Arsip untuk 07/29/2015

Putri adalah gadis yang beruntung, dia terlahir dari keluarga yang kaya, disayang semua guru dan wajahnhya pun cantik. Jadi tidak heran jika banyak orang yang begitu ingin menjadi kekasihnya. tapi walau banyak yang mengantri tidak ada satu pun yang dapat memikat hatinya, bahkan dia sudah bersumpah tidak ingin berhubungan dengan lawan jenisnya secara serius. Hal itu dikarenakan kejadian 2 tahun yang lalu saat dia duduk di kelas x.

“Put, aku mau jujur nih sama kamu” kata Ravan yang merupakan kekasihnya.
“mau jujur tentang apa beb?” tanya putri penasaran
“tapi kamu jangan marah ya.”
“iya, aku tidak akan marah kok. Kan kamu sudah mau jujur.” jawab Putri dengan memberikan senyuman manisnya pada Ravan
“aku… aku sebenarnya tidak ada rasa sama kamu.” Ucap Ravan kontan membuat Putri bingung, kenapa kekasih yang begitu mencintai dan menyayangi dirinya tiba-tiba berkata seperti itu.
“maksud kamu apa beb?” tanya Putri
“aku pacaran sama kamu bukan karena perasaan cinta tapi aku terpaksa. Kamu tahu kan aku itu tidak menonjol di sekolah, jadi aku pikir kalau aku pacaran sama kamu, aku bisa dikenal banyak orang dan itu memudahkan ku untuk mendapatkan teman.” jawab Ravan
“jadi selama ini kamu memanfaatkan ku. Dan selama ini kamu bilang cinta sama aku juga itu hanya sebuah kebohongan?”
“maaf, semua ucapan ku padamu itu hanya basa-basi saja.”
“kamu jahat Van. JAHAT!!!”
Semenjak kejadian itulah Putri untuk jatuh cinta lagi dan sebenarnya di hatinya pun masih ada sosok Ravan.

Hari ini Putri dan sahabatnya Tasya sudah janjian untuk jalan-jalan ke mal, sembari menghilangkan beban pikiranya. Tapi tanpa diduga, Putri bertemu dengan Ravan. Laki-laki yang pernah menyakiti hatinya 2 tahun yang lalu. laki-laki itu pun menghampiri Putri dan Tasya.
“hay Put.” sapa Ravan pada Putri
“hay…” Jawab Putri yang berusaha tersenyum manis.
“Kamu tetap tidak berubah yah, masih saja sama seperti dulu. Masih saja suka main di mal.” ucap Ravan
“Hmmm, tidak juga.”
“Oh iya, mumpung kita lagi sama-sama, bagaimana kita makan siang bareng.”
“Terima kasih tapi aku bareng sama teman.”
” idak apa-apa kok Put, aku bisa pulang sendiri lagian mama aku sudah nyariin.” ucap Tasya.

Setelah Tasya pergi meninggalkan mereka berdua Putri dan Ravan pun pergi makan di salah satu kafe di mal itu, disana saling diam tanpa ada satu pun yang berbicara.
“Put, kamu kok diam aja sih?” Tanya Ravan yang membuyarkan keheningan itu,
“Ah, tidak apa-apa kok.” Jawab Putri.
“oh ya, mau gak habis ini kita pergi ke tempat kita main dulu?” tanya Ravan.
“Ah, nggak ah aku capek.” jawab Putri ketus.
“Ayo lah, sebentar aja kok.” paksa Ravan.
“iya deh.” karena terus dipaksa Ravan akhirnya Putri terpaksa menuruti kemauan Ravan. Dan mereka pun pergi ke tempat itu. Disana Putri bisa merasakan kehangatan kenangan mereka berdua dulu, sebelum Ravan memutuskan untuk meninggalkannya.

