Archive for the ‘Penyesalan’ Category

Sesal

Posted: 08/20/2015 in Penyesalan
Tag:

“Kenapa sih, selalu aja kayak gini? Selalu aja masalah kecil digede-gedein tak bisakah kau sedikit aja mengerti?”

Bagai disambar halilintar yang begitu dahsyat, kata-kata itu mampu membuat seluruh ruang dalam hatiku nyeri, sakit. Apa lagi cowok yang berkata seperti itu –yang kini sedang berdiri dengan tegapnya di hadapanku– adalah Aldi pacarku.

Baru setengah tahun kami menjalin komitmen untuk berpacaran. Tapi akhir-akhir ini agaknya hubungan kami mulai tidak baik. Dan mungkin benar apa yang disampaikan Aldi barusan, semua ini mutlak karena kesalahanku yang tak pernah bisa diajak bicara secara baik-baik. Masalah yang harusnya bisa diselesaikan tapi aku besar-besarkan. Aku hanya bisa menghembuskan napas panjang. Berharap, semua bebanku akan larut bersama tiap keping partikel gas yang aku hembuskan.

“Mungkin, itu benar Maaf.” Kataku dengan suara tercekat yang hampir tak dapat didengar.

Tak sanggup lagi aku menatap Aldi. Wajahku hanya bisa tertunduk lesu dengan raut wajah yang begitu menyedihkan. Aku lantas berbalik dan pergi meninggalkannya dengan perasaan yang begitu kacau. Terlalu kacau bahkan untuk dapat berpikir jernih. Sadar akan setiap kekurangan diriku. Yang tak pernah bisa berlaku dewasa. Tapi, dalam lubuk hatiku yang paling dalam betapa aku begitu menyayanginya. Mungkin aku hanya nggak bisa menunjukkan rasa sayangku untuknya. Oh, betapa bodohnya diriku.

“Bella, tunggu Bel kenapa harus pergi? Tak bisakah kita berbicara secara baik-baik?” Teriak Aldi dengan suara yang begitu kaya akan kasih sayang namun suaranya tak sekaya dulu. Agaknya suara yang penuh akan rasa kasih sayang kini telah berangsur-angsur berkurang. Mungkin rasa itu sebentar lagi akan lenyap.

Pikiranku semakin kacau, kutapaki inchi demi inchi jalanan ‘tuk dapat sesegera mungkin pulang ke rumahku. Aku hanya ingin beristirahat sejenak dan mengembalikan tiap lembar memoriku dalam keadaan fresh. Agar aku dapat berpikir jernih, agar aku dapat melihat betapa aku menyayangi Aldi sepenuh jiwaku dan setulus hatiku.

Treerrth, treerrth,
Terdengar suara ponselku bergetar tanda ada sms yang masuk. Kuhembuskan napasku dalam-dalam setelah mengetahui pengirim smsya –Aldi-.

“Bel, maaf mungkin kata-kataku tadi terlalu menyakitkan untukmu. Tapi aku sungguh tak bermaksud seperti itu.”

Aku sadar, kata-katanya memang sangat tepat walau itu harus menyakitiku. Ku hembuskan kembali napasku dalam-dalam. Bahkan mungkin terlalu dalam hingga membuat deretan tulang rusukku begitu nyeri. Untuk saat ini aku butuh ketenangan untuk mengembalikan keadaan seperti semula. “Mungkin lebih baik kita nggak saling berhubungan dulu,” pikirku saat itu.

Kenapa aku tak bisa sedikit saja bersikap dewasa? Kenapa aku selalu membesar-besarkan masalah yang harusnya dapat diselesaikan dengan mudah? Pertanyaan-pertanyaan itu semakin bergelayut dan memenuhi ruangan dalam seluruh alam pikirku.

Dua hari berlalu, tanpa kabar dari Aldi. Aku pun berniat untuk meminta maaf padanya. Aku sadar, ini sepenuhnya kesalahanku yang nggak bisa bersikap dewasa. Berulang kali aku kirim sms tapi tak ada balasan darinya. Hal ini membuatku semakin merasa sangat bersalah padanya. Memang penyesalan datangnya pastilah terlambat. Serpihan sesal itu membuatku semakin merasakan nyeri yang begitu menggunung.

Tiga hari bahkan satu minggu berlalu, benar-benar tanpa kabar. Kegelisahan ini semakin menjadi-jadi. Rasa takut kehilangannya semakin membuat dadaku terasa sangat nyeri. Pikiran-pikiran negatif semakin menghantui hati dan pikiranku. Aku harus melakukan sesuatu, aku nggak boleh diam aja dengan keadaan seperti ini. Tekadku tumbuh dalam hatiku. “Tapi, apa yang harus aku lakukan?”

