingga pukul satu siang. Empat jam. Oh… yang benar saja.

Satu jam berlalu, dan aku mulai bosan. Aku dan teman-teman masih duduk-duduk di bangku dan tak jelas akan melakukan apa. Dua jam berlalu. Bosanku memuncak namun tetap kutahan. Tiba-tiba ada yang datang dan bersinar. Dia sangat menyilaukan mataku sehingga aku harus mengintip di balik telapak tanganku yang menutupi wajahku.
“Woy kemana aja kamu Di?” tanya ketua.
“Maaf, tadi aku habis rapat buat event sekolah kita hehe,” jawabnya.
Ardi yang datang. Dia masih duduk di motornya dan masih berbincang-bincang dengan ketua. Terasa damai sekali ketika ia datang. Bosanku hilang. Kini pandanganku tertuju pada Ardi seorang. Aku mengamatinya berbincang-bincang dengan ketua. Sesekali aku tersenyum mendengar celotehnya.

Ardi turun dari motor dan mencopot helmnya. “Hai Langit, udah lama nunggu ya?” tanyanya padaku yang masih terpaku menatapnya. Tak lupa ia menambahkan senyum indah di wajahnya.
“Hah? oh iya Di, udah lama ini… Kamu nih nggak ikutan nunggu lama di sini. Bosan,” jawabku agak kaget. Akhirnya kita masih menunggu hingga mobil jemputan datang.

Setelah beberapa jam menunggu, mobil pun datang dan kita langsung berangkat ke gunung. Mobil perempuan dengan mobil laki-laki dipisah. Meskipun aku tak satu mobil dengan Ardi, namun aku senang bisa diajak mengobrol dengannya. Di sepanjang jalan, aku masih senyum-senyum sendiri.

Kita pun tiba di gunung pada waktu petang. Udaranya begitu sejuk. Beruntung hujan hanya turun pada saat perjalanan saja. Kami menurunkan tas carrier dari mobil dan bersiap mendaki. Sekitar pukul 8 malam kami mulai mendaki. Awalnya aku berjalan bersama temanku Ina, tetapi lama kelamaan aku berada di depan dan jalan sendiri di belakang pemandu. Udara memang dingin, namun peluh masih tetap menetes. Suara angin mulai terdengar mengerikan. Aku mencoba tetap tenang. Aku menatap langit yang gelap malam itu. Begitu indahnya. Bintang-bintang sangat terlihat dan tersebar banyak ke seluruh penjuru langit.
“Subhanallah, keren sekali langit dilihat dari sini,” tuturku.
“Kamu ngapain muji dirimu sendiri Ngit? haha,” kata si ketua.
“Bukan itu… dasar..”
“Iya langitnya bagus, cantik kok. Kayak yang lagi mendaki gunung sama kita…” celetuk Ardi.
“Cieee cieee…” semua bersorak. Aku hanya tersenyum malu mendengarnya.

Beberapa jam berlalu. Sesekali kami istirahat dan minum, hingga akhirnya kami memutuskan untuk mendirikan dome. Laki-laki bertugas untuk mendirikan dome, sementara yang perempuan memasak dan membuatkan minuman yang hangat. Malam itu memang dingin sekali. Sesungguhnya aku tak kuat dengan udara dingin seperti itu, tapi aku mencoba menyembunyikannya. Hari semakin larut dan kami putuskan untuk pegi ke puncak besok pagi saja. Akhirnya kami tidur di dalam dome.

