Archive for the ‘Cinta Segitiga’ Category

Awan cerah perlahan-lahan berubah menjadi mendung, seakan mengerti suasana hatiku saat ini. Entah kenapa akhir-akhir ini, aku sering moody. Semua ini berawal dari aku yang mulai diam-diam menyukai cowok yang ditaksir sahabatku. Yaaa, kira-kira mulai beberapa minggu yang lalu. Aku berusaha keras untuk tidak menyukainya. Semakin fikiran bersikeras melarangku, semakin gila hatiku untuk memberontak. Kalian tau bagaimana rasannya menjadi aku? Perasaan bagaikan terombang-ambing. Mulut ini terkunci untuk mengatakan yang sejujurnya, berusaha menutup keras pada perubahan yang berbeda ini. Aku tak mau menyakiti sahabatku. Tapi jika ini diteruskan, sampai kapan aku kuat? Sampai kapan aku pura-pura nggak peduli, berlagak bego dan mencari tau tentang semua informasi yang aku dapat untuk menyenangkan hati sahabatku. Aku sendiri pun tidak bisa mendefinisikan arti perasaan ku ini, apakah hanya sekedar kagum, sayang, cinta atau apalah namanya. Aku tak ingin peduli. Aku senang melihat sahabatku bahagia karena aku. Mencarikan informasi tentang cowok yang ditaksir sahabatku itu salah satu yang bisa kulakukan agar dia bahagia. Dari itulah perasaan ini tumbuh perlahan seiring berjalannya waktu, menjadi stalker adalah hobiku yang baru. Apalagi stalking tentang dia (cowok yang ditaksir sahabatku), hmmm menjadi sebuah rutinitas mungkin. Kabar barunya selalu ku tunggu-tunggu.

Yaaa, sebut aja aku “A NEW SECRET ADMIRED”. Pengagum rahasia yang berlagak jutek saat berhadapan langsung dengannya. Kapasitas bertemu kami hampir setiap hari. Well, mungkin karena kami punya ekstrakulikuler yang sama. Setiap bertemu dengannya bawaannya salah tingkah terus. Apalagi kalau ada kesempatan cuma berduaan. Like a dream. Semua perasaan kayak di mix jadi satu dan nggak tau wujudnya kayak gimana. Tapi, perasaan ini secara tidak langsung mampu memporak-porandakan hati dan fikiran dalam waktu sekejap tanpa menunggu komando dariku. Mempengaruhi grafik moodku setiap hari. Kadang dibuat dilema, kadang dibuat seneng, kadang dibuat malas. Aku ingin keluar dari zona yang menyebalkan ini. Aku ingin kehidupanku normal seperti sediakala. Gelisah sewajarnya, dilema sepantasnya. Tidak seperti ini, seperti cerita settingan yang ber-ending jawaban tak pasti.

Jika benar perasaanku lebih dari rasa kagum. Sampai kapan aku harus berpura-pura cuek? Membiarkan perasaan ini hilang dengan sendirinya, menunggu sampai sahabatku tidak menyukainya lagi dan terus merasakan kekalutan dan kebimbangan tanpa jawaban yang pasti? Aku takut perasaanku hanya sebelah pihak, aku takut hubungan harmonis dengan sahabatku berubah menjadi rasa kecewa yang mendalam. Aku tak ingin mengatakan yang sebenarnya kepada siapapun. Aku takut sahabatku beranggapan negatif terhadapku. Karena jika kita melihat dari sudut pandang yang berbeda, hasil tanggapan yang didapat juga pasti akan berbeda. Dan aku yakin sudut pandang sahabatku berbeda dengan sudut pandangku.

Aku juga tak yakin cowok itu juga menyukaiku atau tidak, yang ku tahu dia adalah seorang cowok yang cuek, keras kepala dan mempunyai sudut pandang yang kadang berbeda dengan orang lain. Aku sendiri pun bingung bahkan tidak tahu alasan kenapa aku bisa menyukai seseorang yang dulunya aku benci setengah mati dan lebih parahnya seseorang yang disukai sahabatku. Haruskah aku terus membohongi perasaanku atau berkata jujur untuk berani mengambil semua konsekuensi yang mungkin bisa saja terjadi di luar prediksi? Memilih salah satu, dua-duanya, atau tidak sama sekali?