Semenit, dua menit, tiga menit berlalu tanpa ada sekelumit pun ide yang hinggap dalam belahan otakku. Apa yang harus aku lakukan untuknya agar dia terkesan padaku dan mau memaafkanku?
Twiing!! Akhirnya sebuah ide hinggap dalam ranting otakku. “Aku harus ke rumahnya, mendatanginya dengan mengendarai sepeda, jarak rumahku dan rumahnya lumayan jauh juga sekitar 15 km dia pasti akan melihat kesungguhan hatiku melalui tiap kayuhan sepedaku.” Pikirku saat itu.

Tanpa pikir panjang lagi, kukeluarkan sepeda butut yang emang jarang aku pakai. Kukayuh dengan penuh semangat dan rasa antusias akan pemberian maaf dari Aldi. Semoga Aldi senang dan terkesan dengan apa yang aku lakukan ini. Dia pasti memaafkanku dengan sepucuk senyum yang merekah seperti dulu.

“Sedikit lagi Bella, tinggal sedikit lagi kamu akan bertemu dengan Aldi. Sebentar lagi kamu akan melihat kembali senyum yang merekah dari bibirnya seperti dulu. Senyum yang aku suka. Sebuah senyum yang dapat membuatku bahagia.” Kataku pada diriku sendiri untuk memberi semangat pada diri sendiri.

Tepat, tak beberapa lama kemudian pun aku sampai di depan rumah Aldi. Terlihat sosok cowok yang sangat aku kenali, sedang bersantai di depan rumahnya ditemani oleh seorang wanita paruh baya yang masih terlihat tegar pasti itu Ibunya. Dan seorang cewek cantik yang kelihatannya usianya tak beda jauh dari Aldi. Kelihatannya Aldi sangat bahagia. Sesekali dia tersenyum mendengarkan cerita si cewek cantik itu.

Apakah aku harus merusak suasana itu? Kuurungkan niatku untuk bertemu Aldi di rumahnya. Kukayuh lagi sepedaku menuju sebuah taman yang letaknya tak jauh dari rumah Aldi.
Ku hempaskan semua beban yang bergelayut dalam benakku. Berbagai kegalauan menerpaku tanpa ampun. Perasaan yang begitu tak menentu dan sulit sekali didefinisikan dalam kata maupun sajak. Hanya hatiku sendiri yang mengerti rasa ini. Rasa yang begitu mengganggu dan membebani tiap hembusan napas ini.

Sepuluh menit, dua puluh menit, tiga puluh menit berlalu tanpa makna. Aku yang hanya bisa terdiam termenung meratapi serpihan sesal yang kini hinggap dalam benakku. Aku masih memandang hampa tiap sudut taman yang mulai ramai dengan muda-mudi yang ingin menghabiskan waktu berdua. Sedang aku hanya sendiri meratapi serpihan sesal ini.

Tiba-tiba, pandanganku tertuju pada dua orang muda-mudi yang sedang menghabiskan waktu berdua. Ku kerjap-kerjapkan mataku seolah tak percaya dengan apa yang sedang ada dalam penglihatanku. Aku kenal dengan sosok cowok itu. Bahkan amat sangat mengenal melabihi diriku sendiri. Aku tak percaya, amat sangat tidak percaya. Orang yang ingin aku temui hari ini sedang berada di depan mataku bersama cewek cantik yang tadi sempat ku lihat di teras rumahnya. Mungkin itu sepupu atau saudaranya karena mereka terlihat begitu dekat. Bahkan amat sangat dekat.

Aku berniat untuk menghampiri mereka, sekedar menyapa mereka. Agaknya, sebelum aku sempat sampai di hadapan mereka, Aldi mengetahui kehadiranku. Sepintas ada mimik wajah kaget dan tak percaya dengan apa yang dia lihat di hadapannya. Seakan hal yang mustahil aku berada di hadapannya saat ini. Kini raut wajahnya resah, gelisah dan tak terbaca. Ku coba memberanikan diri untuk menyapa mereka.
“Hai, Aldi.” Sapaku dengan senyum terbaik yang pernah aku berikan padanya.

Aldi semakin gelisah, mendengar sapaanku. Sedetik, dua detik tiga detik berlalu hening, sunyi tanpa kata yang terucap.

“Siapa Al?” Cewek cantik yang berada di sampingnya pun mencairkan keheningan yang sempat singgah dalam pertemuan kita yang tak terduga. Aldi mengerjap cepat dan segera bersuara dengan nada yang tercekat dan agak terbata.

“Emm. Kenalin Bel, ini Tiara pacarku. Tiara ini Bella.”