Semburat berwarna oranye menghiasi langit pagi itu. Awan dan matahari belum terlihat. Aku sudah terbangun dan keluar dari dome. Sebenarnya aku menahan dingin dibalik jaket dan kaos kakiku.
“Selamat pagi, Langit,” sapa seorang lelaki dari belakangku. Aku berbalik badan untuk melihat siapa yang menyapaku itu. Senyumnya yang khas dihiasi dengan giginya yang gingsul, yap itu Ardi. Aku membalasnya dengan senyumku.
“Pagi juga Di,” jawabku yang sebenarnya waktu itu aku menahan teriak kegembiraanku.
“Woy teman-teman, ayo kita ke puncak sekarang!” ajak ketua yang membuat kegembiraanku semakin memuncak. Aku dan teman-teman lantas mengikuti sang ketua untuk naik sampai di puncak. Dalam perjalanan kesana, aku berjalan naik sendiri di belakang rombongan temanku yang laki-laki. Alasanku berjalan tepat di belakang mereka karena aku bisa termotivasi untuk bisa cepat sampai ke puncak. Di tengah dinginnya udara pagi dan embun yang menemani pejalanan kami, tiba-tiba aku disapa.
“Hai Langit, sendirian aja nih?” tanya Ardi lalu melontarkan senyum manisnya padaku.
“Eh Ardi, iya nih… Lama-lama berkeringat juga aku di tengah dinginnya udara sejuk pagi ini,” jawabku yang memang mulai berkeringat.
“Iyalah kan kita ndaki gunung Ngit… Kalo gitu aku temenin ya.”
“Emm boleh..” Lalu kami jalan bersama menaiki gunung yang berjalan terjal dengan batu-batu yang sangat besar. Kami terus berbincang selama perjalanan. Aku sangat senang ketika salah satu temanku mengambil fotoku bersamanya.
“Aku kesana sebentar ya?” kata Ardi padaku. Aku hanya menjawab dengan senyumku yang tidak ikhlas.
“Di, ntar yang jaga Langit siapa?” kata Felma.
“Oh iya. Ya udah, ayo Ngit kita ke atas.” Kata Ardi sambil tersenyum padaku.
“Loh, kalo kamu mau kesana juga tak apa Di,” aku mencoba meyakinkannya.
“Nggak papa. Aku kan penjaga Langit…” jawab Ardi yang senyumnya semakin manis untuk dilihat. Aku hanya membalasnya dengan senyuman dan tertawa kecil. Sebenarnya ketika dia berkata seperti itu aku merasa aku berada di atas bersama awan-awan yang putih seperti arumanis. Hingga sampai puncak pun aku masih bersama Ardi, bercanda dan bersenda gurau bersama. Itu hari yang paling indah di hidupku. Terimakasih Ardi, penjaga Langit.

Sumber Klik Disini :

Janda Perawan

Posted: 07/14/2015 in Cinta
Tag:

Cerita ini berawal dari cerita kisah percintaan guru les komputerku, sebut saja dia adalah kak Padil,
Kisahnya sangat unik dan menarik bagi aku bahkan kami semua yang mengikut pembelajaran di kelas microsoft office I, sekitar 15 orang,

Kakak ini orangnya cukup gagah, senyumannya manis dan asyik, karena kegantengannya semasa kuliah kakak ini terkenal play boy, pernah dia sekali pacaran sampai lebih dari sepuluh orang cewek yang berbeda daerah, Tapi ternyata keplayboyannya itu dipicu oleh kecemburuannya pada seorang cewek yang disukainya, mereka teman dari kecil, tetangganya sendiri, sampai saat itu dia belum pernah menyatakan semua perasaannya itu semua dipendam dan disimpannya rapat-rapat, karena dia dan cewek itu bagaikan langit dan bumi, dilihat dari status sosial, orangtua cewek itu Pegawai negeri sedangkan orangtuanya hanya petani biasa, mereka tak mungkin bersatu, itu fikir kak Padil pada saat itu, Nah untuk menghilangkan, mungkin terlalu naif ya menghilangkan, bisa dibilang untuk sedikit melupakan bayang-bayang yang selalu menghantuinya, dari sekian banyak cerita petualangannya dengan banyak cewek pula, rasa itu tak pernah pudar sedikit pun.

Ujian itu datang, saat kembali ke desanya waktu itu liburan kuliah, ternyata gadis itu telah mempunyai calon suami yang dipilih orangtuanya, acara pernikahan akan segera digelar, semua keluarga dan kak Padil itu sendiri ikut hadir dalam pembentukan panitia persiapan acara tersebut, dia ditunjuk dan dipercaya sebagai panitia panggung, yaitu semua perlengkapan dari tenda, pentas dan sarana pendukung lainnya, dengan senyum yang miris, yang terpaksa menghiasi wajahnya dia menerima semua itu, dia mencoba dan harus ikhlas dengan semua ini, ini lah realita yang harus diterima, bahagia nya adalah bahagia ku juga, fikir kak Padil.

Tapi sebenarnnya dalam lubuk hati yang terdalam dia masih yakin kalau gadis itu adalah jodoh yang telah dikirim Sang Maha Kuasa untuk dirinya, namun apakah mungkin, “tidak, dia sebentar lagi akan menikah aku harus merelakan semua ini, ku yakin Tuhan mempunyai rencana terindah dari semua rencana yang ada” gumamnya dalam lamunan di kamar yang sepi malam itu.