Sumber Klik Disini :

Melisa mei andriani adalah nama ku, kini aku telah duduk di bangku kelas satu sma. kebetulan aku satu kelas dengan sahabat ku yang bernama wini, aku selalu curhat kepadanya tentang berbagai macam persoalan yang aku alami, karena wini telah ku anggap sebagai saudara sendiri.

Pada waktu ukk (ujian kenaikan kelas) aku satu bangku dengan kakak kelas yang paling famous di sekolah ia bernama radit, aku mengaguminya sejak pandangan pertama. Aku mengaguminya dalam diam dan kejauhan aku tak berani menyapanya. Menyapa saja sudah tidak berani apalagi mengungkapkan kalau aku kagum dengannya, pasti itu adalah hal yang mustahil. kak radit itu adalah orang yang pertama kali aku suka dan kagumi, wajar saja aku bertindak seperti itu, karena sebelumnya aku tidak pernah pacaran dengan seseorang walaupun banyak cowok-cowok yang mendekatiku.

Sahabat ku wini selalu memberitahuku tentang kabar kak radit, karena dia sangat senang bila diminta untuk menyelidiki seseorang, seperti detektif saja ya dia.

Hari minggu ini wini mengajakku ke sebuah taman yang berada di dekat rumah ku, karena katanya kak radit sedang latihan basket disana bersama kak joo, kak joo adalah sahabat kak radit. Kebetulan rumah ku dan rumah kak radit ternyata lumayan dekat cuman beda blok saja lah, pantas kalau dia latihan di taman dekat rumah ku.
“Kaaak radit” teriak wini dengan kencang
karena kak radit kaget, dia melempar bola ke arah ku hingga mengenai kepala ku, lalu aku pingsan, kak radit, kak joo, dan wini langsung membawa ke rumah ku. Untung saja di rumah tidak ada bunda ku bisa-bisa dia panik karena aku pingsan. 20 menit kemudian akhirnya aku siuman.
“Meii keadaan kamu gimana?” Tanya wini, kak radit dan kak joo dengan panik
“Aku gak papa kok, cuman sedikit pusing saja” ucap ku
“Maafin aku ya mei, aku enggak sengaja lempar bola nya ke kamu. Maaf banget yaaa” ucap ka radit
“Hehe gak papa kok kak” ucap ku dengan senang
Semenjak kejadian itu aku sangat dekat dengan kak radit, dia selalu menjemput ku untuk pergi ke sekolah dan mengatar ku pulang ke rumah. Sangat senang rasanya bila terus-terusan seperti ini.

Pada saat minggu malam ini aku diajak kencan oleh kak radit, hati ini sangat bedebar-debar ketika ku diajak kencan dengannya, dia mengajakku ke sebuah restoran yang sangat romantis.

Di Taman
“meii, aku pengen jujur sama kamu”. Menatap ku dengan begitu serius
“mau jujur apa ya kak?”
“aku sayang kamu mei. Kamu mau gak jadi pacar aku?” Memberiku setangkai bunga mawar
“kak radit serius?” Hatiku sangat berbunga-bunga
“aku serius sama kamu, kamu mau kan?”
“aku ma…” Jawaban ku terhenti ketika seseorang cewek menghampiri kak radit dan aku
“Apa-apan lo dit di belakang gue kaya gini” ucap cewek itu, “plakkk” menamparnya
“karina?” Wajahnya sangat kaget dan pucat
“Kenapa, lo kaget gue ada disini? Oohh jadi karena cewek ini lo berubah” menunjuk ke arah ku “Engga nyangka gue dit lo kaya gini, kita udah 3 tahun pacaran. Tapi lo dengan seenaknya nembak cewek lain, gue kecewa sama lo dit!” ucap cewek tersebut dengan marahnya

Di situ rasanya aku pengen nangis, marah, perasaan ku campur aduk dan akhirnya aku pergi meninggalkan mereka. Ketika di jalan aku bertemu dengan kak joo, kak joo sangat panik ketika aku berjalan sendiri sambil menangis.
“Meiii, kamu kenapa?” Ucapnya dengan penuh tanda tanya
“Aku gak papa kok kak” ucapku dengan menunduk
“Kenapa kamu sendirian? Kemana radit?” Ucap nya
Aku hanya mengangkat kedua bahuku dan terdiam, lalu kak joo mengantarkan ku pulang.