“Put, kamu inget gak kita dulu sering main kesini?” tanya Ravan yang membuyarkan lamunannya.
“Inget kok, mana mungkin aku lupa tentang orang yang sudah seenaknya yang sudah memanfaatkan aku dan menghancurkan kebahagiaanku.” jawab Putri ketus karena dia kesal dengan tingkah Ravan yang seolah-olah menganggap kejadian itu tidak pernah terjadi.
“kok kamu gitu sih. Aku kan sudah minta maaf waktu itu.” jawab Ravan
“Van, apa kamu pikir dengan kata maaf saja cukup? tidak Van, hati ku hancur berkeping-keping saat kamu memanfaatkan ku dan sekarang kamu muncul lagi di hadapanku dengan wajah seperti itu. Aku sakit Van, aku sedih hati aku hancur.” ucap Putri dengan mata berkaca-kaca yang kapan saja bisa jatuh menghujani wajahnya. Ravan, merasa sangat bersalah, diraihnya tubuh Putri hingga berada di dekapannya.
“Putri, aku ngaku. aku salah dan sekarang aku mulai sadar kalau perbuatan itu sangat melukaimu.” ucap Ravan lirih.
“Van, kalau kamu sadar kenapa kamu dulu tega ninggalin aku. Aku sayang banget sama kamu, cinta banget sama kamu. Tapi hanya dengan kata-kata itu saja kamu dengan teganya menghancurkan rasa sayang dan cintaku padamu.” Putri pun menangis di dekapan Ravan. Dekapan orang yang telah meyakiti hatinya tapi entah kenapa, sampai sekarang Putri tidak bisa melupakan sosok laki-laki itu
“aku tahu Put, saat aku meninggalkan mu waktu itu kamu menangis dan saat itu juga aku menyesali perbuatan ku. Sekarang aku kembali untuk menebus semua kesalahanku.” Jawab Ravan
“menebus kesalahan mu?” tanya Putri yang telah lepas dari dekapan tubuh Ravan.
“iya, untuk menebus semua kesalahan ku padamu aku butuh bantuan darimu. Kamu maukan bantu aku?” tanya Ravan lembut
“Maksud kamu apa Van. Aku benar-benar tidak mengerti?” Putri bingung dengan ucapan Ravan itu. Kenapa untuk menebus kesalahan harus meminta bantuannya. Tapi perlahan-lahan wajah Ravan mendekati wajah Putri dan berbisik di telinga Putri.
“Bantu aku, agar aku bisa memilikimu lagi?” mendengar hal itu, Putri tidak percaya bahwa laki-laki yang telah menyakitinya akan mengatakan hal itu dan Putri juga tidak tahu harus menerimanya atau tidak karena trauma akan kejadian dua tahun yang lalu masih melekat di benaknya.
“Kasih aku waktu untuk memikirkannya.” ucap Putri
“iya, aku akan terima apa pun keputusannya.” jawab Ravan dengan lembut.

Setelah hari itu, hubungan Ravan dan Putri pun membaik, bahkan mereka juga sering bertemu untuk jalan bersama dan perlahan-lahan cinta Ravan pun hidup kembali di hati Putri.
“Put, ini sudah seminggu semenjak aku nyatain cinta aku ke kamu. apa sudah ada keputusannya.” tanya Ravan yang kebetulan sedang mengajak Putri untuk makan di sebuah kafe. Putri mendadak menjadi malu dan grogi. Dia dilema apakah harus menerima cinta Ravan atau tidak. Jika dia terima dia takut hatinya kan disakiti lagi oleh orang yang sama. Tapi dengan berbagai pertimbangan akhirnya Puti menerima cinta Ravan.
“iya, aku mau tapi ada syaratnya.” ucap Putri
“Apa sayaratnya?” tanya Ravan.
“kamu jangan mengulangi kesalahan kamu seperti dua tahun yang lalu.” jawab Putri.
“iya, aku janji. Aku janji tidak akan menyakiti kamu lagi.” (lebih…)

Sore hari yang sangat panas, pada hari Sabtu tanggal 17 Agustus 2013. Aku bersama kawan-kawan yaitu Rina, Eka, Ratna dan Ratih, bersiap-siap untuk mengikuti kegiatan lomba perayaan hari kemerdekaan yang diadakan dimulai dari rute kp. Neglasari – kp. perbatasan, yang jarak tempuhnya cukup jauh.

