Archive for the ‘Kehidupan’ Category

Ruang tunggu kecil yang terletak di bagian dalam sebuah apotik itu dipenuhi pasien. Mereka duduk di kursi-kursi dan memegang selembar kecil kertas yang bertuliskan nomor antrian dengan wajah gusar. Seorang lelaki tua yang ditemani anak lelakinya duduk dengan mata terpejam dan kepala menyandar ke dinding. Dadanya naik turun dengan tempo cepat. Sementara di sisi lain, seorang wanita paruh baya mengobrol dengan pasien lain sambil sesekali melirik jam tangannya. Seorang pemuda berusia dua puluhan berjalan mondar mandir. Kelihatannya setiap orang dibuat kesal dan marah. Asisten dokter, seorang lelaki berbadan gendut dibungkus kemeja hijau terus menerus mengucapkan lelucon bersama seorang pasien bertubuh kurus. Mereka tampak akrab. Tawa mereka memenuhi ruangan yang pengap itu.

Dua jam berlalu, sang dokter belum juga menunjukan batang hidungnya. Pemuda itu tak mampu lagi menahan gejolak emosinya.
“Sudah hampir dua jam aku di tempat ini, kemana dokter itu belum juga datang?” Serunya. Suaranya menyita perhatian orang-orang yang berada di situ.
“Aku juga.” Sahut seseorang. “Aku datang kemari ketika belum ada seorang pun. Seharusnya dokter itu tiba satu setengah jam yang lalu.”
“Mungkin ia tengah terjebak macet.” Sahut seorang ibu-ibu yang duduk di pojok ruangan.

Asisten dokter itu bangkit dari duduknya. Ia meninggalkan meja kecil yang dipenuhi daftar nama pengunjung hari itu. Tanpa mengacuhkan komentar para pasien, ia berjalan keluar lalu menyalakan rok*k. Ia tampak tak peduli dengan sebagian pasien yang menatap marah. Ia hanya tak peduli. Pemuda tadi mengekor, ia butuh udara segar karena terlalu lama dalam ruangan itu membuat dadanya sesak dan pikirannya panas.

Si asisten merok*k sambil memandangi jalan raya yang penuh oleh kendaraan yang melintas. Malam cerah seperti ini biasanya banyak anak-anak muda tanggung melakukan balapan liar. Terkadang timbul korban jiwa. Dasar bodoh, gumam si asisten.

Pria kurus tadi menyusul. Ia mengencangkan jaket tebalnya dan melihat sekeliling. Matanya yang sayu tampak buram di bawah sinar lampu penerangan jalan yang redup. Kedua tangannya dilipat di dada.
“Apa dokter itu baik-baik saja?” kata pria kurus itu.
“Tentu saja.” sahut si asisten dengan pasti.
“Ku dengar ia tengah terlibat masalah. Benar begitu?”
Si asisten terlihat tidak enak dengan perkataan itu. Ia berusaha menutupi. Si pemuda mendengarkan saja tanpa memberikan komentar.
“Aku tak tahu. Ia tak berbicara hal semacam itu selain pekerjaan”
“Memangnya masalah apa?” ujar si pemuda penasaran.
“Sudahlah, jangan menyebar gosip.” Sahut si asisten pada pria kurus.
“Tidak. Aku tak bermaksud begitu. Hanya saja perkara itu mulai merebak dan meresahkan sebagian besar pekerja di rumah sakit.”
“Memangnya masalah apa?” kata si pemuda sekali lagi.
Si asisten mendesah. Ia terbatuk-batuk. Namun seperti dibuat-buat. Ia tak ingin membicarakan hal seperti itu lagi. Baginya bekerja di situ saja sudah cukup membahagiakan. Ia tak ingin menjadi penganggur yang menjadi cemoohan para tetangga. Sudah cukup baginya melewatkan hari-hari yang membosankan dan membuat pikirannya tertekan. Tapi ia harus menjaga profesionalismenya sebagai asisten dokter. Max tersenyum seperti mengejek. Ia memang sudah berteman lama dengan si asisten yang hanya mampu bekerja sampai disitu saja. Sedangkan Max bekerja di sebuah bank di pusat kota. Ia menjadi bujangan tua meski masih mampu menikmati hidupnya dengan mengunjungi bar-bar yang dipenuhi wanita cantik dan orang-orang yang putus asa; menghamburkan uang demi sebuah kebahagiaan yang tak kan pernah bisa ia pahami.. Dengan begitu, ia menghibur dirinya. Wajahnya yang tirus tampak lelah dan pucat.

