Archive for the ‘Sahabat’ Category

Benar Salah

Posted: 08/25/2015 in Sahabat
Tag:

Apa jadinya kalau teman kita melakukan sebuah kesalahan, tapi di saat kita menyadari mereka, mereka malah balas dengan kata-kata yang kadang membuat kita bingung sendiri? Kita semua pernah melihatnya, bahkan merasakannya.

Ini adalah kisahku. Bukan kisah besar, hanya sebuah rambut yang mempunyai banyak arti bagi kehidupan. Ini bukan kisah drama romantis yang akan membuat kalian terharu lalu menangis, Cuma kisah kenyataan yang selalu ada di sekitar kita. Ini bukan kisah dengan kata-kata indah dan mahal, namun kisah tentang seorang sahabat yang mencoba menolong sahabatnya sendiri.

Kisah ini dimulai saat aku pulang sekolah. Seperti biasa, dengan kedua sahabatku. Namanya Dani dan Maya. Dulu mereka saling berantem, namun entah tersambar petir bagaimana dan di mana, mereka sekarang pacaran. Apakah ini sebuah karma bagi mereka berdua? Oke, entah dapat firasat apa. Hari ini, aku membawa handycam.

“Eh, kenapa lu bawa kamera?” Tanya Dani, yang berjalan sambil menengok ke belakang, ke arahku, ke arah kamera.
“Nggak tahu, nih. Mungkin hari ini ada hal penting yang perlu gue rekam.” Jawabku.
“Sayang… mungkin dia mau pamer sama kita kalau dia sekarang sudah punya handycam.” Kata Maya, disambut dengan senyum dari Dani.
Dan, aku cuma bisa bilang, “Sialan.”

Setelah lama berjalan, kami duduk di bawah pohon yang dekat dengan lapangan belakang sekolah. Dan, seperti biasa, Dani dan Maya duduk deket banget. Membiarkan seorang sahabat yang sedang membawa handycam tanpa alasan yang jelas ini.

“Eh, kenapa lu nggak cari cewek aja?” Usul Dani tiba-tiba.
“Iya, tuh! Kenapa kamu nggak cari cewek aja, jadi, kan, enak. Kamu nggak bakal kayak gini lagi, duduk sendiri, ke mana-mana sendiri. Iya, nggak?” Ucap Maya, lalu Dani mengangguk, pertanda setuju.
“Loh, kan gue kalau ke mana-mana bareng kalian?”
“Iya, sih. Tapi, kan, pasti hasilnya kayak gini. Lu sendirian mulu. Gue sama Maya jadi nggak enak sama lu!” Kata Dani.
“Nggak, ah.”
“Loh? Kenapa?” Heran mereka berdua, “Eh, pacaran itu enak tahu. Lu bisa barengan terus sama pacar lu, lu bisa bilang sayang sama pacar lu, lu bisa ganti status hubungan di akun facebook lu yang aslinya lajang jadi berpacaran, lu bisa SMS-an terus sama pacar lu, dan banyak lagi! Kayak gue sama Maya, gini!” Kata Dani panjang lebar, sambil berpegangan tangan sama Maya.

“Begini, ya, Tuan Dani dan Nona Maya. Gue nggak mau pacaran bukannya gue nggak mau panggil orang dengan sebutan sayang, bukannya gue nggak mau jalan-jalan bareng sama orang yang gue sayangi, bukannya gue nggak mau SMS-an terus sama orang yang gue sayangi, bukannya gue nggak mau ngubah status berhubungan gue di facebook dari lajang ke berpacaran. Tapi, gue belum siap kalau harus ngelakuin sebuah hubungan yang nggak sah di mata Tuhan.”
“Maksud lu?” Tanya Dani.
“Gue jelasin, ya. Gue punya orang yang gue sayangi, gue cintai. Tapi gue belum siap untuk menanggung dosa yang berasal dari hubungan yang nggak sah di mata Tuhan gue. Karena hubungan yang sah di mata Tuhan hanyalah menikah, me-ni-kah, dan umur gue belum nyampe buat disuruh nikah.”
“Jadi, lu bilang, hubungan gue sama Dani itu nggak sah di mata Tuhan?” Tanya Maya.
“Tentu nggak! Kan sudah gue bilangin, kalau hubungan yang sah di mata Tuhan hanyalah menikah, me-ni-kah.”

“Terus, gue kena dosa atas ini?” Tanya Maya, lagi.
“Iyalah! Karena kalian sudah membuat sebuah hubungan seperti suami-istri yang sebenernya nggak boleh kalian buat.”
“Jadi, maksud lu, gue harus putus, gitu, sama Maya?” Dani bertanya.

Aku mengangguk, pelan. Mata Dani tiba-tiba membara, tubuhnya berdiri.

“Eh, lu! Lu nggak usah sok munafik, deh! Lu dulu juga pernah pacaran, kan?! Sama si Dewi-Dewi itu! Terus, mentang-mentang lu udah putus sama dia, lu bisa seenak-enaknya aja bikin rusak hubungan orang! Nggak bisa, Bro! Gue sama Maya sudah ditakdirkan sama Tuhan buat jadi jodoh! Lu nggak akan bisa mutusin gue sama Maya!” Dia memarahiku, “Oke! Mulai sekarang, lu bukan sahabat kita lagi!” Lalu, dia mengambil tangan Maya, dan mengajaknya pergi. Meninggalkanku.

“Apa yang salah dengan ucapan gue tadi, woy!!!” Teriakku ke arah mereka.
“Jelas salah besar!!” teriak Dani.
“gue cuma mau membenarkan apa yang benar, dan menyalahkan apa yang salah doang!”
“Hahaha! F*ck you!” Dani mengangkat jari telunjuknya ke arahku. Lalu, sekarang, dia benar-benar pergi.

Menurut kalian, apakah aku salah?

Sumber Klik Disini :

Aku Ingin Menikah

Posted: 08/21/2015 in Sahabat
Tag:

Present..

Entah kapan aku akan merasakannya..
*
Apakah karena takdir? Atau hanya suratan nasib hidupku? Berulang kali kutanam benih asmara, namun tak kunjung berbuah. Selama ini aku hanya menjadi seorang wanita yang sederhana, tak pernah mengagumi segala hal yang indah diluar ciptaan tuhan, yang kutahu dunia ini lebih indah dari segalanya. Memiliki masalah yang sering terulang, bagaikan D’javu yang selalu terulang-ulang, bersemi lalu layu, layu lalu bermekaran lagi, entah sampai kapan akan seperti ini. Orang bilang aku wanita yang tak pernah menghargai sosok seorang pria, lantas bagaimana aku di mata tuhan? Apakah aku harus bertahan di dalam kisah yang membuatku tak nyaman? Atau berpura-pura nyaman? Tidak! Aku bukan wanita seperti itu, aku tidak akan pernah bisa dibutakan oleh cinta.

Satu tahun setelah kepergian Zidan dari kehidupanku, aku mencoba membuka hati lagi untuk Alex, namun sayangnya, ternyata Alex selingkuh! Lantas aku tinggalkan dia, hubunganku dengannya hanya satu bulan lamanya, setelah itu, aku mencoba kembali membuka hati untuk pria lain, yaitu Putra. Hubungan kami lumayan cukup lama, namun ketika aku tahu kalau Putra adalah seorang pecandu nark*ba, aku tak segan-segan untuk memutuskan hubungan kami. Rasanya aku sudah lelah dengan yang namanya ‘Pacaran’, aku ingin menikah saja.

