Archive for the ‘Keluarga’ Category

Apa Kelebihanku

Posted: 08/29/2015 in Keluarga
Tag:

Aku merasa iri dengan kalian. Dengan semua temanku, dengan semua saudaraku, bahkan dengan adikku sendiri. Mereka dilebihkan dengan sesuatu yang bisa membuat keluarga mereka bangga, terutama kedua orangtua. Sedangkan aku? Aku hanya bisa membuat keluargaku malu, kecewa, marah, dan bahkan menangis melihat semua tingkah lakuku.

“Kenapa sih Tuhan itu gak adil sama aku, kenapa mereka memiliki kelebihan sedangkan aku enggak?!” lamunanku.
“Kak.. dipanggil Mamah tuh dari tadi gak nayut-nyaut.” teriak Nissa adikku membuyarkan semua lamunanku.

Aku menghampiri Mamah yang mengajakku untuk makan malam. Adikku bisa membuat Papah dan Mamah bangga padanya, dia seorang yang berprestasi di bidang akademik di sekolahnya, sedangkan aku? Aku tak bisa apa-apa. Aku selalu benci dengan semua keadaan ini, dengan keadaan aku yang selalu merasa terpojok. Suatu saat aku harus bisa membuat mereka bangga padaku. Itu tekad kuatku.

Namaku Cindy, seorang siswa kelas XI di salah satu Sekolah Menengah Atas yang berada di Jakarta. Pagi ini aku harus berangkat ke sekolah lebih awal, karena semalam aku belum sempat mengerjakan pekerjaan rumah untuk pelajaran hari ini, dan semalam aku sempat menghubungi Nanda untuk datang lebih awal pula.

“Haii.. Cin, lo baru datang juga, gue kira lo udah datang dari tadi.” Ucap Nanda.
“Iya, tadi gue niatnya datang lebih pagi. Eeh.. ternyata hari ini gue sial motor gue malah mogok. Untungnya bengkel gak terlalu jauh.” Jelas Cindy panjang lebar.
“Eeeh.. Nan gue lihat pekerjaan rumah lo ya, semalam gue belum sempat ngerjainnya nih..” Bujuk Cindy.
“Yaa, kan semalam lo udah sms gue, maka dari itu gue belain datang pagi-pagi.” Sahut Nanda.
Untungnya aku punya sahabat yang selalu ada buatku. Setelah selesai aku mengerjakan tugas, aku langsung melihat keributan di luar kelas.
“Ada apa sih ini?” tanyaku pada Nanda.
“Mana gue tahu, dari tadi kan gue sama lo terus,” balas Nanda.

Dan ternyata keributan itu datang dari papan pengumuman yang di pasang di koridor sekolah. Pengumuman yang berisi bahwa sekolah akan mengadakan audisi menyanyi untuk acara event tahunan yang diselenggarakan oleh sekolah yang ada di Jakarta terutama Sekolah Menengah Atas.
“Waahh.. ini kesempatan bagus buat lo, Cin!” Tegas Nanda.
“Kesempatan bagus gimana maksud lo? Gue harus ikut audisi ini gitu menurut, lo?!” Balas CIndy.
“Ya iyalah, lo kan punya suara yang bagus, tinggal kepedeaan lo aja buat tampil depan orang banyak dikeluarin. Katanya lo pengen bikin keluarga lo bangga. Ya, menurut gue ini kesempatan yang tepat buat lo ngebuktiinnya.” Jelas Nanda panjang lebar.

Setelah aku pikir-pikir, ucapan Nanda tadi ada benarnya juga, kapan lagi ada kesempatan kayak gini. Tanpa pikir panjang aku pun mendaftarkan diri untuk ikut audisi menyanyi. Dan tanpa disangka-sangka ternyata para juri kaget mendengar suaraku yang bagus. Akhirnya aku yang terpilih untuk mewakili sekolah ke event tahunan.

Keesokan harinya aku pun tampil di ajang event tahunan tersebut.
“Waahh.. Kakak benar-benar bisa menyanyi dengan bagus, aku baru tahu kalau Kakak memang punya suara bagus seperti itu. Aku bangga sama Kakak, mah..” Ucap Nissa.
“Jangankan Nissa, Mamah dan Papah juga kaget mendengar suara Kakakmu yang bagus seperti itu.” Ucap Mamah dengan bangganya.

Sesampainya di rumah aku disambut dengan pelukan hangat dari Mamah, Papah, dan adikku tersayang. Ternyata pikiranku selama ini bahwa Tuhan tidak adil itu salah. Mungkin Tuhan mempunyai rencana lain untukku bisa membuat bangga semua keluargaku, dan sekarang terbukti. Semua itu akan indah pada waktunya.

Sumber Klik Disini :

Hanya Untuk Mama

Posted: 08/11/2015 in Keluarga
Tag:

Ku hela napas panjang dan ku pejamkan mata, “Aku Pasti Bisa!” ucapku sambil membentangkan senyum selebar mungkin. Ku tatap wajah juri yang tak dapat ku artikan, raut wajah penonton yang ada di depan ku pun tampak diam membisu. Kini yang ada dipikiranku hanya satu. Ya, mama. Bayangan senyum mama dan sebuah kado spesial dari Mama jika ada menang lomba pidato ini adalah semangat yang berarti bagiku. Walaupun mama tidak dapat hadir disini, pasti Ia sedang berdoa untukku di seberang sana. Aku Yakin.

