Archive for the ‘Remaja’ Category

Menuju Masa Depan

Posted: 08/03/2015 in Remaja
Tag:

Kabut putih masih menyelimuti pagi buta yang dingin. Udara yang dingin dan titik-titik embun di atas lembaran daun serasa makin membangkitkan suasana pagi ini. Tampak jauh terlihat seorang ibu sibuk mengeluarkan barang dagangannya dan ditaruhnya di atas dudukan goncengan sepeda ontel di bawanya. Ibu itu bergegas mengayuh sepeda tuanya. Wajahnya terlihat tua dan raut wajah yang agak keras. Ia berbaju dan berkerudung sederhana serta dagangannya berupa alat jahit dan daun pisang. Langkahnya pun makin cepat menuju pasar yang kumuh. Berderet lapak–lapak berbagai macam dagangan disana. Disana mereka saling berkompetisi mencari pembeli dagaangan mereka. Sama seperti ibu tua itu.

Siang itu ibu tua itu pulang ke rumah. terlihat daganganya habis dan tubuh tuanya langsung ia baringkan di atas serambi yang tua. Baru saja tubuh tuanya berbaring, terdengar ketukan pintu diketuk. Mungkin itu ananda anak kedua dari ibu tua tersebut. Wajah ananda terlihat lelah dan tas dibawanya langsung ia geletakkan begitu saja di kursi tua di kamarnya. Ibu tua itu berbisik kepada ananda. “maaf nak kamu beli dulu beras dan telur di warung, nanti ibu masak” sambil memberikan uangnya pada ananda.

Ananda langsung bergegas ke warung bu jamila. Dari kamar anak laki-lakinya terlihat ia terburu–buru sambil membawa hpnya. Dibentaklah anak lakinya namanya yoni. “mau kemana kamu?”ucap ibunya. “apa lagi si bu aaakuuu hanya ingin menemui teman sebentar” jawab yoni. “gak ada ketemuan cepat masuk dan belajar” bentak ibunya dengan nada keras. Memang ibunya adalah orangtua yang keras dan disiplin dia tak mau anaknya hidupnya nanti sama seperti kehidupan yang mereka jalani selama ini. Kemiskinan dan kesusahan ini. Ia berharap cita-cita anak-anak mereka dapat terwujud setelah apa yang mereka usahakan selama ini.

Suatu hari ibunya mengajak ananda mengambil daun pisang di kebun pak sukir. mereka membelinya dengan harga yang telah dijanjikan. Setelah mengambil daun ananda bertanya pada ibunya “bu kenapa sih ibu capek–capek berdagang pagi buta, jadi buruh cuci, membeli daun pisang panas-panas gini padahal hasilnya sedikit?”. Kemudian ibunya menjawab dengan senyum “ini untuk kehidupan kita.” ananda hanya terdiam. ‘Apa arti untuk kehidupan kita sudah tahu dari dulu ibu dan bapak kerja gak pernah dapat mencukupi kebutuhan kita. Apa tuhan tidak sayang kita? Dan apa ibu dan bapak menyembunyikan uang hasil kerja mereka untuk kepentingan sendiri’ fikirnya ananda pada orangtuanya. Dihapusnya rasa curiganya dan bergegas pergi dari kebun bersama ibunya.

Setiap hari ibunya bekerja keras buat keluarganya tanpa lelah. Selalu begini nasib keluarga kecil yang miskin ini. Tiap hari, bulan dan tahun kehidupan mereka sama. Sampai ananda beranjak remaja dan yoni baru lulus smk kehidupan mereka semakin susah. Apa lagi ananda sekarang sudah masuk smp negeri kebutuhan kegiatan sekolah semakin meningkat. Sebulan saja mengikuti kegiatan sekolah telah menghabiskan uang yang cukup banyak. Apalagi uang gedung yang jumahnya sangat tinggi biayanya. Sedangkan yoni masih mencari pekerjaan di kota-kota besar. Walaupun lulusan smk ia ingin sekali mencari pekerjaan yang lebih layak buatnya.

Di masa pubertas masa-masanya ananda bermain bersama teman-teman sepermainya. Namanya anak remaja keinginan untuk saling menunjukan jati diri mereka dan bersosialisasi. Apalagi anak remaja sekarang selalu mengikuti tren dunia. Jika ada temannya yang beli ipad, baju atau dan lain lain. maka yang lain akan mengikutinya. Begitu juga dengan ananda ia ingin mengikuti tren temannya yang ingin nonton artis idolanya dan beli baju yang lagi naik daun kini. Tapi keingginan yang kuat untuk memenuhi kebutuhan keluarga ia terpaksa harus membantu bekerja keras walau harus meninggalkan keinginannya untuk mengikuti tren teman-temannya. Ia sudah lama menabung di celengan ayamnya dengan mengisi waktunya dengan mencari ikan di sungai. tak jarang teman-temannya mengejeknya “nda nda memang cocok banget untuk mu anak kumuh dan kotor berteman dengan ikan–ikan lele yang kotor juga… iya gak friend’s… gadis miskin” ejek suri dan teman–temannya. Tapi ananda tak menghiraukannya.

Suatu hari ananda berangkat sekolah jalan kaki. Terkadang memang berangkat naik ontel tapi hari ini ontelnya lagi dipakai ibunya jualan ke pasar. Dulu memang ibunya sering dibonceng oleh bapak ke pasar saat itu bapaknya ngojek. Tapi motor yang dipakai bapak bukan miliknya melaikan milik tetanganya yang ia sewa dengan harga yang lumayan murah. Tapi bapak yang makin tua membuat bapak sakit-sakitan dan matanya mulai rabun. Sehingga sekarang bapak membantu ibu berjualan kue dan daun pisang di pasar.

Tiga tahun kemudian…
Saat ini ananda sudah masuk sma negeri di tempatnya tingalnya. usaha belajarnya dan tidak pantang menyerah meraih kesuksesan di smpnya akhirnya berbuah hasil dengan prestasi yang gemilang kini ia mencantumkan prestasinya kembali di sman sebagai siswa yang ungul dan beprestasi. Apalagi sekarang ia menjadi ketua osis dan pengikut aktif kegiatan di sekolahnya. Meskipun dia meraih prestasi yang gemilang ia tidak lupa dengan teman–teman serta seseorang yang paling berjasa dalam prestasinya kini kalau bukan guru–guru yang sabar mengajarinya ilmu pengetahuan dan dua orangtua nya selalu berusaha dan mendoakannya dalam meraih cita-citanya kini.