PYYAARR!! Rasanya seperti ada yang jatuh dan pecah berkeping-keping di dalam ruang hatiku. Aku tak dapat berpikir jernih lagi. Aku tak percaya dan tak mau percaya dengan apa yang terucap dari bibir Aldi. Jadi, cewek itu adalah pacarnya? Lalu aku dianggap siapa olehnya? Tanpa pikir panjang lebar, aku pun pergi meninggalkan mereka. Tatapanku hampa, hatiku hancur tak menentu benar-benar mati rasa.

Apakah ini jawaban dari seluruh kegundahanku? Bahwa kini Aldi sudah punya penggantiku? Apakah kini aku sudah benar-benar kehilangannya? Deretan tulang rusukku yang tersusun rapi kini mulai terasa nyeri, sesak hingga tak sanggup untuk menampung udara. Mataku mulai berkaca-kaca. Air mata yang sedari tadi mengerang ingin keluar tapi tetap ku bendung, kini hatiku sudah tak mampu lagi membendungnya. Aku terisak dan air mata benar-benar mengalir dengan derasnya. “Kenapa?” Hanya pertanyaan itu yang bergelayut dalam benakku.

“Maaf.” Tiba-tiba terdengar suara yang begitu ku kenal. Bahkan amat sangat aku kenal. Yang kini duduk di sampingku. Ku lihat sekejap mimik wajahnya pun terluka dan tak terbaca.

“kenapa?” Kataku dengan nada terisak. Begitu menyedihkan.
“Maaf, aku yang telah melukaimu. Maaf aku yang telah menyakitimu. Sungguh aku tak bermaksud untuk melukaimu.” Bibirnya tak mau berhenti untuk meminta maaf.
“Kenapa kamu lakukan ini padaku? Apa kamu tahu rasanya seperti apa?” Kataku yang makin terisak dan sangat menyedihkan.
“Aku udah bosan dengan sikapmu yang nggak pernah mau bersikap lebih dewasa dan mengerti. Selalu membesar-besarkan masalah. Kamu selalu melampiaskan perasaan kesalmu padaku padahal itu bukanlah salahku.”

Mendengar penuturannya yang begitu panjang lebar, membuat dadaku semakin sesak dan susah bernapas. Rasanya seperti ada bom yang sedang meledak dan memporak-porandakan seluruh ruang dalam hatiku. Sakit! Perih! Dan begitu menyesakkan.

“Maaf, karena tak pernah membuatmu merasa bahagia bersamaku. Dan semoga kamu bahagia dengan pacarmu yang sekarang.” Aku pun pergi dengan keadaan yang sangat menyedihkan. Aku tak ingin terlihat lebih menyedihkan di hadapannya.

Ku raih sepedaku dengan segenap emosi yang sulit ku kendalikan. Ku kayuh dengan kencang pedal yang menancap dalam sepedaku. Ku kayuh dan terus ku kayuh dengan air mata yang tak terbendung lagi.

Tuhan jika memang dia bukan yang terbaik bagiku, segera tunjukkan rencanamu yang lebih baik. Dan jangan biarkan aku terlalu larut dalam kesedihan karena cinta yang terlalu dalam ini.

Sumber Klik Disini :

Sephia

Posted: 08/12/2015 in Penyesalan
Tag:

Sabar adalah guru paling hebat dalam hidup ini. Sabar mengajariku bagaimana mengendalikan dan mengatasi musuh terbesar dalam hidup ini. Nafsu. Sabar pula yang membuatku mencintai wanita dengan hati.

Menjadi bagian dari hidup wanita yang kucintai seperti mengukir ukiran cinta dengan busur panah yang tertancap di atas air. Sungguh sulit sekali. Wanita cantik yang mempunyai rambut hitam panjang legam yang selalu tergerai indah itu benar-benar memikat naluriku sebagai lelaki untuk menaruh hati padanya. Berkali-kali aku gagal untuk memiliki dia sepenuhnya tapi aku tak pernah menyerah. Seperti yang Ibu bilang, sabar itu tak mengenal kata tetapi. Sabar itu sahabat terbaik dalam hidup ini. Sabar memang tak selalu berujung dengan bahagia. Tapi sabar adalah guru paling hebat dalam hidup ini. Sabar mengajariku bagaimana mengendalikan dan mengatasi musuh terbesar dalam hidup ini. Nafsu. Sabar pula yang membuatku mencintai wanita dengan hati.

Bukan pria berpostur tinggi dan atletis itulah yang menjadi musuh terbesarku. Bukan. Meski tak bisa dipungkiri jika aku dan lelaki berpostur tubuh atletis itu adalah rival. Pria etletis itu selalu menantangku berduel untuk mendapatkanmu. Maaf wanita yang kukagumi, bukan maksudku mejadikanmu sebagai taruhan atas duel ini. Bukan. Aku hanya ingin mendapatkan dirimu dengan caraku, dengan peluh dan usahaku. Jika memang jalannya adalah menerima tantangan pria berpostur atletis yang selalu mengunjungimu saat hari sabtu tiba.

