Archive for the ‘Kisah’ Category

Seragam Perawat Istimewa

Posted: 08/08/2015 in Kisah
Tag:

Pagi-pagi begini saja di kelas sudah berisik, apalagi nanti siang? Eh, tapi bukan berisik yang negatif. Melainkan berisik karena sedang berdiskusi dengan teman sebangku masing-masing tentang pendaftaran karnaval. Ah, aku saja belum kepikiran mau jadi apa. Yang penting satu, aku tidak mau menjadi Bhineka Tunggal Ika. Uhh, itu sangat merepotkan. Apalagi aku juga sudah bosan dengan bidang Bhineka Tunggal Ika, karena dari TK sampai SMP aku menjadi Bhineka Tunggal Ika terus. Nah, siapa coba yang tidak bosan?

“Mbak Endah, kamu mau daftar jadi apa?” teman sebangkuku membuyarkan pemikiranku.
“Ah, belum tahu. Nanti dulu saja aku fikirkan. Kalau kamu mau daftar jadi apa, Dhil?” Bingo, nama temanku ini Aisyah Nur Fadhila. Cukup panggil saja Dhila.
“Belum tahu juga,” Dhila memutar-mutar bolpoin yang ia pegang.
“Mbak Endah mau jadi apa?” Hanif teman yang sekelas denganku menepuk-nepuk bahuku dari belakang. Gotcha, begitulah teman-teman memanggilku. Endah. Nama lengkapku Endah Nisrinasari. Aku adalah seorang siswi SMP Negeri 3 Ngrambe. Tepatnya aku sudah kelas sembilan.
“Belum tahu,” aku menatap Hanif yang terlihat sedikit penasaran.

Ujung jarum jam saling menunjuk ke arah yang berlawanan. Tepat sekali, sekarang adalah waktunya istirahat. Aku, Dhila, Hanif dan Hayyu berjalan bersama untuk pergi ke kantin. Namun saat kami melewati depan ruang guru, langkah kami terhenti ketika Bu Katini memanggil kami berempat. “Mbak, sudah dapat bagian dalam karnaval belum?” Bu Katini menepuk bahuku pelan.
“Belum, Bu,” aku menjawab.
“Masuk kesehatan mau?” awalnya aku sedikit ragu. Namun aku harus segera menentukan pilihan.
“Ya, Bu.. Saya mau,” aku yakin bila orang lain melihat ekspresiku, mereka akan mengira aku baru saja mendapatkan undian hadiah. Konyol bukan?
“Saya juga mau, Bu,” Dhila unjuk jari.
“Saya sama Hayyu juga, Bu,” Hanif melangkah lebih dekat ke arah Bu Katini.
“Ya sudah, nanti saya catat,” Bu Katini nampak berseri-seri saat mendengar aku dan ketiga temanku mau ikut bergabung dalam bidang kesehatan untuk karnaval.

Setelah kami berbincang dengan Bu Katini tentang apa yang di butuhkan untuk karnaval tanggal 18 Agustus 2013 nanti, kami kembali berjalan menuju kantin.
“Uhh.. harus pinjam pada siapa?” aku bergumam kecil saat berjalan untuk pulang menuju rumah. Yup, hari ini memang terasa sedikit cepat sampai-sampai sudah waktunya pulang sekolah.