Aku bosan diCAP sebagai wanita playgirls oleh teman-teman dan tetanggaku, mereka pikir aku wanita yang tak pernah menghargai apa itu cinta, tapi yang jelas, mereka tidak tahu apapun tentang keburukan dan kebaikanku, yang tahu hanya aku dan tuhanku. Sempat aku berpikir, apakah tidak ada lagi pria baik untukku? Ah! Itu pikiran negatif ku saja, sementara hatiku mengatakan bahwa suatu hari nanti pasti akan ada seorang pria yang tulus dan meminangku dengan harapan hidupku akan selalu bahagia. Amin.

Beberapa surat undangan sudah kudatangi, tinggal satu surat undangan lagi yang belum sampai pada hari dimana aku harus mendatangi undangan itu. Zidan dan Rani, Zidan adalah cinta pertamaku, sementara Rani adalah sahabatku, mereka berdua sangatlah hebat, berpura-pura baik di depanku, ternyata hati mereka busuk bak buah nangka yang jatuh dari pohonnya. Aku akui kalau Rani memiliki segalanya, jika dibandingkan denganku, aku hanya batu kerikil yang tersusun rapi di halaman rumahnya, sungguh menyedihkan. Mau tak mau, aku harus datang ke pernikahan mereka untuk mengucapkan selamat atas kemenangan mereka yang berhasil membuatku bodoh!

Bajuku basah kuyup, setelah kepulanganku dari gedung resepsi pernikahan Zidan dan Rani yang berlangsung begitu mewah dan megah. “Mereka begitu bahagia, aku iri ya tuhan..” ucapku lirih mendekap lutut sembari menatap hujan dari balik jendela, tak terasa air mataku terjatuh dan membasahi permukaan pipi.

Dret! Dret! Dret!

Ponselku bergetar tanda ada pesan yang masuk.
“Selamat malam cantik, gue tau sekarang lo pasti lagi nangis kan?” isi pesan masuk dari Adi. Adi adalah sahabat terbaikku.
“Dari mana lo tau?” balasku
“Jelas gue tau lah, barusan gue liat lo lari dari gedung resepsi pernikahan si Zidan brengsek itu ke luar cari taksi dengan paras wajah yang sedih, iya kan?” jelas Adi
“Hemm.. Cuma lo yang tau semua tentang gue Di. Tapi kenapa lo gak ngejar gue? Payungin gue ke!, apa ke!”
“Lo itu larinya udah bisa nandingin laju motor gue tau gak! Baru aja mau gue kejar lo udah naik taksi, pastinya gue gak perlu jadi tukang ojeg payung buat lo Sa.. Hahaha” ledeknya yang lantas membuatku tertawa dan bisa melupakan kejadian tadi.
“Hahaha.. Lo emang paling bisa buat gue ketawa Di, makasih ya” ujarku
“Ya, kembali kasih.. Gue kan sayang sama lo” jujurnya membuatku mengkerutkan kening.
“Sayang? Tumben banget lo ngomong kaya gtiu ke gue Di? Haha..”
“Ya udah lupain aja Sa.. Oiyak sory yak gue gak sempet buat telephone lo, sinyal di tempat gue jelek banget, sama kaya lo.. Haha”
“Ikh, gue tuh cantik tauuu.. Banyak cowok yang suka sama gue. Huh!”
“Termasuk gue Sa.. Haha, lupain! Ya udah gue lagi sibuk ni, see you Sania, bye” ujarnya mengakhiri percakapan di sms tadi.

Terkadang aku merasa bimbang akan statusku yang sekarang ini, lajang, ya! Sekarang ini aku sedang lajang. Aku takut tidak ada pria yang mau mencintaiku, menyayangiku, pun meminangku, dan itu adalah sebuah mimpi buruk bagiku, separah itu kah? Apa aku sudah tidak percaya lagi akan janji tuhan bahwa setiap insan itu akan diberikan pasangan? Ya tuhan.. Aku takut sekali melupakan itu semua, gumamku. Aku beranjak ke tempat tidur dan mulai terlelap, berharap aku tidak takut lagi akan kehabisan seorang pria yang baik hati. Amin.

Pagi ini diberitakan dalam berita melalui televisi, ada seorang wanita yang tega menggunting alat vital kekasihnya, lantaran cemburu karena sang kekasih mengobrol dengan adik kandungnya sendiri. Hah! Berita konyol
“Ya ampun, itu perempuan sadis banget, amit-amit deh, jangan sampai Sania kaya gitu ya tuhaaan” seru Mamah yang menyaksikan berita itu.
“Ada apa si mah? Pagi-pagi udah berisik banget! Bawa-bawa nama Sania segala lagi” cetusku menghampiri mamah sembari merapikan baju yang kupakai.
“Itu tuh, kamu liat aja sendiri beritanya, pokoknya kamu jangan seperti itu ya sayang, malu-maluin keluarga tau gak si” mamah nyerocos
“Mah! Mana mungkin aku kaya gitu, mamah tuh ada-ada aja deh! Ya udah ah Sania mau pamit keluar dulu, dah mamah” aku pun keluar rumah.

Aku menuju ke tempat pekerjaan Adi, dia bekerja sebagai penyiar radio. Aku senang mengunjunginya, selain tempat kerjanya yang bagus, teman-teman penyiar radio yang lain pun juga asik dan baik, namun aku tak pernah berpikir apakah Adi tidak merasa risi atau bosan akan kedatanganku ini? hmm entahlah!

Aku memilih duduk di sudut ruangan yang tidak terlalu terlihat oleh orang-orang yang berjalan melewati tempat yang kududuki, kuambil sebuah majalah cerpen dari dalam tasku yang berjudul ‘My Facebook, My Desire’, tulisan dari Niaw Shin’Ran yang mampu membuatku tak bosan-bosan untuk selalu update akan cerpen-cerpen barunya. ah! Forget it!

Aku merasa sudut pandanganku dicuri oleh seorang pria tampan yang duduk di tengah-tengah koridor sana, kuperhatikan dia semakin jelas, jelas, dan ternyata pria itu adalah Adi, “Hah? Itu kan Adi, sejak kapan dia terlihat tampan seperti itu?” tanyaku dalam hati, lantas aku memanggilnya, “Adiii..!!” sahutku, Adi menoleh kepadaku dan menghampiriku. Aku masih memperhatikannya, hingga sampai dia duduk di sampingku.
“Adi, lo Adi kan?” tanyaku
“Yaialah, lo pikir gue siapa Sa? Ada yang aneh sama gue?” tanya balik Adi yang merasa keheranan
“Eng.. Gak kok, gak ada yang aneh, cuma hari ini lo keliatan ganteng aja” jujurku, Adi pun tertawa terbahak-bahak, membuat orang-orang seisi ruangan melihat kami, aku membungkam mulutnya.
“Lo bisa pelanin suara ketawa lo gak si? Malu tau diliatin sama orang-orang” bisikku
“Yaelah Sa, gue tuh udah biasa ketawa sekenceng itu di sini. Oiya, tadi lo bilang kalau gue terlihat ganteng? Emang kemarin-kemarin lo kemana aja? Kok kalau update si sama fans fans gue?” ucapnya kePDan, aku hanya menghela nafas, hmm.. Gue emang baru nyadar kalau sahabat gue ini emang ganteng, pikirku.
“Ah yaudahlah, gue gak ada waktu buat perhatiin muka lo, yang tadi itu cuma kebetulan aja gue liat lo ganteng!” cetusku sambil sedikit buang muka
“Tu kaaan, lo ngambek ya Sa? Sory ya gue kan cuma becanda.. Mmmm sebagai tanda permintaan maaf gue, gimana sekarang lo ikut aja sama gue, mau kan?” ajaknya
“Emangnya mau kemana? Di luar kan mau hujan”
“Tenang aja Sa, gak jauh kok, kalau hujan kita bisa neduh dulu, ayolah” ajaknya lagi
“Oke gue mau..” ucapku pelan, Adi tersenyum dan menyubit pipiku pelan, dia menggandeng tanganku menuju ke parkiran motornya. Sejenak dia menstarter motornya lalu kami pun pergi.