Tiga tahun berjalan kini ananda akan segera lulus sman. Sekarang ia sedang menghadapi ujian sekolah. Ia belajar dengan keras untuk mendapat kan nilai UN yang bagus. Sudah jauh–jauh hari ananda menyiapkan diri untuk menghadapi UN dengan belajar dengan keras dan mempelajari apa yang sudah diterangkan guru dengan baik sehingga ia tidak kaget saat menghadapi soal UN.

Setelah melalui UN kini detik-detik pengumuman kelulusan. Hatinya campur aduk ia takut tidak lulus tapi karena keyakinan yang kuat ia akan berhasil “Bismillah aku yakin aku berhasil” itu yang selalu ia ucapkan ia yakin jika kita berusaha dengan baik dan selalu berdoa pada allah pasti hasil yang baik akan kita raih.

Akhirnya detik-detik penentuan siapa yang lulus dan tidak lulus dimulai. Bukan main hati ananda begitu gembira akhirnya ia lulus dengan sangat baik dan mendapatkan ranking satu di sekolahnya. semua teman–temannya juga senang mereka lulus dengan baik, Untuk merayakan kelulusan mereka mengadakan syukuran bersama guru-guru dan orangtua mereka.

Beberapa tahun kemudian kehidupan keluarga ananda berubah drastis. Dulunya tak punya apa–apa untuk makan dan kebutuhan sehari–sehari kini telah ia dapatkan. Sekarang ia bekerja sebagai dokter di beberapa kota serta menjadi pengurus suatu organisasi penyalur kereatifitas dan keterampilan bagi seluruh warga yang ingin menyalurkan potensinya disini. Organisasi ini menyalurkan potensi berbagai macam bidang masyarakat yang mendidik dan menguntungkan bagi kebutuhan kehidupan mereka. Apalagi kini ananda telah menikah dengan seorang pria yang bertangungjawab dan cinta keluarga. Namanya abdul farid. Seorang komandan polisi yang disiplin dan bertangung jawab atas tugasnya. Dan kini orangtuanya bahagi kini anaknya sudah menjadi orang yang berhasil. Sedangkan yoni kini menjadi wirawasta yang maju dan mempunyai cabang–cabang produk teh berkualitas. Dan kini mereka berdua telah sangup memberangkatkan kedua orangtuanya ke mekah untuk menjalankan haji dengan khusuk. Keberhasilan mereka tidak akan tercapai kalau bukan berkat allah, teman-teman, guru-guru, serta orang lain dan orangtuanya yang selalu mendoakan mereka agar berhasil.

Sumber Klik Disini :

Kabut Pulau Tanpa Nama

Posted: 07/02/2015 in Remaja
Tag:

Hari ini rencana anak-anak untuk menyeberang ke pulau kecil tanpa nama itu batal total. Dengan sangat terpaksa mereka tidak jadi pergi ke sana, pasalnya air laut sedang pasang. Dan pulau tersebut tampak nyaris tenggelam ditelan air laut.

Kini lima remaja belia itu hanya berdiri di tepian pantau sambil memandangi pulau itu dengan perasaan yang tak bisa dilukiskan. Antar menyayangkan,kecewa, dan damai. Gala sejak tadi mengintip pulau itu pakai teropongnya. Asyik banget kelihatannya. Sandra sejak tadi mencuri pandang ke arahnya. Makin lama Sandra makin merasa, bahwa cowok keren ini makin oke aja. Sampai Sandra merasa heran pada dirinya sendiri. Ini dianya yang makin oke atau hati ini makin teracuni perasaan-perasaan sentimental yang tak tau kapan datangnya.

Sandra memjamkan matanya. Sambil menghela napas pelan. ‘’Kamu nggak apa-apa San?’’ Tak tau pundak Sandra disentuh lembut. Sandra kaget kecil. Gala. ‘’ I’m okey…’’ Sahut Sandra pelan. ‘’Mau pinjam teropong?’’ Gala menyodorkan teropongnya. ‘’Pulau itu tinggal seperempat kini.’’
Tanpa berkata apa-apa Sandra meraih teropong itu. Lalu mengarahkannya pada pulau tanpa nama. Gala yang ada di sampingnya memandangi gadis itu dengan lembut. Saat angin laut membuat rambut Sandra menutupi wajah ayunya, Gala dengan tangan kanannya merapikan rambut gadis itu. Tentu saja Sandra jadi kaget.

Namun Gala malah tersenyum lembut ‘’Kamu… Kamu manis banget…’’ Sandra lebih kaget lagi. ‘’A-ap-apa maksudmu?’’ Gadis itu tergagap. Wajahnya merah. Gala makin melebarkan senyum kerennya. Lalu menggeleng. ‘’Ah enggak kok, saya cuma suka melihatmu dalam keadaan seperti sekarang ini.’’ ‘’Emangnya kenapa?’’ ‘’Nggak pa-pa.’’ ‘’Kenapa sih?’’ ‘’Mm, manis…’’ ‘’Oh ya?’’ ‘’Iya.’’ ‘’Bener?’’ ‘’Sumpah!’’ Sekarang gentian Gala yang memerah wajahnya. Anak itu sempat tersipu. Dan Sandra tersenyum melihat cowok itu jadi salah tingkah.
‘’Ah Gala, rupanya kamu baru tau ya kalau aku manis? Dari dulu aku sudah manis, kok. Kamu aja yang enggak merhatiin.’’ Sandra malah menggoda Gala. ‘’Siapa bilang aku enggak merhatiin kamu?’’ Entah bagaimana Gala bisa kelepasan ngomong kayak gitu. ‘’Oh ya?’’ Sandra surprise banget. ‘’Benarkah kamu merhatiin aku?’’ Gala agak salah tingkah. ‘’Ng, yah…terus terang iya.’’

Ada gemuruh di dada Sandra. Sekuat tenaga ia menahan gejolak di relung-relung hatinya yang paling dalam. Gejolak yang sanggup membuat rona merah di pipinya yang ranum. Tapi ia tetap berusaha untuk tidak ge-er dulu. Sesaat Sandra tak bisa ngomong apa-apa. Gala apalagi. Lalu cowok itu menunduk. ‘’San, saya…’’ ‘’Apa?’’ Sandra sempat dag dig dug. Duh apa ini saatnya dia mengucapkan kata-kata klise itu? Apa sekarang? Waduh, gimana ya?? ‘’Ng…’’ Tiba-tiba penduduk setempat datang menghampiri tempat itu, dan mengangguk pada Gala dan Sandra.
‘’Selamat pagi,’’ ucap seorang laki-laki yang memakai topi nelayan. ‘’Maaf kami ini adalah wakil dari para nelayan di sini, yang mau mengucapkan banyak terima kasih pada adik-adik sekalian. ‘’Iya, kami mau berterimakasih sambung yang satunya lagi, yang memakai kaos garis-garis merah, sambil mengangguk hormat. Gala dan Sandra sempat kaget kecil. ‘’Mau berterimakasih? Ng berterimakasih untuk apa, Pak? Bukankah kita belum pernah bertemu sebelumnya?’’ ‘’Begini, Dik. Selama ini kami para nelayan di sini selalu ketakutan karena ulah para penyelundup itu. Karena mereka itu sering merampas ikan-ikan hasil tangkapan kami, yang susah payah kami peroleh di tengah laut. Mereka sebenarnya perompak alias bajak laut. Apa yang kami miliki selalu dirampas secara paksa. Jadi kami merasa tidak aman mencari ikan di laut.’’ Papar lelaki bertopi itu.