Setelah sampai di rumah aku melihat hape ku terdapat beberapa panggilan masuk dan sms dari kak radit yang isinya “Maafin aku meii, aku bisa jelasin ini semua” tapi aku mengabaikannya, rasa sakit ini membuat ku merasa sedikit benci padanya.

Besok paginya ketika di sekolah aku langsung menceritakan semua kejadian tadi malam yang aku alami kepada wini.
Di Taman sekolah
“winnn, ka radit jahat” memeluk wini
“jahat kenapa?” Ucapnya dengan panik
“Dia nembak aku dan ketika aku ingin menjawab pertanyaannya tiba-tiba seorang cewek datang menghampiri ka radit dan langsung menamparnya, ternyata dia itu pacar ka radit winnnn. Dia udah 3 tahun pacaran”.
“kan aku sudah pernah bilang sama kamu, jangan terlalu berharap sama dia!”
“Aku tau win, dan aku nyesel” menangis
“sabar meiii, kamu ngerasaiin gak sih sebenernya ada seseorang yang tulus sayang sama kamu yang selalu merhatiin dan jagaiin kamu dari kejauhan, kamu peka gak sih mei” Tanyanya
“siapa?” Jawab ku dengan bingung
“ya ampun jadi orang kok enggak pekaan banget sih ya, mangkanya kamu jangan terlalu fokus sama satu orang, Mungkin hati dia sangat sakit ngeliat kamu dekat dengan kak radit tapi dia sabar karena disayang sama kamu dengan tulus”.
“kamu tau orangnya?”
“ya aku tau lah, suatu saat nanti kamu bakalan tau kok siapa yang sayang sama kamu dengan tulus”

Ketika aku sedang curhat ku dengar suara pertengkaran yang berada di kantin dekat taman, langsung saja aku dan wini melihatnya. Dan ternyata yang bertengkar itu adalah kak radit dan kak joo.
“Lo begooo ya dit, dia benar-benar sayang sama lo tapi kenapa lo tega nyakitin dia?!, gue pengen lo minta maaf sama dia” Ucap kak joo dan menonjok perut kak radit
“Kenapa lo cemburu? Karena mei gak sayang sama lo gitu, dan karena gua udah nembak duluan” menonjok pipi kak joo
“Kaak udah cukup, kenapa sih kalian bertengkar?” Ucap ku yang melerai mereka
“Gue emang sayang sama mei, tapi gue tau kalau mei gak sayang sama gue dan gue ikhlas kalau lo jadian sama dia. Tapi kenapa ketika lo nembak mei lo gak putusin pacar lo dulu? Katanya lo sayang sama mei? apa itu yang namanya sayang?, Itu sama aja lo nyakitin perasaan mei dan gue dit” Bentak kak joo
Ka radit langsung pergi meninggalkan ka joo, wini dan aku.
“kak joo” menarik tangan kak joo “apa bener yang ka joo tadi omongin itu?”
“Tanyakan saja pada hati mu” pergi meninggalkan mei dan wini

Semenjak kak radit dan kak joo bertengkar aku sudah tidak berhubungan dengan kak radit dan kak joo, tapi mengapa aku selalu kefikiran dengan kak joo? Apakah rasa sayang ku berpindah kepadanya? Ya Tuhan harus apa aku ini, dengan tidak sadar aku telah menyakitinya.