Ku mantapkan hati dengan mengucap basmalah. Kini, aku telah siap! Pidato ini pun kubawakan dengan semangat membara.

Hembusan angin sore ini kurasa cukup kencang, karena mampu mengibarkan rambutku yang ku biarkan tergerai. Sudah seharian penuh ku berada di tempat yang cukup sesak ini. Karena disinilah tempat berkumpulnya manusia berbakat demi meraih satu gelar yang cukuo membanggakan. Ya! Menjadi juara lomba Pidato bahasa Inggris tingkat Nasional. Dimana pemenangnya akan di kirim ke Tokyo, Jepang. Untuk mengikuti lomba tingkat Internasional. Membanggakan bukan? Ya, yang aku tau, itu cukup membanggakan. Tapi aku tidak yakin termasuk dalam salah satu manusia berbakat itu. karena, aku hanya mampu menmberikan yang aku bisa.

Hatiku berdegup kencang. Aku tak bisa duduk tenang. Semula anggota tubuhku bergetar. Lisanku terus melantunkan doa kepada sang Halib. Juara 3 dan 2 telah dibacakan oleh Juri. Kini, tiba saatnya untuk membacakan siapa yang berhak meraih Juara Pertama.
Ya, ku terus pejamkan nmata sambil terus melafalkan doa doa itu. dan tak lama kemudian, ku dengar seseorang memanggil namaku.
“Yugi Catherina”
Langsung kubuka mataku, mencari tahu siapa yang telah memanggilku. Sampai namaku di panggil untuk kedua kalinya dengan suara yang sama
“Ya. Yugi Catherina dipersilahkan untuk menaiki panggung”
Aku benar-benar tak percaya. Aku yang di panggil oleh juri sebagai juara pertama.

Dengan hati yang berdegup kencang, aku menaiki anak tangga sambil mencubiti tanganku untuk memastikan bahwa ini bukan sekedar mimpi di siang bolong.
“Selamat ya, Yugi.” Ucap salah satu juri sambil memberikan piala, piagam dan sejumlah uang tunai.
Kupampangkan senyum selebar mungkin. Hatiku benar-benar bahagia. Aku merasa sangat puas dengan apa yang telah aku lakukan. Rasanya aku ingin cepat-cepat pulang. Aku ingin mama adalah orang pertama yang mengetahui kemenangan ku ini.

Di sepanjang perjalanan pulang, aku bersenandung kecil sambil membayangkan reaksi mama bila mendengar semua ini, dan kado apa ya yang kira-kira akan mama beri padaku?
Kulangkah kaki ini dengan riang, menyusuri liku gang kecil untuk menuju rumahku. Aku sudah tidak sabar lagi untuk bertemu mama. Kupercepat langkah kakiku sambil tersenyum-senyum sendirian. Mungkin sebagian orang telah menggangapku sebagai pasien yang habis pulang dari rumah sakit jiwa, atau apalah. Aku tak memperdulikannya
Tetapi langkahku terhenti ketika melihat bendera kuning pucat tertancap begitu dalam di sela pagar bambuku. Semua tubuhku bergetar. Semangat yang sedari tadi membara seketika berubah menjadi cemas. ‘Siapa? Siapa yang telah.. Bukankah aku hanya tinggal bersama mama?’

Tubuhku terasa begitu lemas. Air mataku kini telah membendung di pelipis mata. Ku lihat tubuh mama telah terkujur kaku dengan kain putih berpori yang menutupi seluruh tubuhnya. Perlahan, ku buka penutup wajah mama, begitu bersih dan penuh damai. Ku belai wajahnya seraya kutumpahkan air mata yang sedari tadi ku bendung.
“mama.. kenapa mama harus pergi secapat ini? mama harus tau, kalau aku menang lomba pidatonya mah. Mama harus peluk aku. Mama harus bangn, mah.” Ucapku sambil menggoyahkan punggungnya.
“Suah yugi, kamu jangan terlalu meratapi kepedihan ini. Saya juga mengerti. Kejadian ini terjadi sore tadi, sewaktu ibumu sedang membelikan kado spesial untukmu. Katanya ini adalah hadiah yang sangat kamu inginkan.” ucap salah satu tetanggaku yang sedang berada dirumahku sambil menyerahkan sebuah kotak bewarna merah cerah berhias pita merah muda yang berada ditengahnya.
Kuterima kotak itu dengan tangan gemetar sambil terus mengeluarkan air mata yang telah tak terhitung lagi jumlahnya.
“Dan ketika ibumu hendak menyebrang jalan, ia tak melihat jika ada motor yang melaju kencang. Akhirnya motor bersama pengendaranya jatuh terlempar hingga cukup jauh. Sedangkan ibumu sudah terkapar lemas di bawah aspal dengan darah yang berceceran dimana-mana. Ibumu langsung di bawa kerumah sakit, tetapi dokter menyatakan bahwa ibumu sudah tidak dapat di tolong. Benturan dikepalanya yang cukup keras, mengakibatkan luka parah diotaknya. Sabar ya Yugi. Di setiap kejadian pasti ada hikmahnya, kamu harus menerima ini. Karena tuhan telah menetapkan takdirnya.” Lanjut tetanggaku.
Aku yang mendengar ceritanya hanya bisa diam membisu. ‘semua ini gara-gara aku. Coba aja aku nggak menyuruh mama untuk memberikan mama untuk membelikan kado, pasti semua ini nggak akan terjadi’ gumamku.
‘Mah maafin Yugi..’