Bersamaan dengan itu, Ali, Rio, dan Lita datang mendekat. Membaur dengan mereka. ‘’Tapi syukur Alhamdulillah, mereka semua tertangkap polisi, Insya Allah kehidupan kami jadi aman. Dan untuk itu, kami berterimakasih pada adik-adik yang telah bekerja sama dengan polisi meringkus mereka.’’
‘’Iya, Dik. Dan sebagai ucapan terimakasih, terimalah cemeti ini sebagai kenang kenangan….’’ Yang memakai baju garis-garis merah itu mengeluarkan sebuah cemeti dari dalam tas yang sejak tadi dibawanya. Lalu diserahkan-nya pada Gala.

Gala menerima cemeti itu dengan senang. Indah sekali cemeti tradisional itu, gagangnya ada pernak pernik warna perak dan biru, Jika dipecutkan di udara, akan menimbulkan suara ledakan yang cukup sangar. Tar-tar-tar! Gala ce-es berterimakasih atas pemberian tersebut. Mereka saling bersalaman dan empat nelayan itu pamit pulang. Di rumah bibi, saat Sandra ce-es mau pamit pulang ke Surabaya, ternyata paman sudah pergi ke Sampang untuk membeli makanan udang. Dan paman menitipkan sepucuk surat untuk Sanda. Bibi menyerahkannya pada Sandra. Buru-buru Sandra membacanya. Sendirian.

Buat Ananda Sandra….
San, maaf paman harus keluar kota untuk mengurusi tambak udang paman. Jadi tidak bisa mengantar Sandra dan teman-teman. San, paman bangga mempunyai keponakan sepertinmu. Pintar,kreatif,gesit,berpikiran luas, dan cantik. Ah, andai saja paman mempunyai keponakan sepertimu. Betapa senangnya hidup paman dan bibi. Sandra, paman amat berterimakasih atas nasehatmu tadi malam. Itu adalah hal yang amat berarti bagi pamanmu ini. Kamu telah menyadarkan paman dari kekeliruan yang selama ini paman jalani. Terimakasih, San. Paman bangga padamu…. Salam buat papa dan mama, juga teman-temanmu.

Pamanmu, Iqbal.
Sandra melipat surat itu. Hatinya biru, matanya sayu. ‘’Hei, San! Jadi pulang, nggak?’’ teriak Rio tau-tau dari balik pintu. Sandra buru-buru menyimpan surat itu di saku celananya. ‘’Jadi dong! Emangnya kamu kagak mau pulang?’’ ‘’Iya , sih. Asal sama kamu.’’ Seloroh Rio. ‘’Dih.’’ ‘’Lho kok dih?’’ ‘’Soalnya enak di kamu, eneg di aku!’’ ‘’Hahahahaha….’’ Rio cekakakan kayak drakula. Sementara di teras depan telah menunggu Gala,Ali, dan Lita yang udah siap hengkang dari sini. Anak-anak mencium tangan bibi dan meninggalkan rumah bibi diiringi lambaian tangan. Sampai kendaraan itu hilang di tikungan.

Kapal penyeberangan Trunojoyo telah meninggalkan pelabuhan Kamal sepuluh menit lalu. Kini telah berada di tengah selat Madura. Menyeberang menuju pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Deru mesin terdengar membaur dengan ombak yang tersibak. Mata Sandra menatap kosong laut lepas. Sementara Gala masih asyik dengan teropongnya. Sedang Ali dan Lita berada di ruang duduk sambil nonton teve.
‘’Kok ngelamun, San?’’ Tau-tau Rio sudah berdiri di sebelah Sandra memandangi wajah polos gadis itu. Sandra menoleh sekilas. Lalu menggeleng sambil menghela napas panjang. ‘’Aih-aih ada apa, Sayang?’’ hibur Rio sambil mengulas senyum jenakanya. ‘’Sayang gombalmu!’’ Sahut Sandra sebel. Rio ngikik kayak jangkrik. ‘’Ah taukah kamu, San. Hati ini rasanya pilu jika melihat kamu sedih seperti ini.’’ Kata Rio sok puitis.
‘’Rio-Rio, kamu ini ngomong apa cuci piring, sih? Kok asal tancep aja?’’ sungut Sandra. ‘’Eits, aku serius, San!’’ ‘’Gombal!’’ ‘’San….’’ ‘’Hmm’’ ‘’Salahkah, San….’’ ‘’Salah!’’
‘’Ck, ngomong aja belum!’’ sungut Rio lucu. Sandra mesem. ‘’Apa sih?’’ ‘’Terus terang, San….’’ ‘’Philips terang terus.’’ ‘’Duh, San kamu diem dulu dong! Aku mau ngomong nih!’’ ‘’Iya deh, iya. Kamu mau ngomong apaan?’’ ‘’Ng, begini, San. Saya sebenarnya menyimpan sesuatu buat kamu.’’ Suara Rio tak sejenaka tadi. Ada raut serius di wajahnya. ‘’Oh ya? Kamu menyimpan buat saya? Sulit dipercaya!’’ Sandra tampak surprise banget. ‘’Di bank mana Rio? Berapa jumlah simpananmu itu?’’ Rio melengos keki. Menatap Sandra sebal. ‘’Kamu ini senewen apa saraf sih, San?’’