Sephia, apa kamu bahagia dengan kehadiran pria berpostur atletis itu setiap sabtu tiba? Pria yang menemanimu menikmati kerlap kerlip bintang, menemanimu menghabiskan sabtu malam di serambi rumahmu ditemani kunang-kunang. Sephia, sungguh aku iri melihat kalian berdua yang seringkali duduk berbincang-bincang di serambi rumahmu dengan akrabnya. Tak berani aku menatap kebersamaanmu degannya. Maaf, bukannya aku sombong tak menyapamu setiap kali aku melintas di depan rumahmu usai mengajari anak-anak kecil latihan silat.

Sephia, nyaliku seketika menjadi ciut sebelum melintasi rumahmu yang berpagar coklat terang dengan arsitektur bergaya joglo itu. Motor mewah yang dikenakan pria itu dari jauh sudah terlihat kinclongnya. Membuatku mengerutkan hati untuk sekedar melihatmu sekilas. Sephia, aku tahu jika kamu selalu melihatku melintasi rumahmu dengan sepedah butut peninggalan almarhumah bapakku.

Sephia, aku masih mengingat dengan jelas bagaimana kamu selalu menungguku di depan serambi rumahmu untuk bertemu denganku atau sekedar melihatku lewat usai mengajar silat. Aku masih ingat ketika dulu kamu berpura-pura menunggu abang bakso yang lewat, padahal kamu tengah menungguku lewat.

Sephia, aku tahu kamu menaruh hati padaku. Wanita mudah sekali terbaca gerak-geriknya saat jatuh cinta. Meski secerdik apapun wanita itu menyembunyikan perasaanya, pasti akan kelihatan juga. Meski bibirmu yang indah seperti bunga merekah itu terus berkata tidak ketika aku menggodamu namun matamu tak mungkin bisa berkata tidak. Bola matamu yang hitam itu selalu menjadi bagian yang aku lihat ketika berhadapan denganmu. Naluriku sebagai lelaki bisa memahami jika kamu menyukaiku.

Sephia, aku juga tak pernah berkata padamu jika aku mencintaimu. Jujur aku tak pernah berkata itu. Sebab aku memang tak berani mengatakannya. Yang jelas aku benar-benar mencintaimu. Cintaku padamu bukanlah cinta yang terencana. Aku tak bisa memperediksi sejak dan sampai kapan aku akan mencintaimu. Cintaku benar-benar tulus dari hati, tumbuh dari lubuk hati yang paling dalam.

Sephia, jika ada cinta yang terucap dan tak terucap, maka kaulah cinta tak terucapku. Cinta yang tak pernah berkata ada kata love you, jadian atau apapun itu. Cinta kita tumbuh dengan sendirinya. Tanpa rencana, tanpa sebab, bukan karena ada maksud apapun.

Sephia, apa kamu merindukanku? Aku merindukanmu, rindu pada gelak tawamu ketika bergurau dengan adik-adikmu di teras rumah, rindu senyummu yang kau tujukan padaku saat aku tersenyum padamu, rindu pada bola matamu yang hitam jernih itu yang selalu menjadi penyemangatku agar aku mencintaimu. Rindu pada rambut panjangmu yang membuat dirimu semkain cantik bak bidadari turun dari khayangan.

Sephia, sudah hampir dua purnama aku melintasi rumahmu namun aku tak pernah melihatmu di teras rumah. Aku tak pernah melihatmu tengah menunggu abang-abang bakso di hari lainnya, tak pernah melihatmu tengah bermain dengan adik-adikmu atau dirimu yang tengah dikunjungi pria atletis itu. Sephia, sedang apa kamu hingga aku tak pernah melihat sosokmu lagi.

Satu purnama lagi telah aku lewati. Berarti sudah tiga purnama berlalu kita tak bertemu. Sephia, ada apa denganmu? Di purnama ketiga aku tengah berada di kota lain. Mengadu nasib untuk mendapatkan penghidupan yang lebih layak. Andai kau tahu bahwa ragaku disana tapi hatiku disini. Sephia, aku mencemaskan keberadaanmu. Hingga akhirnya belum genap purnama keempat datang aku sudah memutuskan untuk kembali pulang.

Sephia, rasanya hatiku sudah putus asa. Tak berani aku mengetuk pintu rumahmu untuk bertanya keberadaanmu dan keadaanmu. Aku tak ingin dianggap lelaki pengecut karena ingkar janji. Aku berjanji pada pria atletis itu untuk tidak menemuimu. Ya, pria atletis itu mengetahui apa yang tengah bergejolak di antara kita. Sephia, pria atletis itu terus mencariku, menantangku berduel untuk mendapatkanmu. Kedengarannya konyol dan kekanak-kanakan, tapi memang inilah dunia kaum adam.