Di jalan aku mendengar Adi berkata-kata, namun aku tak begitu jelas mendengarnya, ada satu pertanyaan yang kudengar darinya.
“Sa, lo gak bosen ngejomblo? Apa belum ada cowok yang bisa naklukin hati lo lagi?” tanyanya
“Gue gak bosen kok, karena gue mau hati-hati pilih pasangan, gue gak mau kaya kemarin-kemarin lagi Di” sahutku
“Baguslah kalau begitu, gue juga gak mau kalau lo salah pilih pasangan lagi Sa” ucapnya penuh perhatian
“Makasih ya Di, lo emang sahabat gue yang paling baik” aku memeluknya “Kira-kira siapa ya cowok yang nikah sama gue dan jadi suami gue Di?” lanjutku bertanya
“Kalau gue gimana Sa?” tanya Adi membuatku melepaskan pelukan tadi. Ngikkk… Belum sempat aku menjawab pertanyaan Adi, motornya berhenti.
“Kita sudah sampai Sa, yang tadi lupain aja, yuk!” ajaknya dan menggandeng tanganku masuk ke dalam gedung. Adi selalu seperti itu, pertanyaan yang belum sempat kujawab selalu dimintanya untuk lupakan, aneh!
“Hah? Lo ngajakin gue kondangan Di? Ihh lo malu-maluin gue aja tau gak!” aku menarik tangannya keluar gedung resepsi pernikahan
“Aduh Sa, gue bukannya mau ngajakin lo ke sini, gue cuma mampir aja karena ada urusan penting sama yang punya IO di sini” jelasnya membuatku bertanya-tanya.
“Hah? Ada urusan penting Sama yang punya IO? siapa yang mau nikah? Lo Di?” tanyaku bertubi-tubi, Adi hanya tersenyum dan menatapku
“Ya, suatu saat gue pasti akan menikah, tapi bukan sekarang, tahun sekarang atau pun tahun depan” jelasnya lagi
“Trus? Lo ngapain nemuin Orang itu? Kan malu banyak tamu” tanyaku lagi
“Ah! Adalah, lo gak usah kepo dulu. Ya udah, kalau lo gak mau ke dalam, gue aja sendiri, lo tunggu di sini, gak lama kok, habis ini gue mau ajak lo ke tempat yang asik, gimana?” tawarnya
“Iya, Iya. Gue nurutin apa kata lo aja deh, awas kalau lama!” gertakku. Adi pun melesat ke dalam menghampiri orang yang ditujunya. Pikiran pesimis plus negatif ku kembali bermunculan. Kayaknya Adi bakalan nikah duluan, dan gue gak akan bisa jalan barang lagi sama sahabat gue yang satu itu. Pikirku di tengah-tengah hujan yang mulai menjamah bumi.

Sepuluh menit berlalu, aku masih belum juga melihat Adi keluar dari dalam ruangan itu. Aku mulai bosan, aku pun mulai kehausan. Kupaksakan diri pergi ke sebuah warung kecil yang letaknya tidak jauh dari gedung itu untuk membeli minuman. Bajuku lumayan basah, tapi tak mengapa, yang penting aku bisa menghilangkan rasa hausku ini. “Ahh.. Segarnya” kuminum air dalam kemasan yang kubeli. Di balik hujan kulihat ada orang yang berlari menghampiriku. Bajunya basah, juga wajah tampannya pun terselimuti air hujan, ternyata orang itu adalah Adi.
“Lo kenapa gak nunggu gue di dalam gedung aja si Sa? Kalau lo sakit gimana?” seru Adi yang mengkhawatirkanku.
“Gue haus, di sana gak ada yang nawarin gue minuman, kepaksa deh gue ke sini” jelasku sembari memeluk tubuhku sendiri.
“Lo kedinginan ya Sa? Nih pake jaket gue. Sory ya gara-gara gue lo jadi kaya gini” ujar Adi merasa bersalah, lalu memakaikan jaketnya ke pundakku. Di lain sisi ada anak SMA yang meneduh, dia berbisik kepadaku “Suaminya ya kak? So sweet banget si, hehe” godanya, aku hanya tersenyum, lalu memberitahukan kepadanya kalau Adi bukanlah Suamiku. “Kalau bukan suami berarti pacar ya?” tanya anak itu lagi, aku kembali tersenyum, tak lama Adi melihatku, dia keheranan dan bertanya-tanya.
“Kenapa Sa? Ada yang lucu ya?” tanya Adi. Aku menggelengkan kepalaku.
“Gak, ada kok” jawabku bohong.
“Sa, kayanya kalau hujan sudah reda, gue anter lo pulang aja ya? Gue takut kalau dilanjut jalan lo sakit Sa, gak apa-apa kan?” tanyanya
“Iya, gue juga pengennya kaya gitu, ya udah kita tunggu sampai hujan reda aja” ujarku. Adi tersenyum padaku, lalu menyandarkan kepalaku di pundaknya, aku seperti memiliki pacar. Ya, pacar.

Aku sudah sampai di rumah, diantar oleh Adi setelah hujan reda, kutawari dia mampir ke rumah untuk sekedar minum teh hangat, tapi dia memilih pergi lagi menuju ke tempat kerjanya untuk on air bersama temannya, Wili. Selesai mandi, aku langsung mendengarkan Adi yang tengah on air di tempatnya bekerja. Suara Adi tak begitu besar atau pun kecil, melainkan mendayu-dayu, membuat siapa saja yang mendengarkan merasa ingin didekatnya, terutama perempuan.

“Hy hy hy selamat sore sobat sweet radio semuanya, terutama buat lo lo semua para jiwa muda yang udah stay tune buat dengerin gue pada sore kali, gue sekarang ditemenin sama cowok ganteng yang udah ada di samping gue.. Namanya Adi, kalian sudah taulah yang mana orangnya, penyiar yang ganteng kedua setelah gue, hahaha.. Sehay dong buat Si ganteng Adi, hayy Adi” celoteh Wili yang mulai onair bersama Adi.

“Hay juga abang Wili yang katanya paling ganteng pertama sebelum gue, PD banget lo, eh asal lo tau ya, gue nemenin lo karena Terpaksa! Lo beruntung udah gue temenin Wil, gue bela-belain gak mampir ke rumah cewek yang gue suka demi nemenin lo!” jelas Adi, lantas aku yang mendengarnya bertanya-tanya tentang perempuan yang disukainya itu.

“Apa? Yang bener? Sory ya, gue gak pernah maksa lo buat nemenin gue Di, atau jangan-jangan lo lebih suka sama gue dari pada sama cewek itu, haha.. Gak nyangka banget ya sobat” seru Wili membuat suasana semakin ceria.

“Ahaha, amit-amit tujuh turunan! Yaudahlah dari pada ngebahas yang gak penting mending kita buka aja tema hari ini.. Temanya adalaaah?” seru Adi

“Resolusi di tahun ini, nah sobat muda, apa si resolusi atau harapan lo di tahun ini? Kirim lewat sms di 08557001083, atau mention kita di twitter @SweetRadio dengan hanstag Harapanku, oke. Nah kalau harapan lo di tahun ini apa Di?” tanya Wili

“Gue punya harapan gak banyak-banyak Wil, semoga hidup gue semakin penuh dengan kebahagian, dan semoga gue gak jadi Jones lagi, amin”
ucap Adi, aku sedikit tertawa kecil mendengarnya. Sore semakin larut menjelang malam tiba, tak terasa aku pun terlelap. Kubiarkan Adi terus berceloteh untuk menemaniku tidur malam ini.