Kutatap kalung liontin yang berlapis emas itu. Tepat ditengahnya, terpampang jelas fotoku dan mama sedang tersenyum hangat di balik bukit hijau nan indah. Perlahan butiran air mata ini kembali menghujani pipiku. Aku akui, memang sejak dulu aku ingin sekali mengenakan kalung liontin seperti teman-temanku. Tapi keinginan itu telah ku pendam karena keadaan ekonomi keluargaku yang masih di bawah batas layak aku memang sempat menceritakan hal ini pada mama, tapi aku tak pernah meminta mama untuk membelikannya

Maafkan Yugi mah, sebenarnya yang paling Yugi inginkan adalah senyum mama, pelukan hangat mama, dan kasih sayang maa.
Warna hitam gelap telah menyelimuti seluruh malam, dihiasi bintang-bintang yang berkelip bergantian, seketika senyumku melebar menatap bintang-bintang itu. Mungkin mama berada di salah satu bintang itu, sedang tersenyum bersama para bidadari.

Sang mentari telah keluar dari peraduannya. Menyinarkan seungguk cahaya yang dapat menghipnotis setiap pasang mata yang melihatnya. Kehangatan yang selalu terpancar dari cahayanya menjadkan semangat untuk menjalani aktivitas pagi ini.

Kuambil sepeda bewarna pink muda, kesayanganku. Perlahan ku kayuh sepeda yang mulai rapuh ini, menyusuri liku jalan yang penuh kebisingan suara kendaraan yang bersahut-sahutan, sampai aku tiba di tempat yang penuh kedamaian ini.
Ku letakkan sekuntum mawar merah segar di atas gundukan tanah yang belum mengering ini. Dan kulafalkan ayat-ayat suci untuk menenangkan hatinya. Tak lama aku bergegas untuk kembali ke rumah. Namun sebelumnya ku sempat menyelipkan selembar kertas yang di kemas dalam balutan amplop berwarna merah muda. Disana kutulis kata demi kata yang tetangkai hanya untuk mama. Ya, hanya untuk mama.

“Mama..
Terimakasih selama ini kau telah memberikanku kasih sayang yang tulus
Terimakasih kau telah mendidik, merawatkuu bahkan dengan seorang diri
Terimakasih kau telah menjadi mama sekaligus ayah untukku
Maafkan Yugi mah
Yugi belum bisa menjadi anak seperti yang mama impikan di setiap malam
Yugi belum bisa menjadi malaikat yang selalu menjaga mama, bahkan sampai ajal menjemput mama, Yugi belum bisa membahagiakan mama
Mah.. doakan Yugi
Doakan Yugi untuk tetap bisa melanjutkan hidup ini walau tanpa mama lagi
Doakan Yugi untuk tetap tegar menghadapi semua yang akan terjadi
Yugi yakin
Pasti mama sekarang disana telah tenang
Hidup bersama para malaikat yang senantiasa menjaga mama
Dan Yugi yakin
Di setiap hela napas Yugi akan terselip doa mama
Yugi rindu mama dan Yugi sayang mama..”

Sumber Klik Disini :

Hari Penyesalan

Posted: 07/12/2015 in Keluarga
Tag:

Di hari itu tepatnya tanggal 21 oktober 2013 aku dan dani adik sepupu ku tengah asiknya bermain dan memikat burung kicau di kebun ku, aku merasa sangat bahagia dengannya hari itu entah kenapa kami selalu bergurau canda berlebihan, saking bahagianya dan lama kelamaan aku merasa ketakutan, hatiku selalu bertanya, “kenapa dani sangat riang hari ini, dan kenapa dia selalu tertawa seakan di hidupnya tidak ada beban?”.

Karena aku terlalu takut melihatnya begitu bahagia, maka akhirnya aku mencoba mengajak dani untuk pulang ke rumah, namun dani tidak mau, dia ingin bermain bersama ku hingga larut malam, karena sudah adzan maghrib berkumandang maka aku dan dani pun pulang ke rumah untuk mandi dan mengaji, setelah pulang mengaji dani pun kembali datang ke rumah ku untuk mengajak ku main, “hatiku mulai cemas” tanpa pikir panjang aku pun dengan asyiknya bercanda dengan dani di malam itu dan dani pun entah kenapa selalu tertawa dengan suka riang, tanpa kami sadari hari pun udah pukul 23:00 malam, dan kami pun pulang ke rumah masing masing.

Tepat jam 12 malam, ibuku tiba-tiba sakit keras dan akhirnya dilarikan ke rumah sakit oleh ayah ku, malam itu aku tidak bisa tidur dan menangis di rumah, lama kelamaan akhirnya mata ku mulai merasakan ngantuk lama kelamaan aku tertidur lelap.