Dia pun mempersiapkan semua tanggung jawabnya, hari yang paling memilukan bagi kak Padil pun datang, dengan langkah yang agak lesu, dia memakai baju batik dan bercermin, harus kuat, dia pun berjalan menuju rumah si cewek dengan senyum yang menghiasi wajahnya, agar terlihat tak ada apa-apa, sanak family, tetangga, teman dan kerabat lainnya telah berkumpul, acara puncak pun berlangsungg, pupus sudah, si cewek telah sah menjadi istri orang, harapan pun hanya tinggal harapan, acara salaman pun dimulai, awalnya kak Padil dengan langkah pasti ingin mengucapkan selamat berbahagia kepada si cewek dan suaminya, tapi dia hanya manusia biasa, hatinya bisa rapuh dan baru beberapa langkah, kakinya terhenti, seakan tak mau bergerak lagi, dan dia pun dengan alasan kebelet, melangkah pulang ke rumah, dia terbaring lemah di atas sofa kamarnya, tanpa sengaja air mata menetes di pipinya, tak selang beberapa saat, dia pun menuju kamar mandi dan mengambil air wudu, dia kemudian bersimpuh menghadap yang Maha Kuasa, dalam doa berharap diberi kekuatan, kesabaran dan ketegaran untuk menghadapi semua kenyataan ini, nah ini memang langkah yang tepat yang dilakukan, berserah diri dan mengadu lah kepada Allah karena Allah Maha Tahu.

Setelah mencium sajadah, hatinya kembali tenang, dia pun memakai baju panitia dan akan menuju ke rumah si cewek, karena siang ini acara resepsi diadakan, dia merupakan salah satu panitianya, dia harus menjalani, saat baru sampai, salah seorang kerabat memanggilnya, ternyata si cewek dari tadi menanyakan keberadaannya, dengan tegap dia menemui si cewek yang sedang duduk bersama suaminya, dia menyalami keduanya, dengan senyum dia mengucapkan selamat berbahagia, tapi ada yang aneh dengan si cewek meski dia tersenyum tapi ada yang kosong di matanya, seakan tidak menginginkan hal ini, tapi ah itu hanya mimpi ku saja kata kak Padil sembari bercanda bersama mereka.

Acara pun selesai, beberapa hari kemudian, dengan langkah pasti, kak Padil menuju rumah si cewek, meminta izin, kalau dia harus kembali ke luar daerah karena bangku perkuliahan akan dimulai, si cewek dengan sang suami pun mengantarnya ke depan jalan menunggu mobil yang akan menjemputnya, saat mobil datang, mereka bersalaman, di saat itu kak Padil kembali merasa aneh dengan si cewek, dia memegang tangan kak Padil seakan tidak merelakan kak Padil pergi, tatapannya seakan mau ikut bersama kak Padil, tapi kak Padil dengan lembut melepas tangannya, dan mengucap salam, masuk ke mobil.

Selang setahun lebih kak Padil tak pernah pulang dia fokus menyelesaikan kuliah, alhamdulillah semua selesai, dia kembali ke desanya, di saat itu alangkah terkejutnya kak Padil mendengar sebuah berita bahwa si cewek sedang mengalami permasalahan dengan perkawinannya, kak Padil menemui si cewek, dan si cewek mengaku di depan kak Padil kalau dia tak pernah tidur dengan sang suami, dia masih perawan, antara percaya dan tidak kak Padil hanya terdiam, dan akhirnya si cewek resmi bercerai. Tapi kak Padil belum juga berani menyatakan perasaannya, sebenarnya dia sngat bahagia mendengarnya, Sampai kami menyelesaikan les komputer 3 bulan belum terjadi apa-apa.

Setahun kemudian aku dan kakakku makan sate di pasar, kemudian 2 orang pasangan muda masuk, aku merasa mengenal cowoknya, lama aku perhatikan begitu juga dengan dia, akhir aku memberanikan diri menyapa
“kak Padil ya”
“iya, kamu”
“saya murid les kak setahun yang lalu, microsoft 1”
“iya… orang Desa Harapan kan”
“iya, Asih kak”
“a, apa kabar”
“alhamdulillah baik kak, oya kak pengantin baru ya”
“ya begutu lah, kenalkan istri kakak”
Saya salaman dengan istrinya,
“masih ingat cerita kakak dulu kan? Ini cewek itu”
“serius kak, yang kakak cerita kalau”
“ya, janda perawan”
“selamat ya kak, jodoh memang gak kemana ya”
“percaya pada Keajaiban Tuhan”

Sungguh aku hampir tidak percaya dengan semua itu, tapi ya itu lah realita, Jodoh memang Rahasia Ilahi, yang penting kita harus ikhlas

Sumber Klik Disini :