Sandra tertawa renyah. Memamerkan sederet giginya yang putih bagai mutiara. ‘’Kamu aneh Rio!’’ ‘’Aneh? Apa aneh jika ada cowok menyukai cewek, San? Apa aneh jika aku mencintaimu dan ingin seiring sejalan denganmu, San?’’ Sandra langsung diam seribu bahasa, menatap Rio lekat-lekat. Wajahnya memanas. ‘’Kamu…serius, Rio?’’ ‘’Serius! Bahkan dua rius!’’ Sahut Rio tegas. Sandra menghela napas. Angin laut mempermainkan rambutnya. Sejenak mereka saling diam. Sampai akhirnya Sandra berbicara pelan. Pelan sekali. Seperti berbicara dengan dirinya sendiri.
‘’Rio, selama ini kita telah berteman dan bersahabat. Kita telah berbagi suka dan duka. Kita telah jalani bersama. Dan terus terang Rio, saya ingin hubungan kita yang seperti ini berlangsung selamanya. Saya ingin bersahabat denganmu selamanya.’’ Sandra membuang pandangannya ke laut lepas. ‘’Jadi kamu…kamu menolakku, San?’’ Ada sesuatu yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata di wajah cowok itu. ‘’Yah, kamu bisa membuat kesimpulan sendiri.’’ Sakit sekali. Rio teramat kecewa. ‘’Ada cowok lain di hatimu?’’ Sandra menunduk lalu mengangguk.

Sebuah mercusuar kecil baru saja terlewati. Sementara kapal terus melaju. ‘’Siapa cowok itu, San? Damon?’’ Sandra menggeleng. ‘’Angga?’’ Sandra menggeleng lagi. ‘’Kevin?’’ Lagi-lagi Sandra menggeleng. ‘’G-gala?’’ Sandra kini diam. Benarkah dia, San? Gala, kan?’’ Sandra kembali menghela napas. Lalu mengangguk kecil. Dan itu adalah jawaban untuk Rio.

Ada sesuatu yang runtuh di hati Rio, sesuatu yang telah dibangunnya sejak lama. Sesuatu yang menjulang tinggi di angkasa. Tapi kini harus porak poranda. Puing-puingnya berserakan. Dan itu teramat menyakitkan. Untuk beberapa saat keduanya membisu. Mereka sibuk dengan apa yang ada di benaknya masing-masing dan hanyut dalam alam pikirannya.

Sebuah perahu nelayan melintas dari kejauhan. Perahu itu terombang-ambing oleh besarnya ombak. Namun keseimbangannya yang membuat tetap berada di atas air. Seperti kita juga, yang kadang kala harus menghadapi ombak dan badai dalam kehidupan ini. Kita hanya butuh keseimbangan yang kuat agar kita tak terombang-ambing dan tak tenggelam dihantam badai.
‘’Wah, rupanya di sini ada lomba melamun.’’ Tau-tau Gala sudah berdiri di dekat situ. Lalu mengambil tempat pas di samping Sandra. Rio tau diri. Dia segera mundur teratur. Namun sebelum berlalu dia sempat menepuk pelan pundak Gala. ‘’Selamat ya! Jaga Sandra baik-baik!’’ Tentu saja Gala heran dengan Rio. ‘’Apa maksud anak itu, San?’’ Gala tak menutupi rasa herannya, sepeninggal Rio. Sandra cuma mengangkat bahu yang berarti ‘nggak tau’. ‘’Tanya aja sama dia.’’ Ujar Sandra. ‘’Kelihatannya sedih amat tuh anak.’’ gumam Gala. ‘’Kalian ngobrolin apaan?’’ Sandra tak menjawab. Membiarkan Gala mereka-reka sendiri . ‘’Aha, aku tau, kamu pasti habis nolak Rio, ya?’’ Gala tersenyum memandangi wajah gadis manis itu.

Sandra tak tau harus bagaimana. Ia nggak bisa bohong di depan cowok satu ini. ‘’Kasihan si Rio. Kenapa nggak kamu terima aja, San?’’ gumam Gala pelan. Sandra mendengus sebel. ‘’Aku menolaknya karena aku telah mencintaimu!’’ Hampir saja Sandra nekad menjeritkan kalimat itu kepada Gala. Namun itu tak dilakukannya. Hanya dalam hati saja. ‘’Kamu kan tau sendiri, selama ini aku selalu menganggap sahabat pada Rio, jadi mana mungkin akan menerima cintanya?’’ Sandra memaparkan alasannya.

Gala tersenyum keren. ‘’Lalu kamu juga menganggap sahabat padaku, San?’’ ‘’Iya, San?’’ Sandra menghela napas. Ada rona merah yang menghiasi pipi ranumnya. ‘’Entahlah.’’ ‘’Apakah kamu juga akan menolakku seperti menolak Rio, San? Lalu berapa cowok lagi yang harus bertekuk lutut di depanmu? Berapa cowok lagi yang harus sakit dan kecewa, San? Apakah kamu memang sengaja begitu? Biar dapat menakhlukkan para cowok satu demi satu? Iya?’’
‘’Cukup, Gala!’’ sentak Sandra dengan mata berkaca-kaca. Ada sesuatu yang bening di kelopak matanya. ‘’Tega benar kamu bicara macam itu padaku! Aku nggak nyangka kamu punya pikiran seburuk itu!’’ Gala terkesiap. Maafkan aku, San. Maaf, aku jahat sekali.’’ Sandra membuang pandangannya ke laut lepas. Menyembunyikan sepasang matanya yang basah.
‘’Sorry, San. Aku bicara seperti tadi karena aku tak ingin mengalaminya juga. Aku takut merasa sakit dan kecewa sama seperti cowok-cowok yang sudah kamu tolak. Karena itu amat menyakitkan sekaligus memalukan. Padahal aku… aku amat menyayangimu, San.’’ Pelan dan lembut suara Gala, membuat Sandra tergugu. Dibiarkannya Gala memegang jemarinya. Hanya sesaat. Lalu Sandra berusaha menarik jemainya dari genggaman tangan Gala.

Kalau saja perasaan Sandra tidak sedang sebal, tentu dia akan menikmati saat-saat indah ini, berduaan dengan Gala di atas kapal dengan pemandangan laut lepas yang damai. Sambil bergenggaman tangan. Namun perasaan Sandra sedang jengkel, sebel, campur mangkel. Dan yang membuatnya begitu adalah Gala sendiri. Maka ia memilih diam saat Gala mengutarakan perasaanya. Dia sengaja tak memberikan jawaban. Padahal Sandra telah menyimpan jawaban sejak lama. Biarlah, biarlah hanya diam. Biarlah Gala mereka-reka sendiri. Biarlah cinta itu tak berkepastian. Biarlah dua hati tak harus menyatu. Biarlah camar-camar terbang bebas melanglang buana di atas samudra. Biarlah…..

Sandra yakin, jodoh itu pasti ada. Dan jodoh itu tidaklah sama dengan pacar. Kalau pacar masih mempunyai banyak kemungkinan, tapi kalau jodoh itu hanya satu kemungkinan terakhir. Love Forever. Dan itu tidak bisa dipungkiri lagi. Biarlah tak perlu menerima Gala untuk saat ini. Kalau memang jodoh, pasti nggak akan ke mana-mana. Pasti bersatu juga. Meski tidak harus saat ini. Biarlah…..

