Archive for the ‘Horor’ Category

Dendam Gitar Lusuh

Posted: 08/20/2015 in Horor
Tag:

Malam itu Daniel yang pulang sempoyongan karena pengaruh minuman keras di tengah jalan kota dengan resleting yang masih terbuka tak ia hiraukan dan tak ia sesali apa yang telah ia perbuat ya. Dia habis melakukan perbuatan biadab kepada seorang gadis yang ia jumpai di dingin malam sehabis hujan tadi. Dalam perjalanan yang agak jauh dengan tubuh yang mau ambruk itu ia melihat sekelebat orang melintas hingga ia terkejut dan terjatuh, tak lama lalu ia bangun dan berjalan lagi.

Sesampai teras di rumah dalam samar-samar penglihatannya ia melihat seperti ada seorang wanita berambut panjang berdiri dekat rumah. ia penasaran dan bertanya.
“hey. gadis. Siapa kamu? Apa kau ingin bercinta denganku?” tapi tak ada sahutan lalu Daniel menambahkan. “okey lihat saja apa yang akan aku perbuat kepadamu,” dengan langkah memburu Daniel mendekat tapi tiba-tiba sosok itu hilang begitu saja.

Karena bingung Daniel tak lagi menghiraukannya lalu ia masuk rumah, sesampai di kamar ia memandangi jam dinding waktu itu jam menunjukkan pukul 01:20 kemudian ia mematikan lampu. Tiba-tiba Daniel berteriak keras dan seketika ia menyalakan lampu kembali. Entah apa yang terjadi namun ia kembali mematikan lampu lagi lalu ia menyalakan korek api agar dapat melihat apa yang sebenarnya terjadi.

Alhasil ia dapati melihat sesosok berambut panjang berdiri dekat tempat tidurnya menunduk menakutkan dengan tangan memegangi sebuah sabuk gitar yang mengait sebagian sebuah gitar elektrik yang lusuh mungkin sosok itu yang menghantuinya dari tadi yang ia pikir seorang wanita. Tapi Daniel tertawa ia menganggap lucu. Hingga Daniel nyalakan lampu dan mematikannya lagi terus menyalakan lagi berulang ulang. Entah apa yang terjadi tiba-tiba Daniel berteriak keras histeris dan menyayat dan berujung amat sunyi.

Seminggu berlalu Erwin mengunjungi makam Daniel yang merupakan sahabat setianya. Ia menaruh bunga lalu pergi. Erwin adalah seorang yang gila dan psikopat. Ia suka mencari gadis-gadis cantik yang suka ia undang lalu ia melampiaskan nafsunya dan membunuhnya, ia sering melakukannya sendiri tapi kadang bersama sahabat-sahabatnya. Ya terutama Daniel. Ia suka merekamnya lalu menontonnya kembali.

Malam itu di tengah ia menonton rekeman tiba-tiba bel berbunyi ia terkejut saat ia membuka pintu tiba-tiba tak ada seorang pun. Lalu ia menutup pintu itu lagi dan duduk di sofa dengan ketakutan. Tapi tiba-tiba bel kembali berbunyi walau keringat deras bercucuran karena ketakutan Erwin coba tenang dan mengintip lewat kelambu jendela dekat pintu. Dengan senyum lebar Erwin bahagia karena datang gadis cantik ya gadis itu korban selanjutnya. Ia langsung menyekapnya dan mengikatnya di kursi kayu yang slalu ia gunakan dalam beraksi.

Erwin menjelajahi tubuh gadis malang itu ia hanya bisa menangis tak berdaya, Erwin melakukannya dengan kasar ia merobeki baju gadis itu dengan pisau yang biasa ia pakai yang nantinya juga ia gunakan untuk menghabisi korban. Namun tiba-tiba bel berbunyi lagi dengan cekatan Erwin membukakan pintu berharap ada calon korban lagi. Tapi tak seorang pun terlihat saat ia telah buka pintu itu. Ia ketakutan lalu ia menutup pintu lagi dan menoleh ke arah kursi penyekapan gadis tadi serontak.

“Aaaaah!! Ke mana hilangnya gadis itu?!” teriak Erwin ia semakin ketakutan tatkala ia menyadari pisau yang ia pegang juga telah berubah menjadi tikus yang menggigit-gigit tangannya.

