Arsip untuk November, 2015

Tentang Anda

Posted: 11/30/2015 in Tak Berkategori

Seorang gadis dengan rambut hitam lurus terurai rapi mendatangi kelas kami. Ia anak kelas sebelah.
“Ditunggu Bu Rina di lab. Biologi!” Lalu ia melenggang pergi. Meninggalkan decak kagum teman-teman lelakiku.

Ini jam 9 pagi hari Jumat saat kelasku dijadwalkan belajar biologi di lab. Tadi, Anka, temanku yang imut dan sangat-sangat cantik memberikan kertas-kertas cerpennya padaku.
“Zafi, aku udah selesai loh bikin cerpen!” Katanya semangat.
“Mau baca!”
Jadilah kini aku membaca cerpen yang ditulis Anka sementara Bu Rina menerangkan pelajaran biologi, Jaringan Hewan.

Ceritanya dimulai dari perkenalan Anka dan Satria. Ini lebih bisa dibilang curhatnya Anka. Anka dan Satria itu romantis sekali. Menyenangkan melihat mereka bersama. Aku pernah 2 kali melihat Satria secara langsung. Satria sering datang ke sekolah kami hanya untuk bertemu Anka, dari Jakarta! Seperti itulah Satria sebagai pacarnya Anka, dulu. Mereka baru putus beberapa minggu yang lalu. Jujur saja aku bingung mengapa bisa mereka putus. Beberapa temanku berkomentar bahwa mereka malah akan merasa bersyukur mendapat pasangan “layaknya” Satria.

Sudah lembar ke 10, mulai larut aku pada cerita buatan Anka. Lalu semua pikiranku kabur ke masa lalu. Saat aku punya sebuah roman pula. Roman yang sekilas bisa dilihat biasa, hanya saja aku bisa merasakan hal lain, rasa tulus. Sangat tulus. Seperti Satria pada Anka, tapi dengan versi berbeda. Versi hati ke hati. Entahlah. Tapi dia memang beda. Kami punya cerita yang berbeda.

Wigara. Dia orang yang pertama kali membuat aku tersentak akan pesonanya. Dia orang yang pertama kali membuat aku ‘mood setiap saat. Matanya teduh, gaya bicaranya, dagunya, hidungnya, suaranya, kuku-kuku jarinya, telinganya, senyumnya, giginya yang berderet rapi. Aku –sangat– suka! Dia orang terdekat yang tidak pernah aku sadari awalnya. Tipikal pendiam. Tapi ia bisa jadi sangat riuh jika ada di sekeliling orang-orang terdekatnya. Posturnya ideal bagiku. Tidak kurus amat dan tidak tinggi amat. Tinggiku setelinganya. Kulit Wiga sawo matang, sama sepertiku. Tapi kulit Wiga lebih matang, itu karena ia sering main futsal. Rambutnya bergelombang, hitam legam. Aku menggambarkannya seperti Joe Jonas. Hampir mirip, kecuali warna kulit yang berbeda.

Suara Bu Rina membuyarkan lamunanku.
“Anak-anak tolong lengkapi LKS-nya, Ibu sekarang izin silahturahmi dulu dengan anak kelas 12. Ibu wali kelas 12 ipa 4. Ditinggal dulu ya!” Bu Rina berlalu, ke luar dari lab. Biologi dengan anggun. Bu Rina memang cantik.

Sementara anak lainnya mencari-cari jawaban, aku cuma terdiam. Di depanku ada 5 lembar LKS yang sudah terisi dan Buku Paket Biologi. Eh. Biar aku ralat. Di depanku ada 5 lembar LKS yang sudah terisi dan sedang diconteki oleh anak-anak kelas. Jadi aku melamun. Mengulang lagi cerita awal.
“La, ayo ke kelas. Bengong terus,” Nufa mengajakku beranjak dari kursi lab. Aku, Dinen, Nada, Lisma dan Nufa bersama-sama menuju kelas. Tadi sudah aku kembalikan cerpen buatan Anka itu. Jujur aku suka ceritanya, tapi aku benci situasinya. Cinta terkadang menyebalkan.

