Archive for the ‘Anak’ Category

Jangan Tiru Tiru

Posted: 08/25/2015 in Anak
Tag:

Rani Natasya adalah seorang model cilik terkenal. Ia adalah model cilik sebuah majalah terkenal. Rani terkenal ramah dan baik hati, tapi apabila marah. Wuiiih, gak kebayang.

“Halo, Rani. Boleh minta tanda tangan, gak?” pinta Tuti saat di kelas. Dengan baik hati, Rani memberikan tanda tangannya. Tuti tentu saja sangat berterima kasih.
“Ah, tidak perlu berterima kasih.” Rani menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal, tersipu-sipu. Tuti tak peduli, asyik menuliskan sesuatu di buku notenya.
“Lihat, deh,” Tuti mengulurkan buku notenya kepada Rani. Rani melihatnya dan matanya langsung melotot.
“Hah?! Apa maksudnya ini?” Rani nampak marah sambil melempar buku note Tuti. Tuti mendorong Rani sampai terbentur dinding.
“Dasar sombong!” Tuti berlari meninggalkan Rani yang mengelus kepalanya.
“Huuh! Sebal!” Rani menghentakkan kakinya sambil terus menggerutu.

Tuti begitu tega pada Rani, sahabat baiknya sejak TK. Entah kenapa, sekarang Tuti berubah. Ia mulai bermusuhan dengan Rani dan mulai jahat padanya. Salah apa aku? Rani mencoba berpikir, apa kesalahannya?

Pagi ini, Rani berjalan gontai menuju kelasnya. Sampai di kelas, ia dikejutkan dengan sesuatu yang menghebohkan.

“Hello, Rani,” Tuti mengibaskan rambut cepaknya sambil menatap sinis Rani. Rani hanya terdiam sambil melangkahkan kakinya menuju mejanya.
“Hei, jangan sombong, dong,” Tuti mencegah Rani. Rani mendorong Tuti sehingga terjatuh berdebam.
“Hei! Rani tega banget!” Riyo berteriak. Riyo adalah salah satu sahabat Tuti. Tanpa perasaan bersalah, Rani diam saja dan terus berjalan.
“Heh! Mentang-mentang model jadi sombong, ya!” Riyo menghentikan langkah Rani. Rani menatap Riyo.
“Asal kau tahu, Yo. Siapa suruh Tuti memakai baju bermodel sama dengan favoritku?!” Rani berlari sambil menangis, meninggalkan Riyo yang hanya dapat bengong.

Memang, Tuti memakai baju favorit Rani. Kaus merah bergambar hati dan Menara Eiffel, dengan bordiran bunga-bunga edelweiss, rok balon hitam dengan pita besar di sisi kiri. Bukan hanya itu, tas, pensil, pulpen, boneka sampai anting-anting, semua ditiru Tuti. Jelas saja Rani jengkel.

“Huuh! Tak ada yang mengerti perasaanku,” Rani duduk di bangku taman sambil menggerutu. Ia menendang-nendang batu kerikil di depannya.
“Sebal!” gerutu Rani sambil memukul bangku taman. Wajahnya telah sembab karena menangis.

Oh, ternyata Tuti tidak main-main! Dia mengikuti semua kesukaan Rani, sampai sedetail-detailnya. Jelas saja Rani selalu jengkel. Dia juga mengikuti gaya rambut Rani yang cepak dan sering di-shaggy.

“Kamu kenapa sih, Ti? Meniru-niru aku terus!” tanya Rani jengkel sambil melipat tangannya. Dengan sombong, Tuti sengaja mengibaskan rambutnya.
“Oh, sombong betul kamu ini!” Tuti terlihat sinis. “Hah? Menirumu? Gak level kali, niru-niru gayamu!”
Rani makin geram. “Huh! Kalau begitu, kita lihat besok! Besok ada acara pencarian model cilik di majalah terkenal. Datanglah, dan kita akan bersaing!”
“Oke!” Tuti tertawa. “Lihat saja! Aku akan mengalahkanmu!”
“Terserah apa katamu!” Rani mendengus sebal. “Di Mall jalan Merpati nomor 10, jam 7!”

Akhirnya tibalah acara pencarian model cilik. Rani sudah siap dengan segala-galanya. Tuti juga terlihat sangat sangat percaya diri pagi itu.

“Ini dia peserta pertama, Tuti!” seru sang MC, Kak Andre. Tuti maju, ia mengenakan kaus sesiku dengan gambar Strawberry Shortcake berwarna hitam-merah, celana legging selutut dengan warna abu-abu.

Tuti berpose dengan bisa dibilang cukup genit. Dengan gaya centil, ia memutari panggung dengan high heels-nya yang cukup tinggi. Lalu, berpose kembali dan berputar. Tanpa disadari, ia nyaris terjatuh karena tidak terbiasa memakai high heels.
“Hhhmph,” Rani menahan tawanya karena melihat kejadian itu. Tuti terlihat malu dan segera turun.
“Ini dia, peserta kedua, Rani!” Kak Andre memanggil Rani.