Erwin mencari ke seluruh isi rumah, tapi ke mana gadis itu? Hilang? Namun tiba-tiba lampu padam hal itu membuat Erwin menjadi panik. Tiba-tiba ia berteriak ketakutan sontak tiba-tiba lampu menyala dan.. yaa situasi terbalik. Kini Erwin menjerit ia telah sadar tiba-tiba ia telah duduk terikat di kursi yang biasa ia pakai pada korban dengan mulut tersumpal namun sampai saat ini ia tak menyadari siapa yang melakukannya.

Ia meronta berusaha melepaskan diri namun tak bisa. Tiba-tiba bel berbunyi lagi..’ting, tung’. Erwin semakin ketakutan dan berteriak minta tolong tapi tak bisa terdengar jelas.

BRAAKK!
Suara pintu terbuka dengan hembusan angin kencang, datanglah sosok gadis merangkak menakutkan dan mendekat lalu menggigit bagian vital Erwin hingga terputus. Erwin meronta mencoba lepaskan ikatan. dan berhasil. “mampus kau wanita gila” seru Erwin.

BRAAKK! Suara hantaman Erwin ke kepala wanita menakutkan itu hingga terjungkal namun sekejap bangkit lagi.
“Aaahh!! Siapa lagi kamu?” seru Erwin yang dikejutkan kedatangan sosok menakutkan berdiri di pintu dengan tangan menenteng sabuk gitar dengan gitar lusuh terseret di tanah.

Erwin berusaha melepaskan tali-tali yang mengikati dia dan berhasil ia berlari tak karuan dan ketakutan namun sosok itu tetap mengejarnya berjalan pelan dengan menyeret gitar lusuh itu. Angin terasa kencang menekan menyakitkan ketika semakin mendekat dan akhirnya sangat dekat berhadapan dan tubuh Erwin terbelalak di tembok dengan rasa takut dan sakit jadi satu. Erwin menangis ketakutan namun tak ada ampun sosok itu mengangkat tangannya dan gitar itu terbang melayang-layang di atmosfer atap rumah.

BRAAKK!

Ia hempaskan gitar itu ke tubuh Erwin dan menghabisinya, entah siapa sebenarnya sosok-sosok ini yang menganggap dirinya berhak mengeksekusi Daniel dan Erwin.

Polisi amat bingung akan kasus ini yang sulit diungkap. Hingga mengumpulkan beberapa gitaris dalam kota untuk interogasi dan mencocokkan sidik jari. Sebab jasad korban selalu masih terpampang pick menancap di kening. Mungkinkah polisi dapat mengungkap? Sebab tak ditemukan adanya sidik jari.

***

Seorang ibu paruh baya memandang foto seorang pria memeluk anak dan istri. Siapa dia? Lalu ibu itu masuk sebuah kamar dan mengelus rambut bocah dan mencium keningnya.. ya bocah itu yang tadi ada di foto. Kemudian ia memandangi foto seorang bocah bermain gitar. Dan foto bocah itu diajari sang ayah. Dan ia pun tak lepas memandang foto kumpul bersama. Lalu ia memeluk gitar yang lusuh berdebu. Mungkin karena tak ada lagi yang merawat. Ia menangis dan memeluk gitar itu.

Ya gitar itu milik sang ayah si bocah ini dan gitar ini mirip atau benar memang gitar itu milik sosok-sosok dalam cerita ini? Ibu itu menangis tak mengira apa yang telah terjadi, yang ia ingat anak gadisnya pergi sembunyi-sembunyi tengah malam dan kakaknya membuntutinya beserta istrinya yang entah kemana hingga akhirnya hanya kambali dengan kepedihan.

Dalam malam yang larut Mr. Joker adalah berandal tua yang sering pergi di tengah malam entah kemana. Namun kali ini ia pergi ke paranormal. Ia ingin selamat dari ancaman yang mungkin ia alami nanti mengingat kedua temannya Daniel dan Erwin bergiliran jadi korban misterius. Dan paranormal itu akhirnya tahu dan memberitahukan pada Joker siapa pelakunya. Ia katakan bahwa pelaku adalah korban Mr. Joker dan kedua sahabatnya yang menuntus balas. Dengan uang Mr. Joker meminta agar diselamatkan dari ancaman lalu pergi.