Keesokan harinya aku bangun dan langsung mengajak dani untuk ke rumah sakit menjenguk ibu ku di sana, dan tanpa pikir panjang dani pun langsung mau ikut dengan ku, kami pun bergegas mandi dan langsung berangkat ke rumah sakit.

Sesampainya di rumah sakit kami pun mulai bercanda girang dan dani selalu tertawa paling heboh, entah kenapa aku memikirkan kalau tingkah laku dani sebagai pertanda kalau akan terjadi sesuatu padanya, namun aku menghiraukan firasat ku itu.

Tanpa kami sadari hari sudah pukul 16:00 sore dan kami bergegas untuk pulang ke rumah, sebelum berangkat pulang, aku merasa ada yang ganjal di hatiku, aku perintahkan dani agar memakai helm yang aku pakai, namun dia tidak mau, tanpa pikir panjang aku pun berangkat pulang, tiba tiba di dalam perjalanan aku merasa kalau dunia ini sangat gelap sehingga aku tidak bisa melihat apapun dan akhirnya menyebabkan kami kecelakaan dan di kecelakaan itu dani terluka parah di kepalanya karena tidak memakai helm yang ku berikan.

setelah 1 jam dilarikan ke rumah sakit, dani pun menghembuskan nafas terakhirnya, dan aku pun merasa sangat bersalah dan menangis setiap hari sambil merenungkan kecerobohan ku terhadap tanda-tanda yang sering terlihat di depan ku, dan semenjak itu aku kurang yakin bila mengajak orang bepergian bersamaku dan aku sangat menyesal ya allah. ku harap allah mengampuni diriku dan semoga dani tenang di alam sana.

Sumber Klik Disini :

Gadis itu tak berdaya setelah menerima kenyataan yang begitu pahit dan menyakitkan. Adinda dinyatakan hamil dua bulan oleh dokter kandungan. Awalnya ia tidak percaya saat melihat hasil tespeknya bergaris merah dua yang menandakan positif, kemudian ia berkonsultasi pada dokter dan ternyata hasil tespek itu tidak salah, hasilnya betul-betul positif. Adinda menjerit dalam hati setelah mendengar kenyataan itu. Bagaimana nasib dia selanjutnya? Adinda baru kelas tiga SMA. Dia piatu sejak kecil, ditinggal ibunya karena kecelakaan. Kini Adinda tinggal bersama ayah dan kakak laki-lakinya. Ayah Dinda keras. Sejak kecil Adinda tidak pernah diperlakukan lembut layaknya anak oleh ayahnya, Adinda depresi dan benci sama ayahnya yang selalu kasar pada dirinya. Tetapi kakaknya sangat beda, kakaknya begitu menyayangi Adinda lebih dari apapun.

Adinda tidak menyangka semua ini akan terjadi. Dia menyesal telah melakukan perbuatan yang hina itu bersama kekasihnya Robin. Gadis itu percaya sepenuhnya kepada kekasihnya, sehingga ia mau memberikan apapun yang diminta Robin, termasuk keperawanannya.