“Gadis itu sepantasnya jadi anaknya.” Kata Max.
“Ya, tapi ku akui, dokter itu punya pesona yang tak biasa. Tampan dan kaya, dan belum menikah.”
“Ya, dan kini semua orang membicarakan mereka dan moralitas dan kau mulai membela dokter malang ini.”
“Persetan. Orang-orang munafik yang senang mencari kesalahan orang lain. Aku benci orang-orang seperti itu. Sebenarnya tak ada yang salah. Tapi pendapat orang bisa berbeda-beda.” Ujar si asisten.
“Ya, persetan.” Sambar si pemuda sambil tertawa.
Pria kurus dan asisten itu menatap tajam si pemuda. Mereka tampak tidak senang sehingga pemuda itu menyesali perkataannya.
“Maaf.” Katanya kemudian. “Mungkin sebaiknya aku masuk ke dalam dan menunggu.”
“Sebaiknya begitu, anak muda.” Kata si asisten.

Pemuda itu berbalik dan berjalan dengan wajah tertunduk menuju deretan kursi di ruang tunggu. Sebelum duduk, ia memandang sekali lagi ke arah pria kurus dan si asisten, lalu menjatuhkan pandangannya ke lantai berubin putih.
“Sudahlah, Max. Tak ada gunanya membicarakan urusan pribadi orang lain.”
“Aku tahu. Masalahnya, gadis ini keluarga dekatku, Jon. Aku tak tahu bagaimana harus menanggapinya.”
“Gadis itu sendiri bagaimana? Maksudku, apakah ia terlihat seperti tertekan dengan pemberitaan mengenai hal itu?”
“Tentu saja. Kedua orang tuanya bahkan marah besar. Mereka memintaku untuk menasihatinya.”
Si asisten membisu sesaat. Ia menyalakan lagi rok*knya.
“Harusnya, kalau dia merasa malu, ya jangan dilakukan. Lantas, sudah kau temui gadis itu?”
“Belum. Aku tak tahu apakah harus menemuinya atau tidak.”
“Kenapa memangnya?”
“Menurutku, sia-sia saja. Dia ‘kan sudah dewasa.”
“Ah, keluarga macam apa kau ini.”
“Bukankah kalau kedua orang tuanya peduli, mereka yang mesti datang kemari dan mengatakannya secara langsung?”
“Kau benar. Tapi setidaknya kau menunjukan tanggung jawabmu sebagai paman yang baik.”
“Ah, sudahlah Jon. Menurutmu, dokter itu bisa dipercaya? Ataukah sama halnya dengan playb*y murahan yang bersembunyi dibalik kekayaan yang mereka miliki?”
“Aku tak tahu pasti, Max. Aku tak terlalu mengenal orang itu. Ia tak banyak bicara. Bahkan aku tak tahu dimana ia tinggal.”
“Ya, ampun. Memangnya sudah berapa lama kau bekerja dengannya?”
“Hampir setahun.”
“Aneh juga kau tidak mengenalnya.”
“Ya, separuh koleganya mengakui tabir misterius yang menyelimuti pribadi dokter ini.”
“Bagaimana kau tahu?”
“Aku mendengar mereka membicarakannya.”

Si asisten hendak mengatakan sesuatu namun urung dilakukan ketika sebuah mobil Avanza G warna hitam berhenti tepat di depan apotik. Sesosok pria berusia sekitar 50-an muncul dari dalam mobil yang mengkilap dan mulus. Pakaian putih dan stetoskop yang melingkar di lehernya dan tas jinjing berbentuk persegi di tangan kanannya menandakan bahwa ia seorang dokter. Badannya tegap tinggi dengan langkah besar meski rambutnya mulai memutih. Matanya redup dan ia tampak ragu-ragu. Ia melewati si asisten dan pria kurus tanpa berkata.

Si asisten segera kembali ke meja tulisnya meninggalkan pria kurus. Dokter itu membisikan sesuatu padanya. Si asisten mengangguk-angguk sambil melirik ke arah pria kurus. Kemudian, sang dokter masuk ke dalam ruangan pemeriksaan. Si pemuda pun bergegas menyusul ke dalam. Tampaknya, malam ini akan sangat sibuk.