Tanggal 16 juni pun tiba hari dimana ku berulang tahun, aku mengundang semua teman-teman ku termasuk kak joo dan kak radit. Aku sangat berharap mereka berdua datang, tapi mereka berdua tak kunjung datang. Hati ku sangat sedih, karena kak radit adalah orang yang spesial untuk pertama kalinya walaupun dia telah menyakiti hati ku dan kak joo adalah orang yang spesial ketika kak radit telah menyakiti hati ku, kini kak joo lah yang sangat spesial di hatiku sampai sekarang

“Tiup lilinnya tiup lilinya tiup lilinya sekarang juga sekarang juga sekarang jugaaa” teman-teman bernyanyi
“make a wish dulu dong” ucap ayah dan bunda ku
“Aku cuman ingin ka joo orang yang aku sayang itu selalu bersama ku untuk selamanya” ucap ku dalam hati
Ketika aku telah tiup lilin kak joo dan kak radit datang, ya Tuhan hati ku sangat senang sekali bertemu dengan mereka berdua.
“Haii mei, happy birthday ya. Aku minta maaf karena aku udah nyakitin hati kamu, mungkin waktu itu perasaan ku hanya sekedar untuk pelampiasan”. *memberi ku kado* ucap ka radit
“makasih ya ka radit” ucap ku
“Meiii, selamat ulang tahun ya. Aku ingin jujur sama kamu kalau aku ituuu… sayang sama kamu, aku ingin kamu jadi pacar aku” memberikan ku hadiah
“Aku juga sayang kamu ka joo, maafin aku ya ka karena aku enggak peka sama perasaan kamu, tapi maaf ka aku enggak bisa”
“Gak papa kok kalau kamu gak bisa jadi pacar aku, aku bakalan tunggu kamu sampai kamu mau”
“Kak joo tunggu dulu aku belom selesai ngomongnya kali, maksud aku aku gak bisa nolak kamu”
“Yesss, makasih ya mei” ucap ka joo dengan senang
“Om, tante saya berjanji saya akan jaga mei bagaimana pun keadaannya dan bagaimana pun caranya” ucap kak joo
“Om sama tante percaya kok sama kamu joo, mei sudah banyak cerita tentang kamu itu” ucap ayah dan bunda ku
Inilah hari yang sangat istimewa untukku. Dan mungkin ini lah yang namanya “Yang istimewa akan kalah dengan yang selalu ada”

Sumber Klik Disini :

Sulit dipercaya…
Aku menatap lukisan itu lekat-lekat, nyaris tanpa berkedip dan bernapas. Warna-warni kontras cat minyak pada kanvas memberikan bentuk dari objek yang membuatku terpukau. Aku meraba permukaannya untuk mencoba menyerap setiap pesan dan emosi yang berusaha disampaikan sang pelukis.
Bukannya aku seorang ahli lukisan, aku juga bukan pecinta barang seni apa pun. Pengetahuanku di bidang itu boleh dikatakan nol besar. Tetapi ini… Sulit untuk berpura-pura tidak tertarik pada objek utamanya. Seorang laki-laki yang sedang tersenyum bahagia. Aku kenal baik dengan laki-laki itu. Dia adalah Andre, kakakku, saudaraku satu-satunya. Belum pernah kulihat seorang pun berhasil membuatnya menunjukkan ekspresi seperti itu sejak orangtua kami meninggal dua tahun yang lalu. Aku melihat tanda tangan sang pelukis di sudut kiri bawah. Ada simbol hati yang dibuat secara abstrak di sana, membuatku cukup yakin apa makna dari lukisan di tanganku ini. Sang pelukis jatuh cinta pada objeknya.

Aku menemukan lukisan itu ketika sedang membereskan ruang penyimpanan barang. Sejak orangtuaku meninggal rumahku lebih sering berada dalam keadaan berantakan daripada rapi, terutama karena kedua penghuninya adalah lelaki bujangan yang mengurus dirinya sendiri pun kadang tak sempat. Aku dan Andre, kami selalu punya banyak kesibukan. Aku dengan kuliah dan kegiatan organisasi sedangkan Andre dengan pekerjaannya sebagai pegawai bank.

Mengenai cerita tentang bagaimana dan mengapa lukisan itu ada di ruang penyimpanan rumahku, terlantar dan pasti sudah rusak jika bukan karena kertas pembungkusnya, bermula dari kejadian beberapa bulan yang lalu.