Sephia, hingga akhirnya Tuhan yang memberiku jawaban dari kerisauanku selama ini, di suatu pagi yang basah karena hujan semalam yang mengguyur kota ini aku hendak pergi ke rumah kerabatku dan melintasi rumahmu. Sephia betapa risaunya hatiku ketika kulihat dari kejauhan di pagar rumahmu tengah tertancap bendera putih yang di tengahnya terdapat tanda palang merah. Sephia, ada apa di rumahmu. Aku memutuskan untuk menuntun sepedah federal buntut ini. Perlahan mendekati rumahmu.

Sephia, betapa kagetnya aku ketika aku semakin dekat dengan rumahmu melihat orang sedang mengukir namamu dalam batu nisan. Sephia, ku eja nama itu berkali-kali. Masih saja tertera dengan jelas 5 huruf yang selalu kusebut-sebut dalam setiap sujudku untuk menjadi pelabuhan terakhirku, SEPHIA. Sephia, nyatakah ini? Atau mimpikah ini? Benarkah tubuh yang kulihat dari sini seberang jalan sini adalah sosokmu yang terbalut kain jarik dan kain putih dalam ruang tamu? Benarkah mereka yang sedang membacakan surat yasin tengah mendoakanmu yang tengah terbaring kaku itu?

Sephia, benarkah orang yang tengah menangis di sampingmu itu adalah mamahmu? Aku ingin masuk ke rumah itu. Tapi pantang bagiku untuk ingkar janji pada pria atletis itu. Sephia, orang berlalu lalang masuk ke rumahmu, sedangkan aku masih saja berdiri mematung di seberang jalan rumahmu. Mereka datang dengan pakaian hitam-hitam dan berkerudung dengan sesekali berbicara bisik-bisik tentangmu. Sephia, aimataku jatuh. Aku tak peduli sedang dimana aku. Menangis itu tak mengenal jenis kelamin. Sephia, aku benar-benar menangis di depan rumahmu, di seberang jalan, disaksikan orang yang berlalu-lalang melintasi jalan raya, di tempat yang sering kita gunakan untuk bertemu walau tak kurang dari 10 menit.

Sephia, gadis kecil yang sering kau ajak bergurau di teras rumahmu tengah menyeberang jalan, gadis kecil itu menghampiriku. Gadis kecil berambut keriting itu menyodorkan kertas putih untukku dan segera berlaluu meninggalkanku, kembali ke ruang tamu rumahmu.

Sephia, kubaca surat itu.

Cinta itu berarti saling setia dan saling percaya. Aku percaya jika kamu mencintaku, pria berambut ikal dengan kulit hitam legam dan tubuh tinggi. Meski tak pernah terucap kata cinta dari bibirmu. Aku selalu menunggumu melintasi rumahku setiap malam. Setiap hari rasanya aku merindukanmu. Sayang, bukankah rindu itu harus dirawat degan baik. Jangan dibiarkan berkobar karena bisa merusak jiwa. Maaf jika aku memanggilmu sayang, tapi aku memang menyayangimu. Sayang, maaf jika aku meninggalkanmu untuk selamanya tanpa pernah bercerita padamu tentang sakit yang kuderita ini. Sayang, aku tak ingin kamu mencintaiku hanya karena belas kasih seperti pria atletis yang kamu maksud itu. Tidak sayang, aku tak ingin kanker yang menggerogoti tubuhku ini menjadi sebab aku dikasihani. Sayang, dengan cintamu yang tak terucap itu aku merasa terus ingin hidup. Meski setiap hari aku harus menghitung hari menunggu kepulanganku ke rumah-Nya. Sayang, sebulan aku sakit di rumah, sebulan aku dirawat di rumah sakit dan sebulan pula aku memilih kembali ke rumah untuk menunggumu. Namun selama hampir sebulan itu kamu tak muncul juga. Sayang aku lelah, aku rindu, aku rapuh. Maaf hingga akhirnya aku membalas cintamu dengan kejutan yang menyakitkan ini. Sayang, bebaslah kamu menjadi pria. Jadilah pria yang bertanggung jawab dari setiap perbuatan yang kamu perbuat.

Sephia

Sephia, sungguh aku sanggup untuk meninggalkanmu. Tak sanggup menerima kenyataan yang pahit ini, tak sanggup menerima semua kejadian yang serasa mendadak dan mengiris relung hatiku. Selamat tinggal dan selamat tidur panjang kekasih tak terucap. Dan semoga aku dapat melupakanmu cepat.