“Hayo loh! Yang ulang tahun kok ngelamun terus,” Ari menghampiriku. Tidak dia kebetulan lewat, habis salat Ashar sepertinya.
“Apa?”
“Kenapa sih? Wiga?” Ari terdiam di sebelahku. Ia seperti biasa, bersiap-siap menampung ceritaku. Tapi aku cuma tersenyum.
“Gak penting ri. Udah sana kalau mau pulang, aku lagi melakukan ritual sore” Aku mengibas-ngibaskan tanganku, menyuruh ia pergi sambil tersenyum.
“Oh yang di lapang? Haha. Bener gak cerita? Ya udah. Aku pulang duluan ya. Jangan kayak anak hilang kamu! Jangan malu-maluin! Aku ada nasihat, semua indah pada waktunya, ”
“Iya ri,”
“Selamat ulang tahun ya pemuja Wigara! Semoga jadi deh kalian,”
“Apaan sih?”
“Dah! Inget jangan kayak anak hilang!”

Aku mengacungkan jempolku sambil tertawa. Ari lalu pergi. Inilah yang aku butuh, aku hanya ingin merenungkan sendiri. Merenungkan kebingungan yang orang lain belum tentu mengerti. Sebenarnya dari tempat ini pula –lantai 2 gedung sekolah– Aku bisa memperhatikannya. Asyik bermain bola, tapi wajahnya. Tidak seperti dulu. Seperti dulu saat aku pertama kali menyukainya, wajah yang teduh dan meneduhkan. Sial. Walaupun dia berubah, perasaanku tidak berubah sama sekali. Bodoh. Aku gagal untuk melupakan! Aku memang tidak bisa lupa! Saat sedang melamun, tiba-tiba ‘mereka’ datang!

Jam 17.05 sekarang. ‘Mereka -orang-orang tidak tahu malu itu siap-siap pulang dan aku masih menunggu jemputan. Semua bajuku basah. Sialan Ari! Ia merancang untuk acara pembanjuran di hari ulang tahunku! Ia pura-pura pulang dan akhirnya memberi kode untuk pelaksanaan acara. Dia tahu keadaan hatiku tapi tetap saja melakukan acaranya.
“Zafi, pulang dulu ya? Selamat ulang tahun.” Tiwi tersenyum sambil melenggang pergi. Huh.
“Mba, mandi yang bersih ya? Tadi air banjurannya dari kolam ikan” Kata Deni tertawa sambil menunjuk kolam ikan. Aku langsung bergidik.
“Dah Zafi! Ini ada kado dari kita, semoga bermanfaat,” Nori, Meka, Terry, dan Niko menyerahkan kado itu, cukup besar.
“Makasih” kataku sambil tersenyum kecil.

Ari dan Bagus menghampiriku. Kue sisa peperangan tadi diletakkannya di samping tempat aku terduduk diam.
“Ya, ini hadiah terakhirnya. Pulang dulu ya?” Bagus tersenyum padaku. Aku cuma mengangguk malas.
“Dadah, pemuja…”
Aku langsung menatap galak, Ari langsung tergelak sambil menumpangkan tangannya ke pundak Bagus, berjalan pulang.

Di pinggir lapangan, Wiga sedang minum botol air mineral yang harganya 1500 rupiah. Dulu Wiga sering mencoba untuk memasukkan bekas botol air mieral itu ke tong sampah. Sayang sepertinya atraksi itu tidak bisa ku lihat sore ini, air mineral di tangannya itu masih penuh. Setengahnya pun belum habis. Tapi tiba-tiba, “Lempar!” Aku mendengar Wiga menyuruh temannya melempar. Radit. Radit melempar botol mineralnya yang sudah habis pada Wiga. Lalu ia kembali melakukan kegiatannya, menggambar sesuatu sepertinya. Setelah itu, ya bisa ditebak, Wiga lalu melempar botol mineral itu ke tong sampah besar di sudut lapangan. Klotak. Masuk!

Aku tersenyum. Hampir tepuk tangan dan langsung sadar saat tiba-tiba mereka memperhatikanku. Aku diam saja, mengabaikan pandangan mereka. Sesaat kemuadian Radit memekik kecil, memperlihatkan hasil gambar dari sketch booknya, lalu mereka bersiap-siap pulang. Beberapa menit kemudian mereka lewat di depanku, berjalan menuju gerbang. Wiga menatapku, dia menatap tajam. Kami yang matanya bertemu. Huh. Ada yang salah dengan bau badanku? Aku termenung lagi.

Drrrrrt..
I look at you, You look at me
(You can’t tell me you ain’t feeling them butterflies)
It s obvious there’s some chemistry
(I think I know why it feels so right)

Handphone-ku berdeering. Telepon masuk, Ibu.
“Halo bu?”
“Halo,fi. Ibu dan Ayah sudah nunggu depan sekolah,”
“Oh. Tunggu sebentar ya? Zafi kesana.”
“Ya,”
Klik. Ibu mematikan telepon.