Aku sekarang sedang di landa bingung. Bingung harus meminjam seragam perawat kepada siapa? Kesehatan memang pilihanku. Tapi, kalau masalah seragam perawat aku belum berfikir sampai situ saat menyetujui tawaran Bu Katini.
Lukisan di atas bayangan terus terhujami jarum-jarum air. Kayu lapuk bersangga empat kami tinggalkan. Huufftt.. Saat ini adalah libur lebaran. Sepanjang liburan aku terus berfikir tentang seragam yang harus ku pinjam. Entah kenapa pemiranku buntu, tak ada ide yang terselip sedikit pun. Menyangkut saja tidak, apalagi terselip?
Dari tanggal muda akhirnya ke tanggal tua. Aku kembali masuk sekolah. Hari H sudah mulai dekat. Parahnya aku belum juga mendapat pinjaman. Mau pinjam kemana coba? hanya itulah yang ada di otakku.
“Mbak, kesehatan berkumpul di depan kelas sembilan E, Ayo!” Hayyu dari kejauhan sedikit berteriak untuk memanggilku.
Di depan kelas sembilan E sudah ramai dengan anak-anak kesehatan. Bu Katini bertanya pada masing-masing anak tentang seragam perawat yang mereka dapatkan.
“Bagaimana Mbak Endah? sudah dapat pinjaman?” tepat sasaran, pertanyaan Bu Katini begitu tepat dengan isi otakku. Emm.. apa Bu Katini diam-diam mempunyai indra keenam? Ohh.. hentikan pemikiran bodoh ini!
“Belum, Bu. Saya belum dapat,” dengan tenang aku menjawab pertanyaan Bu Katini.
“Waduh, terus cari pinjaman kemana ini?” Bu Katini bergumam sambil menengok ke kanan dan kiri.
“Bu, Stefhani..” Hanif menunjuk Stefhani adik kelasku yang berdiri di belakang Bu Katini.
“Bu, kata Ibu saya seragam perawatnya sisa satu. Di sini ada yang belum dapat? kalau ada nanti di pinjami,” Stefhani menjelaskan dengan rinci pada Bu Katini.
“Oh.. ya.. Ini Mbak Endah belum dapat pinjaman. Mbak Endah mau?” Bu Katini bertanya padaku.
“Mau, Bu. Mau..” aku mengangguk antusias.
“Ya sudah. Besok saya bawakan. Makasih, Bu,” Stefhani berpamitan pada Bu Katini lalu tersenyum.
Kalau begini, aku sudah tidak sabar menanti besok. Aku ingin segera mencoba seragam perawat. Semoga besok Stefhani tidak lupa membawa seragamnya.
“Eh, ambil air gih!” aku menyerahkan ember kosong pada Fero teman sekelasku. Pagi ini aku membersihkan Masjid sekoah bersama teman-teman.
“Mbak seragamnya aku bawa. Nanti di ambil, ya?” tak kusadari Stefhani sudah berdiri di samping serambi Masjid.
“Iya, nanti kuambil,” aku mendorong pel yang kupegang. “Makasih, ya..” lanjutku setengah berteriak agar Stefhani mendengarnya. Ia ( Stefhani ) hanya mengacungkan jempol.

Setelah selesai bersih-bersih aku dan teman-teman kembali ke kelas. Aku bergegass menuju kelas Stefhani. Tentu saja mau mengambil baju. Kelas Stefhani tidak jauh dari kelasku. Benar saja kelas kami bersebelahan.

“Mbak.. Mbak.. Ini bajunya,” saat baru saja aku berdiri di ambang pintu kelas delapan A, Stefhani sudah memanggilku. Dengan setengah berlari aku menghampirinya. Ketika aku sudah berdiri di sampingnya, Stefhani langsung menyerahkan bingkisan plastik yang berisi seragam perawat.
“Makasih ya, Fhan. Ini kupinjam dulu,” Stefhani hanya mengangguk sambil tersenyum. Lalu aku berpamitan untuk kembali ke kelas.
Akhirnya dapat pinjaman juga. Coba kalau saat itu Stefhani tidak datang menawarkan? pasti sekarang aku sedang bingung setengah mati. Aku sangat senang bisa mendapat pinjaman. Dan ini adalah pertama kalinya aku mengikuti karnaval dengan kostum perawat. Ini adalah karnaval paling istimewa yang kualami semasa SMP. Ya, kalian tahulah. Seperti yang kuceritakan, aku selalu menjadi Bhineka Tunggal Ika.
Saat sampai di kelas dengan gembira aku sedikit berteriak sambil menunjukkan bingkisan dari Stefhani. “Akhirnya.. dapat pinjaman.”

