Arsip untuk 07/15/2015

My Sweet Seventeenth

Posted: 07/15/2015 in Galau
Tag:

Setiap menatap matanya, entah apa yang aku rasakan. Benci, rindu, atau cinta. Aku bingung untuk mengungkapkannya. Telah lama kejadian ini berulang. Kami memang pernah menikmati pahit manisnya menjalani hubungan bersama. Ya, kami dulunya adalah sepasang kekasih.

Aku, entah apa perasaanku kepadanya. Meski kami kini sudah memiliki kekasih, tapi kami masih dekat. Ia sering menjemputku sewaktu aku pulang sekolah dan selalu ada disaat aku membutuhkan pertolongannya.

Sore itu, aku menunggu dia menjemputku. Berdua dengan temanku, yang juga menunggu pacarnya untuk menjemputnya. Kami saling berbagi cerita, mengenai hubungan kami masing-masing. “Ini jam berapa ya? Gue nunggu dari jam 12 loh.” Kata temanku. “Sekarang jam setengah 2. Lama juga lu nunggu. Dia jemput atau enggak? Coba telpon.” Kataku. “mungkin lagi di jalan kali.” Jawabnya. “emang rumahnya jauh ya?” tanyaku. “enggak terlalu kok. 15 menit harusnya nyampe.” Jawabnya. “Oh, mungkin macet kali.” Jawabku.
“Lu ngapain belum pulang? Ini nunggu jemputan.” Jawabku. “siapa? Cowok lu?” Tanya temanku. “Ah, bukan. Dia mana ada waktu buat jemput gue. Gue minta jemput mantan gue.” Jawabku. “Ha? Serius? Kakak kelas itu?” temanku terkejut. “iya, serius. Dia malah yang memaksa dirinya sendiri buat jemput gue. Kita mau jalan.” Kataku.
“ha? Jalan?” kata temanku tersontak. “iya, jalan. Pergi berdua.” Kataku. “Gila! Terus pacar lu?” Tanya temanku. “Ada mungkin di rumahnya, gak tau lagi ngapain. Lost contact udah 3 minggu. Atau dia mungkin lagi mikirin ujiannya.” Kataku.
“udah, balikan aja lagi. Keliatannya kalian masih saling sayang.” Saran temanku. “gak segampang itu, kita punya urusan masing-masing dengan permasalahan yang berbeda. Kita sedekat ini, karena belum terbiasa aja dengan keadaan pacar kita masing-masing. Gue dekat, kaya sebatas kakak kelas sama adik kelas doang kok.” Jawabku.

Hari itu, hari ulang tahunku. Kalian tau? Aku sangat amat mengharapkan di usia ke 17 ini, aku bisa merayakannya bersama orang yang istimewa. Entah siapa yang istimewa, tapi aku berdoa semoga yang memberikan ucapan pertama kali dan memberikan kejutan yang tak akan mungkin aku lupakan itu adalah orang yang istimewa, yang menyayangiku. Jujur, yang aku harapkan adalah kekasihku.

Pagi hari, jam 5 tepatnya aku bangun tidur. Mengecek ponselku dengan harapan kekasihku lah yang pertama kali mengucapkan. Tapi, hanya ada satu bbm, dengan voice note. “Dimas”
Aku sejenak meneteskan air mata. Entah perasaan kecewa atau senang dengan air mata itu. Aku, menangis mendengar suaranya.

Kembali ke kejadian sore itu. Aku tau, kami akan makan ramen, makanan kesukaannya. Tapi kali ini ia bohong padaku. Aku sudah menunggunya satu setengah jam. Lalu dia datang membawa kue ulangtahun dengan lilin 17 di atasnya. Ini kali pertama seseorang memberiku kejutan seperti ini. Dan aku, senang sekali. Aku bingung untuk mengucapkan kata-kata.
“happy birthday, fifah… happy birthday fifah… happy birthday, happy birthday, happy birthday fifah… make a wish dulu yaa”
Kata dimas. “udah, sekarang tiup lilinnya” ucapnya.
Aku, entah sedih, senang, atau apa lah itu. Menatap matanya yang nampaknya senang memberiku kejutan ini. Ternyata, selama ini orang yang istimewa itu dulunya mantan kekasihku. Dan aku pun tak tau, sampai kapan cerita ini serumit ini. Serumit hubunganku dengan dia dan pacarku.