Aku menunggu sekitar 7 menit hingga yakin gerombolan Wiga sudah menghilang dari lingkungan sekolah. Lalu segera berlari menuju gerbang saat merasa mereka telah hilang, ternyata mobil merah metalik itu sudah terparkir rapi. Menunggu lama rupanya. Saat membuka pintu, Ibu tersenyum. Ia menunjuk Wiga dan teman-temannya yang sedang menuju tempat parkiran.
“Itu Wiga kan?”
“Iya bu”
“Tampan,”
Aku cuma tersenyum malas.
“Memang… tampan?”
“Ini ada titipan”

Ibu memberikanku sebuah bingkisan kado warna hijau tosca.
“Dari siapa bu?”
“Dari mereka-mereka itu,”
Glek. Aku terdiam sebentar sambil memandang bungkusan hijau tosca itu.
“Gak dibuka?”
Aku menatap Ibu ragu. Ibu bercanda?
“Mana Ayah?”
“Beli sedikit camilan, kamu lama sekali Zafi,”

Aku cuma mengangguk sambil tetap menatap bungkusan itu. Tebal seperti buku. Perlahan aku membuka bungkus kado itu, Ibu sesekali melirikku. Sebelum bungkusan itu selesai dibuka, Ayah masuk mobil.
“Putri Ayah sudah remaja ya?”
“Dari mana mereka tahu ini mobil kita?”
Ibu tertawa kecil. “Itu hadiah dari Ayah dan Ibu untuk putri kami yang sudah remaja sekarang.” Ayah tersenyum sedangkan Ibu menahan tawanya. Aku hanya cemberut.

22.03. Ucapan ulang tahun memenuhi jejaring sosialku, satu nama aku cari: Wigara Sohernan. Ada! Dia mengucapkan selamat pada urutan ke-19.

Wigara Sohernan
“Happy Birthday”
19 September 2011. 15 hours ago via smartphone.

Aku terlonjak senang. Tapi beberapa menit kemudian lonjakan itu hilang. Wigara mengucapkan ulang tahun padaku hanya sebagai teman, tak ada yang spesial. Aku berbisik dalam hati, langsung saja aku tutup jejaring sosialku dan pergi tidur.

Pagi 21 September 2011
Sebuah bingkisan tersimpan rapi di dalam lokerku. Dari siapa?
“Happy Birthday, maaf terlambat ya? Masih menunggu di sore hari kan? Semua akan indah pada waktunya. Pasti.”

Sumber Klik Disini :

“Ahh Bodo amat!” itulah kataku kepada Amel, mantan pacarku.
Sebenarnya aku dan dia telah berpacaran 5 tahun, lama kelamaan sikapnya yang sayang sama aku, lama-lama ada yang aneh dengan dia. Benar saja, malam itu aku baru pulang dari balap liar di kota X, ternyata aku melihatnya dengan lelaki lain. Sedih, emosi saat ku melihatnya, namun hal itu aku tahan sampai esok hari.

Esok harinya, aku bertemu dengan dia, pertemuan yang bertanda berakhirnya kisah cinta kami.
“Amel” kataku padanya.
“Iya, ada apa?” sahutnya.
“Aku ingin bicara padamu sebentar” kataku lagi padanya.
“Ada apa?” tanyanya.
“Aku ingin kisah cinta kita berakhir sampai sini saja” kataku sambil menahan air mata.
“Maksudmu?” tanya Amel yang langsung bingung.
“Iya, hari ini kita putus!” tegasku padanya.

“Tapi kenapa?” tanya dia kembali.
“Jangan kira aku tidak melihatmu semalam dengan lelaki lain”
“Jangan salah paham dulu, aku dan dia cuma…” belum selesai bicara, aku langsung memotong pembicaraannya.
“Jangan banyak alasan, mulai hari ini gak ada lagi aku dan kau, yang ada hanya lo dan gue” jelasku.
“Tapi…” katanya sambil mengangin.
“Ahh bodo amat!!” kataku sambil meninggalkannya yang masih menangis.
Sedih, sakit perih, itu yang aku rasakan saat itu.

Tujuh tahun aku dan dia hilang kontak dengan dia. Sampai suatu hari
“Taufiq, lo masih ingat Amel gak?” tanya sahabatku, Dani.
“Ya gue masih ingat sama dia, kenapa?” tanyaku.
“Fik, hari ini dia kecelakaan” tegasnya.
“Lalu dia dirawat di rumah sakit mana?” tanyaku panik.
“Di rumah sakit—” katanya.
Langsung aku tancap gas dengan mobil ilegal race-ku.