Malam makin mendekati pagi Mr. Joker pergi ke diskotik ia mabok dan main wanita-wanita di sana lalu mengajaknya keluar. Di tengah jalan ia dikejutkan sosok melintas dan menghadang menyeret gitar di tangah hingga Mr. Joker terjatuh dari motor dan wanita jal*ng itu. Namun sosok tadi menghilang setelah Joker jatuh. Mr. Joker ketakutan lalu menodongkan pisau ke gadis jal*ng itu dan berteriak.
“keluarlah orang jelek jangan menakut-nakutiku kalau tidak mau muncul kuhabisi dia!”

Lalu Joker menelpon seseorang tuk habisi keluarga sosok menyeret gitar ini tak lama kemudian muncullah sosok tadi lalu mengangkat tangannya membuat gitar lusuh itu melayang-layang di udara. Namun Joker mengolok-oloknya.

“Aku sudah menikmati istri dan adikmu dan menghabisinya. Andai jika mereka kubiarkan hidup pasti mereka ketagihan selalu meminta padaku. Dan aku telah menggorok lehermu dulu. Apa kau mau ke sini minta digorok lagi, hahaha!!”

Tanpa basa-basi lagi sosok itu langsung menghempaskan gitar lusuh itu ke wajah Mr. Joker berkali-kali hingga tewas dan meninggalkan jasad Joker dan gadis tadi yang terus berteriak histeris ketakutan. Lalu ia secepatnya menemui keluarganya di rumah yang terancam sesampainya di rumah ia dapati ibu dan anaknya terikat dan susah melepasnya sebab telah dimantrai.

Muncullah gerombolan biadab yang ditelpon Joker tadi merekalah yang mengikat keluarganya dan nampak di depan adalah paranormal yang dimintai tolong tadi oleh Joker. Pertarungan mistis yang sengit tak terelakkan. Dengan ilmu itu supranatural itu mampu menghantam, merobek, dan menghempas sosok penyeret gitar lusuh itu. Dan supranatural itu hendak menerbangkannya ke langit ke tujuh untuk mengirimnya ke alam yang semestinya.

Lalu di langit entah apa yang terjadi tiba-tiba ia terjun ke bumi dan menghantam keras tubuh paranormal itu hingga tewas dan berlarianlah gerombolan hina itu. Dan ikatan tali ibu dan bocah itu dapat terlepas.

Esok harinya akhirnya polisi dapat mengungkap kasus ini. Namun sosok penyeret gitar akankah cukup sampai di sini?

Suatu malam bubaran pesta ulang tahun seorang remaja. Anita yang sepulang menghadiri pesta itu berjalan pulang sendirian. Di tengah jalan ia dihadang segerombolan anarkis dan biadab yang akan berbuat keji pada Anita, merasa terancam ia berlari ketakutan. Namun gerombolan itu tetap mengejarnya dan tertangkap dengan hanya menangis ia meratapi keadaan dan ketakutannya. Tiba-tiba angin kencang menghempas mereka. Dalam kegelapan sosok penyeret gitar lusuh itu tak akan tinggal diam.

Sumber klik Disini :

Misteri Toilet Bandara

Posted: 08/18/2015 in Horor
Tag:

Inggris, 20 Juli 2012

Tasha gadis mungil ini telah tiba di bandara dua jam yang lalu bersama kedua orangtuanya. Ia pindah dari Indonesia ke Inggris karena Ayahnya akan meneruskan bisnis Neneknya yang telah meninggal 3 tahun yang lalu.

Dua jam telah dihabiskan oleh Tasha dengan bermain game, tetapi mobil penjemputnya pun belum kunjung datang. Ayahnya mondar-mandir kesana-kemari mencari datangnya mobil hitam itu. Ibunya pergi ke toilet untuk mencuci mukanya.

Lima menit kemudian mobil hitam itu pun datang. Ayah segera menyuruhku untuk menyusul Ibuku di toilet, sementara Ayah asyik memarahi supir mobil itu karena terlambat datang.

Aku menghentikan game-ku dan segera menyusul Ibuku di toilet. Kuketuk pintu toilet dan kupanggilnya, lima menit berlalu. Aku takut Ayah marah padaku sehingga aku segera membuka pintu itu, kulihat tidak ada siapa-siapa di dalam toilet itu. Aku terus memanggil Ibuku yang sedari tadi belum kutemukan juga.

“BRUK!”

Pintu toilet tertutup dan terkunci. Aku tak menghiraukan pintu itu. Aku membuka beberapa pintu kamar mandi dan di salah satu pintu itu aku melihat Ibuku terkapar dengan kondisi tanpa busana dan berlumuran darah.