Diantara banyak lomba-lomba yang aku ikuti, lomba yang masuk final dan paling berkesan adalah lomba balap karung bersama kawan-kawan, memang sulit sih rasanya ketika harus meloncat memakai karung, otomatis loncatan yang kita lakukan harus refleks supaya balance (seimbang), dan Aku berusaha untuk menyeimbangkanya, setidakya adalah keikutsertaanku di dalam lomba ini.

Semua peserta lomba balap karung telah siap untuk mendengarkan aba-aba yang dilontarkan.
“Siap… mulai!!!” teriak pak Eman selaku pemberi aba-aba.

Lima menit berlalu mncapai setengah dari jalan yang sudah dilalui, tiba-tiba salah satu kawanku yaitu Eka di sebelahku terjatuh tepat di depan ku, sehingga menyulitkan langkahku untuk meloncat, Eka beberapa kali berusaha untuk bangun tapi sangat sulit, mungkin karena kakinya terkilir sehingga menyulitkan langkah Dia untuk berdiri, akhirnya Eka terpaksa berhenti dari perlombaan balap karung dan hanya menjadi penonton di tengah keramaian warga yang menyaksikan lomba. Aku sudah mulai menjauh dari tempat tadi dan berhasil bergerak meloncat menyusul Rina, kedua kawanku yang ada di depanku rupanya meloncat begitu cepat, Aku pun tidak ingin ketinggalan untuk cepat sampai menuju garis finish.

Dengan sekuat tenaga Aku berusaha meloncat dengan cepat, tetapi sayang kecepatanku mulai lemah, Rina yang tadi di belakangku kini mulai bergerak maju menyusulku, tak sampai disitu, Aku berusaha menambah kecepatan loncatan lebih cepat lagi dan akhirnya Aku berhasil melalui Rina. Sekarang targetku harus bisa melalui 2 orang yang ada di depanku, yaitu Ratna dan Ratih, tapi aku juga harus tetap waspada kalau-kalau Rina yang ada di belakangku berhasil melaluiku kembali.

Memang berat mengumpulkan kembali tenaga yang masih tersisa dengan keringat yang bercucuran di kening, serta panasnya siang hari, Aku abaikan dengan masih fokus untuk mengejar 2 orang temanku yang ada di depan. Kecepatan loncatan mereka berdua sangat bagus sehingga beberapa kali aku menambahkan kecepatan loncatan, kecepatan loncatan mereka semakin kencang. Benar-benar hebat Aku pun membutuhkan kecepatan loncatan ekstra untuk bisa menandingi mereka, dengan beberapa tenaga yang masih tersisa dan semangat 45 sesuai dengan hari kemerdekaan yang sedang dirayakan, akhirnya Aku berhasil melalui Ratih, targetku pun tinggal satu orang lagi yaitu Ratna. Dengan garis finish yang tinggal menyisakan beberapa loncatan lagi, aku berusaha mengejar Ratna, tetapi kecepatanku melemah mungkin karena kelelahan dan tenagaku yang terkuras cukup banyak, tak disangka Ratna pun berhasil melaluiku mencapai garis finish dan keluar sebagai juara 1 di lomba balap karung final tersebut, lalu aku sebagai juara 2 dan disusul Ratih sebagai juara 3.

Aku memang harus mengakui kalau Ratna yang tercepat, walaupun tak keluar sebagai juara 1, tetapi aku senang karena bisa melalui kecepatan Rina dan Ratih yang kecepatan loncatannya sama-sama hebat. Aku lalu menghampiri Ratna yang sejak usai lomba terlihat kelelahan, kini berubah dengan wajah yang berbinar-binar, karena perjuanganya tidak sia-sia memenangkan lomba.
“Selamat ya Rat kamu memang hebat!!!” ucapku.
“Makasih yaa!, Kamu juga hebat!” balasnya.
“Sama-sama, makasih!” balasku kembali.
Meskipun lomba balap karung ini tak begitu membanggakan bagi sebagian orang tetapi bagiku, kenangan indah kegembiraan-kegembiraan yang terselip di dalamnya begitu seru, kocak dan berkesan.

Lomba pun usai semua peserta dan penonton lomba pulang kembali ke rumahnya masing-masing.

Sumber Klik Disini :