Rasa lapar membangunkanku dari tidur tadi, kubuka mata pelan-pelan, kutatap setiap sudut kamar “HAH? Gue ada dimana nih?” kulihat tata ruangan itu seperti rumah sakit, dan benar saja, aku sedang berada di rumah sakit memakai baju serba hijau. “Kenapa gue ada rumah sakit? Lho, itu kan Adi” kulihat Adi sedang tertidur lelap di sofa, aku menghampirinya, menatapnya, lalu pelan-pelan membangunkannya.
“Di, Adi bangun.. Adiii” sahutku. Adi pun bangun, melihatku ada di dekatnya, lalu dia memeluk erat tubuhku dengan paras wajah yang penuh kecemasan. Ya, aku bisa merasakannya.
“Sania, lo gak apa-apa kan? Gue khawatir sama lo, ini pasti gara-gara kehujanan kemarin kan? Maafin gue ya” seru Adi membuatku heran

“Ikh, lepasin gue! Emangnya gue kenapa? Kenapa gue bisa ada di rumah sakit? Bokap sama nyokap gue mana?” tanyaku penasaran, lalu Adi pun menjelaskan semuanya.
“Semalam nyokap lo angkat telephone dari gue, katanya badan lo panas, nyokap lo tau itu karena pintu kamar lo sedikit terbuka, lo ngigo kesana-kemari, ketika itu gue telephone lo tapi gak lo angkat Sa, trus gue langsung ke rumah lo dan bawa lo ke sini” jelasnya. Aku menghela nafas kecil, kemudian memeluk balik Adi sebagai tanda terimakasih. Rasa laparku sudah hilang setelah beberapa lelucon yang diucapkan Adi membuatku tertawa.
“Hahaha.. Lo tuh paling bisa buat gue ketawa. Oiya, bokap sama nyokap gue mana?” tanyaku

“Mereka gue suruh pulang Sa, karena ada gue yang nemenin lo di sini” ujarnya

“Makasih ya, lo emang the best buat gue” diam sejenak, tiba-tiba melintas di pikiranku akan kata-kata Adi sewaktu On air malam tadi “Oiya, apa bener lo udah gak mau jadi jones lagi Di? Kenapa? Bosan yaaa?” tanyaku sedikit menggodanya.

“Gue kan cowok normal yang butuh pasangan hidup Sa, kalau terlalu lama Ngejomblo yang ada gue galau terus” jelasnya

“Oh, jadi selama ini lo galau ya.. Hahaha. Memangnya siapa si cewek yang lo suka?” tanyaku lagi penasaran seperti paparazi.

“Kalau lo dengerin gue on air kemarin sore pasti lo tau siapa cewek yang gue suka Sa”

“Gue denger kok, buktinya gue tau kalau harapan lo di tahun ini gak mau jadi jones lagi kan? Emangnya ada yang kelewat ya sama gue, ah mungkin gue lupa” celotehku sambil mengingat-ngingat.

“Ya udahlah Sa, lupain aja gak usah diinget-inget. Kalau boleh tau, harapan lo di tahun ini apa?” serunya. Aku terdiam, menyelisik jawaban yang ada di dalam hatiku.
“Eng.. Gue.. Gue pengen menikah Di, tapi gue belum ketemu sama cowok yang tulus dan mau ngajak gue menikah” jawabku membuat Adi sedikit terkejut.

“Apa itu harapan terbesar lo Sa?” tanya Adi

“Ya, gue bosen pacaran, gue capek pacaran yang gak ada ujungnya. Gue gak mau disakitin lagi. Kalau seandainya cewek yang lo suka itu ngajak lo nikah, apa tanggapan lo Di?” Tanyaku membuat Adi tersenyum simpul

“Kalau emang cewek yang gue suka ngajak gue nikah sekarang, gue akan turutin apa yang dia mau, karena gue juga bukan sekedar mencari pacar, tapi juga calon ibu untuk anak-anak gue. Kalau udah sama-sama suka dan sayang, kenapa enggak langsung nikah, iya kan” jelas Adi membuatku semakin kagum padanya. Namun aku menghela nafas dan merundukkun kepala.
“Hmm, beruntung banget cewek yang lo suka itu Di. Dan itu artinya lo bakalan nikah duluan dong Di? Lo gak mau nungguin gue? Kita nikah bareng-bareng aja yuuu.. Hehe” seruku dengan nada manja. Tiba-tiba saja Adi mendekatiku, semakin dekat dan dekat, kini hidung kami saling bersentuhan, lalu kejadian yang tak pernah kuduga sebelumnya pun terjadi, Emmmuuaach..! Adi mencium mesra bibirku, setelah itu dia memelukku dan membisikkian satu kalimat ‘I LOVE YOU’. Jantungku berdetak kencang, aku seperti terhipnotis oleh kecupan itu, aku tak bisa berkata apa-apa, yang jelas saat ini aku tengah merasakan sesuatu yang luar biasa indahnya. “Adi mengecup bibir gue.. Dan gue diam aja, apakah ini bertanda kalau gue juga..?” pikirku bertanya-tanya. Adi masih memelukku, kurasakan debaran jantungnya seakan-akan dia takut kehilanganku. Aku masih terdiam, Adi melepaskan pelukannya, kutatap wajahnya yang tertunduk, tak lama dia menghela nafas kecil, seakan-akan kejadian tadi membuatnya kehilangan banyak energi. Aku ingin bicara sesuatu padanya, namun bibirku beku tak dapat mengatakan apapun kecuali terus menatap Adi dan merasakan sentuhan bibirnya yang masih hangat di bibirku.

“Ma-maafin gue ya Sa” ucapnya tiba-tiba “Gue udah kurang ajar ngelakuin itu ke lo. Gue gak tau lagi gimana caranya untuk buat lo sadar kalau gue tuh suka dan sayang sama lo” jujurnya membuatku tak kuasa menahan haru dan membendung air mata yang terasa panas. Adi masih menundukkan kepalanya, lantas aku mencoba merubah suasana yang lumayan tegang menjadi sedikit rileks. Aku menghapus air mataku dan mulai mengalihkan pembicaraan.
“Gue gak tau apa ini mimpi atau beneran nyata, tapi yang jelas gue gak pernah menduga sebelumnya kalau lo berani ngelakuin hal tadi sama gue” ujarku. Adi mulai menatapku dan menjelaskan semuanya, walau tanpa harus dijelaskan pun aku sudah bisa mengerti.
“Demi tuhan Sa, gue sayang banget sama lo. Maafin gue karena gue udah kurang ajar sma lo, lo harus percaya kalau gue benar-benar tulus” jelas Adi. Melihat kedua matanya yang mulai mengeluarkan air mata membuat hatiku luluh dan tidak ingin mengecewakannya. Tulus dari dalam hati, aku memeluknya, dan berbisik mesra di telinganya “I LOVE YOU TOO”.

Satu bulan telah berlalu semenjak aku dan Adi resmi berpacaran. Banyak yang merasa bahagia dengan status kami yang sekarang. Mama dan Papa merestui hubungan kami. Hingga saat dimana Adi ku undang makan malam di rumah bersama keluargaku, dia ditanya ini dan itu, terutama tentang masalah pernihan. Oh tuhan, aku sungguh bahagia.

“Jadi kapan nak Adi mau mempersunting anak om yang satu ini?” tanya papa di tengah-tengah waktu makan malam berlangsung. Dengan tegas Adi pun langsung menjawab pertanyaan papa.
“Kalau saya kapan saja siap kok Om, minggu depan juga bisa. Tinggal menunggu kemauan dari Sanianya aja” seru Adi sedikit menatapku. Aku tersenyum tersipu malu.
“Sania, kalau Adi ngajakin kamu nikah minggu depan gimana? Kau mau tidak?” tanya papa yang tesenyum simpul menatap mamah.