Sampai di rumah sakit yang dituju, aku langsung menanyakan kamar di mana dia dirawat, setelah aku mendapat informasi, aku langsung ke ruangan di mana dia dirawat.
“Amel!!” teriakku.
“Amel tolong sadar mel, aku minta maaf tentang kejadian 7 tahun lalu”
Beberapa saat kemudian, dia siuman.
“Taufiq? lo mau ngapain ke sini?” tanyanya.
“Gue dapat kabar dari Dani kalau lu kecelakaan dan dirawat di rumah sakit ini, aku langsung ke sini”

“Mel gue mau minta maaf tentang kejadian 7 tahun lalu, lo mau kan maafin gue?” tanyaku.
“Iya pik, gue mau maafin lo” kata Amel.
“Satu lagi mel, kamu mau kan balikan sama aku?” pintaku.
“Iya pik, aku mau balikan sama kamu” katanya.
Saat itu juga, dia telah tiada.

Esoknya di pemakaman, setelah semuanya bubar.
“Maaf aku belum sempat bahagiain kamu, aku minta maaf banget.”

Sumber Klik Disini :

“Dina, kamu mau ke mana?” tanya Dita sambil mengejarku.
Aku menoleh ke arah Dita, temanku. Aku menatap Dita dengan heran karena wajah Dita tampat terlihat khawatir.
“Aku mau ke ruangan kosong itu,” jawabku.
“Apa?!” Dita terkejut, lalu ia mulai ketakutan. “Kamu jangan ke sana!” teriak Dita sambil menarik tanganku.
“Kenapa?” tanyaku. Aku berusaha melepaskan tanganku, tapi Dita tidak mau melepaskan.

“Kamu tidak tahu, Dina. Bahwa, ruangan kosong itu angker,” jawabnya. Aku hanya terdiam mendengar jawaban Dita, tapi aku tidak percaya.
“Aku tidak percaya!” ucapku. Dita menatapku dengan tajam. Ia benar-benar terkejut mendengar jawabanku.
“Kamu harus percaya dengan perkataanku, Dina. Dulu, ada seorang gadis yang bernama, Risya. Risya dibunuh oleh kawan-kawannya karena Risya sangat dibenci oleh kawan-kawannya. Sejak ia dibunuh, arwahnya mulai bergentayangan di ruangan kosong itu, tempat peristiwa itu terjadi,” cerita Dita.

Tapi, aku masih tidak percaya dengan ceritanya Dita. Mungkin itu ceritanya yang dibuat-buat supaya aku merasa ketakutan.
“Huh! Aku tidak peduli! Aku masih tidak percaya padamu! Kalau kamu takut, kamu pergi saja!” bentakku pada Dita.
“Iya sudah kalau kamu tidak percaya!” sahut Dita dengan marah, sambil beranjak pergi. Aku bergegas memasuku ruangan kosong itu. Ruangan itu memang terlihat kosong! Lantai-lantai yang masih kotor dan banyak sarang laba-laba yang menempel benda-benda yang tersisa di ruangan ini.

Tiba-tiba, aku merasa ada seseorang yang memegang tanganku. Ketika aku menolah ke belakang, tidak ada orang. Aku mulai merasa ketakutan saat aku melihat lantai-lantai yang penuh banyak darah. Dan ulat-ulat yang menjijikkan.
“Sepertinya aku harus pergi dari sini,” gumamku. Aku segera berlari menuju pintu, namun aku terkejut melihat sesosok gadis muncul di hadapanku. Gadis itu memegang sebuah pisau tajam yang sudah berlumuran darah.
“Si… siapa kamu?” tanyaku ketakutan. Gadis itu hanya diam saja. Wajahnya terlihat sangat seram. Baju yang ia kenakan juga penuh darah. Badannya penuh dengan goresan-goresan luka dan sebagian badannya mulai membusuk.

Gadis itu segera mendekatiku. Aku pun semakin ketakutan. Gadis itu menatapku dengan dingin. Ia terus berjalan mendekatiku. Bau yang tidak sedap tercium olehku.
“Kenapa, kamu di sini? Seharusnya, kamu tidak usah masuk ke dalam ruangan ini. Karena, kamu telah memasuki ke dalam ruangan ini. Maka, kamu harus dibunuh!” kata gadis itu sambil mengangkat pisaunya.
“Jangan!!!” teriakku ketakutan. Aku langsung berlari dan ke luar dari ruangan kosong itu. Tiba-tiba, aku tidak sengaja menabrak seseorang. Sehingga kami terjatuh.