“Robin, kita ketemu di tempat biasa, ada yang mau aku bicarakan.” ucap Adinda di dalam telfon, Robin mengiyakan ajakannya. Dan Adinda pun segera bersiap-siap untuk pergi ke sebuah tempat yang telah dijanjikannya.
Sesampainya di taman, tempat favorit Adinda dan juga Robin. Robin sudah duduk di sana, dengan memakai jaket berwarna hijau daun. Adinda langsung duduk di samping Robin.
“Ada apa, Sayang. Kok wajah kamu kayaknya tegang banget.” cetus Robin sembari mengelus rambutnya Adinda yang lurus, hitam dan panjang itu.
“Robin, aku hamil dua bulan..” kata Adinda, matanya berkaca-kaca. Sontak Robin terkejut. Menatap mata Adinda dengan ketidakyakinan.
“Kamu becanda yah..” cetus pria itu tegang.
“Aku gak becanda.. aku serius, Robin. Dokter sendiri yang bilang sama aku, kalau di perutku ada janinnya. Robin, kamu janji kan, kamu mau tanggung jawab apapun yang akan terjadi sama aku. Dan sekarang aku mau kamu temui papahku, dan bilang kalau kamu sudah menghamili aku, setelah itu kamu nikahi aku.” teras Adinda. Robin terdiam lama. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Laki-laki itu hanya menelan ludah getir, dan berharap cepat menyelesaikan masalah yang sangat pelik ini. Dia tetap diam tak menjawab sepatah kata pun, membuat Adinda mulai kesal.
“Robin! Kamu jangan diam aja dong. Jangan buat aku semakin gelisah.” Kemudian Robin berdiri. Kedua tangannya dimasukkan ke saku jaketnya. Ia membelakangi Adinda. Entah apa yang tengah dipikirkan lelaki itu?
“Aku belum siap, Adinda. Aku belum siap untuk menikah.” kata Robin. Adinda langsung berdiri tepat di belakang Robin. Airmatanya semakin menghimpit. Mendengar Robin bicara seperti itu.
“Apa kamu bilang, belum siap? Robin! Siap gak siap, kamu harus tetap nikahin aku. Kamu harus tanggung jawab atas bayi ini. Aku gak mau yah, jadi bahan hinaan orang, sedangkan kamu malah enak-enakan ninggalin masalah ini gitu aja. Ini masalah kita berdua, jadi kita yang harus menanggungnya berdua. Kamu tuh jangan bikin aku stres, Robin..” Adinda mulai mengeluarkan airmatanya. Menahan rasa sakit di dadanya.
“Aku masih sekolah, Dinda.. dan aku masih pengen tetep sekolah. Jadi aku belum siap untuk menikah sekarang.”
“Kamu pikir aku enggak? Aku juga masih pengen sekolah.. kalau bukan karena perbuatan kamu, aku gak mungkin menderita seperti ini, Robin..” Adinda semakin menangis, ia tak kuasa membendung airmatanya itu. Airmata kepedihan.
“Okeh, gini aja. Sebaiknya kamu gugurkan kandungan itu. Karena gak akan ada gunanya juga kalau kamu melahirkan bayi haram itu.”
CPRETTT…!!! satu tamparan melayang ke pipinya Robin. Emosi Adinda sudah terbakar. Dia tidak menyangka kalau Robin bakal bicara seperti itu. Benar-benar menyakitkan batinnya.
“Tega kamu, Robin. Kamu tega mau bunuh bayi kamu sendiri. Apa kamu tidak memikirkan perasaanku?” sahut Adinda dengan suara meninggi. Robin hanya mengerang kesakitan, sembari mengusap pipi yang merah bekas tamparan dari tangan Adinda itu.
“Ini jalan satu-satunya, Dinda, kalau kamu gak mau malu dan dihina di depan semua orang. Bayi itu hanya akan membawa sial dalam kehidupan kamu. Terserah kamu mau lakuin atau enggak, yang penting sekarang, jangan pernah ganggu hidup aku lagi. Hubungan kita cukup sampai di sini.” Robin hendak melangkah pergi. Adinda segera mencegah dan menangkap tangan Robin sembari menangis histeris.
“Robin kamu mau kemana? Kamu jangan tinggalin aku.. aku butuh kamu, Robin. Kamu harus tanggung jawab.. kamu gak boleh pergiii..” Adinda mengangis histeris, sembari mengenggam erat tangan Robin. Ia tidak peduli, karena di taman itu pun tidak terlalu banyak orang.
“Haah.. sudahlah.. jangan ganggu hidup aku lagi!!” Robin dengan ganas melepaskan genggaman tangan Adinda, sehingga Adinda tersungkur ke dasar tanah. Robin terus melangkah pergi, tanpa memperdulikan Adinda sama sekali.
“Robiiinn…” Adinda menjerit memanggil nama Robin, sembari dihujani airmatanya.

Di sekolah. Adinda terkejut saat masuk kelas, melihat tulisan di papan tulis yang menjelek-jelekkan namanya ~ Adinda cewek murahan. Hamil diluar nikah, cewek gampangan. Munafikk!! ~ Dia terkejut. Ternyata kabar kehamilannya itu sudah tersebar dimana-mana, termasuk teman-teman sekelasnya mengetahui aibnya itu. Siapa yang menyebarkan? Apa mungkin Robin? Tidak mungkin, dia bukan siswa sekolah ini. Adinda menangis dan meronta. Semua yang di kelas memandangnya sinis dan jijik.
“Kelihatannya aja alim, tapi dalemnya busuk. Ih.. amit-amit deh..” cetus salah seorang siswi di kelas itu. Adinda tidak bisa berbuat apa-apa selain menangis dan menangis. Tiba-tiba seeorang siswa masuk kelas memanggil Adinda.
“Adinda, kamu dipanggil kepala sekolah..” Jantung Adinda semakin berdebar kencang, saat dirinya dipanggil kepala sekolah. Kemudian ia langsung pergi dengan membawa tasnya menuju ruang kepala sekolah.
Sesampainya di sana, Adinda begitu terkejut melihat papanya tengah duduk di depan kepala sekolah. Rasanya saat ini dunia benar-benar serasa runtuh. Adinda menahan tangisnya dalam hati, kemudian duduk di samping papanya yang tengah menunjukan mimik muka kecewa.
“Adinda, dengan berat hati, saya putuskan untuk mengeluarkan kamu dari sekolah ini.” Dug! Petir menyambar dengan cepat. Adinda tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya rasa terkejut dan sesak saat mendengar dirinya dikeluarkan dari sekolah. Adinda benar-benar tidak menyangka, bahwa berita kehamilannya sampai terdengar oleh kepala sekolah. Gadis itu mencoba menahan tangisnya setelah menerima kenyataan yang begitu pahit ini.

Setelah sampai di rumah. Tak segan-segan amarah ayahnya mulai membara setelah menerima kenyataan anak gadisnya hamil diluar nikah. Belum sempat Adinda tepat menginjak anak tangga untuk memasuki kamar, kepalan tangan yang keras telah mendarat di wajahnya yang sejak tadi merasa ketakutan. Adinda merintih kesakitan. Ayah Adinda semakin kalap dan seperti ingin membunuh anaknya.
“Anak nggak tahu diuntung! Bikin malu! Kamu sudah mencoreng nama baik keluarga ini! Kamu sudah melempar kotoran ke muka saya. Anak kurang ajar!” cptreet…! plak..! dug..! dess..! Bentakan ayah yang membuming dan pukulannya yang nyaring hingga terdengar oleh seorang pembantu di rumah itu, hanya saja pembantu wanita separuh baya itu hanya bersembunyi sembari menatap kejadian itu dengan pilu dan iba. Ayah Adinda terus menghajar anak perawannya dengan menyambit tubuh Adinda memakai gesper. Adinda terus menjerit kesakitan, sambil terus memohon ampun kepada ayahnya dan meminta untuk menghentikan siksaannya.
“Ampun, Pah.. ampuun..” Rintih Adinda mengaliri airmata yang begitu deras.