“Eng.. Aku gak mau pah, mah..” jawabku membuat semuanya kaget, apalagi Adi, wajahnya terlihat kecewa. “AKU GAK MAU DITUNDA-TUNDA, Hahahaha” sahutku membuat Adi, mama dan papa jantungan setengah mati. Adi mencubit pipiku, mama memelukku sementara papa mengelus dadanya sendiri karena takut aku akan membuatnya kecewa, dan itu tidak mungkin kulakukan, karena aku memang sudah ingin menikah.

Malam ini adalah malam yang sangat istimewa. Baju pengantin sudah siap kupakai. Mamah melihatku dengan tatapan mata yang mulai berkaca-kaca, aku tahu apa yang ada di pikirannya, namun aku tak ingin membuat suasana menjadi terlalu haru.

“Saya terima nikahnya Sania Ramadhani binti bapak Agung Ramdhani dengan mas kawin seperangkat alat shalat dibayar tunai!!” seru Adi mengucapkan Ijabnya di depan penghulu dan semua yang menyaksikan pernikahan kami.

“SAH?”

“SAAAAAH” Sahut semua orang. Puji syukur Kehadirat Tuhan yang telah mempersatukan kami. Kutemukan ketulusan dalam persahabatan yang kini menjadi Sebuah cinta sejati.

Adakalanya kita harus lebih peka akan apa dan siapa yang kini dekat dengan kita, karena siapa sangka, dibalik semua itu ada cinta.

Sumber Klik Disini :

Aku (Rangga), Rio dan Randi adalah 3 sekawan sehidup semati. Kemana-mana kita pasti bareng. Kita kuliah di satu kampus yang sama, tempat makan favorit kami pun sama. Akan tetapi tinggal di tempat dan nasib yang berbeda. Aku dan Rio tinggal di kos-kosan kecil namun besar artinya bagi kami, disitulah kami bisa menaungkan hidup kami, melindungi tubuh kami yang dekil ini, dari serbuan air hujan dan terik matahari. Itu saja masih untung tante Ranti ngurangin iuran kos nya khusus buat kami berdua. Soalnya tante Ranti maklum, aku itu anak yatim, dan Rio itu keponakan jauhnya. Sedangkan Randi, dia tinggal di rumah mewah, dia anak orang kaya, anak tunggal pula. Papa mamanya masih utuh.Sudah pasti dia mendapatkan perhatian sepenuhnya dari orangtuanya. Bisa dibilang hampir sempurnalah hidupnya. Tapi walaupun begitu, Randi tidak sombong. Buktinya dia masih mau bersahabat dengan makhluk aneh seperti kami.
Nasib, memang…nasib. Sudah melarat, cewek-cewek pun enggan melihat muka kami yang jauh beda dengan Raffi Ahmad ini. Beda dengan Randi,dengan wajah tampan bak Romeo, cewek-cewek pada ngejer. Tapi Randi setia banget orangnya, dia tetep jomblo, demi menyamakan status dengan kami ini. Memang Randi itu the best friend ever lah..
****
Waktu itu, aku dan Rio main kerumah Randi. Randi itu orangnya baiikk banget. Dia memboleh kan kami masuk kekemarnya, yang besarnya dua kali lipat dari kamar kos-kosan aku sama Rio. Sungguh kami gembel yang paling beruntung didunia bisa punya sahabat berhati berlian kayak Randi. Rencananya sich…mau main game sambil makan snack tapi, makanan di kulkas super mahal punya keluarga Randi ternyata abis. Jadi, Randi ngajak Rio belanja dan aku nunggu di kamar Randi.
Aku nemu TTS di kamar Randi, dan aku pikir dari pada bete nunggu mereka belanja aku isi aja tu TTS. Aku berniat nyari pulpen di laci, tapi ternyata yang aku temukan malah obat-obatan sama beberapa infus. Aku bingung sejadi jadi nya. Beberapa menit kemudian mereka dateng dan bawa makanan. Aku nggak mau nanyain masalah tadi dulu ke Randi, karena aku pikir, kita mau have fun dulu. Jadi, aku gak mau ngerusak mood mereka.
Waktu berjalan, malam pun datang, saatnya aku dan Rio pulang. Kami pamit ke Papa Mama nya Randi.
****

Hari demi hari berlalu, tapi aku masih kepikiran soal apa yang aku temukan di kamar Randi. Karena gak tahan, aku ceritain semuanya ke Rio, dengan santai nya dia bilang,

“ alah,,, paling itu cuma cadangan aja, orang kaya kan bisa sakit juga. Jadi kalo sakit, bisa di rawat di rumah aja. Biar ngirit!”

“ gak lucu tau !” kesal ku

“Emang enggak “
Dari pada panas dengerin omongan gilanya Rio, mending aku simpan di dalam hati aja masalah ini. Toh kalo ada apa-apa pasti Randi cerita ke kita kok!.
****

Hari itu, tanpa ada pemberitahuan sebelumnya, tiba-tiba Randi dateng ke kos-kosan sambil bawa makanan, peci, sarung dan sajadah. Dia bilang sich, tu makanan buat cemilan temen ngumpul aja. Tepep aja aku bingung, kan biasa nya kalo ngumpul, di rumah dia. Karna, gak mungkin aku ngajak dia ke kos-kosan, buat aku sama Rio aja udah sumpek nya minta ampun, apalagi di tambah satu orang, lagian gak enak juga sama Randi, dia kan gak biasa kepanasan, sedangkan di kos-kosan cuma ada kertas buat ngipas. Tapi dia bilang, “ gak papa kok…gue juga mau ngerasain hidup kayak kalian walaupun Cuma sebentar. Lagian gue juga mau bareng-bareng am kalian. Kalian gak keberatan kan?”, belum sempet aku jawab, Rio sudah nyosor duluan, “ mana mungkin lah kami keberatan, kan lo sahabat kita. Apalagi kalo lo bawa makanan gini, sering-sering aja lo kemari.” . Randi Cuma bisa senyum dengerin ocehan si mulut bajajnya Rio.

“ trus ni peci ama sajadah buat kita juga?” Tanya ku
“iya,,, biar kalian rajin shalatnya. Tu sajadah sama peci di gunain baek-baek ya, buat amal kalian” jelas Randi
“ makasih ya !”
Sontak aku kaget banget. Nggak biasanya dia kayak gini. Karena udah sore Randi putusin buat pulang. Melihat rambut lembut nya berantakan, dia sisir rambutnya sebelum pulang. Dan aku kaget waktu liat banyak banget rambut Randi yang rontok dan tersangkut di sisir. Aku, nggak terlalu heran, karena aku pikir Cuma rontok biasa. “ gua pulang dulu ya guys, assalamualaikum” pamitnya,
”wa’alaikum salam” aku dan rio serentak menjawab. Setelah dia pulang, aku coba buat ngomongin ini sama Rio.
“Ri..”

” eemm..”

”lo ngerasa ad yang beda gak sih sama Randi??”
”beda apanya sih?? Jelas-jelas idung nya gak pindah kok !”
” BUKAN ITU MAKSUD GUA ONTAA !!!! sifat dia itu akhir-akhir ini. Beda dari biasanya. Tibaa-tiba jadi melancolis gitu,,,”
” melancolis tu apa ya?”
” gak tau juga sih! Tapi orang banyak yang bilang melancolis buat orang yang sifat nya dramatis, erotis, miris,,, ”
“hepatitis”
”ya.. Hah?? Itu kan penyakit! Lo ngerti gak sih yang gua maksud??”
” huft… “ Rio mengangguk-anggukan kepalanya, syukurlah kalo dia ngerti.
”betulan ngerti kan lo?” aku memastikan,
”engga”
jeeng,,jeeng…

PLAAK !!!