Sumber Klik Disini :

Kaki kecilnya tak pernah berhenti melangkah menyusuri liku-liku jalan yang dipenuhi hiruk pikuk masyarakat kota. Tangan lihainya menjajakan sebuah kue sederhana khas kota tempat kelahirannya, demi menyambut esok pagi yang lebih baik. Walau usianya sudah semakin renta, nenek tua itu masih semangat untuk berjualan, ia tak mau bergantung pada nasib anak cucunya. Ia yakin, ia mampu menghidupi dirinya sendiri dengan hasil jerih payahnya sendiri.

Senyumnya selalu terukir di wajahnya yang mulai keriput kepada setiap orang yang ia temui sepanjang jalan. Rasanya matahari semakin meninggi. Bulir demi bulir keringatnya pun mulai berjatuhan dari dahinya yang bertatapan langsung dengan sang mentari, menandakan ion tubuhnya mulai menipis. Terkadang jika ia begitu merasa lelah, ia selalu sempatkan diri untuk duduk sebentar di pinggir trotoar sambil menengguk beberapa tetes air mineral yang setidaknya dapat menjadi oase di gurun tenggorokannya.

Langkahnya kembali terpadu, mulutnya kembali menyuarakan hal yang sama, berharap seseorang dapat menghampiridan membeli kue yang sudah ia buat sejak pagi buta itu. teriakannya pun berbuah manis, seorang gadis kecil bergaun merah menghampiri nenek tua itu sambil membawa selembar uang lima ribuan. Nada bicaranya yang masih sedikit cempreng pun berhasil mengukir satu senyuman di bibir kering nenek tua itu.

Detik jam terus berlalu. Terkadang takdir memang tak searah dengan apa yang kita dambakan. Sore itu, hujan deras kembali mengguyur kota yang cukup padat penduduk ini. Kendaraan-kendaraan pribadi yang bertebaran sepanjang jalan pun seakan menambah riuh suara hujan yang kian deras. Jalanan pun makin licin dan becek, membuat sang nenek tua itu susah berjalan untuk kembali ke peraduannya.

Petang datang menyambar. Nenek tua itu masih merenungi nasibnya untuk esok pagi. Kue yang tadi ia jual belum juga seberapa karena terpotong deras hujan yang mengguyur habis permukaan kota. belum lagi cadangan kayu bakar untuk kompor tungkunya telah habis, mungkin jika petang ini tidak hujan, ia akan sempatkan diri menuju hutan yang cukup belantara untuk mencari batang-batang kayu yang memenuhi sisi hutan. Tapi, kini ia hanya bisa merenung, berharap keajaiban bisa menjemputnya di sela milyaran manusia yang ingin juga dijemput oleh sang keajaiban.

Suara lantunan ayat-ayat suci menjadi penghias malam temaramnya. Setidaknya rumah bambu yang ia tempati itu akan menjadi lebih hidup karena lantunan ayat Tuhan itu.
“Hanya kepadamulah hamba menyembah dan hanya kepadamulah hamba memohon pertolongan.” Sebaris do’a yang dapat ku dengar dari bilik bambu rumah yang mulai rapuh itu.

Begitu kasihan nenek tua itu, hidup sendiri dalam rumah yang mulai rapuh termakan usia. Kemanakah anak-anaknya? Apa mereka lupa atas jasa yang telah diberikan sang ibu pada mereka? Mengapa sang anak tega membiarkan ibunya hidup sebatang kara seperti itu? Tidakkah ada rasa kasihan di hati mereka? Apakah mereka telah mati, atas gelimpangan harta yang telah mereka miliki sekarang? Oh, mengapa aku jadi berfikir seperti ini? Aku tidak pantas berprasangka buruk pada anak nenek tua itu.

Pagi-pagi sekali ia sudah keluar dari peristirahatannya. Mencoba sejenak menghirup udara pagi dan mengisi perutnya dengan beberapa potong kue bekas kemarin.
Dengan langkah kecilnya, ia menuju hutan belantara itu, ditebarnya pandangan ke seluruh sisi hutan supaya dapat mempercepat pencarian kayu bakar yang akan ia gunakan untuk memasak kue-kue kecilnya.
Senyumnya kembali terukir saat ia melihat hamparan kayu-kayu kering di tengah hutan itu. Dengan lihai, ia mengumpulkan semua kayu-kayu itu dan diikatnya dengan kuat. Walau badannya mulai rapuh, ia masih mampu membopong kayu-kayu itu, setidaknya sampai tepat di samping rumah bambunya. Karena disitulah ia mulai membuat kue kecilnya yang dulu ia pelajari dari sang ibu.