“Dita!” Rupanya, orang yang ku tabrak tadi adalah Dita.
“Aduh, sakit! Eh, Dina. Kamu kenapa?” Dita segera menolongku berdiri.
“Aku tadi bertemu hantu di ruangan kosong itu,” jawabku ketakutan.
“Ka… kamu bertemu dengan hantu,” jawab Dita terbata-bata. Aku mengangguk.
“Aku kan, sudah bilang padamu jangan masuk ke ruangan kosong itu. Itulah akibatnya,” kata Dita.
“Maafkan aku. Aku memang salah,” jawabku merasa bersalah.
Sejak saat itu, aku tidak memasuki ruangan itu. Ketika aku melewati ruangan kosong itu, aku melihat gadis itu menatapku sambil terseyum sinis, lalu ia pun menghilang.

Sumber Klik Disini :

Sebelum masuk, Reva mengamati kafe itu sejenak. Tertera tulisan besar warna merah di jendela kaca besar: Jojo Coffee Shop. Segalanya tampak usang. Bangunan ruko mungil berlantai dua itu benar-benar tak terawat, kusen-kusennya rapuh dimakan rayap. Reva memasuki Kafe itu dan bel pintu pun berdenting. Ruangan itu nampak kosong, hanya ada beberapa set meja dan kursi yang tertata rapi. Mata Reva tak berhenti jelalatan memperhatikan langit-langit tinggi kafe itu, dengan beberapa lampu yang mengantung memancarkan cahaya seadanya. Dinding yang bercat putih dan hanya ada beberapa lukisan tua yang menempel, tak ada ornamen atau dekorasi yang berarti. Reva lalu menganguk-anggukkan kepala, seolah ia mengetahui sesuatu dan membuatnya mengerti.

“Selamat Pagi Rev?” Seorang laki-laki berwajah tampan dan memakai kemeja hitam tiba-tiba saja datang dari pintu di sudut ruangan.
Reva terperanjat kaget karena sesorang menyebut namanya, “Kevin? Kok kamu di sini?”
Lelaki jangkung bernama Kevin itu tersenyum lebar melihat ekspresi Reva yang setengah kaget. “Silahkan Nona duduk dulu, sebentar ya aku buatkan minum,” Kevin menggiring Reva dengan lembut ke tempat duduk lalu berjalan menuju counter.

Kevin menahan nampan di lengan kirinya, sedangkan tangan kanannya meletakkan satu gelas Moccacino ke atas meja dengan hati-hati, lalu menarik bangku dan kemudian duduk dengan manis.
“Kok kamu ada di sini sih?” Ekspresi bingung masih tergambar di wajah Reva.
Kevin pun terkekeh, “Aku sih udah punya feeling kita pasti ketemu,”
“Maksud kamu?” dahi Reva makin berkerut
“Sebenarnya aku yang telepon kemarin, terus minta kamu datang ke sini,” Kevin tertawa kecil.
“Jadi ini Kafe punyamu?”
Kevin menggeleng, “Ini kafe orangtuaku,”

Reva sedikit takjub, pasalnya Reva mengenal pria tampan ini sebagai seorang pelayan di sebuah kafe yang pernah ia desain di daerah kemang, semenjak itulah Reva mengenal Kevin yang ramah walau hubungan mereka hanya sebatas pelayan dan pelanggan.
“Terus kenapa kamu kerja jadi pelayan padahal punya kafe sendiri?”
“Itu sih cuma hobi doang…” Kevin terkekeh tidak serius menjawab pertanyaan Reva.
“Iya deh..” Reva pun cemberut lalu menyesap Americano-nya.

“Jadi kamu pengen konsep desainya kayak gimana?”
“Aku serahkan semuanya ama kamu Rev, kamu bebas berekspresi,” Ucap Kevin dengan yakin.
“Ha?” Reva terperangah,
Kevin lalu menangguk dan tersenyum manis, “Aku suka semua kafe-kafe yang pernah kamu desain,”
Wajah Reva tiba-tiba tersipu dan sedikit memerah, ia pun menghabiskan sisa Americano-nya dengan cepat untuk menyembunyikan ekspresinya tersebut, “Aku juga suka semua Kopi yang pernah kamu buat,” Reva menimpali sambil tertawa. Kevin pun ikut tergelak.