Flashback…
Hari itu langit tampak diselimuti awan mendung tebal. Gelap di sore hari seolah-olah datang satu jam lebih cepat daripada biasanya. Aku sedang berada di dalam kamar, duduk persis di depan jendela yang kubiarkan terbuka sambil membaca referensi untuk bahan membuat skripsi ketika mendengar suara mobil datang mendekat. Mobil itu pasti berhenti di dekat rumahku karena suara mesinnya menghilang bersamaan dengan bunyi pintu mobil yang dibuka dan ditutup. Pada awalnya aku tidak peduli, namun ketika mendengar suara-suara ribut dari arah luar aku tidak bisa menahan diri untuk tidak mengangkat kepala dan memandang penuh rasa ingin tahu.

Rupanya aku punya tetangga baru. Mereka pindah persis di sebelah rumah. Dari sini aku bisa melihat dengan cukup jelas bahwa suara mobil yang kudengar tadi adalah mobil pick up hitam penuh dengan perabot rumah tangga dan tumpukan kardus-kardus. Beberapa orang dari jasa angkut sedang melepaskan tali pengikat barang dan beberapa yang lain mulai memindahkan sofa dan lemari ke dalam rumah.

Tiba-tiba pandanganku tertuju pada sesosok gadis yang mengenakan celana panjang denim dan jaket longgar berwarna navy blue. Gadis itu adalah satu-satunya perempuan yang tampak di sana. Aku menyipitkan mata, seluruh fokusku sekarang ada padanya. Aneh, ia tampak tidak asing bagiku. Di mana aku pernah melihatnya?
Aku berusaha menggali ingatanku. Wajah tirus, rambut panjang bergelombang, mata lebar…
Mendadak lampu di atas kepalaku menyala. Aku ingat siapa dia dan di mana aku melihatnya. Gadis itu adalah Arin, sahabatku semasa TK dan SD. Sungguh mengejutkan bahwa gadis itu ternyata dia. Aku heran mengapa otakku tidak bisa segera ingat ketika melihatnya lagi. Karina Rosalia, dulu aku begitu terobsesi padanya, dia adalah cinta pertamaku.

Sejak berpisah sepuluh tahun yang lalu, aku dan Arin memang tidak pernah lagi menjalin komunikasi. Ia pindah ke kota lain tanpa memberitahuku. Tidak ada alamat rumah yang bisa dituju, tidak ada nomor telepon yang bisa dihubungi, tidak ada ucapan selamat tinggal, benar-benar tak ada apa pun. Kami sepenuhnya putus hubungan.

Hanya Tuhan yang tahu betapa senangnya aku karena dipertemukan kembali dengan Arin. Tidak membutuhkan waktu lama untuk kembali dekat dengannya. Arin benar-benar tidak banyak berubah, tetap gadis yang periang, kadang sedikit pemalu, tetapi selalu jujur apa adanya. Ia menyenangkan dan mudah diajak bercanda. Bedanya, Arin yang sekarang adalah Arin yang sudah dewasa, cantik, dan pintar.

Menghapus jeda sepuluh tahun yang hilang dari persahabatan kami, Arin banyak bercerita tentang masa SMP dan SMA-nya. Ia juga bercerita tentang ibunya yang meninggal karena sakit tak lama setelah pindahan dulu, tentang pekerjaan ayahnya, dan tentang kuliahnya di jurusan Seni Rupa. Aku pun juga bercerita padanya tentang kecelakaan pesawat yang menimpa kedua orangtuaku, tentang bagaimana Andre harus membatalkan niatnya melanjutkan S2 untuk bekerja membiayai hidup kami, dan tentang aku yang sebentar lagi menyelesaikan kuliah di jurusan Sosiologi.

Melihat Arin yang sering menghabiskan waktu bersamaku saat weekend, membuat rasa suka masa kecilku muncul kembali. Perasaan itu bertumbuh lebih kuat, lebih besar dan lebih nyata. Segera kusadari bahwa aku telah jatuh cinta untuk yang kedua kalinya pada orang yang sama.

