Archive for the ‘Kritik Sosial’ Category

Dengan cepat Seruni mengayuh sepedanya. Melewati jalanan yang berlubang dan sedikit berbatu. Rencananya sepulang sekolah ia akan menyelesaikan tugas menggambarnya bersama Nata.
Bunyi dedaunan kering yang tergilas roda sepeda Seruni mengiringi perjalanannya. Sampai di persimpangan gerbang komplek. Seulas senyum mengembang di wajah manis Seruni, dia bisa sampai lebih cepat hampir setengah jam ke rumah dari biasanya. Saat melintasi persimpangan komplek, nampak seorang perempuan muda yang cantik duduk termenung. Seruni mengerem mendadak sepedanya, hingga hampir membuatnya terjatuh.
Perempuan cantik itu duduk sendirian. Pakaiannya serba hitam dan menggenggam setangkai mawar, kepalanya tertunduk seakan menghitung butiran pasir yang ada di bawah kakinya. Namun, karena buru-buru, Seruni segera meninggalkan perempuan itu, walau dengan hati yang masih penasaran.

Sesampainya di rumah, Seruni segera menyiapkan peralatan menggambarnya, ibu yang melihat tingkah Seruni yang terburu-buru sampai heran dibuatnya.
“ Ni, kamu mau kemana? Kok buru-buru banget?” tegur ibu
“Seruni mau ngerjain tugas menggambar, Bu”
“Yaudah, tapi kamu makan dulu sana!” perintah ibu
“Uni buru-buru, Bu! Nanti aja deh makannya!”
“Kamu kan baru pulang, Ni. Pasti capek, sedikit aja biar gak sakit”

Seruni menuruti perintah ibunya. Dia menyendokkan nasi dengan terburu-buru ke dalam mulutnya.
“Pelan-pelan, Ni! Nanti tersedak!” suara ibu membuat pola makan Seruni melambat, dan stabil seperti seharusnya. Setelah menghabiskan makan siangnya, Seruni mengambil sepeda yang di senderkan di pohon pekarangan rumahnya.
“Pulangnya jangan kesorean, Ni!” pesan ibu, suaranya terbawa desiran angin sembari mengiringi kepergian Seruni yang semakin menjauh.
Sampai di persimpangan komplek, perempuan itu masih berada di sana, kali ini mengenakan selendang hitam yang dililitkan di kepala menjadi sebuah kerudung. Seruni menghentikan laju sepedanya beberapa meter dari perempuan itu, baru kali ini ia melihat perempuan itu. Dengan gaya misterius, dan tak ada yang memperhatikannya.

Sayangnya, Seruni sedang tidak banyak waktu, lagi-lagi ia berlalu meninggalkan perempuan itu. Senja telah tiba saat Seruni pulang dari rumah Nata. Kini perempuan itu telah menghilang entah kemana, Seruni sempat mencarinya di sekitar persimpangan, namun hasilnya nihil.
“Wah, aku bisa dimarahi, ibu!” pekik Seruni begitu melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 18.37 WIB. Ia memutuskan untuk segera pulang.
*
Semilir angin pagi segera menyeruak begitu Seruni membuka jendela kamarnya. Nyanyian merdu para burung menemani pagi Seruni hampir setiap hari. Sungguh, Tuhan telah menciptakan segalanya dengan amat sangat indah.
Seruni berdiri di depan daun jendela kamar yang dibuka lebar, dihirupnya udara pagi yang menyegarkan itu sebanyak-banyaknya, sekuat yang bisa di tampung paru-parunya. Dan perlahan ia menghembuskan udara menyegarkan yang penuh dengan oksigen itu menjadi karbondioksida. Rasanya ingin melakukannya berulang-ulang, sayangnya Seruni harus segera berangkat sekolah. Dengan malas ia meraih handuk yang tersimpan rapi di laci dan bergegas mandi.
“Ni! Seruni! Sarapan!” panggilan ibu menyadarkan Seruni yang tengah terdiam di depan jendela. Tiba-tiba ia teringat perempuan yang kemarin ditemuinya.
“Iya, Bu!”

Dengan langkah terburu-buru Seruni meraih tas ranselnya, dan berjalan menuruni anak-anak tangga.
“Cepat, Ni! Nanti terlambat!” tutur ibu begitu Seruni duduk di meja makan, ia hanya mengangguk mengiyakan perkataan ibu.
“Bu, aku berangkat!” ucap Seruni begitu selesai menghabiskan sarapannya
“Hati-hati ya, Ni!” pesan ibu. Seruni segera mencium punggung tangan ibu, dan segera mengayuh sepedanya.