Aku kaget. Ku coba menghubungi Ayahku tetapi handphone Ayah tidak aktif. Aku menggedor-gedor pintu toilet yang terkunci itu.

Tidak ada orang yang mendengarku. Aku berpikir.

“Aku ingin mati bersama Ibuku, bukan karena aku menyerah tapi karena aku setia pada Ibuku”

Sumber Klik Disini :

Rumah Baru

Posted: 08/18/2015 in Horor
Tag:

Aku akan jadikan dunia ini damai dari mulai keluarga, selanjutnya rakyat. Menjaga adikku dengan sepenuh hati agar dia tidak manja dan selalu baik. Menyayangi kedua orangtua dan keluarga. Baik kepada siapapun. Membantu selagi mampu. Berusaha selagi kuat. Melindungi adikku dari tangan-tangan setan. Itu yang harus aku lakukan, untuk membuat aku hatiku nyaman.

Orangtuaku sibuk, pulang pergi ke luar kota. Rumahku berada di daerah yang jauh dari kota, dulu kami memilih tinggal di sini karena Ibuku senang dengan suasana pedesaan. Selera Ibuku hilang saat tempat Ibu bekerja dengan rumah letaknya sangat berjauhan. Ibuku seorang sekertaris di sebuah perusahaan.

Ayahku manager di sebuah pabrik. Dan adikku berusia lima tahun, pikirannya masih kosong dan perlu perhatian dari orangtua. Aku sisiwa kelas 8 bersekolah di Briand Junior High School, sekolah yang letaknya sangat jauh dari rumahku.

Nama ku Dinda dan adikku bernama Tasya. Selagi orangtuaku bekerja dan aku sekolah, adikku diasuh oleh tetangga.

Jam 4 pagi aku bangun tidur, ke luar kamar untuk membangunkan adik. Saat ku buka pintu kamar adikku, ternyata adikku sudah bangun. Lalu aku ke dapur dan melihat Ibu sedang memasak makanan untuk makan pagi.

“bu, Ayah ke mana?” tanyaku.
“Ayah masih tidur, Ibu minta tolong untuk bangunkan Ayah ya!” seru Ibu.
“iya bu” jawabku.

Aku pun berjalan ke kamar Ayah, membuka pintu dan melihat Ayah yang sedang melamun di samping kasur.

“Ayah? Jangan melamun. Ayah memikirkan apa?” tanyaku.
“Ayah berpikir untuk pindah, mencari rumah baru di kota agar mudah jika pergi ke kantor dan Sekolahmu” jawab Ayah.
“iya benar yah. Jika ingin sesuatu mudah, di kota itu dekat jika ingin ke toko-toko” ucapku.
“Ayah akan pulang agak malam karena akan mencari rumah yang kita inginkan, Ayah sudah berbincan-bincang semalam dengan Ibu” ucap Ayah.
“iya yah” jawabku.

Jam menunjukan pukul 04.15 aku pun segera mandi, ganti baju dan makan pagi. Saat selesai makan pagi bersama, Ayah, Ibu dan aku pergi berangkat jam 05.30, karena sekolah dan kantor Ayah, Ibuku letaknya jauh dari rumah.

Sesudah sampai di Sekolah, aku langsung menuju kelas dan menyimpan tas. Tak lama bel masuk pun berbunyi. Kami hanya belajar selama tiga jam, karena guru-guru akan mengadakan rapat. Tak sabar untuk sampai ke rumah menemani adikku.

Jalanan kota yang macet membuat perjalananku menuju rumah bertambah lama. Setelah menempuh perjalanan selama satu jam akhirnya sampai juga di rumah.

“adik! Kakak pulang” teriakku dari luar rumah, adikku langsung berlari menghampiriku.
“Kakak mengapa kau pulang cepat?” tanya adikku.
“kau tak perlu tahu, yang penting Kakak bisa menemanimu” ucapku.

Aku pergi ke Ruang Utama untuk menghilangkan rasa lelahku.

“Tasya, kamu tahu tidak? Kata Ayah, perkiraan, besok kita pindah rumah. Kamu senang tidak?” tanyaku. “iya kak aku senang, berarti Kakak pulang lebih cepat dan bisa menemaniku” jawab Tasya.
“iya Tasya” ucapku. Aku pun menyalakan laptop hanya untuk menghIbur diri saja dan adikku sIbuk bermain game.