Peluit kapal berbunyi panjang. Terasa sebentar lagi kapal ini akan merapat di bibir dermaga Tanjung Perak Surabaya. Para penumpang bersiap-siap mendarat. Sandra ce-es pun siap melompat. Welcome to Surabaya…..

Sumber Klik Disini :

Kabur Yang Kurang Mujur

Posted: 07/02/2015 in Remaja
Tag:

Entah kenapa, olehku, hal seperti itu tiba-tiba terpikir. Saat itu, pikiranku mungkin sedang tidak mengalir.
“Gimana kalau kita kabur saja?”
Oh! Demi apa aku berkata seperti itu? Setan apa yang merasukiku?
Dan sialnya… aku dan temanku terlanjur termakan bujuk rayu itu!

Dimulai dari hari Sabtu pagi yang sama sekali tidak ada yang menarik. Tugas memang tidak ada, tapi perasaan di dalam sanubari serasa tercabik-cabik.
‘Anak itu harus disadarkan!’ pikirku kesal. Apa karena dia, Zofi, anak orang yang cukup berpengaruh, makanya dia bisa berkata seenak jidatnya yang seluas lapangan sepak bola?
“Fotonya boleh minta satu, ya, Ris?” Zofi bertanya, saat ia melihatku mengeluarkan beberapa lembar foto diriku yang berukuran 3×4, yang dibungkus rapi dengan plastik bening.

Foto itu kubawa karena memang seluruh siswa kelas 9 diharuskan membawanya hari ini untuk keperluan pendaftaran calon peserta UN tahun depan. Beserta ijazah dan sebagainya, dimasukkan dalam map, dan dikumpulkan.
“Buat apa? Buat pelet, ya? Sorry, aku ini nggak mempan sama yang begituan!” ucapku, agak sesumbar.
“Bukan, lha! Masa gue pelet sesama cowok? Idih!” Zofi meringis, lalu menatapku aneh. “Mau gue simpen di dapur, tahu!”
“Buat selalu mengingatkan kamu kalau kamu punya teman sekeren ini?” Yah, narsisku kambuh, rupanya.
“Bukan juga! Mau gue simpen di dapur. Lumayan, buat ngusir tikus-tikus di rumah gue. Huahaha…!” Zofi tertawa renyah dan nyaring.

Awalnya, aku merasa kesal, pun jengkel. Tapi cuma bertahan selang beberapa detik. Aku menanggapi dengan hanya tersenyum tipis, sebelum akhirnya terpercik sebuah kata-kata yang cukup cerdik.
“Oh, kamu salah, Zof!” sanggahku. “Justru, tikus-tikus di rumah kamu bakalan tambah banyak kalau kamu pajang fotoku di dapur!”
“Masa, sih? Emang bisa?” Zofi mencibir. “Gara-gara lihat wajah elo yang mirip komedian Sule, ya?”
“Salah! Justru karena kegantenganku, tikus-tikus dan bahkan orang-orang di rumahmu, malah jadi terpesona. Maklum, tampangku, ‘kan, sebelas dua belas sama personel boyband Korea.” Aku menggerak-gerakkan kedua alisku naik-turun, sembari nyengir. Kedua tanganku digunakan untuk menyisir rambutku yang agak cepak. “Iya, nggak?” tanyaku, meyakinkan Zofi yang kini manyun.
Dia menyerahkan kembali fotoku dengan gerakan hampir seperti melempar. Ia pun kembali ke bangkunya, dengan langkah yang sedikit dihentak-hentak. ‘Kesal karena kalah bicara, ya, Bos…?’
Ya, orang yang seperti itu sesekali juga perlu diberi tahu. Kata Farhan, kakakku, orang sombong harus disombongi pula. Itu hukumnya sedekah…!

Waktu bel berbunyi nyaring, tadinya aku juga ingin cepat-cepat berpaling. Pulang ke rumah, tidur, beres!

Tapi, kalau saja aku tidak ingat kalau hari ini ada kegiatan ekstrakurikuler, tentunya. Sudah begitu, Kania, perempuan teman sekelasku yang bersuara sopran, meneriakiku yang berada di ambang pintu gerbang.
“FARIS! LATIHAN UPACARA, WOY!”
Ukh! Kuping ini berdenging waktu dia berteriak satu meter di depan wajahku. Seketika saja, orang-orang yang berlalu-lalang mencuri-curi pandang ke arah kami. Ada yang meledek karena melihat aku, yang seorang laki-laki, diteriaki oleh Kania, seorang perempuan yang ‘galak’. Ada juga yang berdeham-deham, dikira pertengkaran sesama pacar. Mau tidak mau, aku berbalik mengikuti Kania dan kembali ke lapangan untuk latihan.
Tapi… apa yang terjadi?
Latihan ini tidak berjalan baik sama sekali! Kalau boleh memuji, maka aku akan memuji kinerja diriku sendiri. Bukannya sombong, tapi memang begitu kenyataannya, kok!
Katanya, supaya unik dan beda dari yang lain, maka petugas upacara di kelasku semuanya laki-laki. Termasuk aku, yang kebagian tugas menjadi dirigen.
Sayangnya, hampir semua murid laki-laki yang menjadi petugas, sukar disuruh serius walau sebentar. Kalau mau mengingatkan, kita harus bersabar–kalau tidak mau kena semprot mereka. Dan, sepertinya… aku juga benar-benar harus ekstra sabar menghadapi ‘anak buahku’, alias kelompok paduan suara. Pasalnya, Kania yang tadi sempat membuatku sedikit malu dihadapan orang-orang dengan cara meneriakiku, malah enak-enakan jajan! Siapa pula yang tidak kesal?!

Sudah sejam lebih latihan upacara berlangsung dan menurutku, hasilnya tidak terlalu memuaskan. Yang lain melesat pulang, sementara aku tahu kalau hari ini adalah jadwal ekstrakurikuler BTQ.
“Hei, Faris!” Tiba-tiba, seseorang menepuk pundakku dari belakang. Refleks, aku menoleh. “Sukses buat Senin depan, ya, Bro?”
Aku cuma tersenyum. “Trims, San.”