Tidak lama setelah Adinda habis bersih disiksa ayahnya, barulah Rezas segera datang, dan cepat menghentikan siksaan ayahnya terhadap adiknya tersebut.
“Cukup, Pah! Kenapa papah tega menyiksa Adinda, Pah? Apa salah dia..?” Suara Rezas terdengar meninggi, sepertinya ia tidak terima Adinda diperlakukan seperti itu.
“Apa salah dia, kamu bilang? Dia.. dia aib keluarga ini. Dia hamil diluar nikah. Dasar anak pembangkang! Anak tidak tahu diuntung!” Kembali ayahnya hendak memukul Adinda, tapi Rezas segera mencegah, hingga ayahnya merasa kelelahan dan kemudian pergi menuju kamarnya.

Di pojok sana, Adinda hanya menangis menahan rasa perih dan sakit di seluruh tubuhnya bekas pukulan yang dilampiaskan ayahnya barusan. Rezas segera menghampiri adiknya yang malang itu. Ia menjongkok dan mulai menanyakan kebenarannya.
“Benar apa yang dikatakan papah? Kamu hamil?” tanya Rezas pelan. Adinda hanya menganggukan kepala, sesekali airmatanya terus terjatuh. Rezas terlihat menahan rasa kecewa. Matanya berkaca-kaca penuh kepiluan. Ini adalah kenyataan yang paling buruk yang menimpa keluarganya.
“Siapa ayah dari bayi itu? Siapa yang akan tanggungjawab dengan semua ini, Dinda..?” Suara Rezas terdengar membentak. Adinda terus saja menangis, setelah bentakan dari ayahnya, sekarang Adinda harus menerima benatakan dari kakaknya. Sungguh hidup ini sangat kejam.
“Jawab, Dinda.. jawab pertanyaan kakak. Apa kamu sanggup menanggung beban ini sendirian? Siapa laki-laki yang menghamilimu? dan di mana dia sekarang? Apa dia mau bertanggungjawab?” Adinda mengusap sedikit airmatanya, dan menggelengkan kepalanya dengan tiada pasti. Rezas kewalahan. Sepertinya ia telah direndam emosi yang lebih-lebih dari ayahnya.
“Bodoh kamu! Sekarang kamu tahu akibatnya kan? Kamu ditinggalin sama laki-laki biadab yang kamu percayai itu. Sekarang hidup kamu benar-benar hancur, Dinda.. kenapa kamu tidak bisa berpikir kesana, hah!!.. Kakak kecewa sama kamu..” Setelah itu Rezas segera pergi dari hadapan Adinda yang masih tersedu-sedu menangis. Rasanya memang dunia ini sudah runtuh dan tidak tersisa apa-apa lagi. Semua orang jadi membenci Adinda. Tiada lagi orang yang sayang kepadanya. Mungkin dunia juga sudah terlanjur benci, sehingga Adinda diberikan hukuman yang begitu berat. Sekarang bagaimana nasib Adinda dan anaknya? Mau dibawa kemanakah janin yang sangat tidak diharapkan itu? Sementara dirinya betul-betul tersiksa dan tidak ada lagi yang memperdulikannya. Bahkan laki-laki yang amat dicintainya, yang begitu dipercayainya, sampai Adinda rela memberikan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya, laki-laki yang sudah merenggut kesuciannya pun kini telah mengkhianatinya.

Semenjak itu Rezas jadi cangguh kepada Adinda. Dia tidak pernah menyapa adiknya seperti biasa, bahkan tersenyum pun sudah enggan lagi. Adinda merasa tidak ada gunanya lagi tinggal di rumah yang seperti neraka itu. Gadis itu pun memutuskan untuk pergi dari rumah, dan meninggalkan semua kenangan buruk yang pernah terjadi di rumah yang tiada kasih sayang itu.

Adinda berjalan di pinggir jalan raya dengan sempoyongan sembari mendendeng tas besarnya. Entah kakinya akan melangkah kemana, Adinda sendiri berjalan dengan tiada kepastian. Dia tidak punya saudara, dan juga teman dekat, karena semua teman dan sahabat-sahabatnya selalu menghindarinya. Gadis itu berkali-kali hanya bisa menangis meratapi penderitaannya.

Adinda berdiri di depan rumah yang sudah tidak asing lagi baginya. Ya, rumah yang bercat putih dan megah itu adalah rumahnya Robin. Rumah inilah yang menjadi saksi kenangan buruknya bersama Robin. Andai waktu itu tidak kejadian, Adinda tidak mungkin menderita seperti ini.