Sumber Klik Disini :

Hai, namaku Sandra Winata Sari, panggil saja aku Sandra. Aku baru kelas 5 SD di SDN Negeri Bangsa. Aku mempunyai sahabat setia, Vira namanya. Dia selalu ada untukku, di mana pun dan kapan pun. Aku berpikir, aku tidak akan meninnggalkannya. Karena dia itu sahabat terbaikku. Tapi, Tuhan berkata lain, aku dan keluargaku harus pindah ke Yogyakarta, karena ayah harus pindah tugas. Aku pun harus ikut mereka dan tinggal disana. Aku tak tega membicarakan hal ini pada sahabatku Vira.

Sampai suatu hari Vira mempunyai penyakit.
“Sandra..” panggilnya.
“iya?”
“Ak-aku, sebenarnya punya penyakit..”
“Jangan aneh-aneh deh Vir..”
“Serius! Aku punya penyakit paru-paru!” kata Vira.
“em.. ya, sebenarnya, aku sudah tahu sih..” kataku.
“dari siapa?” seru Vira.
“dari mama kamu..” jawabku.
“oh..”

“sebenarnya, aku pengen pindah..” kataku terbata-bata.
“pindah apanya?” alis Vira naik sebelah.
“oke! huft! jadi gini, ayahku akan pindah tugas ke Yogyakarta, jadi aku harus pindah rumah”
“jadi kita akan berpisah maksud kamu?” air mata Vira mulai keluar perlahan.

“aku juga tak mau ini terjadi! tapi.. Kita harus berpisah kawan…”
“apa kamu bilang? Apa? kamu rela meninggalkan aku? hah? kamu rela? aku sahabatmu..” katanya sambil menangis tersedu-sedu.
“ya aku tahu! Kamu sahabatku! Kamu sahabat terbaikku. Tapi kita harus berpisah” air mataku mulai mengalir.
“Aku benci kamu!” katanya lalu pergi.
“Tapi.. kita harus berpisah… siapa sahabat yang rela meninggalkan sahabatnya?!” seruku lalu meninggalkan secarik surat lalu pergi.

Aku tak tahu kalau akhirnya begini.
Aku menyesal.

Sumber Klik Disini :

1 Missed Call

Posted: 08/08/2015 in Penyesalan
Tag:

Hari ini adalah tepat dua tahun meninggalnya ayahku. Aku dan ibuku pergi ke makam ayah. Sebenarnya aku dan ayah tidak dekat, karena ayah dan ibu sudah berpisah sejak aku masih satu tahun. Sejak saat itu ibu tidak pernah lagi membahas tentang ayah. Sejak aku masih bayi, Ibu adalah orang yang sibuk, jadi ia tidak pernah punya waktu untuk sekedar bercengkerama denganku di rumah. Hari ini pun aku beruntung karena dia mau ke makam ayah denganku. Tapi aku agak kecewa, karena setelah kami pulang dari sini ibu harus pergi lagi ke lombok untuk reservasi proyek baru.

Kata oma, aku punya seorang kakak kandung. Dia bernama Leo dan sekarang tinggal di Belanda. Aku punya fotonya sewaktu kecil, tapi aku tak pernah ingat punya saudara laki-laki. Setelah ku tanya-tanya lagi pada ibu, ibu tak pernah mau menjawab pertanyaanku. Dia memang tumbuh bersama ayahku, semua hal yang menyangkut tentang ayah sudah ibu musnahkan sejak lima belas tahun yang lalu.