Dia, Sandi, teman sekelas yang satu ekstrakurikuler denganku. Kebetulan, dia tidak kebagian menjadi petugas upacara Senin depan.
“Eh, sekarang ekskul BTQ, ‘kan?” tanyanya. “Ah, kok rasanya males, ya…?”
Aku nyengir, menggaruk belakang kepala yang tidak gatal, lalu mengangguk. “Sama, San. Hehehe….”
Entah kenapa, olehku, hal seperti itu tiba-tiba terpikir. Saat itu, pikiranku mungkin sedang tidak mengalir. “Gimana kalau kita kabur saja?”
Sandi menoleh, menatapku lekat-lekat. ‘Pasti dia nggak akan setuju pada usulku,’ batinku. ‘Sandi, ‘kan, anak yang alim!’
Alangkah terkejutnya aku sewaktu ia berkata, “Wuih! Ide bagus, tuh, Ris!”

Hah? Apa aku tidak salah dengar? Sandi, yang belum pernah sekalipun absen ekskul–kecuali bila sakit dan ada keperluan mendadak tentunya, tiba-tiba menjadi bermalas-malasan begini? Kalau aku, jangan ditanya. Walaupun aku mengikuti ekstrakurikuler Islami, tapi kakakku meledek dengan mengatakan bahwa tidak ada perubahan apapun yang signifikan dar diriku. Huh! Mentang-mentang dia sekolah di Madrasah Aliyah….
“Ya udah, kita kabur aja! Tapi jangan lewat depan mushala, ya? Kalau gitu, bukan kabur, namanya! Kita memutar lewat depan WC guru…!” Mendengar usulku, Sandi mengangguk setuju. Dengan segera, kami berdua berjalan ke dekat WC guru.

Saking berusaha ingin kabur, kami berjalan berjinjit dan jadi terlihat seperti kangguru Australia sedang berjalan. Beruntung, sekolah sudah sepi. Hanya ada beberapa murid dan anak penjaga sekolah yang masih kecil-kecil, yang masih berkeliaran di halaman. Jadi, tingkah laku kami nggak begitu mencolok, walau anak-anak seusia SD itu terus saja mengolok-olok.
‘Duh, firasatku nggak enak, nih….’

Dari jarak sekitar sepuluh meter, seorang siswi berjilbab putih panjang, tersenyum ke arah kami berdua. Aku yang tahu siapa orang itu, langsung berbalik dan berpura-pura membaca karya tulis di mading. Sesekali pula, aku bersiul. Sementara aku ber’kamuflase’, Sandi dengan naifnya, malah cengar-cengir membalas senyuman Khadijah.
“Alamak! Itu Khadijah, ‘kan?” kataku lirih, saat Khadijah berjalan menuju kantin untuk membeli camilan.
“Ho-oh!” jawab Sandi dengan tampang polosnya. “Emang kenapa, Ris?” (lebih…)

Hargai Aku

Posted: 06/30/2015 in Remaja
Tag:

“Huft…” Seorang cewek berparas manis menghembuskan nafas berkali-kali.

“Lo kenapa sih? Daritadi menghela nafas kayak ikan kehabisan oksigen!” Komentar cewek berambut sebahu.

“Gue bingung, gimana gue harus bilang sama Azzam soal kepindahan gue ke Jakarta.”

Cewek bernama Ajeng tersebut menoleh pada Nidya, sahabatnya. “Lo beneran mau pindah ke Jakarta?”

Nidya mengangguk. “Bokap gue harus ngurus bisnisnya disana. Gue bingung, Jeng! Lo tahu kan akhir bulan Azzam ulangtahun, sedangkan lusa gue udah harus pindah.”

“Hei! Cewek-cewek lagi pada gosipin apa nih? Kayaknya seru banget.” Azzam, cowok yang sedang menjadi topik perbincangan Nidya dan Ajeng tiba-tiba muncul.

Ajeng melirik Nidya sejenak sebelum akhirnya menjawab. “Kita lagi ngebahas soal kepindahan Nidya ke Jakarta.”

Nidya membungkam mulutnya, dia tak percaya dengan jawaban yang dilontarkan Ajeng. Sungguh, hatinya belum siap untuk menjelaskan semuanya pada Azzam.

“Pindah? Nidya mau pindah ke Jakarta? Lo bercanda kan, Jeng?” Azzam bertanya gusar.

“Gue serius! Kalau lo nggak percaya, tanya aja tuh sama orangnya.”

Azzam menggeser duduknya disamping Nidya. “Sayang, benar kamu mau pindah ke Jakarta?”

Nidya menggigit bibirnya. “Iya, lusa aku harus pindah.”

“Kenapa kamu baru bilang sekarang?” Azzam menatap mata Nidya.

“Aku–aku takut! Kalau aku cerita, kamu akan memutuskan hubungan kita.” Dua bulir kristal bening menetes dari kedua pipi Nidya. “Aku belum siap kalau semua itu terjadi.”

“Sayang, kenapa kamu bisa punya pikiran sepicik itu? Aku nggak mungkin memutuskan hubungan kita cuma gara-gara kepindahanmu.” Azzam menghapus airmata Nidya. “Atau mungkin kamu yang ingin mengakhiri hubungan ini?”

Nidya menggeleng kuat-kuat. “Itu keinginan terakhir dalam hidupku.”

“Tapi kamu harus janji, kamu tetap harus datang pada pesta ulangtahunku. Oke?” Azzam mengusap lembut rambut Nidya.

“Ehem! Bisa nggak kalian akhiri acara drama mellownya? Gue empet nih cuma jadi obat nyamuk.” Ajeng menyeletuk.
*
Tiba saatnya Nidya harus pindah. Sayangnya Azzam dan Ajeng tidak bisa mengantarnya karena harus ikut pelajaran di sekolah. Terlebih lagi hari ini ada tiga ulangan, jadi Nidya harus mengerti bahwa kekasih dan sahabatnya tidak bisa berada di Airport untuk melepas kepergiannya.

Sesungguhnya Nidya merasa sedih harus jauh dari Azzam, hubungannya yang sudah berlangsung hampir dua tahun apa sanggup bertahan saat jarak memisahkan? Dirinya takut, Azzam akan melupakannya. Atau mungkin dia yang melupakan Azzam?
*
Hari baru, kota baru, suasana baru dan sekolah baru. Nidya menjejakkan kakinya malas menuju ruang Kepala Sekolah, ditempat dia akan menuntut ilmu. SMA Taruna adalah salah satu SMA favorit yang terletak di Jakarta Pusat. Kini, Nidya menjadi salah satu penghuni disana.

“Kamu murid pindahan dari Surabaya itu kan?” tanya seorang lelaki berkumis tebal yang tak lain adalah Kepala Sekolah SMA Taruna.

“Iya, Pak!”

“Kamu masuk dikelas XI IPA-2, saya sudah menyuruh ketua kelas untuk kesini.”

Tok..Tok..Tok..

“Permisi, Pak!” Seorang cowok bersuara bariton memberi salam dan masuk kedalam ruangan.