Setelah diterima masuk oleh satpam yang menjaga gerbang di depan, Adinda dengan pelan mengetuk pintu rumah itu. Tidak lama kemudian, seorang pria berbaju darbos merah dengan celana pendek selutut muncul di hadapan Adinda setelah pintu dibuka. Adinda terkejut menatap wajah Robin yang sepertinya tidak suka melihat kedatangan Adinda.
“Ngapain lagi kamu ke sini? Denger yah, di antara kita udah gak ada hubungan apa-apa lagi. Jadi meningan sekarang kamu pergi dari sini..” Robin membentak, yang justru malah mengundang airmata Adinda yang sudah hampir kering.
“Robin.. aku udah gak punya siapa-siapa lagi.. cuma kamu yang aku butuhin sekarang, demi bayi kita, Robin..! aku mohon.. Cuma kamu satu-satunya yang aku harapkan..” Adinda memohon sambil menangis. Tangannya menggenggam erat tangan Robin yang kekar. Robin tidak memberikan reaksi apapun. Dia hanya memendam amarah.
“Lepasin! Kamu pikir aku peduli? Denger yah, aku udah ngasih saran buat kamu supaya kamu gugurin kandungan itu, maka semua masalah akan selesai. Tapi kamu gak pernah mau denger. Dan sekarang itu terserah kamu. Jangan campur adukkan aku dengan masalah yang gak jelas ini.” Robin segera melepaskan tangannya dari genggaman Adinda.
“Kamu tidak pernah tahu bagaimana menderitanya aku. Kamu egois, Robin. Kamu sudah mendapatkan apa yang kamu mau, setelah itu kamu tinggalin aku gitu aja. Kamu itu gak lebih dari seorang baj..” Cpreeett..! satu tamparan mendarat keras di pipi Adinda yang basah. Robin geram dan menahan kepalan tangannya setelah melampiaskan tamparan yang menyakitkan itu kepada mantan pacarnya, sekaligus gadis yang sudah dihamilinya. Adinda hanya bisa merintih dan airmatanya semakin deras. Dengan teganya Robin segera masuk ke dalam dan menutup pintu itu rapat-rapat.
“Robin.. Robin buka pintunya.. Robin…” Adinda menghujam tangisan yang tak terbendung lagi, sembari digedur-gedurnya pintu itu dengan perasaan kesal yang amat dalam. Mungkin disinilah akhir harapannya yang pelan-pelan menghisap semua kebahagiaannya. Sudah tidak ada lagi harapan hidup untuk seorang gadis yang masih belia itu. Siapa yang peduli? Tiada lagi malaikat cinta dalam hidupnya, seperti almarhum ibunya. Ia duduk sempoyongan tiada berdaya. Sesekali menggebuk-gebuk perutnya yang di dalamnya terdapat janin yang sangat tidak diharapkannya itu. Adinda sungguh tidak rela jika bayi itu lahir tanpa seorang ayah. Rasanya memang sudah mau kiamat. Mungkin mati adalah jalan untuk menghapus semua penderitaannya yang tiada kian berujung.

Sebulan kemudian. Rezas sudah gelagapan seminggu terakhir ini mencari keberadaan Adinda. Setelah satu hari Adinda kabur dari rumah, Rezas baru menyadari kesalahannya yang selama ini tidak memperhatikan Adinda lagi. Seharusnya bukan sikap itu yang ditonjolkan di depan Adinda yang justru membutuhkan semangat dan dorongan dari orang-orang terdekatnya. Rezas hanya bisa menangis setelah membaca buku diary Adinda yang tertinggal di bawah bantalnya.

~ Preity.. dunia rasanya gelap sekali. Tidak ada cahaya yang menerangi sedikitpun. Mata hatiku sudah gelap. Semuanya gelap, Preity.. sehingga aku tidak bisa mengenal apa-apa lagi. Mengapa dunia begitu kejam, Preity.. aku tahu ini kesalahanku, aku tahu ini kebodohanku. Tapi aku tidak sanggup menahan penderitaan ini, sungguh aku tidak sanggup, Preity. Rasanya aku ingin menyusul Mama yang sudah lama ada di sana. Aku ingin mati. Aku sudah tidak mau lagi hidup di dunia ini… T_T ~

Seperti itulah curahan hati Adinda di buku diary yang dinamainya preity pada lembar terakhir. Rezas merasakan kekhawatiran yang amat dalam. Bagaimana nasib adiknya sekarang? Di mana Adinda? Sudah satu bulan ia tidak berjumpa dengan Adinda.