Sumber Klik Disini :

Pilihan Terberat

Posted: 07/15/2015 in Galau
Tag:

Aku masih termenung tak percaya, seseorang yang kugilai di masa laluku kini hadir dan ingin menjawab semua keinginanku yang pernah kupanjatkan dulu. Tapi di lain sisi aku telah menaruh hatiku ke seseorang yang sebelumnya tak pernah kuharapkan datang di hidupku.

“Zahra…” ucap mamaku yang mebuyarkan lamunanku
“iya ma, ada apa”
“dicari Tara, Meme, Alvin, Dicky, sama Seto”
“iya” jawabku malas

Aku pun berjalan menuju sebuah bangku di bawah pohon mangga di depan rumahku, disitu telah berkumpul teman-temanku. Dari kejauhan senyum nakalnya telah menyambutku. DICKY… dialah alasan terbesarku sehingga aku bisa melupakan Sofyan, pujaan masa laluku
“hay beib” celetuk Dicky
“hus apaan sih” jawabku cemberut
“yah gitu aja marah, kamu kenapa sih akhir-akhir ini jarang bales sms aku”
Waduh… bersalah banget nih pulsaku habis karena bales sms Sofyan, ucapku dalam hati
“mungkin aku lagi ketiduran”
Suasana hening, aku tau dia mulai ngerasa ada yang aneh sama aku. Aku sendiri juga heran kenapa cintaku goyah?, kenapa hati ini mulai nggak setia? Kenapa aku selalu membandingkan sifat Dicky sama Sofyan?
“Beib aku mau bicara sama kamu”
“mampus” ucapku dalam hati
Aku pun ditariknya menuju teras rumahku yang sekiranya pembicaraanku tidak terdengar oleh Seto, Tara dan Meme

“kenapa sih kamu berubah, aku denger kamu lagi deket sama Sofyan ya?”
“enggak kok enggak”
“kamu masih sayang kan sama aku?”
“iya, tapi…”
“tapi apa?”
“kenapa kamu nggak berubah seperti apa yang kamu janjikan di awal kita jadian? Aku pingin kamu berubah supaya hatiku nggak beda-bedain kamu sama Sofyan” “Tinggalin rokok dan bir kesukaanmu jika kamu sayang aku” ucapku sedikit membisik.
Dicky langsung tersentak dan sekarang matanya menatapku tajam-tajam karena baru kali ini aku berkata dengan bahasa apa adanya tanpa aku hias atau aku cari kata lainnya.
“maksud kamu Ra? Kamu… kamu benar-benar tega menuduhkan itu sama aku. Ini bukan masalah rok*k, bir, kenakalanku atau apalah yang buruk-buruk tentang aku tapi ini masalah ‘KESETIAANMU’. Aku saja bersabar menerima semua kekuranganmu tapi kamu…” kalimat itu tak dilanjutkannya Dicky langsung meninggalkanku

Hari sudah gelap. Sampai sekarang Dicky belum juga sms aku, apa dia marah? apa aku keterlaluan. Sekarang aku hanya bisa bertanya… bertanya dan bertanya tanpa tau siapa yang akan menjawabnya. Air mata ini menetes jika kata “JAHAT” memenuhi pikiranku.

Sofyan yang ada di masa laluku, dia orang yang baik jauh dari semua yang membuatnya bergelar “Nakal” dia dulu buatku jatuh cinta dan menjejakkan berjuta prasasti luka di hatiku. Namun aku tak pernah menyesal mencintainya. Tapi setelah Dicky datang dalam hidupku tanpa kumengerti bagaimana jalannya, dia selalu menunggu dan berusaha agar aku dapat merasakan cintanya yang pernah tersisih dalam hatiku. Berjuta cara gila dia lakukan, sampai-sampai aku berkewajiban tertawa jika mengingatnya. Coklat dan mawar tak lagi jadi caranya, namun dia ganti dengan seutas dasi yang dipakainya lalu diubahnya menjadi bunga walaupun beraroma keringat aku tak mampu menolaknya saat itu. Dia juga pernah nyata-nyata bilang ke orangtuaku kalau dia ingin banget punya masa depan sama aku, seketika itu mataku langsung melotot namun dia malah tertawa. Waktu masih PDKT dia juga sering meminta berfoto bareng denganku bak fans ketemu idola.