Rani mengenakan dress putih bergambar Menara Eiffel dan celana legging semata kaki berwarna biru cerah.
Rani selalu tersenyum sambil berpose seperti model biasa. Ia memutar ke kiri, lalu ke kanan. Setelah itu, ia berputar memamerkan dress cantiknya. Tak lama, juri dan penonton bertepuk tangan.

“Nah, inilah saatnya penentuan pemenang!” Kak Andre beserta Kak Nila, si panitia, maju ke atas panggung. “Juara 3 adalah Fifi!”
“Juara 2 adalah Hanifah!” Jantung Rani berdebar saat penentuan juara pertama. Ia berdoa, berharap agar dirinya menang.
“Dan juara 1 adalah..” Kak Andre berhenti sesaat. Jreeeng! Jreeeng! “Rani!”
Rani sangat gembira. Dia bersyukur karena dapat menang. terlihat raut Tuti yang kecewa. Rani menepuk bahu Tuti.
“Kamu sudah berusaha, lain kali belajar memakai high heels, ya!” hibur Rani sambil memeluk Tuti. Tuti mengangguk malu.

Kini, Tuti sadar. Bakatnya memang bukan di modeling. Rani pun berusaha mengasah bakat Tuti yang selama ini terpendam.

“Waah! Kamu pantas sekali menjadi reporter, tuturan kata-kata kamu bagus banget!” ucap Rani suatu hari. Tuti mengernyitkan dahi.
“Yang benar?” Tuti terlihat tak percaya. “Aku tidak merasa cocok jadi reporter, kok! Aku sudah yakin menjadi pelukis!” Rani tertawa.
“Benar, kok!” Rani menyakinkan.

Akhirnya Tuti belajar menjadi seorang reporter cilik. Rani membantu melatih Tuti. Wah, mereka kembali akrab, ya!

Sumber Klik Disini :

Masa Kecilku

Posted: 08/12/2015 in Anak
Tag:

Hai teman-teman, aku mau cerita nih tentang masa kecilku. Kalau dipikir-pikir yang enak didengar itu masa lalu, terutama masa laluku. Sebenarnya sih banyak yah masa laluku, tapi aku mau nyeritain beberapa saja.

Salah satu cerita menarik menurutku adalah waktu umurku 5 tahun, tepatnya, aku masih anak TK nol kecil. Pada saat itu aku baru memasuki taman kanak-kanak, jadi aku belum kenal betul sama teman-temanku.

Singkat cerita, aku dikenal sebagai anak yang pendiam di TK tapi kalau di rumah enggak, nah jadi wajar saja kalau waktu itu aku belum mempunyai teman, aku juga merupakan anak yang susah bergaul dan aku juga tidak mempunyai nyali untuk berkenalan (gak tahu kenapa).

Pada saat bel istirahat berbunyi aku tidak mempunyai teman untuk bermain, jadi aku sendirian aja deh mainnya. Aku bermain di bawah pohon, nah waktu ada batang pohon yang menurut aku kuat, entah kenapa aku jadi ingin bergelantungan di batang pohon itu. Saat aku bergelantungan tiba-tiba batang pohonnya patah terus aku ikut jatuh juga deh, rasanya sakit.

Saat aku terjatuh ke bawah, dengan perasaan kaget dan malu ternyata ada yang menertawakanku karena aku malu aku cuma senyum aja. Waktu itu dia duluan yang kenalan sama aku tahu bahwa namanya adalah Gaby.

Seingatku Gaby itu kulitnya putih, rambutnya pendek terus badannya sedikit gemuk tapi paras wajahnya cantik. Setelah kejadian itu aku dan Gaby berteman akrab, kenapa? Karena istirahat kami selalu bersama, makan bekal juga selalu bersama, kadang sampai tukaran makanan.

Nah, kejadian itu tidak akan pernah kulupakan, karena walaupun aku jatuh dari batang pohon, walau itu rasanya cukup sakit. Aku dapat mempunyai teman baru yang akrab denganku Gaby, kalau nama lengkapnya sih aku gak tahu. Setelah aku lulus dari Taman Kanak-Kanak, sampai sekarang aku tidak pernah bertemu dengan Gaby.

Sumber Klik Disini :

Masih Ada Bulan

Posted: 08/10/2015 in Anak
Tag:

Bulan ada disaat kita kesepian. Pada suatu hari, hiduplah seorang anak perempuan yang bernama Oline.
Oline hidup dalam kebutuhan ekonomi yang tak tercukupi, tetapi Oline tak pernah mengeluh dia menjalani segalanya dengan ikhlas. Dia tak pernah memiliki teman karena tak ada yang ingin berteman dengannya. Bagi anak lain yang seumuran dengannya Oline itu tak pantas dijadikan teman mereka.