Waktu masih berlalu. Matahari pun mulai menyorotkan sinarnya hingga ke ujung bumi pertiwi. Hari ini ia sedikit terlambat untuk memulai aksinya. Hujan di sore itu memang sedikit membuatnya merugi, tapi apa yang bisa ia perbuat? itu sudah ketetapan Tuhan untuk mengatur segala sesuatu yang akan terjadi di alam semesta ini.

Kembali berteman dengan debu-debu. Kembali ke jalan megah metropolitan. Mungkin ia hanya sebagian kecil dari metropolitan ini, tapi setidaknya ia ikut meramaikan perjalanan kota. Sudah bertahun-tahun ia mencoba menjemput pundi-pundi rupiah di tempat ini. Walau ia tahu, makanan modern lebih diminati masyarakat kota, tapi mimpinya mungkin nyata, setidaknya masih ada yang setia dengan makanan tradisional seperti apa yang ia jajakan.

Aku tersenyum melihat nenek tua itu begitu bersemangat menjajakan dangannya di sisi jalan ibukota ini. Usia boleh saja tua, tapi semangatnya seakan tak pernah tua. Aku tau, ia begitu lelah tapi ia tetap mampu membentangkan senyum di kedua bibir mungilnya.

Aku pun terheran, mengapa anak muda jaman sekarang lebih memilih untuk ngganggur daripada mencari pekerjaan, walau kerjaan itu dianggap remeh oleh sebagian orang. Apa mereka gengsi? jika setidaknya mereka menjual koran-koran ataupun sekedar menjual minuman pelepas dahaga di sisi-sisi jalan. Usia anak muda pasti belum mencapai kepala 3, tapi mengapa semangatnya sudah seperti kakek renta yang dengan pasrah dititipi di panti jompo? Aku tidak habis fikir.

Kembali ke nenek tua itu. hari ini ia cukup beruntung, karena ia pulang sambil membawa keranjang jualannya saja. Ya! semua kue nya laku terjual. Hujan tak lagi menjadi penghalang pundi rupiahnya.

Ia kembali terduduk di atas sajadah tua kenang-kenangan dari ayahanda tercintanya. Sajadah tua itu selalu menemani sang nenek untuk mengadu kepada Tuhan. Tapi bukan aduan lagi yang kini ia dengar dari mulut nenek tua itu, tapi ucapan syukur yang tak henti-hentinya keluar. Sang nenek berkali-kali sujud syukur atas peruntungannya hari ini. Ditemani lampu temaram yang sekiranya cukup untuk menerangi tubuh dan sajadah tua nya.

Pagi kembali menjemput. Kembali berteman dengan debu-debu. Kembali ke jalan megah metropolitan. Membanting tulang yang kian rapuh, demi 1 rupiah yang ia tunggu.
Nek, semoga langkahmu tetap tegar walau tak lagi tegap.
Semoga semangat mudamu tetap bersinar, walau langit memaksa meradang.
Semoga mimpi-mimpimu ‘kan selalu hidup walau hanya sebagai bunga malam.

Sumber Klik Disini :

Supeno kerahkan seluruh tenaga untuk mendorong gerobak sampah warna kuning miliknya hingga melesat lebih kencang dari biasanya. Pakaian kumal compang-camping yang ia kenakan basah kuyup oleh keringat. Napasnya tersengal-sengal dan otot-ototnya tampak jelas mencuat dari balik lapisan kulit hitam legam akibat terpapar sengat mentari tiap hari. Tidak ia hiraukan barang bawaan kelewat berat itu. Di benaknya, ia ingin cepat sampai di gubuk reyotnya yang berdampingan persis dengan tempat penampungan sampah, kemudian bergegas menemui istrinya, Ningsih.

“Bu … Ibu …” panggil Supeno setengah teriak ketika sampai di gubuknya yang amat sederhana. Sebuah bangunan rapuh, terbuat dari potongan-potongan kayu triplek tipis. Atapnya pun bolong sana sini.