Kini Jojo Coffee shop terlihat lebih baru. Desainnya serba mini malis, tapi ada aksen warna-warna hangat, seperti pintu dan kusen berwarna cokelat, poster-poster secangkir kopi yang membuat para pelanggan ingin segera memesannya. Interiornya pun tidak kalah memukau. Dari mulai pencahayaan hingga furniture, Kevin segera tahu jika ia memang tidak salah menyerahkan semuanya pada Reva. Setelah acara pembukaan Jojo Coffee Shop selesai dan para tamu satu persatu meninggalkan kafe, Kevin dan Reva duduk di dekat jendela sambil beristirahat dan sedikit merayakan kerja keras mereka selama satu bulan dengan menikmati frozen caramel moccacino lengkap dengan satu scop es krim vanila disiram dengan saus caramel yang manis. Tanpa banyak basa-basi lagi Reva langsung meneguk kopi favoritnya itu.

“Rev, kamu pasti cape. Sebaiknya kamu–” Mata Kevin tiba-tiba menatap Reva, lalu tangannya terjulur ke arah wajah Reva, dan ia menyentuh ujung bibir Reva yang terdapat sisa es krim yang menempel. Wajah Reva menjadi memanas, ia hampir menjatuhkan gelasnya begitu saja.
“Makasih,” jawab Reva gugup. Kevin tersenyum memamerkan deretan giginya yang sempurna dan penuh karismatik, membuat Reva semakin salah tingkah.

“Aku sering lihat kamu jalan ke kafe di kemang sama cowok, kok gak di ajak ke sini?” Ucap Kevin tiba-tiba.
“Ha?” Reva sedikit terkejut, “Oh… itu Ben, dia pacarku,” lanjut Reva datar.
“Oh.. pacarmu ya,” Kata Kevin datar dengan ekspresi tak biasa.
“Eh By the way… sebenarnya siapa yang memberi nama Jojo Coffee shop ini?” Tanya Reva mencoba mengganti topik.
“Kedua orangtuaku… Jojo itu artinya Johan dan Joana, diambil dari nama mereka sendiri,” Ujar Kevin.
“So sweet banget, lalu orangtuamu sekarang tinggal di mana?” Tanya Reva lagi.
“Mereka sudah tidak ada… meninggal karena kecelakaan mobil saat usiaku sepuluh tahun,” ujar Kevin diakhiri dengan segurat senyum yang dipaksakan.
“Maaf, aku turut berduka,” Ucap Reva penuh nada penyesalan.
“Gak apa, itu sebabnya aku ingin meneruskan usaha mereka sekuat tenagaku, dan itu pun alasan mengapa aku bekerja sebagai seorang pelayan,” Jelas Kevin.

Entah apa yang ada dipikiran Kevin. Ia tidak suka terlalu terbuka kepada orang lain. Tapi di depan Reva setiap kata mengalir begitu saja dari mulutnya. Kevin pun menghabiskan sisa frozen caramel moccacino, lalu menatap wajah Reva yang terlihat masih merasa bersalah.
“hari ini aku ulang tahun loh Rev…” Kevin tersenyum. Sekejap Reva pun membelalakkan mata.
“Kalau begitu kita harus rayakan,” Reva menggosokan kedua tangannya, bersemangat. Ia beranjak menuju dapur dan kembali dengan sebuah cupcake yang tertancap lilin yang agak kebesaran. Reva menyanyikan lagu, “Happy birthday,” untuk Kevin dengan bersemangat. Di penghujung nyanyian Kevin pun meniup lilin tersebut dengan perasaan bahagia.
“Makasih banyak Rev,”

“Ulang tahun ke berapa?” tanya Reva.
“Tepat kedua enam,” Kevin tersenyum simpul
“Astaga! Ternyata kita seumur,” Reva membelalak lagi.
Kevin tertawa lebar, “Kelihatan lebih muda ya?”

Mereka pun tergelak tertawa, namun tawa mereka pun berhenti ketika sebuah mobil Land Cruiser parkir di depan Jojo Cofee Shop. Si pemilik mobil itu tidak turun dari mobilnya, ia hanya menurunkan jendela mobilnya lalu membunyikan klakson. Otomatis Reva beranjak dari tempat duduknya dan bergegas menyambar tasnya.
“Ben sudah menjemputku, aku pergi dulu, makasih kopinya, dan sekali lagi selamat ulang tahun,” Reva berbicara dengan terburu-buru.
Kevin memandang ke arah mobil berwarna hitam itu, sampai wanita mungil itu menaiki mobil, ia melihat pria itu memberi ciuman di pipi sebelah kanan Reva. Kevin pun berbalik badan dengan mulut terkunci dan hatinya terasa diremas.