Hidup Oline penuh kebosanan hingga suatu malam dia melihat ada sinar yang sangat indah, Oline pun bertanya pada ibunya, “ibu itu apa?”
Ibunya menjawab, “Itulah yang disebut bulan.” Maklumlah karena Oline tak bersekolah dan dia selalu menghabiskan waktunya bermain di dalam kamarnya.

Matahari hampir tenggelam, Oline hanya bisa menunggu dan menunggu. Waktu yang ia tunggu pun telah datang yaitu malam. Bulan dan bintang adalah teman Oline satu satunya, bukan hanya teman tetapi juga tempat Oline untuk mencurahkan kegundahannya.

Dari jendela kamar Oline, Oline bertanya kepada bulan, “Bulan, mengapa tak ada yang ingin berteman denganku?” Oline merenung dan menunggu bulan menjawab pertanyaannya.

Setelah beberapa menit menunggu Oline tetap tak mendapat jawaban dari pertanyaannya. Oline berkata lagi “bulan, berikanlah aku teman, ku mohon” bulan tak menjawab hanya saja ada bintang jatuh.
Oline tak berkata apa-apa lagi, ia segera merebahkan badannya di kasur.

Pada siang ini, Oline memutuskan bermain ke luar sekedar menghilangkan rasa bosan. Saat ke luar rumah Oline melihat indahnya dunia. Dia pun berjalan ke dekat danau

“Hei, kenalin aku Renei, kamu siapa?” tanya seorang gadis kepada Oline.
“siapa? Aku?” jawab Oline,
“iya kamu, nama kamu siapa?”
“emm nama aku Oline” jawab Oline dengan ragu.

Setelah perkenalan itu mereka akrab sekali. Renei setiap siang mengajak Oline bermain dan saat malam tiba mereka pulang ke rumah masing-masing. Oline kini memiliki teman asli yang bisa diajak berbicara.

Pada suatu malam, Oline mengajak Renei ke atas bukit, Renei hanya menikuti Oline. Sesampainya di atas bukit Oline membuka pembicaraan.

“apakah kau percaya kalau bulan itu temanku?” tanya Oline.
“tentu saja” balas Renei.
“mungkinkah bulan bisa mendengarku?” kata Oline.
“kalau bulan tak bisa mendengarmu, bagaimana aku bisa ada di sini?. aku adalah bintang yang jatuh dulu, aku diminta bulan untuk menemanimu. Bulan telah memberikan apapun yang kau mau” jawab Renei.
“tak mungkin, aku tak percaya padamu!” sergah Oline.
“aku tak akan berbohong line” sahut Renei.
“aku tak ingin mendengarmu, pergilah” bentak Oline.
“jika kau kesepian, bicaralah pada bulan, sesungguhnya kami mendengarkanmu Oline” Renei membalas.

Saat Oline ingin turun bukit, ia melihat ke kanan dan ke kiri dan berteriak.
“Renei, Renei maafkan aku, kau dimana aku kesepian?”

Oline tak melihat adanya Renei. Sekarang ia hanya kembali berbicara kepada bulan.
“mungkin Renei berubah lagi menjadi salah satu bintang di langit itu” batin Oline.

Pesan moral:
jangan menyia-nyiakan kebaikan temanmu, karena kau akan menyesal saat kau tahu bahwa tak ada lagi teman yang baik, sebaik temanmu yang dulu.

Sumber Klik Disini :

Rumah Tua

Posted: 07/27/2015 in Anak
Tag:

Hari Ini aku dan teman-temanku bermain petak umpet di depan rummah temanku yang bernama “Karina” ada Rumah Tua yang tidak ada penghuninya disana kata orang Semua penghuninya sudah meninggal di dalam rumah itu. Kuburannya di dekat rumah itu juga.

Di kebunnya, Semua tanaman di kebun itu sudah layu dan sudah bau. Tapi kita tak peduli di depan rumah Karina. “Hom Pim Pa!” Karina sendiri yang jadi. Semuanya singitan aku di belakang pohon rumah tua itu tapi di kebun depannya. Sehabis angka 10, Karina mencari-cari dimana kita. Aku sekarang masuk rumah itu.

Karena aku terlalu ingin tahu di dalamnya, Aku masuk ke dalam semuaya gelap barang barang dibubuhi dari debu yang kotor, aku saja langsung bersin ternyata, Rumah itu tidak punya lampu. Tiba Tiba ada suara anak seumurku menangis tetapi tidak ada orang disana badanku merinding aku langsung keluar dari rumah itu dan menceritakan kejadianku ke Karina

Jam 3 kita pulang, Aku akan menceritakan semuanya kepada ibuku.

Sumber Klik Disini :