“Farid, ini murid pindahan yang Bapak ceritakan. Tolong kamu bantu dia beradaptasi selama beberapa hari.” Ucap Kepala Sekolah pada cowok bernama Farid itu.

“Nidya, mulai sekarang kalau tidak ada yang mengerti kamu bisa tanyakan pada Farid.” Lanjut Kepala Sekolah mengagetkan Nidya yang sedang asyik menunduk menekuri sepatunya sambil memikirkan Azzam.

Demi kesopanan, akhirnya Nidya menoleh pada cowok disampingnya dan tersenyum. Tapi perlahan senyumnya lenyap ketika mengenali sosok cowok itu. “Farid? Kamu Muhammad Al Farizzi kan?”

Farid mengangguk. “Dan kamu Nidya kan?”

“Kalian sudah saling mengenal? Bagus kalau begitu! Tapi lanjutkan nostalgianya diluar, Bapak banyak tugas yang harus dikerjakan.” Tegur Kepala Sekolah dengan halus, melihat kelakuan kedua anak didiknya tersebut.

“Maaf, Pak! Terimakasih.” Nidya meninggalkan ruang Kepala Sekolah diikuti Farid di belakangnya.

Nidya berjalan cepat, dia mengutuk takdir yang mempertemukannya lagi dengan Farid. Sungguh, Nidya enggan harus bertatap muka dengan cowok itu.
“’Nidya! Tunggu! Kenapa lo menghindari gue?” Farid mencekal tangan Nidya, menahannya pergi.

Nidya menepis pegangan tangan Farid. “Jangan sok akrab!”

“Tapi bukankah hubungan kita memang akrab? Apa lo lupa semua kenangan tentang kita?”

“Hah? Setelah tiga tahun lo menghilang, sekarang lo bilang kenangan kita? Buat gue, kenangan kita udah mati!”

“Gue minta maaf, Nid. Sungguh gue gak bermaksud ninggalin lo begitu aja. Gue bisa menjelaskan semuanya.” Farid menatap Nidya sendu.

“Maaf, tapi penjelasan lo sudah terlambat! Sekarang gue sudah punya kekasih yang mencintai gue seperti gue mencintainya.”

Farid terenyak mendengar perkataan Nidya, padahal selama ini dirinya selalu menanti Nidya. Hatinya tak pernah lepas dari sosok dan nama Nidya. Tapi, dengan gampangnya Nidya berubah? Melupakannya begitu saja?
***
“Hallo? Azzam?” Nadya bersuara ketika pada deringan kelima akhirnya Azzam mengangkat telepon.

“Sori, gue Ajeng. Azzam lagi sibuk, Nid. Lo tahu kan, lusa Azzam ada pertandingan break dance?”

Sejenak, Nidya merasa kesal. Kenapa sudah dua hari ini Nidya telepon Azzam, selalu saja Ajeng yang mengangkat. “Please, bentar aja, Jeng! Gue kangen sama Azzam.”

“Gimana ya? Lo tuh harusnya bisa ngertiin Azzam, dia butuh banyak konsentrasi. Ntar gue sampein deh ke Azzam.”

Tutt..tutt..tutt
Telepon diputus

“Apa sih maksud Ajeng? Kenapa sekarang dia berubah?”

Memang sebenarnya Ajeng adalah teman Azzam dari kecil. Sedangkan Nidya baru mengenal Ajeng dua tahun belakangan ini.

Farid menepuk bahu Nidya. “Lo kenapa, Nid?”

“Gue kangen Azzam–cowok gue. Udah dua hari dia gak ada kabar.”

“Daripada lo sedih dan manyun terus, mendingan lo ikut gue sekarang.” Tanpa menunggu jawaban Nidya, Farid menarik pelan tangan Nidya dan menuntunnya ke mobil.

“Sebenernya kita mau kemana sih, Rid?”

“Ketempat favorit lo saat lo sedih.”

Farid menepikan mobilnya di parkiran Ancol.

“Mau apa kita kesini?”

“Kan tadi gue udah bilang kalau gue mau ngajak lo ke tempat favorit lo, biar lo gak sedih lagi.” Farid tersenyum. “Sekarang mending lo turun.”

Nidya menuruti Farid, tapi tetap saja pikirannya masih belum bisa lepas dari Azzam.

Nidya tertegun ketika Farid mengajaknya masuk ke suatu tempat bertuliskan ‘Planetarium’. “Lo masih ingat?”

“Gue selalu inget apapun tentang lo. Lo kan selalu bilang, saat pikiran lo lagi kalut atau sedih semua bisa terobati saat lo menatap bintang.”

Nidya menitikkan airmata. Entah apa yang membuatnya menangis, Azzam atau Farid?

“Kenapa lo nangis? Lo gak suka?”

Nidya menggeleng.

“Atau lo ingat soal cowok lo? Lebih baik lo lupain cowok yang cuma bisa buat lo nangis.” Farid menyentuh dagu Nidya dan mendongakkannya. “Disini ada gue, yang lebih perhatian sama lo. Lupain aja cowok lo itu.”

“Gue sayang sama dia…”

“Sstttt….” Farid mendekatkan wajahnya pada Nidya, dengan perlahan tapi pasti Farid mengecup lembut bibir Nidya.

Untuk beberapa saat Nidya menikmati kecupan lembut itu. Tapi tiba-tiba bayangan Azzam terlintas di otaknya.

“Lo apa-apaan sih!” Nidya menampar Farid dan pergi meninggalkannya.
***
Sudah beberapa hari ini Nidya menghindari Farid. Bahkan untuk sekedar melihat wajahnya saja Nidya malas.

“Ya Tuhan, semoga Azzam yang angkat.” Nidya berdoa dalam hati ketika menekan tombol hijau di handphonenya.

“Hai sayang, kok tumben telepon?” Suara Azzam terdengar lembut di seberang sana.

“Azzam? Kemana aja kamu? Aku telepon kamu selalu sibuk.”

“Maaf sayang, kamu kan tahu kalau aku ada turnamen break dance. Dan aku senang banget kelompokku maju ke babak final.”

Mendengar suara Azzam yang bersemangat entah kenapa Nidya jadi tidak ingin marah lagi.

“Sayang, maaf ya aku harus latihan lagi. Nih ada Ajeng, katanya dia kangen mau ngomong sama kamu.”

“Oke deh, semoga kelompok kamu jadi juara ya. Love you.”

“Makasihhhh sayang.”

“Kenapa Azzam gak balas ucapan cinta gue? Apa dia gak denger?” Nidya berkata lirih.

“Lo pengen tahu kenapa Azzam sekarang berubah sama lo?” Tiba-tiba suara Ajeng terdengar dari seberang sana.