“buseeett dah ! maksud gue, sifat Randi tu aneh banget sekarang, gak kayak dulu”
” yaa biarin aja napa?? Yang penting dia masih jadi sahabat kita. Masih inget sama kita. Mungkin dia Cuma mau berusaha berubah.”
”iya juga ya! Walaupun otak lu miris, tapi kadang bisa berfikir kritis juga ya”
” yaa elu nya aja yang baru tau”
”terserah lu dech”
****
Di kampus pada hari itu, Randi tak tampak seperti biasanya. Biasanya dia tu selalu fresh, fit and fabulous. Tapi gak buat hari itu, dia keliatan pucet banget. Karna penasaran aku tanya, “ lo sehat ndi?”,
“ sehat kok!” katanya, untuk memastikan aku tanya lagi, “ lo yakin?”,
“ yakin! gue gak papa kok!”. Aku gak mau maksa dia buat bilang, walaupun aku tau ada sesuatu yang gak beres sama dia.
Hari itu, jadwal kuliah sampe sore. Waktu nya makan siang, seperti biasa, kita nongkrong di kantin. Kita ngobrol, sambil ngegosipin kembang kampus. Randi, tiba-tiba meremas-remas tas nya dan mengkerutkan jidat nya seperti orang sedang kesakitan dan sesekali dia pegang kepalanya, gak lama kemudian Randi mimisan dan pingsan. Langsung aku sama Rio bopong dia ke UGD (unit gawat darurat) di kampus.
Waktu dia sadar, langsung aku anterin dia pulang.
****
3 hari Randi nggak kuliah, setelah kejadian hari itu. Aku coba hubungin ke hp nya, tapi nggak aktif.
Hp ku tiba-tiba bunyi, dan waktu ku angkat, terdengar suara lembut berkata “ maaf nak mengganggu, tante Cuma mau bilang kalau Randi selama ini sakit. Dia di rawat di rumah sakit. Maaf juga , kalau baru mengabarkan nya sekarang.”
Aku kaget banget. Melihat raut muka ku yang tak biasa, rupanya Rio heran juga. “ kenapa lo?”.
“ Randi, Rio …randi”

“ kenapa sama dia?”

“ ternyata selama ini dia tu sakit. Sekarang dia dirawat di rumkit?”
“ ya udah, tunggu apa lagi ‘sapi’…?! Ayo kita jenguk dia!!”
Langsung ku ambil, kunci pespa ku. Ku tancapkan gas menuju rumkit yang di maksud.
Sesampainya di rumkit, dengan berbekalkan informasi di mana keberadaan kamar Randi dari suster, kami mulai mencari. Akhirnya dapat juga. Pelan-pelan ku buka pintu kamar ruang “melati”.
“ asalamu alaikum “ kata ku

“ wa’alaikum salam!” sambut mama Randi.

Rio yang biasanya selalu cengengesan, terdiam melihat kondisi Randi yang lemah dan super pucat, apa lagi rambut Randi sudah pada lenyap entah kemana. Dengan nada sok lembut aku bertanya kepada mama nya Randi,
“ sebetulnya, Randi sakit apa tante?
Mama Randi meneteskan air mata secara tiba-tiba, dan mengajak ku untuk bicara di luar saja.

 

“ begini nak rangga, sebenarnya Randi terkena penyakit kanker otak stadium akhir, hidupnya di vonis hanya tinggal sebentar lagi” kata mamanya Randi
“ apa?? Tapi kenapa Randi tak pernah menceritakanya kepada kami tante?”
“ tante sebenarnya juga pernah mengusulkan kepada Randi untuk memberitahukan kalian masalah ini. Dan tante juga minta dia untuk istirahat dirumah saja, agar keadaanya tak semakin memburuk Tapi Randi tidak mau, dia bilang, dia tak mau membuat kalian mencemaskan dia. Dia mau melihat kalian tetap terlihat bahagia di akhir hidupnya, dan dia tak mau membebankan kalian karena penyakitnya”
Aku terdiam. Air mataku terus bercucuran mendengar penjelasan mama Randi. Tak kusangka selama ini Randi menderita demi kebahagiaan kami. Terungkap sudah semua kejanggalan-kejanggalan yang selama ini ku temukan. Obat-obatan dan infus-infus itu, ternyata untuk simpanan kalau-kalau dia kumat. Aku tak tahu harus mengatakan apa lagi. Aku masuk kekamar itu, ku pandangi tubuh lemah sahabat ku, air mata tak tertahan, aku peluki tubuh sahabat terbaikku itu. Dengan suara pelan Randi bertanya “ kenapa lo nagis Rangga?”,
“ kenapa Ran?, kenapa lo gak pernah bilang ke kita kalo lo sakit?”
Pandangan Randi tertuju ke mamanya,,,
“ maaf sayang, mama rasa sudah saat nya mereka tau semua ini” kata mama Randi
“ maapin gua sob ! gue nggak bermaksud boongin lo ! gue Cuma nggak mau lo semua kawatir ama gue.” Jelas Randi
“ maapin gue juga Rang” tiba-tiba Rio nyaut.
“ maap? Buat apa?” kata ku
“ karna sebenernya gua udah tau tentang masalah ini, . Randi yang cerita ke gue waktu kita belanja makanan hari itu. Dan masalah obat-obatan dan infus itu sengaja gue pura-pura gak tau, gue takut lo curiga. Tapi ini semua karna Randi yang minta”
“ jadi slama ini lo boong ama gue Ri?”
“ lo jangan marah ama Rio, Rang,,, ini salah gue. Tapi sekarang yang penting lo udah tau. Gue kira urusan gue udah kelar sekarang, gak ada lagi yang gue sembunyiin dari kalian. Jadi, gue bisa pergi dengan tenang” kata Randi
“ lo nggak boleh ngomong gitu sob. Lo harus tetep optimis, lo bisa sembuh” aku mencoba untuk menyemangati.
“ nggak ada lagi yang bisa gue harepin Rang. Gue udah gak kuat lagi. Sakit banget rasa nya. Tolong jagain nyokap bokap gue ya. Gue sayang banget ama lo bedua”
“ kita juga sayang ama lo Ran” serentak aku dan Rio mengatakanya.
Selang beberapa detik setelah itu, Randi menghembuskan napas terakhirnya.
Ironis, miris, rasanya melihat sahabat pergi. Aku menangis sejadi jadinya. Begitu juga dengan Rio. Mama Randi pingsan. Ku panggil suster untuk menangani nya.
Esok hari pemakaman dilaksanakan. Tak rela rasanya melihat tubuh orang tercinta di timbun oleh tanah. Namun, itu lah takdir.
****

Hari-hari terlewati tanpa Randi. Dia pergi meniggalkan kenangan-kenagan terindah. Dia memberiku pelejaran, tentang kehidupan, kesetiaan dan pengorbanan. Kini ku tahu, harta bukan lah segalanya, tanpa ada orang tercinta di sekitar.

“ makasih Ran. Lo emang sahabat terbaek gue. Selamat tinggal. Semoga lo temuin kebahagiaan di sana. Kita nggak akan lupain lo Ran. Lo juga jangan lupa sama kita ya disana. Kita emang terpisah sekarang. Tapi gue yakin, kita akan temuin tempat di mana kita akan bersama selamanya” ku berseru di hadapan makam Randi.
Tinggal lah aku berdua sama Rio. rio menasihati ku, “ udahlah sob. Jangan sedih lagi. Randi tau kok kita sayang banget ama dia. Lagian juga, dia dah bahagia dan tenang disana. Dan kita juga harus tetap bahagia buat dia.” Sempet kaget denger si Rio bisa ngomong selembut itu. Biasanya juga slalu cengengesan. Tapi, aku pikir omangan Rio ada benar nya juga.
Ku persembahkan bunga untuk sahabat tercinta. Ku taruh di atas tanah tempat terbaringnya tubuh sahabat ku itu. Ku langkah kan kaki menjauh dari makam itu. Teringatlah semua kenangan ku dengan nya. Sungguh tak pernah terfikirkan olehku, akan kehilangan dia.