Awalnya aku yakin hubunganku dengannya akan berhasil. Kami sudah melakukan banyak hal selama dua bulan terakhir; membaca buku bersama-sama, bertukar cerita tentang pengalaman di kampus, menonton film bertiga dengan Andre, membuat kue, bahkan kadang-kadang Arin memasak makan malam di rumahku. Seharusnya waktu itu aku tidak boleh terlalu yakin karena aku sudah melewatkan satu fakta penting: di rumah aku tidak tinggal sendirian. Aku lupa bahwa ada laki-laki lain di dekat Arin yang juga muda, single, good looking, dan mulai mapan dengan pekerjaan.
Tentu saja aku tidak pernah memperhitungkan Andre sebagai saingan. Demi Tuhan dia kakakku, satu-satunya keluarga yang aku miliki. Keberadaannya di sekitar Arin selama ini kuanggap sebagai sesuatu yang wajar. Aku berasumsi mereka saling menganggap satu sama lain sebagai teman. Saat itu aku tidak tahu, betapa kelirunya diriku.

Aku akui sungguh naïf menganggap Arin akan melewatkan Andre begitu saja hanya karena aku mengenalnya lebih dulu. Menjadi sahabatnya sewaktu kecil tidak berarti Arin adalah milikku dan tidak bisa menyukai orang lain. Lihat betapa sombongnya aku! Beraninya aku menilai diriku setinggi itu.

Mataku terbuka lebar dan aku terbangun dari mimpi bodohku ketika suatu hari Arin mengatakan sedang membutuhkan seseorang untuk dijadikan objek lukisan. “Proyek tugas kuliah,” katanya saat itu. Aku baru saja akan menawarkan diri ketika Arin mengaku telah mencuri salah satu foto dari album keluargaku untuk keperluan itu. Ia meminta maaf dan berkata akan segera mengembalikannya ketika proyek selesai. Tebak foto siapa yang diambilnya? Ya, foto Andre.
Aku kecewa. Aku marah dan patah hati. Seharusnya jika aku cukup pintar waktu itu aku tidak akan menyalahkan siapa pun selain diriku sendiri. Tetapi aku melakukannya, aku menjauh dari sahabat dan kakakku. Perasaan ini berkali-kali lipat lebih buruk karena aku tahu sesungguhnya Andre juga menyukai Arin, hanya saja ia terlalu peduli padaku untuk mau mengakuinya.

Satu bulan berikutnya aku jarang bertemu Arin. Ia hampir tidak pernah datang lagi ke rumah untuk menghabiskan waktu bersamaku. Aku maklum, ia pasti merasakan perubahan sikapku yang semakin dingin dari waktu ke waktu. Mungkin juga dia muak karena aku menjadi terlalu sensitif soal rasa seperti wanita. Pokoknya yang aku tahu, tak lama setelah itu Arin pindah rumah lagi, tanpa kabar, tanpa pesan apa pun, persis seperti sepuluh tahun sebelumnya.

Jangan berpikir aku akan bersikap masa bodoh dengan kepergian Arin kali ini. Dulu aku tidak melakukan apa-apa karena aku hanya seorang anak SD. Tetapi sekarang aku mencoba yang terbaik untuk menunjukkan bahwa aku menyesal kami harus berpisah seperti ini. Tidak seharusnya aku mendorong Arin menjauh, mendirikan tembok pembatas di antara dua orang yang saling mencintai karena cemburu. Sungguh, aku mencarinya dengan segala cara yang kubisa, tapi menemukan jejak seseorang itu tidak mudah, terutama jika orang tersebut memang menolak untuk ditemukan.

Pertama, aku menghubungi ponselnya, hanya untuk mendapati bahwa nomornya sudah tidak aktif lagi. Kedua, aku menanyakan alamat barunya kepada para tetangga, tetapi tidak seorang pun tahu persis di mana ia tinggal sekarang. Ketiga, aku mencarinya melalui media sosial. Nihil, Arin sudah menonaktifkan akunnya. Keempat, aku mengirim pesan lewat e-mail. Walaupun aku menunggu cukup lama, tetap tidak ada jawaban.