“Nggih Pak …” sahut istrinya tengah asik memilah botol plastik untuk dikilo ke pengepul esok pagi. Wanita paruh baya berkulit kusam segera berlarian mendatangi asal suara. Tak biasanya Supeno memanggil dirinya dengan nada seperti itu.

“Bu, Bu, ayo cepat ke sini! Alhamdulillah, Bu! Hari ini Bapak dapat rejeki banyak!” serunya bersemangat. Air mukanya menunjukkan kegembiraan yang memuncak. Ia sambar kantong plastik hitam besar dari kait gerobak dan cepat-cepat masuk ke dalam gubuk. Istrinya mengekor penuh rasa penasaran.

“Oalah, Alhamdulillah Gusti! Matur sembah nuwun” pekik Ningsih melihat beberapa kotak nasi dikeluarkan dari kantong plastik. Supeno pun tak kalah sumringah mendapati reaksi dari istrinya. Sudah dua hari mereka makan makanan yang diperoleh dari tempat sampah sekitar pemukiman kompleks. Makanan itu terasa hambar di lidah dan berbau busuk, hampir basi. Meski begitu, mereka selalu panjatkan rasa syukur, tak pernah memandang besar kecilnya rejeki yang mereka dapatkan.

“Bapak dapat dari mana makanan ini?”
“Ayo cepat dimakan, Bu. Nanti saja Bapak ceritakan. Sekarang kita makan sama-sama. Enak-enak loh Bu. Jangan lupa berdoa. Alhamdulillah doa kita didengar,” Supeno berikan nasi dan lauk utuh kepada istrinya. Sedangkan ia memilih nasi sisa yang tak habis dimakan.

“Loh kok cuma dilihat toh, Bu? Ayo cepat dimakan” tegas Supeno melihat istrinya itu hanya terdiam memandangi isi kotak nasi di tangannya. Sesekali Ningsih dekatkan hidungnya ke makanan itu. Memastikan apakah ia sedang bermimpi atau tidak.

“Eman’e, Pak. Buat besok aja yo?” jawabnya lirih memelas. Kedua mata letih itu berkaca-kaca menahan haru.

“Ealah, Bu. Ibu ini dikasih rejeki kok ditolak? Nda baik itu. Besok sudah ndak enak nasinya. Ayo toh, dimakan” ujar Supeno sambil mengunyah. Sebetulnya ia juga sayang dan enggan menyentuh potongan ayam bekas gigitan orang itu. Buktinya, ia lebih banyak makan nasi ketimbang lauk pauknya. Menyisakan lauk terenak belakangan.

“Nggih Pak” setelah dibujuk, dimakan juga hidangan itu perlahan. Menikmati tiap kunyahan dalam mulutnya. “Eh, iyo ‘e Pak. Uenak yo! Pesen makanan kayak gini, pasti mahal banget yo Pak”

Untuk sejenak, indera pengecap dan perut mereka merasakan nikmat yang tak terkira. Mungkin bagi kita, hidangan itu nilainya tak seberapa. Namun, untuk mereka, sajian itu luar biasa istimewa.

Sesudah hidangan habis termakan, dengan terampil Ningsih membereskan kotak nasi. Supeno menyandarkan tubuhnya di salah satu sudut ruangan, meluruskan kedua kakinya yang terasa pegal.

“Jadi gini, Bu. Tadi kebetulan Bapak lewat lapangan. Nah di sana lagi ada kampanye. Bapak pikir, pasti banyak sampah yang bisa dibawa pulang. Ya sudah, Bapak korek tempat sampah di sana. Nda tahu, tiba-tiba Bapak didatangi orang berseragam kampanye. Terus orang itu kasih nasi kotakan sama nyelipin amplop. Ya Bapak terima. Nah, waktu mau pergi dari sana, kok Bapak lihat banyak kotakan nasi nggak kemakan. Ya Bapak angkut sekalian. Kan lumayan toh Bu? Nasinya juga masih bagus” tutur Supeno kepada istrinya yang terlihat serius mendengarkan kisah suaminya. “Ini uangnya, Bu. Cukup untuk keperluan sebulan ndak?” Ia serahkan amplop berisi satu lembar uang berwarna biru.

“Alhamdulillah” sahut Ningsih menyambut amplop putih dengan hati suka cita. “Uangnya cukup kok Pak. Asal Bapak ndak beli rokok banyak-banyak. Besok Ibu ke pasar beli beras sama telor nggih, Pak?”