Aku seorang siswi biasa di sekolah favorit di jakarta. Aku tak sepopuler Daren si Model cantik, misyel si cewek gaul, dan monique si cewek cute tapi s*xy di sekolah. Tapi aku bangga karena akulah si cewek teladan di sekolah. Aku hanya punya satu orang sahabat dekat bernama gracia, dia sangat mengerti denganku. Aku punya pacar yang sangat populer di sekolah, namanya Iyan Januar. Dia adalah anak yang dalam bahasa halusnya “Kurang Perhatian” di sekolah. Dan dari dia juga aku tau bahwa selain belajar, ada hal yang perlu dimanfaatkan di dunia ini, yaitu Cinta. Aku sering berfikir, mengapa dia bisa mencintaiku? Padahal aku tak pernah masuk dalam jajaran cewek idaman. Sudah satu tahun lebih aku berpacaran dengannya. Dia menyatakan cintanya saat acara Mos selesai, dan parahnya lagi ternyata dia juga sekelas denganku. Karena terlalu sering dia mengikutiku, akhirnya aku bisa mencintainya. Tapi untungnya sekarang kami tak sekelas lagi.
“grac.. liat iyan gak?”.
“enggak tang! Emangnya kenapa? Kok tumben nyari-nyari dia? Biasanya kan sebelum di cari tu anak udah nongol duluan”. Gracia terlihat heran melihat sikapku yang beda.
“ini loh, tadi katanya dia mau minjam catatan aku buat ulangan besok!”.
“oh kirain ada apa”. Akhirnya aku juga duduk di kantin saat itu bersama gracia. Tak lama aku duduk di situ, akhirnya iyan datang menemuiku
“Lintangku…”.
“iihhh… maksain banget sih!” gracia selalu sewot mendengar iyan memanggil namaku dengan sedikit diayun-ayunkan.
“kamu sewot muluh sih kalo aku manggil lintang! Tang entar malam aku ke rumah kamu yah? Mau nanya soal-soal ujian, boleh gak?”. Satu hal yang paling aku tak suka darinya, dia selalu ingin menunjukan kepada orang-orang kalau aku ini adalah pacarnya dengan cara merangkulku, mencium pipi secara tiba-tiba dan kadang dia memelukku saat dia bahagia.
“iya.. iya.. tapi entar gracia juga mau ngerjain pe er di rumah aku!”.
“yah.. ga apa-apa sih! Cuman jangan ganggu orang lagi pacaran ya! Cukup jadi obat nyamuk udah bagus buat kamu”.
“enak aja! Ga ada pacaran-pacaran! Lintang kan mau belajar, entar aku laporin ke tante Lusi baru tau rasa kamu”.
Selama aku pacaran, iyan dan gracia memang tak pernah akur. Hanya kadang-kadang mereka berdua kompak untuk mengerjaiku. Ibu juga tau kalau aku pacaran dengan iyan.

Aku, iyan dan gracia belajar di ruang tamuku. Tadinya aku dan gracia belajar di kamarku. Tapi berhubung iyan datang, jadi kami pindah di ruang tamu. Gracia pulang duluan, sekarang tinggalah aku dan iyan di sini. Aku menjelaskan detail-detail setiap soal, tapi setiap aku mengangkat wajahku, ternyata dia sedang memperhatikan wajahku. Dia mau mempelajari soal atau wajahku ya?
“yan.. kamu ngerti gak sih?”
“ngerti dong!”.
“trus ini apa artinya?”.
“emmm… bisa dijelasin ulang gak?”.
“dari tadi kamu ngeliatin apaan sih? Aku kan udah empat kali ngulang pertannyaan itu!”. Nada suaraku yang kecil mulai meninggi.
“ngeliatin kamu, ternyata kamu tuh biasa-biasa aja yah!”. Ya ampun… ternyata dia ingin aku mengusirnya. Aku hendak mengusirnya sebelum dia berkata “tapi kamu beda dari semua cewek yang pernah kulihat! Kamu punya satu hal yang membuatku mencintaimu yaitu senyum tulusmu, tolong apapun yang terjadi jangan ninggalin aku yah!”. Perasaanku tak enak saat ini, kira-kira apa maksud yang dia katakan. Semua pertanyaan yang ingin kutanyakan padanya hanya tertahan di dalam hatiku.

Seharian di sekolah aku hanya mengkhayal. Aku tak tau mengapa aku seperti ini, aku berpikir mungkin karena perkataan iyan waktu itu. Aku melihat keluar kelas, kemudian ku lihat kakak kelas melambaikan tangan padaku. Aku tau nama kakak kelas itu, namanya nard. Dia masuk sekolah ini sebagai murid baru saat aku kelas satu dan dia kelas dua. Aku tak terlalu tau detail tentangnya. Tapi apa urusannya denganku saat ini ya?
“lintang.. entar pulang sekolah pulang bareng siapa?”. Aku heran dengan pertanyaannya, apakah dia ingin mengantarkanku pulang? Jangan cari mati ya kak.
“kayanya sama iyan deh”.
“oh hati-hati di jalan ya, entar kalo ada waktu sms aku, aku mau ngomong penting.. nomornya 081998978XXX”.
“Oke.. nanti aku sms”.
Dia pergi, aku melihatnya dan terheran-heran. Mau ngomong apa ya dia?

Aku menunggu iyan di depan sekolah. Sudah hampir tiga puluh menit aku menunggunya, tapi dia tak juga kelihatan. Kemudian masuk sebuah pesan dihandphoneku
“syg, mbil ak mgok nih d pnggir jlan.. kmu plangx naik taxi aj ya, entar ak ceritain, see u :*”.
Ini anak gak sekalian aja di sms pas udah tengah malam. Aku bingung. Aku tak pernah pulang naik taxi. Aku jadi ingat kejadian tadi siang, aku kan baru diberikan nomor nard. Mungkin dia bisa kumintai bantuan, dia kan sudah kelas tiga, jadi kemungkinan besar dia masih ada di sekolah jam segini.