“Ajeng? Emang lo tahu kenapa Azzam berubah?”

“Sebenernya gue gak enak mau cerita sama lo. Tapi karena lo temen gue, jadi lebih baik gue kasih tahu lo yang sebenernya.”

Nidya makin penasaran dengan perkataan Ajeng yang dirasa berputar-putar. “Soal apa?”

“Udah lama Azzam curhat sama gue kalau dia jenuh sama hubungan kalian. Sebenernya dia pengen mengakhiri semuanya, tapi dia menunggu waktu yang tepat.”

“Hah? Maksud lo apa?”

“Kalau lo emang sayang sama Azzam, sebaiknya lo yang mengakhiri hubungan kalian. Daripada Azzam tersiksa harus terus berpura-pura mencintai lo.”

“Lo–bercanda kan, Jeng?”

“Buat apa gue bercanda soal beginian? Apa lo gak ngerasa kalau Azzam ngejauhin lo? Setiap lo telepon selalu gue yang angkat, itu karena Azzam malas mau ngomong sama lo.”

“Oke…kalau itu membuat Azzam bahagia gue rela.” Nidya memutuskan sambungan telepon dengan gemetar, kristal bening perlahan mengalir dipipi tembamnya.

***
Satu minggu sudah Nidya tidak pernah lagi menghubungi Azzam, begitu juga sebaliknya Azzam tidak pernah menghubungi Nidya. Nidya amat sangat terpukul mengetahui ternyata semua perkataan Ajeng benar adanya.

Bahkan, hari ini saat ulangtahun Azzam, Nidya sengaja melupakannya. Ucapan ulangtahun maupun kado yang sudah dipersiapkannya kini sudah ada ditempat sampah.

“Nid, sebaiknya lo sekarang ikut gue.” Farid mengagetkan Nidya yang sedang asyik merenung.

“Kenapa sih lo selalu ganggu gue? Semenjak lo datang hidup gue hancur!”

“Gue minta maaf udah bikin hidup lo hancur.” Farid terpukul. “Tapi…sebaiknya lo sekarang lo ikut gue. Karena ini antara hidup dan mati.”

“Lo ngomong apa sih? Gue gak paham sama sekali.”

“Kalau gue jelasin sekarang keburu terlambat.” Dengan tergesa Farid menarik tangan Nidya dan menyuruhnya masuk ke dalam mobil.

Selama perjalanan Nidya diam saja, pikirannya sibuk menerka-nerka kemana Farid akan mengajaknya.

“Rumah Sakit Fatimah? Ngapain kita kesini? Siapa yang sakit?”

“Penjelasannya nanti aja, mending sekarang turun.”

Nidya menuruti Farid dan segera turun dari mobil. Perasaannya tiba-tiba menjadi tidak enak. Pikiran buruk silih berganti melintas dipikiran Nidya.

Farid setengah berlari sembari menggandeng tangan Nidya. Perjalanan mereka berakhir didepan kamar bertuliskan Anggrek 15.

“Ajeng? Kenapa lo ada disini?” Nidya kaget melihat Ajeng sedang berlinangan air mata. “Kenapa lo nangis?”

“Ngapain lo kesini? Belum cukup lo bikin Azzam menderita? Semua gara-gara lo!” Ajeng mendorong tubuh Nidya hingga tersungkur.

“Azzam? Kenapa lo bawa-bawa Azzam? Ada apa sebenernya?”

“Padahal gue udah bohongi Azzam! Gue bilang lo selingkuh, tapi dia gak percaya. Akhirnya dia nekat datang ke Jakarta, tapi sesampainya disini gue ancam dia kalau gue akan bunuh diri! Saat gue berdiri ditengah jalan, Azzam mendorong gue ketika ada truk mendekat!” Ajeng semakin murka. “Semua ini gara-gara lo! Kalau Azzam gak kenal sama lo, semua ini gak akan terjadi! Dan pastinya Azzam akan jadi milik gue! Padahal hari ini hari ulangtahun Azzam!”

“Azzam kecelakaan?”

“Ajeng! Kenapa lo nyalahin Nidya? Dia gak salah apa-apa!” Farid angkat bicara. “Lebih baik kita masuk kedalam aja.”

Nidya langsung berlari ketika melihat tubuh orang yang dicintainya terbaring lemah tak berdaya. Bermacam-macam selang menancap ditubuh Azzam.

“Zam, kenapa kamu? Jangan tinggalin aku, bangun dong!” Nidya mengguncang pelan bahu Azzam.

“Maafin aku, Zam! Aku sayang sama kamu! Buka mata kamu.” Nidya sesenggukan.

Azzam membuka matanya. “Nid..ya..?”

“Azzam? Kamu kenapa? Tolong cepat sembuh, aku butuh kamu.”

Azzam tersenyum sayu. “Ak..u ras..a wak.tu ku uda..h ga..k bany..ak lag..i..”

“Kok kamu ngomong gitu sih?”

“Jan..gan sed..ih sayan..g, mana u..capan ula..ngtah..un bu..at ak..u?” Azzam mencoba tersenyum.

“Happy Birthday sayang! Kamu harus sembuh, kita rayakan ulangtahunmu sama-sama!” Nidya mengecup bibir Azza lembut. Tubuhnya gemetar karna menahan tangis yang kian menjadi.

“Zam, maafin gue. Gue udah egois dan buat lo jadi begini.” Ajeng mendekati Azzam.

“Gu..e ud..ah maaf..in l..o, tolo..ng jaga..in Nid..ya. Lo haru..s bertema..n bai..k sam..a di..a..”

“Kenapa kamu ngomong gitu, Zam? Jangan pergi tinggalin aku! Aku butuh kamu disini.” Airmata Nidya semakin deras mengalir.

“Ak..u saya..ng sam..a kam..u..” Perlahan Azzam menutup matanya dan monitor jantung berubah menjadi garis lurus.

“Tidaaakkkkkkkkkk!!” Nidya berteriak kencang.

Farid langsung maju dan memeluk Nidya. “Lo yang sabar ya, hidup dan mati seseorang udah digariskan.”

Seorang dokter masuk dan mencoba alat pacu jantung untuk menolong Azzam. Tapi takdir berkata lain, Azzam sudah tidak bisa ditolong.

“Maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin.”

“Azzaaammmmmmmm.” Nidya jatuh pingsan ketika melihat wajah orang yang dicintainya tertutup kain putih.

Begitu naas nasib Azzam, hari kelahirnya berubah menjadi hari kematiannya. Tapi itulah takdir, kita tidak bisa meramalkan hidup dan mati seseorang. Semuanya adalah kuasa sang Ilahi.

Sumber Klik Disini :