Jam tangan Reva menunjukkan pukul 10, sudah terlalu larut untuk makan malam. Reva mengunyah french fries-nya dengan malas. Di depannya, Ben memotong-motong steak tenderloin-nya menjadi potongan kecil.
“Kamu gak harus kerja sampai malam-malam gini,” kata Ben dingin.
“Aku tidak sedang bekerja, sudah ku bilang aku hanya datang memenuhi undangan,” Dahi Reva berkerut.
“Aku kayaknya sering lihat cowok tadi yang ada di kafe itu,”
“Dia itu tadinya pelayan kafe yang sering kita datengin itu loh yang… sekarang dia punya kafe sendiri.. hebat kan.” Kata Reva dengan nada bangga.
“Aku gak peduli, Pokoknya aku gak suka!” kata Ben ketus.

“Gak perlu sewot kayak gitu, kenapa harus gak suka?” sahut Reva, lalu menatap Ben.
“Tentu saja aku sewot! Aku gak suka aja! Pokoknya kamu gak usah deket-deket lagi!” Kata Ben marah.
“Kamu tuh kayak anak kecil, larang-larang orang seenaknya. Kamu cemburu?” Tanya Reva dingin.
“Sudah ku bilang, Aku–” Ben mencoba menjelaskan.
“Cukup!” Potong Reva, Kesal. “…aku mau pulang aja,” Reva menghela napas. Ia mengelap mulutnya, mengambil tas, dan pergi meninggalkan Ben tanpa berkata apa-apa.
“Reva!” Ben berteriak. Beberapa orang pelanggan restoran itu menoleh.

Dalam lift yang membawanya turun. Reva tak berhenti menggerutu dalam hati atas sikap Ben yang seperti anak kecil. Akhir-akhir ini mereka sering bertengkar, topik pembicaraan mereka mulai tidak menarik dan membosankan. Pintu lift terbuka. Reva melangkah ke luar. Di sebelah sisi kiri lift terdapat toko yang menjual barang-barang pecah seperti gelas dan piring-piring. Reva tertarik dengan sebuah mug lucu yang dipajang di etalase tersebut. Beberapa detik kemudian ia tersenyum lebar sambil memasuki toko tersebut.

Sore itu sehabis hujan lebat, matahari kembali menampakkan dirinya dari balik awan yang kini telah berwarna cerah kembali. Kevin sedang membersihkan jendela yang basah karena cipratan air hujan, walau kini ia mempunyai dua orang karyawan baru di Kafenya tesebut.
“Kevin!” Suara yang ia kenal, nada ceria yang ia hafal.
“Hai, Rev,” Kevin tersenyum, lalu Dahi Kevin mengerut seketika, “Kamu kenapa?”
Reva terlihat basah kuyup, walau senyum mengembang di wajah Reva, namun nampak jelas seluruh tubuhnya bergetar karena kedinginan. Tanpa pikir panjang Kevin meraih lengan Reva yang mungil, dan menuntunnya memasuki kafe. Beberapa kepala menoleh menatap mereka.
“Hot Chocholate, dua ya, antar ke atas,” perintah Kevin kepada karyawan barunya itu.

Di lantai dua, Kevin memberi Reva handuk beserta kaos untuk mengganti pakainnya yang basah. Lalu Kevin kembali ke lantai dasar untuk mengambil cokelat panas.
“Kenapa bisa hujan-hujanan sih?” Tanya Kevin, sambil menaruh satu gelas cokelat panas di atas meja.
Air masih menetes dari rambut Reva, membasahi kaos Hard Rock Cafe yang terlihat kebesaran untuk tubuhnya yang mungil. Kevin pun mencoba membantu mengeringkan rambut Reva dengan handuk. Kini mereka berhadap-hadapan. Aroma parfum Caiman rouge menguar dari tubuh Kevin, sebersit perasaan aneh menyusupi hati Reva.

“Tadinya aku mau jalan ama Ben, tapi gak jadi… lalu ku putuskan untuk berjalan kaki ke kafemu…” Reva menengadah menatap wajah Kevin yang bersih dan terawat itu, lalu menghentikan tangan Kevin yang masih menggosok rambutnya dengan handuk, lalu meraih tasnya.
“Ini ada hadiah buat kamu,” Reva mengeluarkan sebuah kotak yang tebungkus kertas kado yang sedikit basah. Kevin terdiam. Kehilangan kata-kata.
“Makasih. Rev,” Ucap Kevin setengah berbisik.