Hari menjelang malam, Ayah dan Ibu pun pulang.

“Ayah, apakah sudah menemukan rumah untuk kita pindah?” tanyaku.
“sudah, besok kita bisa pindah, apakah besok kau lIbur?” tanya Ayah.
“iya yah, jadi besok sabtu, kita merapikan barang-barang di rumah baru” ucapku dengan wajah yang senang.

Keesokan harinya kami merapikan barang-barang dan dimasukan ke truk pengangkut barang. Kami pun segera berangkat ke Rumah baru. Saat sudah sampai aku melihat rumah itu, besar, indah, halamannya besar dan sejuk karena di samping rumah ini terdapat pohon besar yang rindang.

Kami pun masuk dan aku beranggapan rumah ini seperti istana karena rumah ini luas dan juga indah. Ayah pun menunjukan kamarku, walau tak jauh beda dengan kamarku sebelumnya, aku merasa sudah nyaman.

Sesudah barang-barang dimasukan ke dalam rumah dan sudah dirapikan, aku berjalan-jalan mengelilingi rumah baruku bersama adikku, hanya ada satu ruangan yang tidak dapat kami masuki karena terkunci dan Ayah pun tak diberi kunci ruangan itu oleh pemiliknya.

Makan malam pertama di rumah baru kami, sangat menyenangkan. Suasana perumahan kota pun tampak begitu jelas di suasana siang mau pun malam hari. Aku ingin terus tetap tinggal di rumah ini, walau pesona alam kalah indahnya dengan rumah kami saat di pedesaan, tak apa asalkan bisa membuat kebersamaan yang erat. Sesudah makan malam kami melihat hIburan malam di televisi dan selanjutnya tidur.

Pukul 03.30 aku terbangun karena aku ingin buang air, saat aku berjalan, aku merasakan sesuatu yang aneh, perasaanku mulai memberikan pertanyaan. Ada apa? mengapa? Dari dapur terdengar suara seperti ada yang mengambil piring dan sendok. Saat aku melihat ke dapur, perkiraan aku itu adalah Ibu, tetapi tak ada orang di dapur.

Aku pun masuk ke kamar mandi untuk buang air kecil. Sesudah buang air aku kembali ke kamar tidur ku. Saat berjalan aku melewati ruangan yang terkunci itu, aku mendengar suara piano yang merdu, terus mendengarkannya dan pada akhirnya terdengar suara wanita sedang menangis.

Aku pun lari menuju kamar orangtuaku dan membangunkan mereka.

“Ibu! Ayah! bangun!” ucapku dengan memegang badan mereka.
“aduh Dinda ada apa?” tanya Ibu.
“itu bu ada orang yang menangis di ruangan yang terkunci, di ujung” ucapku dengan panik.
“ah masa ada orang sih, kan kamar itu dikunci, lagi pula Ayah tidak memegang kuncinya” ucap Ayah.

Aku berusaha meyakinkan mereka dan ternyata mereka mengikutiku, setelah sampai di sana kami tidak mendengar suara tangisan dan suara melodi piano. Orangtuaku tak percaya dan mereka menganggap aku hanya bergurau.

Matahari mulai tampak di ujung timur. Hari sudah siang. Hari ini hari minggu, aku dan Tasya hanya berdiam diri di rumah, sedangkan orangtua kami, ada urusan ke luar kota. Merekapun pergi, hanya ada aku dan adikku.

Aku duduk di depan meja komputer, menyalaakan komputer dan bebuka jejaring sosial facebook. Sedangkan adikku sedang serius bermain game. Saat sedang membuka facebook ternyata listriknya padam, yang membuat aku aneh adalah game yang dipakai adikku ternyata ikut padam dan listrik yang mati hanyalah kamar
ku sedangkan ruangan yang lain tidak padam.

Tak lama arus listrik pun mengalir kembali. Tiba-tiba ada yang membunyikan bel pintu, saat aku dan adikku melihat ke luar rumah, ternyata tidak ada orang. Aku tak melepaskan genggaman tanganku dari tangan adikku karena perasaanku sangat buruk, aku tak mau adikku celaka.

Tiba-tiba hujan besar turun disertai dengan petir yang kencang.