Sumber Klik Disini :

Sialnya Bocah

Posted: 08/05/2015 in Kisah
Tag:

“Alamak… susah betul lah cari cerita yang berbobot ni… ei, ada sesiapa yang mau membantu saya tak?” tanya seorang anak Malaysia di hutan belantara Kalimantan. Suasana hening tak menentu, bocah itu tersesat karena lorong waktu yang dibuatnya.
Dia bingung, hatinya gersang, jiwanya kecewa dan risih sekali tak dapat ide. 2 hari ia tinggal di hutan belantara yang penuh dengan kesunyian itu. Kalau makan, dia cari alternatif untuk makan laksana orang jaman dulu. Suatu ketika ia sangat haus dan terasa mau mati.
“Alamak… macam mana ni, dah lah haus pulak… Hei, sesiapapun tolong saya lah!” bocah itu kembali berteriak.

Dia lari, dia cari sungai di dekat hutan. Ditemukannyalah air, walaupun air itu keruh tetap saja ia bernafsu untuk meminumnya sampai dahaganya puas. “Lah… macam tu lah, tapi air nih tak sedap betullah…”. Dia merasa meminum benda aneh. Dia memuntahkan air itu, keluarlah mutiara. Mutiara itu beratnya sekitar 1 kg.

“Hei apa pula ni?” tanya bocah itu kebingungan. Dia mengira akan mengalami nasib yang sama seperti cerita “Aladin dan lampu ajaib” sehingga dia mengelus-elus mutiara itu. Walhasil bukan jin yang keluar, malah wanita yang cantik menjelma.

“Kamu siapa?” tanya wanita itu kepada bocah.
“Mak saya sering call saya bocah, jadi panggil je bocah” jawab bocah gugup.
“Kenapa kamu bangunkan aku?” tanya wanita itu dengan lemah lembut.
“Eh, awak teganggu lah ye? maafkanlah saya” ujar bocah santai.
“Tapi, berhubung aku udah keluar, dan aku malas di dalam mutiara, aku mau ngasih kamu 2 pertanyaan?!” bilang wanita itu.
“Eh tunggu sekejap, awak nih bernama siapa?” tanya bocah.
“Saya Putri Yang Bertukar” celetuk wanita itu.
“Macam pernah kenal je name tu, tapi… boleh saya panggil putri saja?” tanya bocah.
“Boleh” jawab Putri.

“Eh cakap-cakap, kenapa 2 pertanyaan yang awak bagi, bukannya permintaan?” tanya bocah kebingungan.
“Oh iya, maaf deh salah. maksudnya 2 permintaan gitu. Udah cepat jangan berlama-lama, jangan ngabisin durasi!” ujar Putri mulai jengkel.
“Durasi? Film kah, pakai durasi pulak!. Baiklah, jika Putri berkenan, saya nak cerpen berbahasa Indonesia yang berquality jua akan laku di pasaran nantinya. Soalnya saya nak jadi penjual buku” bilang bocah.
“Adakah orang mau beli di tempat sepi kayak gini” tanya Putri keheranan.
“E, nantilah dulu saya belum habis bicara lagi, nah pertanyaan kedua saya ialah saya ingin 2 permintaan” bilang bocah dengan senyum-senyum.
“Kamu kira aku goblok apa?, bisa bercabang-cabang nanti keinginan kamu, ujung-ujungnya juga rakus dan mau menang sendiri. Sudah, coba permintaan yang lain… kalau gak aku pergi nih” bilang Putri sambil marah.
“Baeklah, bagi saya duit 1 milliyar” pinta bocah.
“Baik, sudah dua ya, aku kan kabulkan” kata Putri dengan nada pengharapan.