“Iya, Bu” jawab Supeno mengiyakan. “Tapi kenapa yo Bu, mereka jadi dermawan banget sama rakyat miskin seperti kita ini cuma waktu kampanye? Habis masa kampanye, mana ada orang kaya keluar masuk pasar atau datang ke tempat kotor? Harga sembako yo ndak berubah, malah tambah mahal” Supeno menengadah setengah melamun. Ia berharap, suatu saat nanti, orang-orang kaya dan berpendidikan tinggi itu dapat mengubah bangsa lebih baik. Tidak mementingkan diri sendiri.

“Ya sudah lah, Pak. Yang penting kita selama hidup berbuat baik, udah cukup. Ndak usah neko-neko seperti mereka. Banyak uang tapi mumet ya sama aja, Pak. Rejeki juga udah ada yang ngatur. Sekarang Bapak istirahat aja yo. Besok kita harus bangun pagi-pagi lho Pak” ujar sang istri seraya membantu melepaskan pakaian lusuh suaminya penuh kasih sayang dan kehati-hatian.

Sumber Klik Disini :

Jahil Karena Suka

Posted: 06/29/2015 in Kehidupan
Tag:

Hari ini adalah hari pertama Syabila belajar di sekolah barunya, SMA Bakti Jaya. Minggu kemarin dia sudah resmi menjadi salah satu siswa sekolah terfavorit di Jakarta.

“Syabila menurut elo di sekolah ini siapa sih yang cakep?” Tanya Gita membuka pembicaraan saat mereka sedang duduk bersama di meja kantin.

“Ah elo mikirinnya cowokk melulu, kitakan di sini buat belajar,” kata Syabila yang lebih memilih tidak menjawab pertanyaan konyol itu.

“Ayolah bila, kitakan disini buat cari ilmu sekalian itung itung cari jodoh. Apa salahnya coba?” jelas Tiara yang aneh akan jawaban sang teman dan Syabila hanya mutar mata muak akan perkataan Tiara.

“Kalo menurut elo ra siapa yang paling cakep?” Tanya Gita kepada Tiara.

“Kalo kata gue sih yang paling cakep itu Arga temen sekelasnya Syabila” jawab Tiara santai sambil menyuapkan mie ayam kemulutnya.

“Gue gak salah denger ya?” Tanya Syabila gak percaya kalo Tiara bakal nyebut nama Arga.

Arga adalah Temen sekelasnya yang mendapat gelar mulai dari hari ini akan menjadi musuh terbesar Syabila, pasalnya baru pertama ketemu di hari pertama dengan tidak ada rasa bersalahnya cowok tersebut main nyelonong masuk gitu aja setelah membuat Syabila jatuh. Dan lebih parahnya Sabila selalu di jahili oleh Arga atau gak di ledekkin. Gimana gak sebel coba.

“Kuping elo gak bermasalahkan? Apa harus gue bawa ke THT?” Tanya Tiara mencibir pertanyaan temannya.

“Oh ayolah, masa elo bilang Arga itu cakep? Dari sisi mananya?” kata Syabila lagi yang memilih untuk nanya balik karena masih heran.

“Argakan emang cakep bil,” timpal Gita santai .

“Cakep dari mananya sih? Ya ampun dia tuh…”

“Dia tuh apaan? Lagian terima aja kali kalo gue di bilang cakep sama temen elo” potong Arga kemudian yang sedang berdiri di belakang Syabila.

“Dia tuh orang yang paling jelek dan nyebelin yang pernah gue liat di dunia ini. Orang yang seneng banget jailin gue. Ya Allah udah ah mending gue kekelas deh, ngeliat elo napsu makan gue ilang,” kata Syabila kemudian kepada ke dua sahabatnya termaksud Arga yang udah ngebuat dia mendadak bête. “Ra, elokan anaknnya rakus, tuh bakso abisin aja ya, gue cabut duluan” lanjutnya lagi sambil berlalu meninggalkan Tiara dan Gita yang melongo akan sikap Syabila.

“Tuh anak kenapa?” Tanya Arga heran.

“Elo aja gak tau apalagi kita” balas Gita seadanya dan memilih untuk pergi balik kekelasnya diikuti Tiara.

“Oke kali ini praktek penelitian kita bakalan berpasangan ya” jelas Bu Rani kemudian yang emang demen banget ngasih tugas.