Aku menyerah.
Aku menyerah tepat ketika Arin mengontakku melalui surat. Benar, surat di zaman teknologi modern. Benda yang dikirim melalui pos, memakai prangko, dan lain sebagainya. Bukan hanya itu, ada sebuah paket barang melalui pengiriman kilat khusus yang menyertainya. Untunglah, aku memutuskan untuk membaca suratnya terlebih dahulu.
Inti daripada isi surat Arin adalah agar aku menyampaikan paket yang dikirimkannya kepada Andre. Ia tidak menyebutkan secara spesifik apa isinya, yang jelas ia mengatakan tidak punya kepercayaan diri untuk mengirimkannya secara langsung. Harus ada seseorang yang memastikan bahwa barang itu diterima dalam keadaan utuh tanpa kurang suatu apa pun, dan orang yang dia pilih untuk melakukan tugas ‘mulia’ ini adalah aku.
Bisa membayangkan perasaanku?

Kemarahanku muncul lagi. Apa-apaan Arin, memanfaatkanku seperti ini! Aku menatap benda yang seharusnya kuserahkan kepada Andre. Menilik dari bentuk dan ukurannya, sebenarnya tidak sulit menebak apa isinya. Sebuah lukisan, pasti itu.

Pada akhirnya, karena terbawa emosi aku menyingkirkan benda itu ke dalam ruang penyimpanan tanpa membuka bungkusnya sama sekali. Aku meletakkannya di tempat paling tersembunyi supaya Andre tidak menemukannya tanpa sengaja. Berbulan-bulan kemudian, aku lupa akan keberadaan lukisan itu. Arin juga tak pernah lagi menghubungiku sampai sekarang…
Flashback end.

Aku termangu, memikirkan apa yang sudah aku lakukan pada Arin dan Andre. Apa yang sudah mereka lakukan kepadaku. Aku menatap lukisan itu sekali lagi, mencoba menilai secara objektif kejadian yang sebenarnya. Arin tidak pernah tahu aku mencintainya, ia tidak bisa disalahkan karena lebih memilih Andre. Tidak, bahkan ia tidak tahu bahwa ia punya pilihan. Jadi itu pasti salahku. Sedangkan Andre… Ia sudah berbuat banyak untukku, mengorbankan dirinya untuk bekerja padahal ia bisa saja mengambil beasiswanya dan meninggalkanku untuk meraih gelar Master di bidang Manajemen. Aku mengernyit saat menyadari bahwa aku orang yang tidak tahu terima kasih. Orang yang egois.

Sudah kuputuskan…
Aku mencari-cari tempat di ruang tamu untuk menggantung lukisan itu, kemudian pergi ke kamarku untuk mencari surat Arin yang kuletakkan entah di mana. Di amplop surat itu pasti ada alamat pengirimnya. Semoga belum terlambat untuk menyatukan mereka. Arin dan Andre, keduanya lebih berharga daripada keegoisanku. Tentu saja, mereka berhak mencoba bahagia.

Sumber Klik Disini :

13 Februari
“Hari ini dia sibuk, iya, dia, siapa lagi jika bukan Fakhri. Fakhri yang dulu perhatian, tidak egois, selalu membantu akhir-akhir ini dia menjadi seseorang yang super sibuk, sibuk dengan segala urusannya terutama BAND nya dan juga katanya sibuk belajar karena bentar lagi akan menghadapi Ujian Nasional yang akan dilaksanakan pada bulan April dan dengan kesibukannya itu dia menjadi seseorang yang tanpa memperdulikan aku dan bahkan dia berbeda dengan yang dulu, beda dengan kekasihku yang dulu dimana dia tidak berubah seperti ini. Mengapa aku begini? karena aku? aku kekasihnya selama 3 Tahun ini. Lusa, kita akan Anniversary pada bulan yang ke 36. Entah apa yang akan terjadi Lusa nanti akankah kita akan merayakan bareng atau tidak”

Teeeeeet bel pun berbunyi dan aku pun segera memasukkan buku diaryku ke dalam tas. Hari ini aku belajar seni musik, dimana seni musik ini dibagi menjadi beberapa kelompok dan akhirnya aku berkelompok dengan Jony. Dia seseorang yang kuketahui dulu sangat menyukaiku tapi entahlah.