Reva tersenyum kecil. Namun, dalam hitungan detik senyumannya sirna. Tiba-tiba Kevin mendekapnya, kini seluruh tubuh Reva menjadi kaku dan jantungya berdebar amat kencang seperti ingin ke luar dari rongganya. Perlahan, Kevin melepaskan rangkulannya.
“Besok aku mau adain pesta kecil-kecilan, aku pengen kamu datang,” kata Kevin dengan nada bersemangat.
Reva hanya mengangguk, hatinya masih berdentum kencang tak karuan.

Sore itu Reva merasa jengkel kepada Ben yang tak mau beranjak pulang. Hampir seharian Ben nongkrong di kosan Reva.
“Yang, kamu gak mau pulang dulu?” Reva memberanikan diri bertanya pada Ben yang sedang asyik main game di smartphone-nya.
“Kenapa emang? Kamu gak suka aku di sini ya?” Kata Ben datar.
“Bukan gitu, aku mau ke luar ada acara ke ulang tahun temen, aku takut kamu bete aja di sini sendirian,”
“Oh… mau ke mana?” Ben masih menatap layar smartphone-nya
“Ke Jojo Coffee Shop, Kevin undang aku ke ulang tahunnya,” Ucap Reva ragu-ragu.

“Oke, kalau gitu aku ikut,” Ben langsung beranjak dari sofa dan mengambil kunci mobilnya di meja.
Sial! Reva merasa upaya mengusir Ben dari kosan itu gagal, dan fatalnya Ben memutuskan ikut dengan Reva ke Jojo Coffee Shop.
“Bukannya kamu gak suka sama dia?” Tanya Reva spontan.
“Karena kamu marah kemaren lusa. So, aku nyoba ngertiin kamu, daripada berantem kayak kemaren aku mending ikut,” Ben tersenyum tipis.

Sekejap fantasi Reva porak poranda ia hanya bisa mengunci mulutnya rapat-rapat menyembunyikan rasa kesalnya. Ia tak ingin Ben mencurigai dirinya.
“Oke, terserah kamu aja,” Reva mencoba merespon setenang mungkin
Sesampainyanya di Jojo Coffee Shop, Reva turun dari mobil Ben dengan sedikit semangat. Dengan adanya Ben di sisinya, ruang gerak Reva mendekati Kevin akan terbatas. Ben akan selalu memperhatikan gerak-geriknya dan akan membuat Reva tidak nyaman.

Jojo Coffee shop nampak ramai dengan dentuman musik Dj yang menggema, semua bangku hampir terisi dan didominasi oleh tamu laki-laki, di belakang counter berdiri Kevin mengenakan kemeja dengan lengan tergulung dan sangat pas di badannya yang bidang, rambutnya tertata rapi dan aroma tubuh yang wangi. Kevin memamerkan senyum lebar ke arah Reva yang baru datang, dan menghampiri Reva dan Ben. Kevin menyalami Ben dengan sangat sopan dan santun serta mempersilahkan mereka duduk.

“Mau minum kopi apa Ben dan Reva?” Kata Kevin dengan antusias.
“Espresso Macchiato saja dua,” Kata Ben singkat. Reva melihat ekspresi Ben yang seperti tidak nyaman duduk berlama-lama di sini.
“Aku gak suka cara dia natap..” kata Ben tiba-tiba. “…Aku udah curiga dari dulu sama dia, makanya aku bilang gak suka. Aku gak nyaman…” Ben berbicara setengah berbisik, membuat Reva harus mencondongkan kepala ke arah Ben.
“Temen kamu itu kayaknya Gay!”
“He?” Reva terkejut mendengarnya. “Jangan sembarangan, kalau cemburu gak usah ngarang gitu,” timpal Reva dengan ketus.
“Coba kamu perhatiin aja mereka,” Kata Ben kesal sambil menujuk ke arah para tamu yang lain.

Reva memandang ke sekitar ruangan Kafe dan memperhatikan tamu-tamu yang datang. Terbersit perasaan aneh, ada atmosfir yang berbeda yang Reva tidak pernah rasakan sebelumnya, ia merasa asing. Hampir semua tamunya laki-laki dan berpasang-pasangan. Gerak gerik mereka terlihat aneh dan membuat tidak nyaman. Kevin datang dengan nampan berisi dua gelas Espresso Macchiato dan dua piring Chesee Cake, ia menaruh di meja dengan hati-hati dengan wajah mengembangkan senyum lebar.

“Silahkan diminum,” Kevin mempersilahkan Ben untuk meminumnya dengan nada riang, sementara tangannya mengelus-elus bahu Ben.
Tenggorokan Reva pun tercekat.

Sumber Klik Disini :