“Angel kamu sama Alex, Wulan kamu sama Ratih, Henri kamu sama Rita, Bagas kamu sama Fredo, dan Ema kamu sama Tita. Kalian bakal meneliti tentang tumbuh tumbuhan yang ada di taman penelitian” terang Bu Rani sambil menyebutkan nama teman teman Syabila.

“Duh Arga belum di sebut lagi, please dong jangan sama gue” kata Syabila sambil harap harap cemas.

“Dio kamu sama Terina, Bagus sama Rio, Megan sama Tiffany, Austin dengan Ari, dan Arga dengan Syabilaa. Kalian bakal meneliti tentang binatang” terang Bu Rani lagi ke pada 5 kelompok yang di beri tugas berbeda dengan kelompok sebelumnya.

“Ya ampun Bu Rani kejamnya dirimu” rutuk Syabila dalam hati menyesal akan keputusan Bu Rani yang menyuruhnya agar sekelompok dengan Arga.

“Eh ayo cepet anak anak udah pada keluar tuh elo ngelamun aja” kata Arga sambil menepuk pundak Syabila dan membuat Syabila refleks kaget . “Hey gue bukan setan tau sampe reaksinya sekaget itu, udah ayo ah” gerut Arga sebel sambil menarik tangan Syabila untuk mengikutinya menyusul teman temannya.

“Gak usah main pegang pegang juga” cibir Syabila kemudian saat mengetahui tangannya masih tergenggam di tangan Arga dan segera ia tepiskan.

“Ya elah gak usah sungkan sungkan gitu lagi . Gue juga tau elo demen kan gue pegang kaya tadi” kata Arga menggoda.

“Idih najis amit amit gue demen di pegang sama elo” balas Syabila bergidik ngeri dan segera berlari meninggalkan Arga seorang diri.

“Woy gue jangan di tinggal” teriak Arga kemudian mengejar Syabila yang telah meninggalkannya.
“Bil pulang bareng gue mau gak?” Tanya Arga kemudian setelah membuka helmnya di hadapan Syabila.

“Ogah. Lagian elo kesambet apa coba?” Tanya Syabila yang heran akan ajakan Arga.

“Mumpung gue lagi baik lagi nih, lagian elo juga pasti seneng kan ditawarin pulang bareng sama cowok ganteng trus baik kaya gue” jawab Arga santai.

“Kepedean elo melebihi taraf dewa dewi kali ya?” Tanya Syabila tak percaya sambil geleng geleng kepala.

Tapi sebelum Arga membalas pertanyaan Syabila sebuah klakson mobil telah menginterupsinya duluan.

“Syab, ayo cepetan” seru orang itu kemudian dari dalam mobilnya.

“Gue bunuh loe sekarang juga manggil gue pake nama syab lagi” omel Syabila kesel terhadap cowok yang duduk di balik setir tersebut. “Ah ga sorry ya gue udah di jemput jadi gue duluan” lanjut Syabila lagi sambil pamit berlalu masuk kedalam mobil tersebut dan lagi lagi meninggalkan Arga seorang diri.

“Yang tadi siapa?” Tanya Gerry penasaraan.

“Temen” balas Syabila singkat.

“Temen apa demen?.”

“Apaan sih loe, diem aja” cibir Syabila kesel di goda begitu dan jelas saja membuat Gerry seketika tertawa dan makin membuat Syabila kesel.

“Apa elo demen sama Syabila?!” Teriak Gita tak percaya akan pengakuan Arga yang notaben adalah kakak kandungnya dan untungnya Syabila dan Tiara tidak tau sama sekali.

“Gak usah teriak gitu Git” kata Arga kesel. “Tapi itukan baru perkiraan belum beneran demen” elak Arga kemudian yang seketika menyesal telah memberi tahu adiknya.

“Ah masa sih?” Tanya Gita dengan nada menggoda.

“Apa sih lo” gerut Arga makin sebel “Gue gak jadi ngedemenin Syabila deh, dan untungnya belum beneran demen” lanjut Arga angkat bahu sambil jalan meninggalkan Gita sendiri di ruang tengah.

“Ya elah kalo udah demen mah demen aje kali, kalo di pendem terus nanti jadinya malah suka truscinta juga” teriak Gita kemudian dengan santai tapi segera membuat Arga terdiam sejenak. (lebih…)