“Kakak aku takut” ucap adikku.
“tidak Tasya, kamu berani, kamu kuat, sebentar lagi Ibu pulang” ucapku agar menenangkan adikku.

Sekilas aku melihat sosok wanita yang berjalan dari ruang utama menuju ruang tamu saat kulihat, ternyata tidak ada siapa-siapa. Entah mengapa tiba-tiba adikku menangis, aku coba menenangkanya, tetapi tetap saja dia menangis.

Sekilas aku mendengar suara air mengalir, saat aku mencari dari mana sumber air mengalir itu, tetap saja tak kutemui. Saat aku dan adikku melewati ruangan yang terkunci, aku dan adikku mendengar suara piano dan tangisan wanita, tangisan wanita itu membuat ku terharu, ingin membuka pintu dan takut.

Keadaan mulai membaik, adikku sudah tidak menangis lagi. Kami pun memutuskan untuk berdiam di kamar Ibu dan Ayah. Saat kami sedang menenangkan diri tiba-tiba sosok wanita berbaju putih menampakan dirinya di jendela kamar. Kami pun merasa takut.

Aku memutuskan untuk pergi ke kantor tempat Ibu bekerja. Aku dan adikku menggunakan sepeda untuk sampai ke sana, aku tak tahu Ibu menyimpan jas hujan di mana, terpaksa kami tak memakai jas hujan untuk sampai ke sana.

Saat aku sedang mengemudikan sepeda, seperti ada yang mengikutiku dari belakang. Suasana yang sepi membuatku takut. Adikku memegang pundakku.

“ada apa Tasya?” tanya ku.
“Kakak lihat itu adikku menunjuk ke arah kanan jalan, saat ku lihat, itu adalah wanita yang menampakan dirinya di luar jendela.

Aku yang mengemudikan sepeda dengan tenang, menjadi sangat cepat. Aku dan adikku berteduh di pos keamanan, lelah, lemas dan basah, bembuatku berhenti untuk melanjutkan perjalanan.

“Kakak aku kedinginan” ucap adikku. Badannya menggigil.
“iya dek Kakak juga kedinginan” jawabku.

Saat ku lihat dari kejauhan, aku melihat wanita sedang berjalan menggunakan payung dan menghampiri kami.
“aduh, kalian kebasahan, ayo ikut Ibu, ke rumah Ibu” ucap Ibu itu.
“iya bu, terima kasih” jawabku.

Di rumahnya kami diberi baju hangat minuman hangat dan air panas untuk kaki kami.

“kalian adik Kakak?” tanya Ibu itu.
“iya benar bu” jawabku.
“mengapa kalian hujan-hujanan begini?” tanya Ibu itu.
“kami akan ke kantor tempat Ibu bekerja” jawabku.
“di mana rumah kalian?” tanya Ibu itu.
“di jalan melati II, nomor 333″ jawabku.

Saat Ibu itu mendengar alamat rumahku dia terlihat terkejut sekali.

“dahulu saat Ibu masih kecil, Ibu tinggal di seberang rumah itu. Di sana ditempati oleh wanita remaja yang cantik, dia senang dan juga pandai bermain piano, entah mengapa dia sering menangis saat bermain piano. Saat sedang bermain piano, dia dirampok lalu di bunuh. Warga menemukan mayatnya sudah tidak bernyawa di ruang belakang dekat dapur, yang dipakai untuk bermain dan menyimpan piano. Sejak itu ruangan tempat ia dibunuh, dikunci dan kuncinya dikubur bersama dengan mayatnya. Rumah itu dijual oleh kerabatnya, lalu turun-temurun dijual dan akhirnya sampai pada keluarga mu” Cerita singkat dari Ibu itu.

“saat semalam aku mendengar suara piano dan tangisan dari ruang itu” ucapku.
“Ibu minta nomor ponsel Ibumu, untuk menjemputmu di sini!” seru Ibu itu.
“ya bu, 08xxxxxx” jawabku.

Saat pukul 17.15 Ibu menjemputku. Aku menceritakan apa yang aku dan adikku alami di rumah itu kepada orangtuaku. Ibu percaya dengan apa yang sudah aku alami.

Pada hari senin kami pindah kembali ke rumah yang lebih aman, nyaman, walau pun tak sebagus rumah kami yang kemarin kami tempati. Akhirnya aku dan keluarga hidup seperti biasa kembali, di tempat tinggal baru. Rumah itu tidak dilihat dari keindahannya tetapi dari kebersamaannya.