Tiba di persimpangan komplek. Perempuan itu tengah duduk menyendiri, kerudung hitam yang dipakainya nampak telah lusuh.
“Seruni!” seseorang menyerukan namanya. Seruni memalingkan wajahnya dan mendapati Kinan di sana.
“Eh, Kinan. Ngagetin aja!”
“Hehe, maaf. Berangkat bareng, yuk!” tawarnya, Seruni mengangguk.
*
Kebetulan hari ini para guru mengadakan rapat di sekolah, Seruni pulang lebih cepat. Tiba di persimpangan. Perempuan itu tetap duduk, kali ini sambil memegangi perutnya, wajahnya tampak pucat, serta sesekali ia meringis.

Sekian lama Seruni memperhatikan perempuan ini, tapi belum pernah ia menegurnya atau sekedar berbasa-basi dengannya, dia juga tak pernah melihat orang lain melakukannya.
“Permisi” lontar seruni ragu-ragu
Perempuan itu mendongak, air matanya menggenang.
“Ibu kenapa?” Tanya Seruni. Namun, perempuan itu hanya diam sambil tetap memegangi perutnya.
“Ibu lapar? Ini saya punya roti” Seruni memberikan roti bekalnya, dan duduk di samping perempuan itu.

Sayangnya perempuan itu tetap bungkam, bahkan tak mengucapkan terima kasih. Dilahapnya roti itu dengan sekejap, Seruni sampai terkesima dibuatnya. Perempuan itu begitu kharismatik, matanya banyak bercerita tentang keadaannya, mata sendu. Mata sendu yang memukau.
“Ibu ngapain disini?” Tanya Seruni
“Hmm, ya beginilah duduk memandangi orang-orang yang keluar masuk komplek”
“Memangnya Ibu nggak punya rumah?”

Perempuan itu menggeleng “Saya juga nggak punya keluarga” tuturnya
“Ibu mau tinggal di rumah saya?”
“Hah, memangnya boleh?”
“Tak tahu juga sih. Tapi nanti saya jelaskan pada ibu di rumah”
*
“Itu siapa, Ni?” Tanya ibu begitu Seruni pulang
“Ehmm, ini teman baru Seruni”
“Teman baru?” ibu mendelik
“Untuk beberapa hari ke depan, ia tinggal di sini. Boleh kan, Bu?” rengek Seruni
“Hmm, iya. Boleh kok”
“Makasih, Bu! Ibu baik deh” Seruni memeluk ibunya. “Ayo!” ajak seruni pada perempuan itu.
“Bisakah Ibu ceritakan padaku tentang kehidupanmu?” pinta Seruni

Perempuan itu terdiam, ia mendongak memperhatikan langit-langit kamar Seruni.
“Kenapa?”
“Aku tidak suka menceritakan tentang kehidupanku apalagi tentang keluarga. Ya mungkin karena aku telah tak memilikinya” ujar perempuan itu kemudian
“Oh, maaf. Mungkin Ibu lelah, istirahat saja.”
“Jangan panggil ibu, aku belum setua itu. Panggil kakak saja” seruni mengangguk.

Keesokan lusanya saat Seruni sedang menonton kartun di televisi.
“Jangan nonton kartun terus, Ni!” ibu meraih remote di tangan Seruni “Sekali-kali nonton berita, biar tahu keadaan dunia luar” sambungnya

Dengan malas Seruni menyimak berita yang muncul di televisi. Kali ini tentang kasus pembunuhan sebuah keluarga.
“Lho. Itu kan” Seruni memicingkan matanya guna memperjelas apa yang baru dilihatnya
“Kenapa?” Tanya ibu yang duduk di sampingnya
“Jadi, selama ini aku berteman dengan seorang pembunuh?” Seruni memandang kosong tembok dihadapannya.
“Kenapa sih,Ni?” Tanya ibu penasaran
“Ibu lihat saja sendiri”

Seruni berdiri meninggalkan ibunya yang masih kebingungan. Ia segera ke taman belakang rumah, tempat kesukaan perempuan yang ia panggil kakak itu.
“Kak, kenapa selama ini Kakak nggak bilang?”
“Bilang apa?” Tanya perempuan itu kebingungan
“Kalau Kakak jadi sebatang kara, karena Kakak udah bunuh semua keluarga Kakak!”

Perempuan itu diam, dan dingin seperti biasanya, wajahnya tak menyiratkan rasa bersalah
“Kamu nggak tahu, Ni.”
“Nggak tahu apalagi? Seruni tahu semuanya!”
“Kamu nggak tahu kalo Kakak ini…”
“Apa? Kakak kenapa?”
“Kakak, menderita psikopat. Ada sisi lain dalam diri Kakak yang menginginkan semuanya terjadi”
“Tapi, mengapa Kakak harus melakukan semua ini? Seberapa besarkah masalahnya?”
“Mereka terlalu asik dengan kegiatan mereka, tak mempedulikan Kakak. Daripada mereka dibiarkan hidup, lebih baik mereka mati sekalian!” penuturannya disertai senyuman licik “Kalo kamu macem-macem juga, bisa jadi nasibnya sama kayak mereka! Hahhaha” ucapnya ringan membuat mata Seruni terbelalak.

Sumber Klik Disini :