Persahabatan Sejati

Posted: 08/21/2015 in Sahabat
Tag:
“Senyum Terakhir”
Dengan nafas yang terengah-engah setelah mengendarai sepeda. Aku terhenti saat ku melihat dia, aku tak tau siapa dia. Wajahnya cukup cantik dan manis, aku singgah membeli segelas air untuk melepaskan dahaga yang melanda tenggorokanku.
Setelah beristirahat aku langsung menggayuh pedal sepeda untuk pulang ke rumah. Sesampai dirumah, kedua orang tuaku sedang pergi ke sebuah tempat yang aku tidak tau. Aku segera pergi mandi karena badanku sudah bermandi keringat. Setelah mandi aku memakai pakaian dan menuju taman yang tak jauh dari kompleks rumahku. Aku kaget si dia juga sedang berada ditaman. Tanpa pikir panjang aku langsung menghapirinya.
“Hai…..”, kataku
Dengan senyum aku menyapanya.
Tapi dia tidak merespon dan tetap saja membaca sebuah novel. Sekali lagi aku mengulangi sapaanku.
“Hai.. boleh kenalan gak?”.
“Iya ada apa?”, katanya sambil menatap novel yang dibacanya.
“Aku boleh gak kenalan? Namaku Zhaky”, sambil mengulurkan jemariku.
Dia langsung berdiri lalu meletakkan bukunya di atas kursi dan memberi tah u namanya.
“Namaku Tamara”, katanya dengan senyum.
“Kamu tinggal dimana?”, kataku.
“Aku tinggal di sebelah kiri toko buku dekat gerbang kompleks. Aku baru pindah kemarin.”
“Oooo…. Kamu anak baru yah?”.
“Memang kenapa?”.
“Tidak kenapa-kenapa kok”.
“Ayo aku temani jalan-jalan di taman ini. Lagi pula gak enak juga kalau suasananya begini-begini saja”, pintaku.
“Ok.. baiklah”, katanya dengan lembut.
Langkah demi langkah mengawali perkenalanku dengan si dia yaitu Tamara. Kami berjalan mengeliling taman, dari pada hanya terdiam lebih baik aku memulai pembicaran. Aku menanyakan banyak hal kepadanya. Dan kami selalu menyelingi pembicaraan kami dengan candaan yang cukup untuk mengocok perut hingga sakit.
Sekarang sang mentari akan kembali ke peraduannya. Kami berjalan pulang bersama karena arah rumah kami searah. Tamara berada di depan kompleks sedangkan rumahku ada di lorong kedua sebeleh kanan di kompleks tempat tinggalku. Sesampai di depan rumah Tamara kami berhenti dan menyempatkan diri untuk bercanda sebentar.
Suara teriakan Ibunya yang memanggil membuat kami berdua kaget.
“Tamara… Tamara… ayo cepat masuk, udah hampir malam nih!, teriak ibunya.
“Ya bu.. tunggu!, Zhaky aku duluan yah?”, katanya dengan senyum.
“Iya…”, kataku sembari membalas tersenyumnya.
“Kamu juga cepetan pulang, nanti di cariin sama Ibu kamu”.
“Ok… aku pulang yah.. dadah..!, sambil berjalan dan melambaikan tangan.
Di perjalanan, aku hanya bisa berkata “baru kali ini aku bisa cepat berkenalan dengan seorang gadis, apalagi gadis seperti Tamara”. Kini aku berjalan di antara jalan yang sepi dengan sedikit penerangan dari lampu jalan yang mulai redup dan di kerumuni serangga.
Sesampai di rumah aku di marahi oleh Ibuku.
“Kamu ke mana aja”?, bentak Ibu.
“Maaf Bu, aku tadi dari keliling taman”, kataku sambil menunduk.
“Lain kali jangan pulang telat lagi yah?”.
“ Iya Bu”, sembariku meninggalkan ibu di teras rumah.
***
Keesokan paginya aku bertemu dengan Tamara, ternyata aku sama sekolah dengan dia, kemarin aku lupa nanya sih. Aku langsung berlari menghapirinya.
“Tamara… Tamara…. tunggu aku!”, kataku sambil berlari.
Tamara berhenti dan memegang pundakku.
“Masih pagi-pagi kok dah keringatan kayak gini?, ini usap keringatmu!”, katanya sembari menyodorkan sapu tangannya.
“Iya nih, kamunya tuh. Kamu jalannya cepat amat” .
“Iya maaf”, kataya sambil tersenyum.
“Ayo buruan entar pintu gerbang di tutup”.
Sesampai di sekolah aku langsung ke kelas dan ternyata Tamara juga sekelas dengan aku. Dia duduk di sampingku, karena Dino teman aku baru pindah sekolah dua hari yang lalu. Tamara naik dan memperkenalkan dirinya ke teman-teman kelasku.
“Hai perkenalkan namaku Tamara Adelia, panggil aja aku Tamara. Aku baru pindah dari Makassar kemarin, semoga kita semua bisa menjadi teman yang akrab”.
“Ok….”, Teriak semua temanku.
Kini kami semakin dekat. Kami selalu bersama, kami duduk di depan kelas sembari bercerita tentang tugas sekolah.
“Kamu suka pelajaran apa?”, tanyaku.
“Aku paling suka pelajaran matematika”.
“Kenapa kamu suka pelajaran itu?, padahal pelajaran itu agak rumit dan memusingkan”.
“Karena aku suka aja dengan pelajaran itu, kalau kamu sukanya pelajaran apa?”.
“Aku paling suka dengan pelajaran bahasa Indonesia, yah pelajaran sastra”.
“Kenapa kamu suka pelajaran itu?, tanyaku.
“Seperti kamu tadi, aku suka aja dengan pelajaran itu. Aku sudah buat beberapa cerpen, mau baca?”, kataku sambil menyodorkan beberapa cerpen karyaku.
“Ini buatan kamu?, aku gak percaya”.
“Iyalah, ini buatan aku. Kamu baca yah dan berikan saran, ok?”.
“Ok…”, katanya sambil tersenyum.
***
“Tttttttteeettt….”, Bunyi bel menandakan kami akan melanjutkan ke pelajaran berikutnya. Tapi, guru yang mengajar tidak datang. Jadi aku dan Tamara bersama teman-teman yang lain hanya bercerita tentang hal-hal yang dapat mengocok perut.
Tak lama kemudian, kami pun pulang. Aku bersama Tamara dan temanku yang lain berjalan menuju pintu gerbang, menertawai hal yang tak patut ditertawai. Di perjalanan pulang Tamara berteriak, “Auuuuhh sakit, Zhaky bantu aku berdiri!” pintanya sambil meneteskan air matanya. kaki Tamara tersandung batu, dan kelihatannya kaki Tamara Terkilir.
“Sudah jangan nangis donk, pasti kamu akan sembuh kok”, kataku menyemangati.
“Iya Zhaky, tapi kaki aku sakit banget. Bantu aku berdiri donk!”, pintanya
“Auuuuhh…. Sakit!!”, katanya sambil merintih kesakitan.
“Sini biar aku gendong deh, gak apakan?” .
“Betul mau gendong aku, aku berat loh!”, katanya sambil tersenyum.
“sakit-sakit gini sempat aja ngelawak, sini naik cepat”.
“hehehe…. Aku beratkan?”, tanyanya, sambil tertawa.
“Gak kok..”, kataku sambil tersenyum.