Seketika, 76 lusin buku dan uang 1 miliar datang di muka bocah. Bocah terkagum dan mengucapkan “Terima kasih banyaklah Putri, Putri ni memang baik hati sangat, dah lah cantik, ramah, sopan. Wah, nak tak jadi istri aku?”.
“Jangan macam-macam ya, entar ditarik lagi lho buku dan duitnya… Mau tak?” balas Putri.
“Eh tak nak lah, bia lah tak mau jadi istri saya tak apa lah. Tapi saya ni mau ke kota Putri, saya tiba di hutan ni kerana mesin waktu saya rusak Putri. Putri tau tak ini tempat apa namanya?” kata bocah.
“Ini di Kalimantan, lagian ngapain sih sampai-sampai kesasar kesini?” tanya Putri.
“Program mesin waktu saya rosak Putri. Putri tolonglah ye, bantu saya… sekali ini saja” bilang bocah.
“Baiklah, untungnya aku kasihan sama kamu. Oke deh, aku bantuin. Tutup mata 5 detik ya” kata Putri.

Ternyata setelah 5 detik berlalu, tidak ada perubahan apa-apa yang terjadi di sekitar bocah.
Bocah: Eh, tak ada apa-apaun!
Putri: Mesin waktu kamu dimana?
Bocah: Yang jelas, tak disini
Putri: Pergilah, dan lihat mesin waktumu sekarang
Bocah: Terima kasih banyak Putri. Apa sekiranya yang pantas aku balas atas jasa-jasa putri?
Putri: Berikan nyawamu?
Bocah: APA…? Putri ni dah gila kah?
Putri: Kalau tak mau, akan aku ambil kembali semua yang telah aku berikan!
Bocah: Tak…

Bocah lari pontang panting. Dia menghampiri mesin waktunya. Tapi sayang, sebelum kabur dengan mesin waktunya, bocah sudah mati duluan.

Putri: Hi hi hi hi hi… Sia-sia saja usahamu bocah… bocah, Ha ha ha ha

Sumber Klik Disini :

Push Up di Pagi Hari

Posted: 07/30/2015 in Kisah
Tag:

Senin pagi yang cerah dan embun yang indah menghiasi hari itu. Krisna masih terbuai-buai dalam mimpi indahnya jam 6 pagi. Krisna masih tak ingin bangun lagi, dia ingin mimpi lagi. Angin dingin berhembus memasuki jendelanya, membuat dirinya menggigil. Tangan yang ia selipkan ke selangkangan merupakan pertolongan pertama mengatasi kedinginannya.

Krisna merasakan basah yang amat terasa di sekujur tubuhnya, dia pikir dia sedang mimpi basah dengan nikita mirzani. Ternyata ibunya sedang membanjur krisna dengan gayung.
“Bangun nak! Udah jam 6 cepat pergi ke sekolah” Ucap ibu krisna teriak-teriak memakai toa.
“Iya mah ampun krisna bangun” Tangannya mengelap iler yang membasahi seluruh wajahnya.
Sialan udah jam 6 lagi. Ucap krisna dalam hatinya.

Krisna lantas menuju kamar mandinya, bukan untuk mandi, hanya cuci muka untuk membuat dirinya merasa lebih tampan. Lalu ia berkaca di sebuah cermin tua milik neneknya.
“Woy gue kan udah cuci muka! Kenapa muka gue masih jelek!” Wajah jelek, cerminpun ia salahkan.
Ia bergegas merombak wajahnya habis-habisan. Facial wajah milik ibunya ia colong, demi kadar ketampanannya. Setelah mengoles wajahnya dengan facial, kini ia over makeup. Wajahnya pun seperti pocong taman lawang yang bedaknya tebel 5 senti.
“Woy muka gue kenapa kaya pocong woy!!!” Ucap krisna marah-marah. Wajah jelek, cerminpun ia pecahkan.
Dia tak sadar bahwa waktu sudah pukul 6.37 dan ia pun belum menyiapkan buku yang akan di bawa. Sebetulnya krisna tidak pernah peduli dengan bukunya. Terkadang ia meminjam atau nyolong buku milik teman sebangkunya, yaitu ardi.