Bel pun akhirnya berbunyi kembali, pertanda waktu belajar sudah selesai. Tapi, karena ada tugas seni yang tadi akhirnya pun kelompokku kerja kelompok juga di rumah Jony yang kebetulan katanya dia memiliki beraneka ragam alat musik. Sesampai di rumah Jony, aku terdiam saja karena dari pagi Fakhri tak menghubungiku bahkan tidak memberikanku kabar. Seketika aku diam yang lain berlatih dan Jony memandangiku akhirnya dia pun menganggu diamku. Aku tidak berontak karena ini rumahnya. Entah kenapa air mata ku terjatuh seketika Jony bertanya bagaimana hubunganku dengan Fakhri. Tiba-tiba munculah air mataku, aku tak kuat, aku sayang sekali dengan Fakhri aku tak kuat jika dia tak menghubungiku. Tetapi, akhirnya Jony pun menyeka air mataku dan Jony bilang sesuatu padaku yang membuat aku kaget dan terheran. Jony bilang dia selalu melihat Fakhri dengan Laras, aku marah karena aku tidak percaya dengan apa yang dikatannya. Akhirnya, aku menangis dan pergi dari rumah Jony aku tidak memperdulikan Jony yang terus memanggilku dan mengejarku.

Akhirnya aku sampai di rumah, aku coba untuk melefon Fakhri dan tampak terdengar bunyi musik di games-games. Fakhri bilang dia sedang bersama sepupunya bermain games dan dia minta maaf karena tidak menghubungi soalnya banyak sepupu dan Fakhri bilang besok ketika pulang sekolah dia akan mengajaku pergi. Aku menurut dan akhirnya aku tidak memikirkan apa-apa lagi dengan apa yang dikatakan oleh Jony dan aku senang karena besok aku akan pergi dengan Fakhri.

14 Februari
Bel pulang sekolah berbunyi dan Fakhri langsung mengajakku untuk menumpangi motornya dan kita pun melaju ke suatu tempat. Tempat bermain, dimana aku dan Fakhri dulu suka bermain disini. Fakhri selalu membuatku senang dan canda. Aku pun bahagia dan aku memeluk dia. Sesudah bermain, kami pun langsung foto studio berdua dengan background “Happy Valentine” dan ini adalah Hari Valentine. Sesudah kita berfoto akhirnya kami makan malam di salah satu restaurant ternama dengan jam pukul 22:00. Tidak, aku tidak menyangka jika sekarang sudah malam, walaupun sudah malam Fakhri terlihat santai saja.

Pukul 23:30 akhirnya kami selesai makan malam. Kami lama di restaurant karena kami banyak bercanda bergurau dan tertawa. Tak kusadari, setengah jam lagi kami berdua akan merayakan 36 bulan jadian kami. Akhirnya pukul 23:45 kami sampai di Taman, taman dimana Fakhri menembakku. Aku sudah tak sabar dan deg-degan. Akhirnya Fakhri membuka pembicaraan yang diawali dengan kata MAAF. MAAF? iya? maaf? 14 menit 57 detik Fakhri bilang maaf, maaf dengan “Tifanny, maafkan aku. Aku sudah berdusta sama kamu. Sejujurnya selama kita aniv yang ke 1 tahun aku sudah menembak cewek lain dan malam ini kita aniv yang ke 3 kan? dimana aku aniv yang ke 2 tahun bersama Laras dan aku sangat mencintai dia ketimbang kamu!, dan menuju (2 detik 23:59:57) dia bilang “kita putus” itulah yang dikatannya, 1 detik lagi aku pikir kita akan bersama tapi Akhirnya kita berpisah tepat 00:00 berbunyi.

Aku menangis seteriak mungkin dan aku berlari jauh darinya dan dia mengejarku dan BRRRKK! aku tertabrak dan aku meninggal dunia di tempat. Fakhri pun terlihat menyesal atas perbuatannya. Itulah kisah cerita cintaku dimana aku mencintainya selama 2 tahun 12 bulan 29 hari lebih tapi dia mengkhianatiku dengan perempuan yang lain. Sungguh sangat disayangkan, dia yang berawal bicara akan selalu bersamaku tapi akhirnya dia yang mendustakan itu semua. Kini, aku tenang… tenang karena merasa aku sudah tidak beban lagi untuk hidup mengurusi cerita cintaku yang kandas.

Sumber Klik Disini :