Sesampai di depan rumah Tamara, Ibunya yang sedang membaca koran kaget saat melihat kedatanganku yang menggendong Tamara.
“Tamara, kamu gak apa-apakan nak?”.
“Gak apa-apa kok Bu”, kata Tamara.
“Kakinya terkilir tadi waktu jalan pulang tante”, kataku.
“Terima kasih yah nak ….”
“ Zhaky, tante!”, ucapku dengan maksud memperkenalkan diri.
“Iya terima kasih yah nak Zhaky”, katanya sambil tersenyum.
“Tamara, tante, Zhaky pulang dulu yah?”, kataku.
“Iyaa nak Zhaky, kapan-kapan main ke rumah yah?”, kata ibu Tamara.
“Baik tante”, kataku sambil tersenyum.
Sehabis menggendong Tamara punggungku rasanya ingin copot, benar juga kata Tamara badannya berat. Tapi, tidak apalah dari pada sahabat aku Tamara gak pulang ke rumah. Sesampai dirumah aku langsung melepas pakaian dan makan siang. Sesudah itu aku langsung tidur karena aku lelah banget udah gendong Tamara.
***
Keesokan paginya aku menunggu Tamara di depan rumahnya. Saat melihat dia keluar rumah, dia sudah bisa berjalan dengan baik. Aku kaget dan bengong melihatnya.
“Woii kamu kenapa bengong kayak gitu?”, tanyanya sambil mencubit pipiku.
“Akh gak apa kok!, eh kok cepat amat sembuhnya?”.
“Iyaa nih, semalam aku dibawa ke tukang urut, rasanya sakit amat waktu di urut”.
“Baguslah, daripada berjalan dengan pincang”, kataku sambil tersenyum.
Sampai di sekolah teman-teman ku berkumpul membicarakan sesuatu, aku dan Tamara bergegas ke sana dan mendengar apa yang di ceritakan teman-temanku itu.
“Teman-teman, besokkan kita libur bagaimana kalau kita liburan?”, kata Naila.
“Kita mau ke mana ?”, tanyaku memotong pembicaraan.
“Kita akan pergi liburan, baiknya kita ke mana?”, kata Denny.
“Bagaimana kalau kita pergi ke tempat rekreasi terkenal di kota ini!”, kata Tamara.
“Baiklah kita akan ke pantai Bira!”, kataku.
Tak sabar menunggu saat itu, aku menceritakan sedikit tentang pantai Bira kepada Tamara. Kami tidak memerhatikan penjelasan guru, akibat cerita kami yang semakin mengasyikkan. Tak lama kemudian bel istirahat pun berbunyi. Rasanya aku tidak ingin berpisah dengan Tamara walau sekejap saja. Tapi, mungkin itu cuman perasaanku saja. Kami berkeliling sekolah mencari hal-hal yang baru dan melupakan apa yang aku banyangkan tadi.
Tidak lama kemudian, bel kembali berbunyi kami berlari ke kelas. Kami berlari sambil tertawa dengan senangnya. Rasanya hal ini adalah hal yang terindah bagiku. Sesampai di kelas kami duduk dan menunggu guru. Tak lama kemudian, guru yang mengajar pun datang.
Aku merasa agak tidak enak badan. Tamara iseng mencubit pipiku dan Tamara kaget.
“Zhaky kamu gak apa-apa, kan?” tanyanya dengan khawatir.
“Aku gak apa-apa kok”, kataku dengan nada yang pelan.
“Kamu sakit dan aku harus antar kamu pulang!”, katanya sambil berjalan menuju guruku.
“Pak, Zhaky sakit”, katanya.
“Baiklah bawa dia pulang, kamu mau mengantarnya?” tanya pak guru.
“Iya pak aku bisa kok”, katanya.
Berhubung sudah hampir pulang Tamara memasukkan barang-barangku ke dalam tas
lalu dia juga membereskan barang-barangnya.
“Ayo aku antar kamu pulang”, katanya.
Tamara meminta izin mengantar aku pulang. Sambil memegang jemari-jemariku dan sesekali memegang keningku. Tamara selalu bertanya tentang keadaanku. Tapi, aku hanya bisa menjawabnya dengan kalimat, “Aku baik-baik saja kok, gak usah khawatir”.
Sesampai di rumah aku langsung di bawa Tamara ke kamarku sembari ibu mengomel-ngomeliku.
“Ini sebabnya kalau makan gak teratur”, katanya.
“Sudah tante, Zhaky ‘kan lagi sakit”, pinta Tamara ke Ibuku.
“Biarlah nak, biar dia tahu rasa”, kata Ibuku.
“Kalau begitu aku pulang dulu tante”.
“Nak nama kamu siapa?”.
“Nama aku Tamara, tante”.
“Terima kasih yah nak Tamara, udah bawa pulang anak tante ini”.
“Iya, sama-sama tante”, katanya.
Aku melihat senyuman indah dari Tamara saat akan keluar dari kamarku.
***
Keesokan paginya, rasanya badanku udah sehat. Aku bergegas menyiapkan barang yang akan ku bawa. Aku mandi dan sesudah itu berpakaian rapi dan langsung menuju rumah Tamara. Tapi, Tamara sudah berangkat duluan. Aku langsung ke sekolah. Sampai di sekolah aku melihat Tamara dan langsung menghampirinya.
“Zhaky, kamu udah sembuh?”, katanya.
“Iya.. aku udah sembuh kok”.
“Betul aku udah sembuh”, kataku sambil meraih tangannya dan meletakkannya di keningku.
Tak berapa lama kemudian, bus yang akan mengantar kami ke pantai Bira pun datang. Aku duduk di belakang bersama anak lelaki lainnya. Tamara berada di depan bersama teman wanitanya. Di perjalanan rasa gelisahku semakin tak menentu. Aku memiliki pirasat buruk dan naas tak berselang beberapa lama mobil yang aku tumpangi kecelakaan.
Aku merasa kepalaku sakit, saat ku pegang kepalaku mengeluarkan darah yang banyak. Tapi, yang ada di pikiranku sekarang adalah Tamara. Aku langsung berteriak dengan nada yang lemah. “Tamara.. kamu gak apa-apa, kan?”. Aku tak mendengar suaranya. Aku melihat teman-temanku terluka dan mengeluarkan banyak darah. Saat aku ke tempat duduk Tamara, aku melihat kepala Tamara mengeluarkan banyak darah. Rasa sakit yang aku rasa membuat aku pingsan.
“Zhaky, Zhaky, bangun nak, ibu di sini”, kata ibuku sambil menangis.
Mendengar suara itu, aku terbangun. Aku sekarang berada di rumah sakit, aku kaget dan berteriak.
“Dimana Tamara Bu? Tamara baik-baik sajakan Bu?”.
Ibu hanya terdiam sambil menatap ayah.
“Ibu apa yang terjadi?”, aku mulai meneteskan air mata.
“Maaf nak, kini Tamara sudah berada di tempat lain”, dengan nada yang pelan ibu memberitahuku.
“Jadi maksud ibu?”.
“Iya Nak, Tamara telah meninggal akibat kecelakaan itu”, kata ibu sembari memelukku.
Aku terduduk di ranjang dan dipeluk ibu sambil menangis dengan keras dan berkata “ kenapa dia terlalu cepat meninggalkan aku Bu?”. Aku terdiam dan mengingat saat aku sakit, dia memberiku senyuman yang kuanggap indah itu dan menjadi senyuman terakhir darinya. (SELESAI).