Rezas kembali menyalakan mobilnya. Setelah pulang dari kampus ia segera pergi untuk mencari Adinda kembali. Rezas tidak akan menyerah, sebelum menemukan Adinda, dan memastikan bahwa Adinda baik-baik saja.
Dengan keadaan pusing dan cemas, laki-laki yang sudah berumur matang itu menyetir mobilnya, sembari memikirkan Adinda. Pikirannya terfokus pada Adinda yang sekarang tidak diketahui keberadaannya. Pada saat itu Rezas kebingungan melihat segerombolan orang berlari-lari di pinggir jalan seperti tengah mengejar maling. Benar saja! Karena sebagian orang juga tengah meneriakkan maling. Rezas segera memakirkan mobilnya, dan bertanya kepada salah satu warga yang ikut kejar-kejaran itu. Sebetulnya ini tidak penting, karena Rezas harus terfokus mencari Adinda. Tetapi hatinya merasa bahwa sedang ada yang tidak beres.
“Pak, orang-orang itu lagi pada ngejar apa?” tanya Rezas.
“Oh, itu. Ada orang gila maling duit di dagangan orang.”
“Orang gila?”
“Iyah, orang gila baru di desa ini. Sebulan yang lalu mau bunuh diri tapi ketolong sama warga di sini, dan akhirnya dia jadi stres.” Kemudian terdengar sebuah teriakkan lagi dari seorang warga.
“Weyy.. malingnya udah ketangkap, ayo kita gebukin..” teriaknya sampai terdengar oleh Rezas yang sedang ngobrol sama bapak-bapak itu.
“Udah ketangkap katanya. Mari mas, saya kesana dulu.” Rezas pun membuntuti bapak-bapak itu dari belakang, menuju ke segerombolan warga yang tengah memukul-mukul maling tersebut.
“Huu.. dasar maling tidak tahu diri.. cantik-cantik kok jadi maling. Gila lagi..” sahut salah seorang warga yang ikut beraksi menghakimi maling itu. Rezas tanpa sengaja melihat siapa yang tengah dikerumuni masa itu. Refleks Rezas terkejut bukan main. Wajah gadis yang tengah dipukul masa itu seperti wajah Adinda, tapi tidak terlalu jelas. Rezas segera menghentikan aksi warga tersebut. Setelah para warga itu menghentikan aksi pukulannya, Rezas langsung berlinang airmata, ternyata yang dilihatnya itu benar. Gadis itu memang Adinda adiknya. Rezas sembari menangis menghampiri gadis yang tengah tidak berdaya merintih kesakitan karena dipukul-pukul masa. Gadis itu hanya jongkok dan menunduk menahan sakit.
“Adinda..” Rezas menatap muka memar adiknya yang sepertinya tidak mengenali dirinya. Gadis itu terlihat kebingungan menatap Rezas.
“Maaf, pak polisi.. saya sudah mencuri. Karena saya butuh uang buat makan. Saya gak punya uang pak polisi..” kata Adinda ketakutan. Rezas langsung memeluk Adinda yang memang sudah tidak mengenalnya lagi. Adinda sudah terkena gangguan jiwa, sehingga ia tidak mengenal siapa Rezas. Semua warga menatapnya dengan heran. Bahkan ada juga yang menangis melihatnya. Rezas sungguh tidak menyangka adiknya akan menjadi seperti ini.
“Ini kakak, Dinda.. ini kakak.. kita pulang yah.. kamu punya rumah, kamu punya kakak..” sahut Rezas sembari menangis. Adinda masih menunjukan muka heran.
“Rumah? Kakak?”
“Iya, Dinda.. ini kakak. Kakak sayang sama Dinda. Maafkan kakak sudah menelantarkan kamu selama ini. Kakak sayang sama kamu, Dinda..” Rezas kembali memeluk Adinda erat. Linangan airmatanya semakin mengundang warga untuk ikut merasakan haru biru yang terjadi pada adik kakak ini.

Kemudian Rezas membawa Adinda ke mobil. Sebelum akhirnya pulang, Rezas minta diceritakan apa yang sebelumnya terjadi kepada Adinda sehingga membuatnya seperti ini? Salah satu warga pun menjelaskan, bahwasanya sebulan yang lalu, ada seorang gadis yang sepertinya tengah hamil nekat mau bunuh diri dengan berdiam diri di rel kereta, menunggu kereta datang. Pada saat kereta sedang melaju, akhirnya ada seorang warga yang melihat dan langsung mencegah si gadis itu. Namun gadis itu gelagapan dan tidak mau ditolong, ia berlari ke jalan raya, sehingga sebuah mobil menabraknya. Kejadian itu membuat sang gadis keguguran. Setelah pulang dari rumah sakit, gadis itu menjadi bertingkah aneh. Sering ngomong sendiri, nangis sendiri, ketawa-tawa sendiri. Warga jadi takut melihat tingkah polah gadis itu. Dan kesananya kelakukan gadis stres itu semakin menjadi-jadi. Ia jadi sering maling barang-barang warga, harta benda warga. Dan sampai saat ini, dia menjadi seperti itu.

Rezas cukup hanya mengeluarkan airmatanya setelah mendengar cerita yang memilukan yang terjadi pada adiknya itu. Ia hanya menatap Adinda yang masih merintih kesakitan di dalam mobil. Menatapnya penuh pilu. Rezas hanya bisa ikhlas, jika pada akhirnya Adinda harus mengalami depresi berat dan mengalami tekanan batin, sehingga membuat jiwanya terganggu. Dan kini pada akhirnya, Adinda harus menjalani hidupnya dengan setengah nyawa, karena setengahnya lagi pergi entah kemana. Tetapi Rezas berjanji akan merawat dan mengasihi adiknya sampai sembuh kembali. Ia akan menjaga Adinda dengan penuh kasih sayang. Mungkin itulah yang Adinda harapkan selama ini. Rasa kasih sayang yang tak kunjung datang dalam hidupnya.

“Adinda.. kakak sayang kamu..” Rezas mengecup kening adiknya dengan linangan airmata. Baginya, Adinda adalah harta satu-satunya yang harus ia jaga dan ia rawat sepanjang hidupnya.

Sumber Klik Disini :