Aku mengambil handphoneku dan aku mulai mengetik sms padanya “ka nard ya? Ini lintang.. ka punya wktu ga?”. Dia tak membalas smsku, tapi dia langsung ada dibelakangku. “ada kok.. mau di anter pulang ya?”.
“iyaa kak.. skalian kan! Bukannya kakak mau ngomong sesuatu?”.
“oh iya.. di fun resto aja, mau?”.
“terserah aja deh!”.

Sejak pertemuanku dengan ka nard dua bulan yang lalu, aku semakin dekat dengannya. Aku bahagia, karena sebenarnya dia adalah kakak kandungku. Nama lengkapnya LeoNard. Tidak mudah bagiku untuk langsung menerimanya, aku baru menerimanya sebagai kakak kandungku satu setengah bulan ini. Dia selalu menjagaku, namun hal ini membuat banyak orang berpikir yang tidak-tidak. Aku tak pernah menceritakan hal ini pada siapapun, karena aku terlalu malas untuk menjelaskan. Biarkan semua orang mengetahuinya sendiri, termasuk iyan dan gracia. Kadang iyan cemburu melihatku dekat dengan ka nard, aku ingin menjelaskan padanya, tapi aku malas beradu mulut dengannya.

Suatu hari aku sedang menonton TV dengan ka nard di rumah. Ruang menonton dirumahku terletak di lantai dua. Tiba-tiba bibi memanggilku, katanya ada tamu untukku. Saat aku turun tidak ku lihat siapapun di sana, dan pesan singkat masuk di handphoneku “tang.. sebaiknya kta putus, smakin lma aku smakin bingung dngan smua rhasia yg kau smpan sndri”.
Aku langsung maneleponnya, tapi nomornya tak aktif. Aku mulai meneteskan air mataku, ka nard menghiburku. Walaupun aku seperti tak perduli dengan iyan, tapi aku begitu mencintainya dan hanya Tuhan yang tau semuanya.

Seminggu kemudian akhirnya aku berani menjelaskan semua yang terjadi pada gracia. Dia begitu kaget mendengar semuanya. Dia bilang akan membantuku menceritakan semuanya pada iyan, tapi aku tak berharap sesuatu yang indah akan terjadi di sini. Gracia juga cerita kalau alasannya memutuskanku adalah aku terlalu dekat dengan ka nard, dia juga ingin aku mengajaknya menonton bersama di rung menonton keluargaku. Sejujurnya dia memang tak pernah kuajak menonton di rumah, aku merasa semuanya sudah terlambat.

Aku bangun pagi ini dengan semangat karena sepertinya aku akan mendapat kabar bahagia dari gracia. Ku buka handphoneku yang dari tadi terus berdering “1 missed call” begitulah tertulis di layar handphoneku. Iyan meneleponku tadi malam pukul 01.01. dan kubuka satu persatu pesan yang dari tadi menyerbu handphoneku

“tang.. iyan udah gak ada”.
“Mt pagi lintang.. iyan udah mninggal”.
“kamu gak k rmah skit?”.
“tang.. skrg ka nard jmput ya! Kt k rmah skit”.
“lintang, tdi mlam iyan kclakaan mtor jam 01.00”.

Ada sekitar sepuluh sms yang masuk kehandphoneku.
Aku kaget membaca semua sms tersebut, dia meninggal tepat dengan jam saat dia meneleponku tadi malam. Setahuku dia tak pernah lagi naik motor sejak kelas satu SMP, karena traumanya dengan kecelakaan kakak satu-satunya. Aku menangis sejadi-jadinya, aku tak rela jika dia meninggal seperti ini. Aku yang salah, dari awal aku tak pernah jujur padanya tentang diriku.

setelah kembali dari pemakaman alm. Iyan, aku duduk di teras kamarku sambil mendengarkan lagu Daughtry-Losing my mind. Kemudian ku buka laptopku, ada begitu banyak pesan di emailku. Tapi aku tertegun melihat satu pesan dari iyan, Rabu, 15 Mei 13 pukul 23.49

“tang.. maaf ya udah salah paham sama kamu! Itu semua karena aku sayang sama kamu. Sekarang aku ke rumah kamu yah? demi kamu aku rela untuk kali ini naik motor, soalnya jalanan lagi macet banget. Tungguin aku yah!”.

Seandainya aku membaca pesan ini dari awal, aku pasti tak akan pernah setuju. Tinggallah penyesalan mendalam dalam hatiku. Sakitnya seperti ada sebuah paku berkarat yang terus di tekan di bagian dada. Terlambat untuk menyadarinya sekarang, kini tinggal kerelaanku untuk melepaskannya agar dia tenang di tempat yang seharusnya.

Sumber Klik Disini :