Sumber Klik Disini :

Sari dan Risa

Posted: 07/07/2015 in Horor
Tag:

“Shara!!” teriak kak Sakura memanggilku.
“Apaan sih Kak?” tanyaku. “Shara kan lagi ngerjain pr!”
“Shar, kamu lihat Apina tidak?” tanya kak Sakura.
“Ngga Kak!” Jawabku. Aku segera kembali ke kamarku. Aku memasang headset lagi dan mulai mengerjakan pr MTK ku lagi.
Apina… Kemana adikku itu..?
“Ganti! Lagunya jelek!!” ujarku menggerutu. Aku pinjam Ipod Kak Sisilia untuk mendengarkan musik.

Ya, namaku Shara Anindita Roselia. Panjang? Panggil aku Shara. Teman-temanku memanggilku ‘Rosela’ -Nama belakangku. Tapi mereka kurang ‘I’-.

“Kak Si! Tolong aku!” Sahutku memanggil Kak Sisilia.
“Kak Si!” Tak ada jawaban. Uh! Aku baru ingat! Kak Si ada di rumah Kak Nikani, tetangga kami. Aku mem-pause lagunya dan melepas headset. Kututup pulpen warna violet/ungu yang baru ku beli 3 hari yang lalu. Aku melangkah ke luar kamar.

Aku melihat Kak Sakura masih mencari Apina. Aku terus berjalan.

Aku melihat rumah di seberang yang terkesan angker. Wah, lampu depannya nyala. Hore!! Ada penghuni baru! Aku memutuskan mencari Kak Si nanti. Aku berjalan menuju pintu rumah itu.

Aku mengetuk pintunya. “Halo. Saya Shara. Tetangga Anda!”
“Ya, saya Sari. Mari masuk!” Orang itu membuka pintu dan mempersilakanku masuk.
“Oh ya, Anda tinggal dengan siapa?” tanyaku ramah.
“Kembaran saya, Risa,” jawabnya lembut. Wah, dia sepertinya penyuka horor. Suaranya saja kayak kuntilanak… Hahaha!

Sari, rambutnya coklat bergelombang. Matanya rada hitam-hijau. Dia memakai hoodie pink-hitam, rok jeans selutut, kalung leher berduri, sepatunya gambar tengkorak dan jenis tempel-lepas dan ia berkuncir satu ke belakang-samping. Karet kuncirnya bergambar tengkorak.

“Risa!! Ada tamu!” teriak Sari.
“Wah…!” Risa sedikit mirip dengan Sari. Rambutnya lurus. Ia dikuncir samping, memakai karet kuncir bergambar pisau dan tengkorak. Ia memakai turtleneck pink-hitam bergaris, celana jeans selutut, sepatu tali bergambar tengkorak, dan kalung leher berduri, tapi lebih ekstrim.
“Ayo masuk!” ucap Risa ramah. Aku berjalan ke dalam. Tiba-tiba, pintu terkunci sendiri.
“Aaaaaa!” Jeritku. Mulutku langsung dihempas oleh Risa. Sari langsung berubah. Ia menampakkan, wujud aslinya!
“Kau pastilah Ayuri Kyonin!” ujarnya kejam.
“Bukan! Aku Shara Anindita Roselia!” teriakku sesendu-sendunya.
“Tapi kenapa kau bunuh kami!?” tanya Risa.
“Tidaaaaaaak!! Aku baru 10 tahun! Tidak mungkin! Lagian aku baru bertemu kalian!” jawabku sekencang-kencangnya.
“Aku Sari Sentosa. Saudaraku Risa Sentosa! Aku dan Risa lahir 5 Juli 1923!! Kami juga menyaksikan sendiri bagaimana kau menyiksa orangtua kami! Jangan bilang kau tak tahu!” jelas Sari tegas. Risa mengangguk mengiyakan perkataan Sari.
“Ini sudah 2014!” jawabku. Mereka kembali ke wujud manusia mereka.
“Baik, mungkin ini yang pertama dan terakhir, Ra. Ini sudah terlalu lama!” ucap Risa.
“Kita akan selalu berteman, kan?” tanyaku.
“Tentu! Da!!” mereka menghilang dari pandanganku seketika. Gemericik cahaya mengantar kepergian mereka serta mereka memaafkan siapapun Ayori Kyonin.

Sumber Klik Disini :