Ya tuhan… dia terlalu lucu untuk disakiti. Tapi sulit sekali dia merubah kebiasaan merok*knya itu padahal dia masih SMP kelas 3. Sedangkan Sofyan rajin sholat, mengaji, puasa senin-kamis, nggak suka bikin onar. Tapi Dicky begitu pandai buat aku tertawa, membuat aku merasa berarti, membuat aku bahagia.

Hp ku berdering, rupanya ada sms masuk.
‘from: SOFYAN’
Ra kamu nggak lihat acara pensi 17 agust di pk lurah.
aku ntar ikut lo Ra, kamu nggak lihat?

‘to : SOFYAN’
oh ya, kamu emang nampilin apa?

‘from : SOFYAN’
seni musik hadroh Ra, kmu lht ya

‘to : SOFYAN’
iya deh, tunggu ya

Aku pun berniat melihat pensi itu itung-itung menghilangkan galau. Rumah pak lurah tidak jauh dari rumahku hanya berjarak beberapa rumah penduduk. 5 menit kemudian aku sampai, ramai sekali rupanya.
“sekarang kita tampilkan hadrah dari Remaja Masjid Ashyfa”
Wah tepat sekali aku datang pada waktunya. Sofyan yang telah manaiki panggung tersenyum padaku aku pun membalas senyumnya. Lagu-lagu bernuansa islami telah dilantunkan group hadrah remaja masjid Ashyfa, membuat kegalauanku sedikit menghilang. Setelah selesai Sofyan menghampiriku… tapi tiba-tiba
“Ra…” ucap seseorang sambil memegang bahuku.
Ternyata Dicky, harus bagaimana aku
“kenapa kamu berani ketemuan kayak gini Ra, sejahat itukah sekarang kamu sama aku?”
“Dicky aku nggak ada maksud ketemuan, aku cuma pingin lihat pensi aja” jawabku
“aku permisi dulu ya sepertinya aku mengganggu” ucap Sofyan
“kamu nggak perlu pergi karena kamu juga wajib mendengarkan apa yang akan diucapkan dari mulut Zahra habis ini”
Perasaanku tak karuan, Dicky terlalu marah sama aku, nggak mungkin sepatah kata maaf yang biasa aku ucapkan saat dia marah mampu membatalkan niat marahnya.
“aku tau Ra kamu selalu ragukan aku, karena kamu mencintai aku atas dasar egomu bukan atas dasar apa adanya aku, mana janjimu untuk mencoba menerima aku apa adanya”
“aku mencoba menerima kamu apa adanya tapi kamu nggak pernah berusaha jadi yang aku inginkan”
“asal kamu tau aku selalu berusaha sayang, tapi ya sudahlah jika kamu mau mengorbankan cintaku yang begitu tulus dan dalam hanya untuk kebaikan sifat dia yang kamu lihat dan belum tentu baik dengan hatimu”
Aku hanya menunduk tak berucap sepatah kata apa pun. Sofyan juga terlihat bingung dan bersalah.
“sekarang kamu harus memutuskan, pilih aku atau dia”

Aku hanya terdiam.

“kalau kamu diam saja berarti kamu berat dua-duanya dan jujur aku nggak mau diduakan, jika seperti ini lebih baik aku mengalah, supaya kamu tidak dibuat bingung dan galau terus-menerus gara-gara mikirin 2 orang. Aku akan pergi”
Lalu Dicky meninggalkanku.
Aku harus bagaimana apa aku harus mengorbankan cinta Dicky demi kebahagiaan yang tak pasti…
“Dickyyy… aku masih pingin kamu” teriakku yang sebenarnya tak aku sadari.
Dia berhenti berjalan dan menengok ke arahku.
“Makasih, sudah lebih memilih aku. Aku sayang banget sama kamu”
“iya Dicky aku juga sayang kamu, dan buat Sofyan maaf banget aku yakin kamu pasti ngertiin”

Sumber Klik Disini :