Kini krisna berangkat ke sekolah dengan kadar kepedeannya yang ampun-ampunan. Wajahnya yang putih hampir mirip orang mati dan giginya yang senantiasa cemerlang terkena sinar ultraviolet merupakan ciri khasnya sendiri untuk memikat hati para wanita.
Di tengah perjalanannya menuju sekolah, ia melihat wanita berparas cantik sekali di depan dirinya. Krisna bersiul-siul kepada wanita itu “Twuitt wiwww’ namun tidak ada respon dari wanita tersebut. Krisna lantas bertanya–tanya pakah wanita itu tuli? Atau gabisa denger? Sebetulnya tuli dan gabisa denger itu sama aja.
Krisna pun memperhatikan wanita itu lebih dekat lagi, krisna tercengangkan. Ternyata wanita itu sedang mendengarkan lagu dengan headphone. Betapa mirisnya krisna.
Ternyata ada tukang ojeg yang sedang tertawa terbahak-bahak melihat krisna. Krisna pun merasa malu, lantas ia ngacir secepatnya.

Krisna berjalan begitu santainya tanpa menghiraukan waktu yang sudah menunjukan pukul 7.00, sedangkan ia harus masuk ke kelas sebelum jam 6.50.
Krisna berjalan berlaga sok paling tampan, setiap ada orang lewat. Ia mendramatisir wajahnya supaya lebih tampan, namun percuma. Bukan terpesona, orang–orang malah nafsu pingin nimpuk krisna dengan sol sepatu.
Nampaknya ia sudah lelah berjalan. Kini ia mencari mobil jemputannya, yaitu angkot. Ia pun menunggu di pinggir jalan sambil melambaikan–lambaikan giginya, bukan dengan tangan. Sekarang udah ga zamannya mencari angkot dengan melambaikan tangan.

Setelah lama menunggu, kini angkot itu datang. Krisna menaiki angkot itu, para penumpang lainnya menghindar takut tertusuk oleh gigi krisna. Bahkan ada yang langsung turun. Gigi krisna seakan–akan membuat sempit angkot itu dan menyebabkan ketidaknyamanan bagi para penumpang angkot yang lainya. Maka para penumpang itu sepakat untuk turun, dan meninggalkan krisna sendiri dengan giginya.

Tak selang beberapa menit, kini krisna sudah sampai di sekolahnya. Krisna pun turun dari angkot tersebut lalu mengeluarkan dompetnya yang tebal, tebal dengan kertas dan tisu. Ia pun memberikan uang kepada supir angkot sambil berlaga layaknya seorang jutawan.
“Nih mas ambil aja uangnya gausah pake kembalian segala” Krisna melemparkan uangnya, sifatnya memang belagu.
“Woy kurang woy duitnya!!!” Gerutu sang supir angkot marah–marah
“Maunya berapa sih? Mau semahal apa kamu di bayar?”
“Ini duitnya cuman gope. Kurang seribu lagi!”
“Nihh ambil semuanya”

Krisna heran melihat gerbang sekolahnya sudah ditutup. Kini ia baru sadar bahwa dia sudah terlambat. Krisna pun kocar–kacir menuju kelas. Krisna sudah terlambat lebih 15 menit, dan dia baru sadar sekarang pelajaran pa rahmat. Sang guru push up. Kenapa dijuluki guru push up? Karena pa rahmat selalu menyuruh muridnya push up bila membuat ulah.

Krisna tegang, begitu juga dengan giginya ikut–ikutan tegang. Kisna berlari sekencang–kencangnya menuju kelas VII-4. Krisna mengengok kedalam jendela VII-4 dan berkata ohh tidak ada pak rahmat. Ucap krisna kedua tanganya memegang kepalanya. Semerbak bau ketiak berhembus ke dalam kelas itu.
Krisna pun memasuki kelas itu dengan rasa cemas takut di suruh push up oleh pak rahmat. Serentak para murid VII-4 menutupi matanya
“Cahaya apa itu…” Ucap randy sambil menutup matanya
“Cahayanya bikin mata gue sakit” Ujar ardi menutupi matanya dengan buku
“Singkirkan cahaya itu singkirkann” Serentak murid VII-4 menutupi wajahnya, tidak kuat menahan silau.
“Sudah–sudah cukup, itu cuman giginya krisna yang silau” Ucap fahmi memecahkan misteri cahaya itu.

Krisna pun menghadap kepada pa rahmat yang sedang mengajar, sambil memasang wajahnya yang memprihatinkan krisna mencoba mengelabui pa rahmat
“Maaf pak tadi saya terlambat gara-gara angkotnya mogok” Krisna ngeles
“Yaudah gapapa kamu bapak maafkan” Jawab pa rahmat begitu santun.
“Asikkk makasih ya pak..” Krisna sumringah, ia pun loncat luntang–lantung menuju bangkunya.
“Tunggu dulu krisna… Sebelum duduk kamu harus push up dulu 50 kali”
“Tapi pak…”
“Gaada tapi tapi, cepat sekarang push up 50 kali atau saya potongin gigi kamu”
“Jangan pak jangan..! Ini gigi kramat”
“Ya sudah cepat push up!”
Krisna tidak bisa berbuat apa-apa. Ia pun push up dengan pasrahnya daripada giginya harus di potong oleh pa rahmat.

“Push up macam apa kamu, yang gerak cuman kepalanya doang” Pa rahmat menggerutu
“Mungkin keberatan sama giginya pak..!” Randy menyela, sekaligus meledek krisna.
BUAHAHAHAHAHA ketawa jahat para murid VII-4
Pa rahmat pun kembali menerangkan materi pelajaran. Sedangkan krisna masih sibuk push up. Para murid VII-4 pun kembali memperhatikan pak rahmat, krisna pun terlupakan.

Sumber Klik Disini :

Detektif

Posted: 07/30/2015 in Kisah
Tag:

Suatu Hari Zack alias Zackiyah Islamiyah seorang ahli detektif dari agen kepolisian 818 akan membuka kedok rahasia Gubernur Cirebon yaitu Bapak Drs. Sujiwo. Tapi sebelum itu Zack harus menemukan beberapa file “X” dari bapak Sujiwo yang berada di Kantor Pusat Jakarta.

Zack pun menaiki kereta laju Bandung ke Jakarta terus ke Cirebon. Perjalanan dari Bandung ke Jakarta pun lumayan capek untuk Zack, karena sudah 3 jam duduk tanpa aktivitas selain membaca buku kuliahannya. “ahh.. boring banget” kata Zack alay, Akhirnya Zack pun menyalakan iphone dan menulis kata sandi untuk membuka iphonnya lalu ia memutar lagu dari playlist iphonenya. Tiba-tiba.. ada seorang cewek korea datang dengan memikat hati Zack pada pandangan pertama.

“Hei..” Sapa Zack kepada cewek korea itu, “Please speak English!” pinta cewek korea ‘ebuset, ini bule asli ternyata’ kata Zack dalam hati. Zack pun bertanya “What’s your name?” “My Name is Ji-Hye Shin, you can call me jihye and you? What’s your name?” “ZAAACK” jawab zack setengah enggak ngerti apa yang diucapin sama jihye dan rada rada emosi.

Mereka pun berbincang bincang, dan ternyata cewek korea itu juga agen yang tujuan mereka ke Jakarta sama yaitu mencari file “X” dari seseorang, jihye sengaja tidak memberi inisial nama orang yang dicarinya.

‘kok sama’ kata Zack dalam hati, dan mulai berpikir ‘berarti kita jodoh dong, kalau semuanya sama tapi aku heran sama baterai kalau sama malah tolak menolak’ pikiran Zack mulai amburadul dan memikirkan cewek korea yang ditemuinya di kereta tadi dan duduk di sebelahnya.

Setelah itu mereka sampai di stasiun Pasar Senen Jakarta. Mereka berpisah karena jihye sudah ditunggu temannya yang juga datang dari korea, dan jihye bersama temanya pun naik mobil. Berbeda dengan Zack, dia ngojek dengan alasan HEMAT. Sungguh perbedaan yang luar biasa.

Setelah sampai di kantor pusat Jakarta, Zack pun segera masuk tapi ternyata ia dihadang beberapa security yang sedang berjaga dan Zack dianggap sebagai orang asing. Zack pun pasrah karena lupa tidak membawa identitas anggota kepolisiannya yang berkerja sebagai agen. Zack pasrah digiring ke kantor polisi terdekat, dan dalam proses identitas aslinya di kantor polisi. ia pun ngetweet agar fans fansnya tidak kuatir.

@Zackmiyah818: bad day.

Ehh.. fans fansnya malah kuatir. Setelah ngetweet dan berbincang bincang dengan pak polisi, lalu pak polisi menelepon kantor kepolisian Bandung dan ternyata benar Zack adalah seorang Mahasiswa ITB jurusan jurnalistik yang merupakan seorang agen rahasia di kepolisian Bandung.

Zack pun masuk ke Kantor Pusat Jakarta dengan rasa aman, tentram dan bersahaja sambil makan permen karet, lalu ia merogoh sakunya lalu mengambil kertas kecil bertuliskan ‘Lantai 7 Ruang 16’ dengan segera bergegaa menuju lokasi dan seperti Zack duga ada passwordnya. Zack pun mondar mandir hingga disangka penyusup oleh cleaning service disana, pak cleaning service pun bertanya pada security, dan akhirnya pak cleaning service pun paham dan sadar. Pak cleaning service pun segera memberi tahu kalau Pak Sujiwo ngefans berat sama Yoona SNSD.

Ide kecil pun terngiang di kepala Zack dan browsing. Zack pun mengetik 3006, itu tanggal lahir yoona snsd yaitu 30 mei 1990. Dan “yesss… hore.. hore.. kebuka..” Zack pun joget joget kecil dan terlalu girang.

Saat Zack membuka beberapa isi lemari alangkah terkejutnya jika di dinding itu banyak sekali poster alay yoona SNSD. Di beberapa lacinya tersimpan file “X” dan dokumen Negara, yang memang milik Bapak Sujiwo. dan Bapak Sujiwo adalah seorang pengedar info rahasia Negara ke beberapa Negara maju seperti korea selatan, Jepang, RRC dan Australia. ‘oh jadi alasan jihye kesini mungkin karena sujiwo’ pikir Zack. Zack juga menemukan berkas korupsi jual beras impor Negara, dan masih banyak lagi. Setelah itu Zack penasaran dengan lemari di pojok, ia membukanya dan ternyata itu adalah pintu rahasia menuju “ebuseeet…” Kata Zack melotot dan ngerock. Itu adalah beberapa tumpuk dollar. “500 x 700 km” kata Zack menghitung “jadi semua 5,34 T Rupiah”

Tanpa basa basi Zack pun menutup pintu dan berlari keluar mencari ojek dan menuju ke stasiun pasar senen Jakarta dan naik kereta menuju Cirebon. Zack pun memilih milih tempat duduk, yak disana ada Jihye. Zack pun menghampiri Jihye dan berkata “Why you in here?” Jihye tampak mengantuk dan menguap karena terlalu lama menunggu kereta melaju. “I will go to Cirebon, Why?” Zack pun bertanya tentang Pak Sujiwo kepada Jihye, mereka pun berbincang-bincang.

Kemudian mereka sampai ke Kantor Keadilan Cirebon yang dimana pak sujiwo sedang di interogasi, tapi sekarang bukti bertambah kuat dengan adanya Zack dan Jihye. Tanpa pikir panjang pak Hakim menaruh Pak sujiwo di sel tahanan dan besoknya akan di hukum mati karena terlalu banyak mengakibatkan masalah dan korban.

Zack pun menemui Jihye dan menyatakan persaannya yang sebenarnya. karena Zack merasa banyak kesamaan yang mereka lalui. Bertahun tahun kemudian mereka bertemu di kasus selanjutnya.

Sumber Klik Disini :